Manusia adalah mahluk sosial di mana kita sebagai individu dituntut oleh sejumlah aturan dan nilai. Betul tidak? Mulai dari pilihan sekolah pada saat kita mau masuk sekolah, orang tua sibuk memilih sekolah yang dianggap terbaik versi mereka.

Di sekolah, anak juga dituntut untuk memiliki nilai sempurna dan menempati urutan tertentu. Selesai kuliah, tuntutan lain adalah berpenghasilan baik membuka usaha sendiri maupun bekerja di perusahaan. Di dalam beberapa keluarga bahkan terkadang ada yang usil bukan main dengan membandingkan penghasilan yang diperoleh.

Begitu bekerja, maka tuntutan selanjutnya adalah berkeluarga. Nah ini akan merembet pada urusan bibit, bobot dan bebet, tetapi kita kesampingkan dulu yang satu ini. Setelah berkeluarga, artinya yang 3 B nya terpenuhi, tekanan sosial yang harus segera dijawab adalah memiliki keturunan.

Setelah memiliki keturunan maka, siklus akan berulang pada sekolah, nilai, kemudian bekerja demikian seterusnya seperti yang sudah diuraikan di atas.

Kita sebagai bagian dari siklus tersebut tanpa menyadari seringkali terbawa dan ikut berperan aktif dalam meneruskan tuntutan tersebut kepada anak-anak kita. Bahwasanya sekolah harus yang terbaik, bekerja harus di perusahaan terbaik, ini saya setuju, tapi apa parameternya disebut terbaik di sini? Nilai atau karakter yang ditanamkan oleh sekolah tersebut atau lebih kepada nilai akademis yang diharapkan diperoleh guna dikompetisikan dengan sekolah lainnya?

Sullit karena kita dituntut oleh lingkungan bahkan keluarga non inti kita sendiri, sulit karena anak diharapkan menjadi “Kaum Elit” pada saat dewasa di masa mereka nanti. Perbedaan antara harapan dan kekhawatiran menjadi tipis di sini, sehingga kita kerap menerapkan berbagai aturan guna memastikan bahwa anak ada di “jalan” yang benar di versi orangtuanya.

Sebagai orang tua yang masih dalam tahap belajar, saya yakin semua orangtua yang memiliki anak ingin segala sesuatu yang terbaik untuk masa depan anak anak mereka kelak. Persiapan dari sisi pendidikan maupun materi sedapat mungkin diberikan. Ini saya kira memang harus.

Bekerja dan berkarya adalah salah satu bentuk kebutuhan manusia, pada saat itu kebutuhan aktualisasi diri akan muncul. Di mana setiap individu ingin memiliki pengakuan terutama dari lingkungan sosialnya.

Sayangnya lingkungan sosial seringkali sangat kejam dengan tuntutan dan harapan, akibatnya bisa membunuh kreatifitas dari seseorang. Muncul rasa rendah diri, tidak percaya akan kemampuannya dan banyak kekhawatiran yang lainnya.

Biasanya sang individu yang tertekan dan minder akan menarik diri dari lingkungan sosialnya, berkutat dengan alam pikirannya sendiri. Bahayanya jika tidak ditangulangi maka akan semakin menjauhkan dari dunia nyata.

Di Jepang terdapat satu fenomena yaitu penarikan diri individu dari lingkungan sosial yang disebut dengan Hikikomori. Seseorang akan dianggap melakukan hikikomori bila mengurung diri atau tidak berinteraksi secara sosial minimal 6 bulan.

Individu akan asyik dengan dunia mereka sendiri apakah itu dengan bermain game maupun melakukan kegiatannya sendiri. Penyebabnya hal ini bisa berbagai macam, misal  salah satunya adalah tuntutan sosial yang terlalu tinggi dan ketidakmampuan si individu memenuhi tuntutan tersebut.

Salah satu contoh yang dipaparkan melalui penelitian Psychiatry and Clinical Neurosciences adalah, seseorang yang menginjak usia 30 tahun an tetapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan tetap, sementara tuntutan sosial menghendaki ia mempunyai pekerjaan tetap,  menikah dan memiliki keluarga.

Akibatnya ia memilih untuk mendekam di dalam kamarnya dengan bermain game online dan hidup bergantung pada orangtuanya. Alhasil orangtua harus terus membiayai dan “mengasuh” anaknya kembali daripada si anak mengasuh orang tuanya di masa tua.

Lalu pertanyaannya kok bisa ya di masyarakat semodern Jepang hal ini terjadi dan dibiarkan? Sebetulnya tidak juga demikian, hikikomori diakui keberadaannya oleh masyarakat Jepang, hanya saja orang tua yang memiliki anak yang melakukan aksi ini seringkali malu mengakui hal tersebut dan mencari bantuan.

Banyak Lembaga sosial yang sebetulnya memiliki misi untuk membantu orang yang melakukan penarikan diri dan menjadi anti sosial ini. Melalui berbagai pendekatan, menghalau rasa kesepian dan rendah diri dan berusaha menarik mereka kembali ke lingkungan sosial mereka.

Tergantung dari penyebab dari penarikan diri ini tentunya akan ada penanggulangan yang berbeda apakah melalui psikiatri maupun tanpa bantuan psikiatri.

Apakah fenomena ini hanya ada di Jepang? Ternyata tidak. Kasus serupa juga ditemukan di Korea, Amerika, sampai dengan India. Bagaimana dengan Indonesia? Belum terdengar atau bisa jadi belum ada penelitiannya, sehingga kita tidak memiliki informasi yang cukup akan hal ini.

Namun ada satu hal yang menurut saya perlu kita resapi, bahwa kita tidak pernah tahu apa yang dialami oleh orang lain yang berada di lingkungan sekitar kita. Bahwasanya setiap individu memiliki ekspektasi terhadap diri mereka masing-masing dan beban hidup juga permasalahan yang tidak kita ketahui. 

Alangkah indahnya bila kita dalam berinteraksi tidak selalu menghakimi orang lain, menilai baik dan buruk melalui kacamata kita saja. Semua individu adalah unik diciptakan sama oleh Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai kemampuan yang luar biasa dengan caranya tersendiri. Semangat!