Mahasiswi
1 tahun lalu · 831 view · 4 menit baca · Gaya Hidup 45036.jpg
pexels.com

Hijrah atau Tuntutan Zaman

Zaman yang semakin berkembang mewarnai terjadinya perubahan kultural masyarakat Arab. Perubahan tersebut salah satunya gaya berbusana (fashion).

Bila dahulu masyarakat Arab identik dengan pakaian serba tertutup mulai dari kepala hingga kaki, kini fenomena tersebut berubah 180 derajat dari ciri khas busana yang dikenakan masyarakat Arab, khususnya perempuan.

Dahulu, busana perempuan Arab diwajibkan menutup seluruh tubuhnya. Pakaian serba hitam besar seperti “Jubah” yang dinamakan Abaya. Pakaian yang dirancang berbentuk long dress longgar. Sebuah pakaian yang dirancang untuk menutupi lekuk dan postur perempuan. Sehingga postur tubuh perempuan tidak akan jelas terlihat meskipun di bawah cahaya sekalipun. Selain itu, untuk menghindari pandangan lawan jenis yang bukan muhrimnya.

Penggunaan warna untuk abaya condong berwarna hitam. Warna hitam inilah yang menyamarkan tubuh perempuan dari leher sampai menutup ujung kaki. Kerudung yang dipakai pun kebanyakan bewarna hitam. Pakaian ini di Semenanjung Arab merupakan pakaian yang biasa dipakai dalam kegiatan sehari-hari oleh para perempuannya.

Abaya pada mulanya merupakan busana khas bagi masyarakat Arab. Namun, saat ini tidak lagi melekat sebagai jati diri sesuai tuntunan wasiat Nabi. Seiring dengan arus modernisasi dan globalisasi dipicu pesatnya teknologisasi dan industrialisasi. Gaya berbusana mengalami perkembangan mode. Di mana yang pada akhirnya akan berdampak hilangnya budaya lokal masyarakat Arab.

Berbicara mengenai masalah hilangnya budaya lokal masyarakat Arab. Lalu bagaimana masyarakat Indonesia khususnya perempuan yang berbondong-bondong mengubah diri berbusana syar’i dengan alasan hijrah?

Berbusana layaknya perempuan Arab karena mengaku bahwa itu adalah tuntunan wasiat Nabi. Sedangkan, bangsa Arab sendiri yang merupakan negara mayoritas Islam saja mengubah diri sesuai dengan tuntutan zaman.

Penyebab Perubahan Mode Busana Perempuan Arab

Pada dasarnya, semua bangsa di dunia ini, dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa terlibat dalam perkembangan proses modernisasi, globalisasi, teknologisasi maupun industrialisasi. Walaupun kecepatan dan arah perubahannya berbeda-beda. Proses modernisasi hampir tidak dibatasi ruang lingkup dan masalahnya. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, budaya, politik dan sebagainya.

Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial, yang biasanya berupa perubahan sosial yang terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan. 

Selain itu, modernisasi juga dapat diartikan sebagai kegandrungan untuk menerima gagasan baru, metode baru dan menyatakan pendapat. Serta menimbulkan rasa kepekaan terhadap waktu dan kepercayaan terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Modernisasi dan globalisasi merupakan suatu arus perkembangan baru, yang memunculkan pengaruh-pengaruh positif maupun negatif. Oleh karena itu, proses modernisasi dan globalisasi dilakukan secara selektif secara matang dan bijaksana. Sehingga agar tidak menimbulkan pengkerdilan struktur budaya masyarakat setempat. Terlebih pengkerdilan masyarakat itu sendiri.

Melalui modernisasi dan globalisasi pasti akan terjadi suatu perubahan pada masyarakat yang terdoktrin. Seperti ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya khususnya dari negara maju ke negara berkembang dan terbelakang. Selain itu, aliran ilmu pengetahuan dan teknologi budaya ini pasti akan menggusur dan memarginalkan budaya lokal.

Fenomena menarik yang tak lazim, namun benar terjadi adanya. Pengaruh globalisasi, modernisasi, teknologisasi dan bahkan industrialisasi menyerbu kawasan Arab Teluk beberapa dekade. Pengaruh tersebut menimbulkan perubahan dramatis pada perilaku masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi. Dapat dikatakan Indonesia lebih Arab dari pada bangsa Arab itu sendiri.

Prof. Sumanto Al Qurtuby dalam tulisannya mengatakan, “Contoh lain dalam hal berpakaian. Dalam hal pakaian di Saudi juga telah terjadi revolusi yang luar biasa. Mungkin hanya sekitar 10 persen murid–murid saya yang pakai gamis, selebihnya pakai celana training, celana panjang, atau bahkan celana Boxer sebatas lutut.

Dan itu bukan hanya dipakai di kelas, bahkan saat sembahyang pun mereka pakai celana selutut. Laki–laki kan auratnya cuma sampai lutut saja. Saat ini di Saudi yang ketat memakai jubah itu hanya orang– orang tua, atau mereka yang berada di pelosok–pelosok. Anak mudanya sudah trend banget, sudah mengikuti perkembangan mode”.

Jadi, masyarakat Arab yang biasanya dipandang penduduk menjalankan sunnah nabi, jauh berbeda dan bahkan menyimpang dari sunnah nabi. Abaya bukan lagi untuk anak muda, tetapi orang pelosok dan bahkan orang–orang tua saja.

Dampak Perubahan Mode Busana 

Perubahan gaya busana masyarakat Arab yang semakin hari semakin trendy berdampak positif maupun negatif. Indikator dampak negatif dari perubahan busana, ketika para remaja tersebut mengikuti perkembangan fashion saat ini, mengindikasikan bahwa remaja tersebut telah terpengaruh oleh apa yang berkembang.

Hal tersebut tidak lain hanya demi mengejar popularitas dan eksistensi di masyarakat. Bahwasanya mereka adalah sekumpulan pemuda trendy. Tetapi, jika dilihat dari kapasitasnya, fashion yang sedang berkembang tersebut diperuntukkan bagi kalangan wanita supermodel yang pada artian memiliki kecantikan luar dan dalam. Sejatinya, tanpa disadari semakin hari jati diri bangsa Arab mulai terkikis tidak sesuai lagi dengan wasiat tuntunan Nabi.

Selain itu, segi tekanan mempengaruhi fashion secara tidak langsung akan memberikan dampak yang besar bagi mereka. Jika mereka tidak mengikuti perkembangan fashion, alhasil mereka dianggap “Ketinggalan zaman”. Akibatnya, aksi bullying pun terjadi.  

Indikator dampak positif yang dapat terjadi, abaya  yang dahulunya hanya sebatas kain longgar, bewarna hitam polos, dengan kerudung serba hitam. Kini, di modifikasi dengan berbagai renda, motif, dan manik-manik. Pesatnya, abaya tidak hanya untuk pakaian tapi juga berbentuk mukena bagi perempuan. Peran industrialisasi busana melakukan perubahan menjadikan kesan abaya menjadi tidak monoton.

Busana seharusnya bukan menjadi ajang tiru-meniru, dengan alasan mengikuti perkembangan zaman. Bahkan busana sendiri pada dasarnya adalah sebagai penutup tubuh dari segala gangguan sebagaimana fungsinya. Bila yang menjadi dasar alasan karena hijrah, seharusnya dapat dijalankan dan dilakukan sesuai tindakan sebagaimana yang diucapkan.

Artikel Terkait