Jumat, 14 Juni 2019, Komunitas Pencinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA) bersama PCNU Semarang dan Pemerintah Kota Semarang menyelenggarakan Haul yang ke-119 seorang guru para ulama Nusantara. Beliau dikenal dengan nama kiai Sholeh Darat. 

Penulis tentu merasa bersyukur karena di sini hidup seorang maha guru ulama Nusantara yang meninggalkan belasan karya yang telah dibukukan. Rasa syukur ini tentu patut dicurahkan. Karena di tengah kebingungan masyarakat dalam mendeskripsikan seorang ulama, kiai Sholeh Darat hadir sebagai potret yang otoritatif untuk memahami siapa dan bagaimana seharusnya ulama itu. 

Selain itu, beliau juga hadir sebagai cermin seorang ulama melalui teladan kisahnya dan ajaran-ajaran dalam kitabnya. Apalagi tradisi haul memang untuk mengenang perjalanan hidup seorang ulama.

Kiai Sholeh Darat merupakan tokoh yang berhasil mendidik dua ulama besar di Nusantara. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari adalah produk sentuhan model tarbiyah dari kiai Sholeh Darat. 

Kepakarannya dalam ilmu tasawuf tidak diragukan di kalangan ulama. Bahkan tidak asing lagi bagi kita bahwa beliau juga disebut-sebut sebagai al-Ghazali al-Shagir (Ghazali kecil) dari Jawa. Sebagai ulama yang prolifik, beliau sangat dipengaruhi pemikiran imam al-Ghazali.

Pengaruh tersebut dapat dilihat dari berbagai karyanya yang menyebarkan gagasan tasawuf model “Ghazalian”. Sebuah ajaran tasawuf yang tidak mempertentangkan antara wilayah esoterik dan eksoterik. 

Kitab Munjiyat, misalnya. Kitab ini merupakan petikan 10 sikap terpuji dan tercela yang diambil dari kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din. Selain itu, bab tentang nikah, salat, dan haji dalam kitab Majmu’at al-Syari’at al-Kafiyat Li al-Awam juga mengambil dari kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din.

Hingga terdapat sebuah kisah yang pernah dituliskan oleh kiai Sholeh Darat tentang rencana pembakaran kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din. Kisah ini terekam dalam sebuah karya kiai Sholeh Darat yang berjudul Minhaj al-Atqiya’ fi Syarhi Ma’rifat al-Adzkiya’ (1317 H; 399-401). Kitab tasawuf yang menjelaskan tentang tahapan-tahapan untuk menjadi soerang yang bertakwa.

Alkisah, ada seorang ulama yang bernama syekh Abu Hasan bin Harzaham sedang mengkaji dan menelaah kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din. Kemudian sampailah beliau pada kesimpulan bahwa kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din merupakan kitab bid’ah yang bertentangan dengan sunah. 

Dari situlah kemudian beliau pergi menemui sultan dan menyampaikan kepadanya agar membakar kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din dan mengumpulkan setiap orang yang memiliki kitab tersebut sekaligus mengumpulkan para ulama.

Kemudian pada hari Kamis, ulama berkumpul dan bersepakat untuk membakar kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din di hari esoknya setelah salat Jumat. Akan tetapi, tepat pada malam jumatnya, syekh Abu Hasan bin Harzaham bermimpi di masjid tempat beliau mengajar. Di sana nampak sebuah cahaya yang terang. Terlihatlah Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan para sahabat yang lain serta imam al-Ghazali.

Sambil membawa kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din empat jilid, imam al-Ghazali berkata kepada Rasulullah, “wahai rasulullah, itu musuhku.” 

Kemudian ia maju dan memberikan kitab empat jilid itu kepada Rasulullah dan berkata, “wahai rasulullah, lihatlah kitab ini. Jika ada kesalahan, aku mohon ampun dan akan bertaubat. Namun apabila sesuai dengan syariatmu, maka adililah antara aku dan musuhku yang telah mencela kitab itu.”

Kemudian Rasulullah membuka juz pertama hingga bab al-‘aqaid. Ketika terdapat tulisan al-nabiyy al-ummi, Nabi tersenyum dan berkata, “demi Allah, sesungguhnya kitab ini sungguh indah.

Kemudian beliau memberikan kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din kepada Abu Bakar dan membacanya. Maka ia berkata sebagaimana ucapan Rasulullah. Kemudian diberikan lagi kitab itu kepada Umar dan Umar mengatakan hal yang serupa dengan Abu Bakar.

Kemudian Rasulullah memerintahkan agar menghukum jari-jari Abu Hasan bin Harzaham dengan menyapu sebanyak 25 kali. Mendengar hal itu, Abu Bakar memintakan keringanan kepada Rasulullah. 

Berkatalah Abu Bakar kepada Rasulullah, “wahai rasulullah, orang itu (Abu Hasan) melakukan hal tersebut karena ijtihad atas syariatmu. Hal itu karena kehati-hatiannya dan sikapnya dalam mengagungkan syariatmu.” Sehingga hukuman diubah menjadi lima kali atas penerimaan dan ampunan imam al-Ghazali.

Tatkala Abu Hasan bin Harzaham bangun dari tidurnya, tangannya mengalami kesakitan hingga sebulan lamanya. Setelah mimpi tersebut, beliau memuliakan kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beliau juga memerintahkan dan mengajak semua orang untuk mempelajari kitab tersebut.

Sebagaimana al-Ghazali, kiai Sholeh Darat sangat menonjolkan pentingnya akhlak bagi setiap muslim. Dalam kitab Munjiyat yang juga dinukil dari kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, kiai Sholeh Darat menjelaskan akhlak terpuji dan tercela yang harus diketahui seorang muslim. 

Kisah di atas merupakan pelajaran penting di tengah kemerosotan moral yang melanda negeri ini. Bahkan kisah yang dicontohkan kiai Sholeh, seorang yang alim seperti Abu Hasan sekalipun bisa terjebak pada perilaku mencela sebuah karya ulama sekaliber imam al-Ghazali.

Sikap mudah mencela, menuduh yang lain salah dan sesat, bahkan tindakan-tindakan yang cenderung pada fitnah sudah diperingatkan oleh para ulama zaman dulu untuk kita jauhi. Hari ini, media sosial menjadi medan pertunjukan sampai batas mana akhlak kita bisa terjaga. 

Dan pada Haul kiai Sholeh Darat, kita belajar bahwa para ulama selalu mengajarkan betapa akhlak di atas segalanya.