Aktivis
1 bulan lalu · 104 view · 6 min baca menit baca · Sejarah 48949_31168.jpg

Hikayat Kertas dan Ketakutan Penguasa terhadap Kemajuan

Pada umumnya, menulis tentang kertas adalah aktivitas senyap mengomel perihal buku, sampah, kegundulan hutan, dan dunia yang kian hari semakin bertambah panas (global warming). 

Karena biasanya, ketika mendengar kata 'kertas' soal-soal atau tema-tema itu yang muncul di benak pikiran kebanyakan orang: spesifiknya, kalau bukan tentang kematian, pasti tentang kehidupan. Padahal diantara kehidupan dan kematian ada perjuangan.

Mayoritas intelektual di belahan dunia barat pun sama dengan kita di Indonesia dalam hal memandang kertas-buku-lingkungan secara polos; sebatas sampah dan kehadiran teknologi menawarkan keramahan lingkungan dan kelestarian hutan. Seolah-olah sebuah rumah hanya terbuat dari pasir (tetap saja itu mengeksploitasi alam) tanpa membutuhkan sepenggal kayu pun. 

Sangat jarang dari kita memikirkan, meriwayatkan atau menuliskan bagaimana kertas mempertaruhkan sendiri nyawanya melawan penolakan penguasa untuk kehidupan manusia yang setara dan berkemajuan.

Saya rasa, masih kuat tertanam di ingatan para Intelektual Indonesia tentang penguasa yang gemar menyita buku dan phobi terhadap jenis pemikiran diluar dari kebiasaan berpikir; out of the box

Hal ini, bila ditelisik lebih jauh ke dalam sejarah kita akan menemukan hal dan watak yang serupa, sebab pada hakikatnya kertas seperti yang dikatakan Bernard Shaw "kertas membawa cinta, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, dan kehidupan" dan Michel Foucault "pengetahuan adalah kekuatan".


Buku dan Penguasa Yang Menzalimi Kemajuan

Sekitar 574 tahun yang lalu, di kota Mainz, Jerman, seorang pria bernama Johannes Gutenberg mempertontonkan sebuah karya inovasi luar biasa yang kelak merubah wajah perekonomian dunia: alat cetak pres dengan pelat huruf yang bisa dibongkar-pasang. 

Sebelum itu penggandaan sebuah buku dilakukan dengan penyalinan secara manual, yang mana prosesnya sangat menguras waktu maupun tenaga. Diperbanyak dengan lembaran blok cukil kayu, yang setiap halaman dibuat dari selembaran papan yang hurufnya dipahat satu demi satu. 

Maka wajar saja kalau dulu buku sangat sulit didapati dan sangat mahal harganya. Di kebudayaan cina klasik, hal ini (produksi aksara) hanya terjadi dalam batasan lingkup tembok kehidupan dinasti (para elite).

Setelah alat pres ditemukan oleh Gutenburg segalanya mulai berubah. Buku bisa diperbanyak dengan cara teknik cetak dan semakin mudah diperoleh. Jika tak ada penemuan ini, mayoritas penduduk dunia, dan hampir seluruh dari kita "terutama rakyat biasa" di Indonesia akan tetap buta aksara dan tidak bisa mengenyam pendidikan.

Bangsa-bangsa eropa pada saat itu menyadari arti penting alat itu untuk menumbuhkan taraf kehidupan perekonomian. Pada tahun 1460 sudah ada sebuah percetakan di Stasbourg, Prancis. Memasuki akhir dasawarsa 1460-an beberapa percetakan pres berdiri di Roma dan Venesia, kemudian berbagai perusahan di Florence, Milan, dan Turin. 

Kemudian menyebar ke London (Wiliam Caxton mendirikan perusahaan pres tahun 1474), dan tahun 1474 di Oxford. Pada masa yang sama, tahun 1473, menyebar ke Spanyol dan eropa timur, dengan dibukanya sebuah percetakan pres di Budapest pada tahun 1473, dan di Krakow tahun 1474.

Tetapi perjalanan hidup kertas bersama alat pres tak semua orang antusias menghendakinya. Tahun 1485 Sultan Bayezid II dari kekaisaran Ustmani secara resmi melarang rakyatnya yang notabenenya adalah beragama Islam untuk tidak mencetak dengan huruf arab. Pada tahun 1515 larangan ini semakin dipertegas oleh Sultan Selim. 

Dua ratus duabelas tahun kemudian baru percetakan diizinkan di sana, namun hanya di beberapa wilayah saja ketika Sultan Ahmed III menerbitkan dekrit yang isinya memberikan izin usaha kepada Ibrahim Muteferrika, itupun tetap diembeli berbagai persyaratan. Sang Sultan berkata: 

"Pada hari penuh berkah ini, selubung alat cetak dari barat ini akan tersingkap seperti cadar seorang mempelai wanita dan tak akan pernah lagi disembunyikan".

Inti dekrit yang terpaksa Sultan Ahmed III keluarkan adalah: "agar kitab yang dihasilkan nanti bebas dari salah cetak, maka hasil cetakannya terlebih dahulu harus diperiksa oleh para ahli hukum syariat Islam agar sesuai dengan ajaran agama". Artinya, Muteferrika boleh menjalankan usaha cetak tetapi harus tetap berada dalam pengawasan penguasa dan oleh hakim yang telah ditunjuk sebagai juri atau pemeriksa aksara.


Kendati sudah diberikan izin membuka usaha percetakan, harapan Muteferrika untuk mengoperasikan usaha yang dilakoninya secara maksimal pupus akibat adanya kekangan dan sensor dari penguasa, yang pada akhirnya membuat dirinya gulung tikar alias tutup. 

