Merupakan sebuah kelaziman, saat ini kita sering mendengar istilah hijrah. Hijrah yang dahulu dimaknai sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, kini berubah menjadi lebih filosofis.

Dahulu, nabi melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, dalam rangka untuk memperluas dakwah Islam. Selain itu, nabi juga mendapatkan undangan dari suku-suku di Yatsrib (namanya sebelum diubah menjadi Madinah) untuk mendamaikan pertikaian di antara mereka.

Memang betul, jika ada pernyataan bahwa hijrahnya nabi juga dimaknai sebagai hijrah dari hal buruk ke hal yang lebih baik. Alasan itulah yang kemudian mendasari adanya hijrah kekinian yang juga dimaknai demikian.

Anak muda sekarang rasanya tidak cukup puas dengan keyakinan akidah, syariah, dan akhlak sebagai legitimasi untuk menjadi seorang muslim yang taat. Sekarang, selain ketiganya, gaya hidup (islami) pun harus mendapatkan tempat. Mulai dari gaya berbicara, hingga cara berpakaian.

Saya sering menjumpai kasus ini. Kawan saya yang dahulu berpakaian ala-ala anak muda kekinian, berubah menjadi ukhti-ukhti atau akhi-akhi yang berpakaian “syar’i”. Menutupi semua bagian tubuhnya kecuali mata bagi perempuan, dan menaikkan celana dan berbaju koko bagi laki-laki.

Selain itu, gaya bicaranya pun sudah mulai berubah. Mereka mulai membiasakan diri dengan mengungkapkan istilah-istilah Arab yang ketika mendengarnya, saya merasa agak kikuk. Aneh, sih enggak, tapi bikin saya bingung bagaimana menimpalinya.

Misalnya panggilan bro diganti akhi, kata terimakasih menjadi syukron, dan lekas sembuh diganti syafakillah.

Mungkin dengan langkah-langkah sederhana semacam itu, mereka sedang memulai perubahan dari hal yang kecil dahulu. Yang semoga saja, bisa berdampak pada perubahan yang lebih baik. Kan, niatnya juga menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Tapi, fenomena hijrah ini rupanya tidak berhenti sampai sini saja. Kerap kali akhi dan ukhti hijrah ini mengeluarkan jurus-jurus tausiahnya untuk menasehati orang-orang di sekelilingnya. Mulai dari kawan dekat hingga kawan di media sosial.

Saya harus jujur, inilah yang membuat saya sedikit kesal. Bukan saya tidak suka dengan kebaikan, akan tetapi mbok ya tau diri kalau mau ngasih nasehat ke orang. Jangan sedikit-sedikit bilang Astaghfirullah.

Perubahan dari yang kurang baik menjadi baik itu memang bisa saya hargai sebagai sebuah proses yang sulit. Kesadaran akan pentingnya berubah juga merupakan sebuah kemajuan. Akan tetapi, tidak lantas ketika Anda sedang berhijrah, Anda menganggap bahwa orang di sekeliling Anda itu juga harus berhijrah.

Perlu adanya proses yang lebih panjang untuk mengantisipasi kekeliruan dalam menjalani proses penyembuhan dari tindakan yang sebelumnya negatif menjadi positif.

Seharusnya orang lebih tahu dan paham bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai sebuah konversi dari baik ke buruk dalam hal agama saja. Lebih dari itu, urusan dunia juga tidak bisa mereka tanggalkan. Menghargai orang lain juga harus dimaknai sebagai sebuah hijrah.

Kalau pemahaman hijrah hanya dimaknai sebagai berubahnya mereka dari tidak syar’i menjadi lebih syar’i saja, perlu diingat bahwa Islam tidak hanya menyoroti urusan syariah saja, tapi lebih luas daripada itu, ada akhlak, atau norma.

Islam tidak meninggalkan urusan dunia sepenuhnya. Islam masih sangat menghargai urusan dunia, sampai-sampai salah satu hadits nabi menyatakan bahwa beliau memerintahkan umatnya untuk bekerja dengan giat seakan-akan mereka akan hidup selamanya.

Hadits lain juga mengatakan bahwa nabi pernah menegur seseorang yang sedang ber-i’tikaf di masjid dan tidak bekerja. Ia mengandalkan keluarganya untuk menafkahinya. Bagi nabi, itu adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan.

Jadi, esensi dari sebuah hijrah seharusnya tidak hanya dimaknai sesempit mengubah gaya pakaian dan berlogat Arab saja. Namun, lebih dari itu. Hijrah seharusnya meliputi segala aspek.

Ketika orang sudah berkomitmen terhadap agama, tindakan religius mereka juga harus didasarkan pada ajaran agama. Dan dalam konteks ini, Islam juga mengaturnya.

Memang betul, ada hadits yang mengatakan bahwa kita disuruh untuk menyampaikan walaupun hanya satu ayat. Tapi apakah semua orang akan terima jika Anda bersikukuh untuk menyampaikan semua pengetahuan yang Anda miliki ke semua orang tanpa memikirkan strateginya?

Alih-alih orang lain akan ikut dan nurut, justru mereka tidak nyaman dengan tausiah-tausiah yang tidak mereka inginkan dan tidak pada tempatnya.

Pungkasnya, hijrah yang dilakukan oleh anak muda zaman sekarang orientasinya jangan hanya ke gaya hidup dan perubahan pakaian. Tapi lebih dari itu. Hijrah harus dimaknai lebih luas lagi. Penting bagi mereka untuk memikirkan bagaimana cara menjadi lebih baik untuk diri mereka sendiri dahulu, baru kemudian untuk orang lain.

Keikutsertaan kita ke program hijrah oleh ustaz-ustaz modern tidak menjamin kita langsung otomatis menjadi baik dan merasa yang jadi yang terbaik. Perlu adanya penanaman dalam pikiran bahwa masih banyak orang baik yang lebih pantas daripada saya. Itu juga bentuk kerendahan hati. Yang mana harus juga dipejalari akhi dan ukhti hijrah.

Orang alim yang sesungguhnya belajar berpuluh-puluh tahun untuk belajar agama dan mendalaminya secara dalam dan sungguh-sungguh. Perlu tenaga, waktu, dan kapasitas otak yang lebih banyak untuk benar-benar bisa mendalami dan mempraktikkan sebagai seorang alim ulama. 

Jangan baru satu atau dua bulan menjadi hijrah, mengubah gaya bicara dan pakaian kemudian lantas berhak untuk berbicara dan menasehati semua orang. Kita semua masih perlu proses untuk sampai pada level itu.