Salah satu wujud apresiasi dan kebahagiaan atas kehijrahan Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah adalah keberhasilan Nabi dalam menjadikan hijrah sebagai tonggak awal peradaban umat.

Di Madinah, Islam kemudiaan berkembang pesat dan diterima dengan mudah oleh semua golongan. Kehidupan mereka di sana rukun dan menghargai perbedaan secara bijak. Nabi sebagai pemimpin umat Islam, tidak pernah mengintervensi sebagian golongan, justru malah memberikan jaminan keamanan.

Lahirnya Piagam Madinah menjadi bukti konkret, bahwa Nabi pada saat itu sangat menghargai adanya perbedaan sebagai hal yang tidak bisa dielakkan.

Selain itu, kehijrahan Nabi ke Madinah membuat perekonomian umat Islam makin maju, dan mendapat banyak pendukung dan pejuang yang tangguh dalam membela tegaknya agama Allah. Walhasil, Islam dapat berkembang dengan begitu pesatnya. 

Sehingga, dalam peristiwa kehijrahan Nabi, banyak sekali pembelajaran yang sampai hari ini tetap menginspirasi setiap umat, khususnya umat Islam.

Memaknai Hijrah

Secara etimologi, hijrah berarti berpindah. Jika lebih diperjelas, hijrah berarti perpindahan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Namun dewasa ini, pemaknaan hijrah makin beragam. 

Kehijrahan yang dilakukan oleh Nabi 1441 tahun yang lalu bukan hanya bentuk hijrah fisik dari Makkah ke Madinah, tetapi di balik itu semua adalah misi Ilahiyah berupa panggilan langsung dari Allah swt.

Kehijrahan Nabi mampu membawa kehijrahan sosial atau transformasi sosial dari keterpurukan masyarakat Madinah waktu itu menjadi masyarakat beradab. Proses hijrah yang dilakukan oleh Nabi pada dasarnya memberikan formulasi perubahan dari struktur masyarakat yang tidak baik menjadi lebih baik.

Dalam sebuah hadis Nabi saw mengatakan, ‘Tidak ada lagi hijrah sesudah pembukaan kota Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat yang tulus...’ (HR. Bukhari No.2575 dan Muslim No.3467). 

Jika kita cermati apa yang disabdakan oleh Nabi di atas, secara implisit menegaskan akan pemaknaan hijrah dalam makna yang sangat luas, sehingga konotasi yang digunakan adalah jihad dan niat yang tulus.

Jihad dan disertai dengan niat yang tulus berarti berjuang dengan sungguh-sungguh, atau dengan kata lain, berjuang dengan berbenah diri menjadi lebih baik. Maka apa yang telah digariskan oleh Nabi melalui proses hijrah, semestinya bisa membuat umat Islam menghadirkan diri mereka dalam kesadaran yang utuh tentang pentingnya berbenah melalui proses hijrah.

Sehingga dengan kesadaran tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik semangat perubahan atau kehijrahan dalam konteks berbangsa untuk menuju masa depan bangsa yang lebih baik.

Spirit Kehijrahan Bangsa

Dalam konteks kebangsaan, spirit hijrah yang bisa kita ambil adalah dengan berupaya terus-menerus berjuang dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan yang sedang kita hadapi saat ini. 

Maka hijrah dalam konteks ini menjadi sebuah penyulut semangat bagi setiap umat, khususnya umat Islam agar lebih keras lagi berjuang dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Mengingat sampai saat ini, banyak sekali diantara persoalan bangsa yang belum terselesaikan secara maksimal, ironisnya persoalan tersebut secara terus menerus berkembang biak tanpa bisa kita bendung, seperti korupsi, ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, dan diskriminasi. 

Semua persoalan tersebut butuh keseriusan dan kesadaran setiap umat, terlebih umat Islam untuk berjuang dengan lebih sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa saat ini.

Untuk itu, nilai kehijrahan yang berhasil ditanamkan oleh Nabi Muhammad dalam membawa masyarakat Madinah menjadi lebih maju, beradab, rukun dan sejahtera, harus mampu kita hadirkan di negara kita Indonesia sebagai manifestasi dari kesadaran kita akan makna dari proses hijrah tersebut.

Meskipun, kita tidak langsung berjuang bersama Nabi dalam proses hijrah. Namun sekarang kita memiliki tanggung jawab besar untuk membawa Indonesia berhijrah menjadi bangsa yang lebih maju, beradab, rukun, damai dan sejahtera, sebagaimana dulu yang juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam membawa Madinah berjaya.

Indonesia saat ini membutuhkan sosok tangguh yang memiliki kesungguhan dalam berjuang membawa kehijrahan atau perubahan di Indonesia. Umat Islam sebagai penganut agama sebagian besar dari bangsa ini harus mampu menghadirkan perubahan itu, agar makna hijrah yang pernah dilakukan oleh Nabi dahulu tidak sekedar menjadi cerita usang yang tidak bermakna.

Karena pada prinsipnya, dalam setiap perjalanan sejarah mengandung makna spirit perubahan yang harus senantiasa diperjuangkan setiap saat, secara khusus, dalam hal ini peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah adalah perjalanan bahwa manusia pada prinsipnya harus senantiasa berubah menjadi lebih baik.

Dalam konteks kebangsaan, spirit kehijrahan mestinya bisa membawa bangsa ini untuk menjadi lebih baik, bukan malah semakin kacau dengan hadirnya beragam persoalan kebangsaan yang tak kunjung selesai. Semoga!