Jika mendengar kata ‘hijrah’ apa yang ada di pikiran kita?

Move on atau berubah?

Menurut KBBI sendiri ada tiga versi arti dari hijrah, pertama : perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, kedua : berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya), dan ketiga : perubahan (sikap, tingkah laku, dan sebagainya) ke arah yang lebih baik.

Baik, kembali ke topik. Ketika berbicara tentang hijrah apalagi di era sekarang yang sedang trend. Banyak orang-orang yang hijrah, mulai dari fenomena artis hijrah, tokoh-tokoh publik, dan teman-teman sekitar aku juga banyak yang hijrah.

Namun, hijrah yang akan dibahas disini adalah hijrah dalam perjalanan spiritual seseorang. Atau progres kehidupan seseorang, yang dulunya kurang baik sekarang menjadi lebih baik.

Ketika menulis tulisan ini, aku adalah orang yang sudah beberapa bulan menggunakan cadar.

Cadar, iya penutup sebagian wajah itu.

Terlahir dari keluarga yang sangat biasa, bukan pula agamis adalah suatu ketentuan dari Yang Maha Kuasa. Dan disinilah perjalanan hijrahku dimulai.

Dari SD aku bersekolah di sekolah negeri yang notabene nya adalah sekolah umum. Semua hal yang dipelajari tidak ada yang khusus.

Lalu ketika lanjut ke jenjang SMP, barulah aku masuk di SMP Swasta Islam Terpadu. Ya, dari sinilah aku mulai lebih mengenal lagi tentang agama. Dimana di dalam mata pelajarannya terdapat tahfidz (menghafal Al Qur’an) dan bahasa Arab.

Kemudian ada kegiatan mentoring atau kajian perkelompok bersama ustadzah di sekolah. Disini kami saling share info, bertukar pikiran dan pengalaman, dan tentunya materi atau ceramah yang disampaikan oleh ustadzah.

Di SMP ku ini, ada penilaian selain akademik. Penilaian ini dihitung berdasarkan poin. Jika melanggar aturan sekolah maka akan dikurangi poin nya. Dan salah satu aturan yang sangat besar poinnya jika dilanggar adalah tidak mengenakan jilbab di luar lingkungan sekolah.

Yep, seperti yang kita ketahui zaman sekolah dulu pakai jilbab hanya di sekolah saja. Dengan aturan seperti ini, mau tidak mau akupun mulai memakai jilbab.

Awalnya sulit, karena tidak terbiasa. Bagaimana tidak, ketika SD jilbab hanya dipakai hari Jum’at saja, lanjut siangnya di MDA (tempat ngaji). Selain itu tidak pernah memakai jilbab.

Begitulah awalnya, berangkat dari keterpaksaan akhirnya aku bisa istiqomah memakai jilbab.

Akhirnya masa SMA pun dimulai, dimana masa ini menurutku adalah masa yang paling menyenangkan dan dirindukan.

Aku melanjutkan sekolah di SMA negeri, dan tentu saja sekali lagi sama seperti di SD. Tidak ada mata pelajaran yang spesial. Hanya saja pelajaran-pelajaran yang semakin luar biasa.

Awal SMA, aku berpikir ingin menjadi siswa biasa. Maksudnya gimana?


Iya, penampilan biasa dengan jilbab shifon tipis yang hits pada waktu itu, jadi anak OSIS yang famous, dikenal guru, dan terakhir masuk tim paskibra sekolah. That’s my goals.

Dan jika masuk di sekolah negeri, untuk pakaian biasanya akan lama dibagikan. Jadi aku masih memakai baju SMP  yang dikenal orang sebagai sekolah anak berprestasi, dan agamis tentunya. Berbeda ketika bersekolah di swasta yang pakaiannya cepat dibagikan sebelum masuk sekolah.

Saat pengenalan organisasi-organisasi sekolah, dengan sigap aku memperhatikan secara seksama kakak OSIS yang memandu di depan panggung. Karena aku akan mengambil formulir OSIS dan Paskibra. Dan ya, kami satu angkatan dikumpulkan di dalam aula yang ukurannya pas-pasan dengan suasana yang panas.

Setelah pengenalan beberapa organisasi sekolah, akhirnya tibalah organisasi selanjutnya. Yakni ROHIS atau organisasi kerohanian Islam. Dan aku baru tahu kalau ada ROHIS di SMA.

Ketika kakak-kakak ROHIS memasuki ruangan aula yang panasnya luar biasa itu, tiba-tiba saja suasana hatiku sejuk. Aku terpaku. Maasya Allah, ini orang-orang yang luar biasa. 

Dengan tersenyum mereka menyapa kami semua, para anak baru.

Dikenalkanlah kami dengan all about ROHIS. Dan aku tentu saja menyimak karena rasa penasaran yang bergejolak.
Dan tanpa aku sadari, pikiran-pikiranku tadi yang mau jadi siswa biasa, masuk OSIS, masuk Paskibra, tiba-tiba hilang. Entah kemana.

Selesai mereka memperkenalkan ROHIS kepada kami, tibalah pembagian formulir. Dengan semangat aku meminta formulir yang ada. Kupandangi kertas itu, aku masih tak percaya atas apa yang kulakukan. Aku mau jadi anak ROHIS?

Beberapa hari kemudian dengan beberapa temanku yang juga mendaftar ROHIS, kami mendatangi musholla untuk mengantar kembali formulir yang telah kami isi. Sekali lagi dengan ramah kakak-kakak ROHIS menyambut kami.

Waaah, kalau ingat dulu itu rasanya indah sekali.

Finally, jadilah aku anak ROHIS di sekolah.

Aku anak Rohis, selalu optimis
Bukannya sok narsis, kami memang manis

Seketika lagu ini terngiang-ngiang di telingaku.

Disini aku belajar, betapa indahnya ukhuwah Islamiyah, indahnya memperdalam ilmu agama, belajar berorganisasi dengan baik, dan belajar bagaimana memanajemen waktu. Banyak sekali hal positif yang telah aku dapatkan di ROHIS.
Dan menjadi anak Rohis adalah salah satu anugerah terindah di dalam hidupku.

Ketika aku akhirnya lulus dan Alhamdulillah melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Sekali lagi aku dipertemukan dengan saudara-saudara  yang luar biasa. Yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan, dan tentu saja ukhuwah ini bernama Rohis.

Sekarang aku adalah muslimah yang sudah mengenakan cadar, namun aku bukanlah orang yang sudah tinggi ilmunya, paling benar akhlaknya, tidak.

Aku masih seorang pembelajar yang terus berusaha memperbaiki diri, yang masih harus selalu diingatkan, dan ingin mendekat kepada sang Rabbi.