Mahasiswa
1 bulan lalu · 91 view · 4 min baca menit baca · Budaya 75884_31971.jpg
infobudayaindonesia.com

Hijrah dari Menuhankan Asing

Bangsa kita sedari dulu sudah terkenal dengan beragam budayanya. Setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing dengan ribuan suku. Dari makanan sampai pakaian pasti ada keunikannya. Dengan budaya yang banyak, sebenarnya sangat mudah untuk Indonesia menguasai dunia.

Budaya-budaya itu harusnya selalu dipertahankan oleh masyarakat Indonesia. Tapi buktinya kita selalu berbangga hati ketika menggunakan produk-poduk asing. Apalagi di era globalisasi di mana begitu mudahnya produk asing untuk masuk.

Segala berbau asing sama masyarakat Indonesia dipandang sebagi sesuatu yang mewah dan dapat menaikkan derajat sosial. Dari situ saya meyakini bahwa asing sudah menjerumus menjadi agama baru di Indonesia

Menuhankan asing tidak hanya produk saja, tapi wujud makhluk hidup pun selalu membanggakan asing. Contohnya saja, ketika ada bule, kita dengan rasa bangga meminta foto bersama. Padahal, apa sih kelebihannya bule-bule itu? Bukankah mereka ke sini untuk menikmati budaya kita? 

Ya, memang Indonesia terkenal dengan sifat ramah terhadap tamu. Tapi jangan begitu jugalah. Ramah ya ramah saja, jangan menuhankan mereka, seakan-akan mereka lebih baik dari kita.

Dalam dunia sepak bola juga begitu, banyak pemain yang dinaturalisasi. Dan ketika Tim Nasional bermain, banyak masyarakat kita yang menyayangkan mengapa pemain naturalisasi tidak dimainkan. Padahal, dari skill jauh lebih baik pemain asli Indonesia.

Di era perilaku hedonisme yang tinggi ini membuat sangat mudahnya untuk melupakan budaya asli kita. Masyarakat mudah untuk menggolontorkan dana yang jumlahnya naudzubillah hanya untuk memiliki barang branded, dan yang pasti barang tersebut bukan buatan dalam negeri.

Budaya menuhankan asing bukan cuma ada di era globalisasi saat ini, tapi sudah jauh-jauh hari. Budaya menuhankan asing sudah mendarah daging sejak kita merdeka.

Perilaku menuhankan asing pernah dirasakan Bung Karno. Dalam catatan Cindy Adams, ia pernah marah kepada juru masak Istana Negara. 


Kronologinya, saat itu Bung Karno hendak menerima tamu dari Negara Sahabat. Situasi ini harusnya bisa menjadi awal mula memperkenalkan budaya Indonesia. Namun, oleh juru masak Istana Negara malah menyajikan sajian kue-kue ala Eropa tanpa sekalipun membuat makanan khas Indonesia.

Ketika ditanya oleh Bung Karno mengapa lebih memilih kue-kue Eropa, sang juru masak menjawab, ”Mohon maaf, Pak. Tapi penganan kita tidak pantas disajikan. Kami rasa orang Barat akan membuang muka melihat kue-kue kita yang bermutu rendah.” Bung Karno hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar pernyataan juru masaknya.   

Menuhankan asing merupakan buah hasil dari penjajah kolonial

Seorang Profesor dari Universitas Columbia, AS, Edward Wadie Said dalam bukunya yang berjudul “Culture and Imperialism” terbit pada tahun 1993, menerangkan kaitan hubungan antara imperialisme dengan sifat jongos atau merasa diri paling rendah pada bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika.

Hasilnya cukup mencengangkan. Menurutnya, mentalitas menjadi jongos yang selalu menuhankan asing sengaja dibentuk atau diciptakan oleh penjajah kolonial secara sistematis.

Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial Belanda sengaja melakukan berbagai upaya agar sifat jongoisme tertanam pada rakyat pribumi. Mulai dari mencekoki masalah pendidikan, pekerjaan sampai masalah percintaan. Segalanya dilakukan agar rakyat pribumi selalu merasa di bawah mereka.

Belajar tidak menuhankan asing dari Bung Karno

Saya banyak belajar dari Bung Karno perihal tidak menuhankan asing. Bung Karno semasa hidupnya selalu bangga dengan apa pun berbau Indonesia. Bung Karno setiap kunjungan ke luar negeri selalu memperkenalkan budaya Indonesia. Bung Karno sangat ingin bangsanya dikenal oleh negara-negara lain di belahan bumi.

Bung Karno adalah salah satu tokoh yang berani meminta rakyatnya untuk membatasi masuknya segala berbau impor ke Tanah Air. Tidak hanya dimulut saja, Bung Karno sudah menggelorakan tidak menuhankan asing di setiap kegiatan yang dilakukannya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari Bung Karno yang melawan segala bentuk asing dan memilih produk asli Indonesia. Contohnya, ia pernah berpakaian menggunakan karung goni. Walaupun produk ini buruk, namun Bung Karno tetap bangga menggunakannya, karena produk ini dibuat dari tangan-tangan rakyat Indonesia.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, laki-laki pribumi berada di kelas terbawah. Sehingga, mereka enggan dan merasa rendah untuk mendekati noni-noni (gadis) Belanda. Namun, Bung Karno berani untuk mendekati noni-noni Belanda dan sampai memacarinya. Ini dilakukan Bung Karno untuk memberikan pelajaran pada rakyatnya kalau Bangsa Indonesia dapat berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya.


Pidato Bung Karno yang sampai sekarang menjadi dasar saya untuk tidak menuhankan asing adalah:

Ada satu alasan mengapa aku melakukan perlawanan. Aku ingin agar Indonesia dikenal orang. Aku ingin dunia tahu, bagaimana rupa orang Indonesia, dan melihat bahwa kami bukan lagi bangsa yang tolol seperti orang Belanda berulang-berulang menyebut kami; bukan lagi “inlander goblok” yang hanya pantas untuk diludahi ……”

Mulai untuk tidak menuhankan asing

Tidak menuhankan asing bukan berarti kita menolak segalak bentuk output asing. Bukan! Mencoba lebih memberikan peluang untuk produk-produk lokal berkembang, dengan menghargainya, dan tidak merendahkan remeh produk lokal.

Jepang, sebelum maju pesat dengan otomotifnya, dulu sangat bangga menggunakan produk hasil tangan dari warganya. Warga Jepang sangat mencintai produksi lokal ketimbang produksi otomotif buatan asing. Karakter ini yang menjadi salah satu penyebab kalahnya persaingan otomotif Amerika Serikat dengan produk Jepang.

Masyarakat bisa belajar banyak dari Jepang. Kita harus merasa terhormat ketika menggunakan barang hasil tangan negeri kita ini. Dan percayalah, kelak Indonesia bisa menguasai dunia.

Artikel Terkait