Beberapa waktu yang lalu, tidak seperti biasa hujan deras mengguyur pinggiran kota Surabaya. Lebih dari dua minggu sudah tidak turun hujan seperti ini. Entah apa yang salah dari langit kota Gresik.

Oke oke, kita tidak akan membicarakan hujan yang kadang mengembalikan kenangan mantan ini. Apalagi kota Gresik yang padat dan panasnya luar biasa. Tapi perlu diingat, salah satu kenikmatan Tuhan ketika hujan selain 'ngamar' adalah cangkrukan. Ngopi, ngobrol dan berbagi cerita.

Dan di momen-momen seperti inilah saya mendadak mejadi seorang pengamat politik, pengamat ekonomi, seorang pandit, komentator bola, hingga badut ulang tahun. Lalu malam itu, muncullah sebuah obrolan yang jadi sebab musabab lahirnya tulisan ini.

Ketika itu teman saya berkata, "Gus Mus (A. Mustofa Bishri, mertua bang Ulil Abshar Abdalla) itu kadang kontroversial pemikirannya lho, Bang. Pernah suatu ketika beliau mengisi sebuah acara di Kediri, beliau bilang kalau misalkan Nabi Muhammad itu diturunkan di Jawa beliau pasti tidak memakai jubah, tapi memakai batik."

Sependapat dengan orang ini, seorang teman saya menimpali, "Mungkin beliau belum sempat membaca kitab Fikih Siroh Nabawinya almarhum Said Romadlon al-buthy (mufti Syiria) soal hikmah kenapa Rasul diturunkan di Jazirah Arab." Pungkasnya.

Eh, tunggu sebentar.

Setidaknya ada 4 argumen yang bisa saja saya sampaikan malam itu di hadapan teman-teman saya, lantas secara dramatis saya akan lari ke pojok lapangan, mencium lambang Arsenal di dada sambil melakukan selebrasi goyang ombak milik Daniel Sturridge. Tapi tidak begitu juga. Ini serius. Mungkin argumen saya lebih bermanfaat jika dituliskan.

Yang pertama, sebagai prolog. Saya sampaikan ucapan almarhum Gus Dur: "Islam datang bukan untuk mengubah saya jadi ane dan sampean jadi ente." Dari kalimat ini bisa ditarik garis lurus sepanjang ribuan meter bahwa Islam tidak juga datang untuk mengubah blangkon menjadi peci, tembang Jawa menjadi nasyid Arab, hingga bisa jadi batik menjadi jubah. Seperti itulah.

Yang kedua, ucapan Gus Mus ini tergolong sebagai opini. Ini jelas sekali dengan redaksi kata "kalau" dan "misalkan", di mana keduanya punya makna pengandaian. Opini/pendapat seseorang boleh saja beraneka ragam. Imam Syafi'ie dengan kapasitasnya sebagai seorang ulama dan mahdzab fikihnya diikuti mayoritas umat Islam di dunia pernah berkata: "likulli ro'sin, ro'yun." Bagi setiap kepala ada pendapat.

Jadi sah-sah saja Gus Mus berpendapat. Apalagi kita hidup di NKRI, di mana kebebasan berpendapat dilindungi undang-undang. Adapun kalau ucapan ini mengandung kontroversi, kita bahas nanti.

Yang ketiga, ucapan teman saya yang kedua soal alasan dan hikmah kenapa Jazirah Arab dijadikan tempat awal tumbuh Islam dalam buku Said Romadlon al-Buthy memang benar adanya. Di antaranya, keberadaan bahasa Arab yang mana memiliki berbagai keistimewaan seperti tingkat kefasihan, luasnya makna dan lain sebagainya.

Lalu letak geografis jazirah Arab, di mana kala itu berada di tengah dua peradaban besar Persia dan Romawi sehingga memudahkan untuk berkembang ke penjuru dunia. Tapi yang perlu digaris bawahi di sini adalah dr. Said Ramadhan al-Buthi dalam bukunya tersebut tidak meniadakan kemungkinan Nabi Muhammad diutus di tempat lain.

Sehingga di titik ini bisa disimpulkan bahwa bisa dan mungkin saja nabi Muhammad diutus di tanah Jawa dan memakai baju batik. Hanya saja itu tidak terjadi karena kebijaksanaan Tuhan.

Dan yang terakhir, Islam sebagai sebuah agama. Termasuk agama yang memiliki hukum dengan fleksibelitas tinggi. Dalam redaksi bahasa Arab disebut "sholih li kulli zaman wa solih li kulli makan." Artinya hukum Islam itu cocok di manapun dan kapan pun.

Hal ini dikarenakan dalam hukum Islam dikenal dengan adanya ilat. Yakni sebab atau alasan. Di mana dengan adanya ilat tersebut maka akan ada sebuah hukum. Pun sebaliknya, ketika tidak ada ilat maka hukum pun tidak akan ada.

Maka dalam konteks baju batik tadi, tidak seyogyanya perlu diperdebatkan. Karena mau baju gamiskah, mau jubahkah, mau batikkah, ilat ketiganya sama. Sama-sama menutupi aurat.

Adapun jika jubah dan batik ini dirunut ke ranah kebudayaan, maka sama halnya keduanya tidak perlu di permasalahkan. Karena dalam kajian ilmu ushul fikih, ada sebuah kaedah berbunyi "al adah muhakam." Di mana sebuah budaya bisa menjadi sebuah hukum manakala tidak keluar dari koridor batasan-batasan yang sudah Tuhan tetapkan.

Maka ketika jubah sebagai budaya Arab dijadikan hukum bagi orang Arab, bisa jadi batik juga seharusnya menjadi hukum bagi kita. Kecuali kita rela batik sebagai warisan moyang kita itu diklaim sebagai budaya Arab. Kalau saya tidak rela. Kalau Anda?