Aku tidak pernah merasa serepot ini menghadapi corona. Tapi bagiku, yang paling mengerikan dari pandemi ini adalah ketika malam tiba. Kesepian dan kepedihan yang menahun itu terasa semakin dekat dan tak terelakan. 

Malam-malam sunyi yang panjang dan selalu memenangkan suara jangkring dan mengingatkanku akan desah mesranya. Malam-malam yang selalu kita upayakan untuk dihindari. Malam-malam yang selalu kita coba tenangkan dengan keramaian dan kutipan kata indah.

Bertahun-tahun hidup berulang dalam balutan omong kosong dan kepura-puraan. Sungguh memuakkan.

Ada sekian banyak tafsiran mengenai pandemi korona.

Wabah yang tak berujung, kutukan primbon, teori konspirasi, ujung kehidupan manusia, dan mungkin beberapa yang lain menikmatinya sebagai peringatan dari yang maha kuasa.

Tapi aku lebih suka menafsirkannya sebagai jalan sunyi untuk menghina kepura-puraan. Setelah sekian malam, aku ambruk dihabisi malam kesekian ini.

Ada sekian kitab yang mengatakan bahwa, bertapa, menempuh jalan sufi, atau secangkir kopi di waktu senja adalah cara mengenali dunia. Bagiku tidak. Aku hanya perlu satu malam pandemi untuk mengenal dunia. Mengenang betapa memalukannya kita dalam kepalsuan.

Tadi pagi aku membaca sebuah berita di Hindustan Times. Sebuah surat kabar harian berbahasa inggris asal New Delhi. Cukup mencengangkan. Isinya kurang lebih begini, pasca badai corona yang hebat di China, kini keadaan berangsur membaik. Tapi kini China dilanda masalah baru. Tingkat perceraian mendadak melambung tinggi.

Pasangan disana terbiasa dengan kesibukannya masing-masing. Mereka jarang sekali bersama. Menampik pentingnya bercinta setiap barang seminggu tiga kali. Berciuman sampai terguling-guling di lantai dapur, atau berbagi piring berisi lauk pauk yang dihangatkan karena mereka tak cukup mampu membeli makanan yang baru.

Berlindung dibalik pembenaran betapa pentingnya kesuksesan karir. Memakai barang yang trendy dan ber-merek. Nongkrong di atap hotel bintang lima. Kesibukan-kesibukan yang dimaksudkan untuk memenuhi hasrat persaingan kasta yang tak ada habisnya. Sungguh sesuatu yang tak perlu, mereka hanya berupaya untuk menolak kekalahan yang dekat.

Maka ketika situasi mengharuskan mereka diam dirumah. Menghabiskan waktu dengan orang yang itu-itu saja. Bercengkrama dengan kenyataan yang pahit. Kenyataan tanpa pengakuan. Mereka tak mampu.

Pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi. Dan pada akhirnya berujung murka angkara. Jalan pintas diambil, perceraian. Kemudian memulai kepura-puraan yang baru.

Dunia memuji habis kebudayaan workaholic masyarakat Jepang. Sebagian dunia yang mengkritik kebudayaan ini hanya melampiaskan bentuk rasa irinya. Berharap Jepang melakukan harakiri kepada kebudayaan itu lalu berimplikasi pada produktivitas negaranya. Sungguh menjijikan, membuat standarisasi tertentu untuk mengakhiri persaingan ekonomi.

Tapi apakah Jepang selamanya bahagia? Aku rasa tidak. Selama pandemi ini mereka hanya bisa dirumah. Menerima kenyataan bahwa manusia perlu beristirahat. Ada juga yang harus menerima kenyataan untuk melihat anaknya sakaw didepan orang tuanya. Ternyata afeksi lebih mahal daripada emas yang bertumpuk. Sesuatu yang mahal ditengah sibuknya kota kosmopolitan.