Sepanjang usahanya dari awal hingga tutup ia hanya bisa menerbitkan tujuh belas judul buku. Keluarganya mencoba berusaha untuk meneruskan Muteferrika, tetapi mereka hanya berhasil menambah tujuh judul buku. Setalah itu tutup lagi.

Aksi pemasungan terhadap teknik percetakan jelas berdampak pada keaksaraan, pendidikan, serta kesejahteraan ekonomi rakyat. Pada tahun 1800 hanya 2 atau 3 persen penduduk di sana yang mengenal aksara dan perekomiannya bisa dibilang stagnan. Berbanding terbalik dengan Denmark dan Jerman yang penduduknya hampir semua menguasai aksara.

Motif penentangan itu tidak lain, seperti yang kita bersama ketahui, adalah karena buku akan menyebarkan ilmu pengetahuan dan itu bisa membuat penguasa sulit mengatur masyarakat. Pun akan ada sebagian gagasan dari dalam buku yang bisa meningkatkan taraf kehidupan ekonomi, tetapi pasti lebih banyak mengandung gangguan kemapanan politik dan status quo. 

Keberadaan buku terutama akan sangat mengancam kekuasaan para pemegang tradisi lisan yang tidak mengenal tulisan: martabat dan gengsi sosial mereka akan jatuh karena ilmu pengetahuan kelak bisa dipelajari oleh siapa saja yang memahami aksara.

****

Sebenarnya, sejak awal kemunculan teknologi cetak (alat pres), Johannes Gutenberg pun menemui penolakan dan tantangan yang hebat, tetapi tidak selama di timur tengah, seperti di Istanbul dan Mesir. Karena memang hal itu akan menciptakan ruang ketidakbergantungan dan memperkecil dominasi penguasa terhadap rakyat. 

Sama seperti kisah William Lee tahun 1589 di Inggris yang menemukan mesin perajut otomatis (pemintal), setelah Ratu Elisabeth I (1558-1603) tahun 1583 mengeluarkan maklumat yang mewajibkan seluruh rakyat Inggris memakai topi rajutan. Lee yang hanya didorong oleh rasa empati melihat ibu dan saudara perempuanya duduk merajut seutas benang wol dengan jarum sepanjang malam dan memakan waktu lama berusaha menciptakan alat perajut otomatis. 

Pada saat itu Lee berpikir bahwa ada banyak rakyat di luar sana yang merasakan kesulitan yang mungkin sama dengan ibu dan adiknya rasakan. Pada tahun 1589 Lee berhasil menemukan apa yang ia ingin dedikasikan ke warga Inggris pada umumnya, mesin perajut otomatis yang bernama "stocking frame".

Lee, dengan harapan penuh cita bersemangat memulai perjalanan panjang ke London menghadap Ratu Elisabeth I untuk memperlihatkan kehebatan dan manfaat mesin ciptaannya, sekaligus memohon sang ratu memberikan hak paten agar orang lain tidak menjiplak hasil karya miliknya. 

Namun harapan Lee pupus, ia ditolak habis-habisan oleh Ratu Elisabeth I. Sang ratu berkata "kau terlalu ambisius, tuan Lee." Sang ratu mengatakan kepada Lee bahwa mesin itu berbahaya, bisa merampas pekerjaan jutaan orang, menciptakan pengangguran dan kesenjangan sosial. Padahal apa yang pasti akan terjadi adalah terancamnya tahta sang ratu dan dominasi yang dimiliki kerajaan selama ini. Mata sang ratu melihat potensi itu.


William Lee pulang ke rumah dengan hati hampa, hingga setelah Ratu Elisabeth I turun tahta dan digantikan oleh Raja James I (1603-1625), Lee baru kembali menghadap ke sang raja untuk meminta hal yang sama. 

Tetapi Lee lagi-lagi menerima penolakan yang senada. Perjuangan Lee dan seluruh orang Inggris yang menghendaki perbaikan taraf hidup berpuncak pada terjadinya revolusi Industri, yang merupakan titik balik perubahan wajah ekonomi dunia.

Pada dasarnya buku dan benang wol sama saja, sama-sama berasal dari tubuh alam. Berkat terjadinya revolusi Industri pada periode antara tahun 1750-1850 di Inggris, gerbang kesejahteraan rakyat mulai terbentang luas. Indonesia saat ini sedang sangat berantusias memanfaatkan temuan kemajuan untuk menciptakan kemajuan yang lebih baru dengan nafas yang lebih panjang, yaitu untuk pemerataan kesejahteraan dan keberlangsungan hidup manusia pada umumnya di masa mendatang.

Sampai kapan pun kertas dan buku pada esensinya adalah tetap sebuah pohon, tak berubah. Dari situ oksigen kita hirup dan kehidupan berakar, pun yang berguna tidak akan pernah punah. Tugas utama homo sapiens adalah memanfaatkan alam sebagaimana mestinya, melakukan pembaharuan, dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

Bagi saya pribadi, hidup adalah proses mencipta makna dan memberi pesan, dan hanya melalui buku pesan kehidupan bisa kita wariskan untuk generasi berikutnya; bahwa soal keberlangsungan hidup bertumpu bukan pada kebijakan, melainkan pada kebijaksanaan manusia.

Juga semisal berpesan tentang pemanfaatan kertas yang tak hanya bisa dijadikan buku, tetapi kertas juga bisa dijadikan sebagai pembungkus makanan serta ornamen rumah, sekolah, kantor, dan gedung gedung yang dihuni oleh manusia.

Artikel Terkait