Hancurkan Sastra! Sebuah jargon masa Revolusi Budaya Cina (1966-1976) yang diusung oleh Pemimpin Partai Komunis, Mao Zedong, dengan tujuan merevolusi rakyat Cina dan melenyapkan lawan politik. Dengan jargon tersebut tidak lantas penulis asal Cina binasa, tapi tetap hidup di tengah-tengah tekanan penguasa.

Salah satu penulis yang karyanya dilarang beredar saat itu adalah Gao Xingjiang. Perjuangan idealisme yang ada pada dirinya, Xingjian pun mendapat penghargaan tertinggi dalam bidang sastra, Nobel Sastra pada Desember 2000. Pemenang Nobel ini pun dalam pidatonya mengatakan bahwa “Bahasa memiliki kekuatan untuk menggerakkan tubuh dan jiwa.”

Apa yang dialami dan dikatakan Xingjian di atas mengingatkan kita pada Hikayat Prang Sabi yang ditulis oleh ulama Aceh Teungku Chik Pante Kulu, bahasa sastra dalam hikayat tersebut mampu menggerakkan tubuh dan jiwa rakyat Aceh, mengobarkan api semangat juang melawan Belanda tanpa mengenal rasa takut.

Hikayat Prang Sabi dikarang oleh Teungku Chik Pante Kulu, ia lahir di desa Pante Kulu, Pidie pada 1251 H (1836 M). Hikayat ini ditulis pada 1881 M, saat ulama dan pujangga ini pulang dari Mekah, adapun tujuan ditulisnya syair ini untuk membangkitkan perlawanan sebagai jalan jihad melawan penjajah.

Semenjak perang Aceh meletus pada 1873, rakyat Aceh sangat solid dan berani melawan penjajah. Aceh pun sulit ditaklukkan oleh Belanda, hal ini tidak terlepas dari peran ulama bernama Tengku Chik Pante Kulu dalam memimpin rakyat Aceh melawan Belanda dengan syairnya yang menggugah, Hikayat Prang Sabi.

Cendekiawan Aceh, A. Hasjmy menganalisis Hikayat Prang Sabi ini. Menurutnya ada tiga faktor keberhasilan Hikayat Prang Sabi dalam melawan penjajah. Ketiga faktor tersebut adalah segi seni-bahasa atau kesusastraan, segi pendidikan dan segi dakwah.

Hikayat Prang Sabi ini, Belanda pun melihatnya sebagai senjata yang sangat berbahaya karena sanggup membangkitkan semangat perang untuk melawan Belanda.

Hikayat Prang Sabi mengandung nilai sastra yang sangat tinggi dan telah dibahas oleh ahli bahasa dan sastra Aceh H.T. Damste. Sebagai karya sastra ‘puisi perang’ telah menjadikan Belanda mati ketakutan dan mengambil inisiatif bahwa Hikayat Prang Sabi dilarang dibaca dan disebarkan kepada rakyat Aceh.

Zentgraaf, penulis Belanda melukiskan Hikayat Prang Sabi sebagai karya sastra yang sangat berbahaya karena para pemuda meletakkan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya sastra Hikayat Prang Sabi, menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung.

Bahkan Anthony Reid (ahli sejarah) penulis buku “Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19” mengatakan Hikayat Prang Sabi sebagai sesuatu yang sangat dahsyat.

Hikayat Prang Sabi ditulis dalam bentuk puisi yang terdiri dari empat kisah, yaitu: kisah Ainul Mardhiah, kisah Pasukan Gajah, Sa’id Salmy, dan kisah M. Amin (budak mati hidup kembali). Kisah ini fiktif tetapi berdasarkan sejarah untuk membangkitkan semangat jihad di kalangan rakyat Aceh melawan penjajah.

Berikut petikan Hikayat Prang Sabi yang ditulis oleh Tengku Chik Pante Kulu dengan indah dalam empat rangkum sajak, sebagai berikut:

  • Setelah puji salat dan salam
  • Sewarkah hadiah hamba sembahkan
  • Dengan hidayah Khalikul Alam
  • Hikayat Perang Sabil hamba kisahkan

  • Pekabaran Alquran akan direka
  • Pinta kakanda pada adinda
  • Menolak kehendak layak tiada
  • Meski karangan kurang sempurna

  • Benarlah ini amalan terpuji
  • Semoga Ilahi beri pahala
  • Berguna kehendaknya bagi semua
  • Handai tolan sahabat segala

  • Ganti memberi keris berdulang
  • Lumbung padi berderet rapi
  • Ganti pusaka pucuk kerawang
  • Inilah rangkaian intan baiduri.

“Ada satu kebiasaan para ulama yang saleh bahwa mereka selalu mengemukakan kelemahan dan kekurangannya dalam mengarang sekalipun pada hakikatnya karangan mereka merupakan karangan bermutu tinggi.” Kata Ali Hasjmy.

Kebiasaan ini, tertuang juga pada Hikayat Prang Sabi seperti syair berikut ini:

  • Ragulah hamba seketika
  • Karena mengarang belum biasa
  • Namun demikian hamba reka kan
  • Tamsil ibarat bagi saudara

  • Berikan hamba maaf
  • Andaikan salah rekaan kata
  • Hamba mengarang Lillahi taala
  • Karena Allah semata-mata.

  • Selain mengemukakan kelemahan dan kekurangan dalam mengarang, Chik Pante Kulu juga mendahului seluruh karyanya dengan puji dan sanjungan, seperti syair berikut ini:
  • Alhamdulillah Tuhan Pencipta
  • Alam semesta karunia Ilahi
  • Arasy tinggi, surga dan neraka
  • Langit bumi, segala isi

  • Setelah itu salat dan salam
  • Untuk junjungan penghulu Nabi
  • Demikian pula sahabat kenalan
  • Muhajirin dan Ansar pejuang asli.
  •            

Hikayat Prang Sabi suatu karya sastra puisi perang (epic poetry) yang merupakan karya sastra tingkat tinggi. Bukan hanya karya sastra, tapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan dan sarana dakwah yang membangkit semangat perjuangan.

Karena itu, Teungku Chik Pante Kulu berhak mendapat gelar pahlawan “penyair perang” terbesar dalam sejarah dunia. Dengan mengetahui hikayat ini juga kita tidak melupakan sejarah dan mengambil pelajaran dari pahlawan-pahlawan masa silam dalam mempertahankan bangsa dari serangan penjajahan Belanda.

Selain itu juga buku ini layak dibaca bagi semua kalangan untuk memperluas dan menambah wawasan dalam khazanah pemikiran Islam maupun dari sisi sastranya yang merupakan karya sastra tingkat tinggi.

  • Info Buku:
  • Judul Buku      : Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun   
  • Melawan Agresi Belanda
  • Penulis             : Ali Hasjmy (Akademisi, Sejarawan, Pujangga, dan Politisi)
  • Penerbit           : Jakarta, Bulan Bintang
  • Tahun Terbit    : 1977
  • Jumlah Hlm     : 352