Mungkin setelah ini seharusnya mereka paham dan sadar, interaksi adalah penting. Atau dalam pemahaman yang lebih radikal, mereka akan paham bahwa kapitalisme adalah jahat!

Beberapa yang lain mengekspresikan ketakutannya menerima situasi ini dengan penjagaan yang berlebihan. Orang bilang, kalau kita peduli satu sama lain, cukup dirumah saja? Toh setiap ruas jalan sudah mulai ditutup dan diberi berbagai macam alat pengusir wabah. Tapi kita masih perlu berlaga paling paham dan kuat.

Sungguh kita tidak pandai berpura-pura. Kita harus banyak belajar dari Charlie Chaplin atau Dono, Kasino, Indro.

Setelah sekian malam yang penat dan melelahkan aku memberanikan diri keluar. Ini jam 7 malam. Aku mencari sebuah warung kopi. Seperti dugaanku, sepi. Tapi bukankah ini yang didambakan setiap orang? Kita selalu mencari warung kopi yang sepi. Berharap obrolan akan intens dan hangat.

Lalu untuk apa berpura-pura merindukan keramaian? Kita hanya merindukan pengakuan yang ada didalamnya. Lagipula setelah sekian kesempatan mendapatkan warung kopi yang sepi, daripada memulai obrolan-obrolan hangat, kita sibuk dengan gadget dan urusan sosialita yang remeh-temeh.

Sungguh kita tidak pandai dalam berpura-pura. Kita harus banyak belajar dari politisi yang kita benci.

Aku habiskan secangkir kopi susu dan 50 halaman buku novel yang belum sempat terbaca sejak awal aku membelinya. Aku berencana memesan secangkir lagi dan melanjutkan membaca buku novel ini.

Belum sempat aku berdiri dan memesan, telepon genggam ku berdering. Itu adalah ibuku.

“Kak, pulang, sudah malam, bahaya.”

“Aku engga papa bunda, semua aman kok.”

“Aku juga engga berkerumun, lagipula ini masih jam sepuluh” Jawabku membela diri.

“Bukan masalah berkerumun, bahaya bukan hanya dari corona, orang-orang sudah mulai gila.”

“Bunda masih mau liat kamu tumbuh dewasa, menyelesaikan studimu, bekerja, menikah, dan kasih bunda cucu.” Ibuku terlihat tidak mau berdebat.

Orang-orang memang sudah berangsur menjadi gila. Ekspresi dari kejenuhan dan ketidakmampuan yang tertimbun setiap hari. Angka kriminalitas meningkat. Orang-orang butuh makan. Apalagi yang beristri dan beranak empat. Mereka banyak yang dirumahkan. Pencurian bukan lagi kejahatan, itu cara bertahan hidup.

Tapi terlepas dari itu, telepon singkat tadi terasa sangat sentimentil. Kita sering dibuat kelimpungan mencari perhatian dan kasih sayang kesana-kemari. Berpura-pura menyukai apa yang gebetan kita sukai. Bahkan harus memasang foto yang paling baik dengan balutan aplikasi editor wajah. Semua dilakukan untuk menarik simpati dan rasa ketertarikan.

Kita sungguh tidak pandai berpura-pura. Aku kini sadar, tafsiran soal ibu memang harus dilebih-lebihkan. Barangkali dia yang paling tidak pandai berpura-pura dalam menyembunyikan kekhawatiran dan kasih sayang.

Aku memutuskan pulang. Kupasang headset di kedua telingaku. Kurasa tidak ada polisi yang akan menegur. Motor ku laju dengan kecepatan standar. 40 kilometer per jam. Perjalanan pulang kali ini terasa sangat sinematik. Aku sedang tidak berlebihan.

Aku hanya mengendarai Honda Beat 110 cc keluaran tahun 2014. Entah mengapa belakangan jagat sosial media ramai mencibir keberadaan motor ini. Tapi aku tidak pernah merasa kerepotan dengan hal-hal semacam itu. Biar harus dibandingkan dengan Harley Davidson, aku masih terlampau sayang pada Beti, panggilan untuk motorku.

Bukan dalam rangka munafik. Aku punya memori manis dengan motor ini. Dulu dalam keadaan terpuruk, ketika ayahku dalam posisi sepi kerjaan, ibuku memutuskan untuk kembali bekerja. Dia berhenti bekerja saat hamil pertamanya. Saat itu usia kandungannya delapan bulan. Akulah yang ada didalam kandungan itu.

Saat itu tahun 2015. Aku naik kelas 2 SMA. Semua teman sebayaku sudah punya motor pribadi. Sebagian juga sudah parkir dengan mobil. Saat itu keluargaku hanya memiliki satu motor. Kami bergantian menggunakannya.

Sepertinya psikiater terbaik adalah ibu. Motivasinya bekerja saat itu hanya satu. Dia ingin membelikanku sebuah motor baru. Dia ingin anaknya merasa lebih percaya diri dan semangat sekolah. Melakukan tindakan prefentif dari rasa minder yang mungkin saja menghampiriku.

Singkat cerita, setelah sekian bulan bekerja, ibuku berani mengkredit motor. Dan lunas setahun kemudian. Jadilah Beti sebagai kado ulang tahunku yang ke 17.

Oleh sebab itu, dari beberapa kali usulan untuk mengganti motor, aku selalu merasa keberatan. Aku dan Beti seperti sudah berjanji sehidup semati bersama-sama.

Perjalanan pulang berlanjut. Jalanan begitu sepi. Sesuatu yang selalu didambakan orang kota. Jalanan yang lenggang, tidak ramai kendaraan, memungkinkan mobilitas yang lebih cepat.

Tapi kenapa kita masih saja merindukan keramaian? Bukankah jalanan macet dan suara klakson adalah dua hal yang selalu kita caci maki?

Udara dingin mulai menyelinap masuk lewat celah jaketku yang terbuka. Dan entah mengapa semua ini mengingatkanku pada kekasihku.

Dia yang selalu memelukku dari belakang. Dan entah apa pula yang ada dipikirannya, dia selalu tahu aku mudah kedinginan ketika membawa motor dimalam hari. Sehingga dengan sigap dia akan menutupi setiap celah yang terbuka, sebisamu. Atau jika aku lupa memasang kancing jaketku, dengan pelan dan hati-hati dia selalu sigap memasangkannya.

Ngomong-ngomong aku juga sedang mendengarkan lagu Sesame Syrup dari Cigarettes After Sex. Lagu dan band yang sama-sama kami sukai. Bukan karena kami penggila sex. Apalagi dia bukan perokok. Kami hanya sepakat lagu ini mewakili posesifitas kami satu sama lain. Mewakili perasaan yang takut dan gelisah.

Jalanan yang sepi membuat headset seharga lima belas ribu ini terasa seperti berharga dua ratus ribu, atau mungkin lebih mahal. Dia bekerja dengan baik, karena tidak bersaing dengan suara kendaraan apapun. Membuat setiap lirik lagu dapat kudengar dengan baik.

Tak terasa aku sampai didepan rumah. Aku segera masuk dan membersihkan diri.

Atas semua hal yang terjadi belakangan ini, sungguh kita sudah ditelanjangi. Setelah pandemi dan semua kesunyian ini berlalu, aku bertaruh kita akan merindukannya.

Kita sungguh tidak pandai berpura-pura. Mungkin pada akhirnya kita harus belajar menerima kepedihan dan berhenti menafsirkannya dengan kepalsuan yang berlebihan. Semua sungguh biasa saja.

Meski menyadarkanku pada hal-hal kecil yang mengesankan. Malam  ini membuatku sangat lelah. Atau mungkin sesi kerinduan tadi yang paling melelahkan.

Aku ingin tidur cepat saja. Barangkali besok semua sudah kembali ramai. Kembali dengan kepalsuan-kepalsuan yang baru.