Judul esai di atas sekilas kontra dengan misi yang diusung oleh paperless society – hijaukan bumi dengan (mengurangi) kertas. Misi dari paperless society dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap deforestasi masif untuk memenuhi kebutuhan kertas, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan limbah kertas.

Fakta tentang Limbah Kertas

Salah satu penyumbang limbah kertas adalah lembaga-lembaga pendidikan. Tak dapat dipungkiri, kertas masih mendominasi kebutuhan pokok mereka di era digital saat ini. 

Saya setuju dengan fakta ini karena memiliki orang tua yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri. Orang tua saya lebih menyukai memeriksa tugas kuliah dan skripsi di atas kertas daripada di depan layar komputer. 

Mungkin sensasi mencorat-coreti bagian yang salah, terutama dengan bolpoin bertinta merah, membuat mereka bernostalgia ketika masih menjadi mahasiswa, yang mana pada kala itu lebih membutuhkan perjuangan untuk menyelesaikan tugas dengan mesin tik. Mata yang sudah rabun juga membuat mereka tidak ingin berlama-lama menatap layar.

Tak heran, di rumah saya ada lemari penyimpanan khusus untuk skripsi. Tidak hanya itu, di beberapa tempat terdapat tumpukan kertas tugas mahasiswa yang terkadang sering saya jadikan pembungkus kotoran setelah selesai diperiksa. Hemat saya, jika ada “kertas bekas” mengapa saya harus menggunakan kertas baru atau tisu? 

Saya tahu hal ini cukup miris – tugas yang mungkin dikerjakan sampai memangkas waktu tidur pada akhirnya dijadikan pembungkus kotoran. Saya pun mendapat “karma” ketika melihat tugas saya dibiarkan terhambur begitu saja di atas meja dosen. Saya tidak menggerutu karena saya cukup tahu diri untuk tidak melakukannya.

Kurang lebih dua tahun yang lalu, ketika mengurus persyaratan wisuda sarjana, almamater saya mewajibkan untuk mencetak skripsi sebanyak lima rangkap untuk dua pembimbing skripsi, perpustakaan jurusan, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan universitas, sebelum mengunggah skripsi ke dalam repository. 

Saya sempat pesimis – seberapa lama skripsi saya bertahan disimpan jika dengan mudahnya dapat diunduh dari repository? Fenomena ribuan skripsi yang dibuang oleh salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar dengan alasan skripsi-skripsi tersebut sudah berjamur dan tidak bisa dibaca lagi[1] juga kian menambah kepesimisanku. 

Apakah alasan almamater meminta hard file untuk mempertahankan penggunaan keempat indra (mata, hidung, telinga, dan jari) atau untuk memperbanyak koleksi hingga waktu yang ditentukan? Entahlah.

Ayah saya juga menyuruh untuk mencetak skripsi agar dapat disimpan (ada kebanggaan tersendiri membaca skripsi anaknya), tetapi saya lebih memilih untuk menyimpan skripsi di komputer dan Google Drive. Sampai di sini, saya sejalan dengan misi dari paperless society.

Pemanfaatan Limbah Kertas sebagai Bahan Bakar Alternatif

Kertas tidak melulu soal limbah yang mengotori lingkungan. Saat ini, kertas digunakan sebagai pengganti plastik untuk mengampanyekan hidup hijau, seperti tas belanja kertas, sedotan kertas, dan cangkir kertas. Kertas juga dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Kurang lebih delapan tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah dalam rangka pelaksanaan Lustrum Jurusan Fisika dan Biologi FMIPA Universitas Tadulako Palu.

Guru saya meminta saya dan tim untuk memikirkan suatu ide unik. Setelah berdiskusi dengan ibu saya, saya mendapatkan ide untuk memanfaatkan limbah kertas sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan (bioetanol).

Bioetanol adalah etanol yang diperoleh dari hasil olahan fermentasi bahan-bahan yang mengandung komponen pati, gula, atau serat selulosa[2]. Bioetanol dapat digunakan sebagai substitusi bensin dalam bentuk campuran dengan bensin (EXX), misalnya 10% etanol dicampur dengan 90% bensin (E10). 

Penambahan etanol dalam bensin (gasohol) banyak digunakan karena dapat meningkatkan efisiensi pembakaran dan menghasilkan gas buang yang lebih bersih. Gasohol dapat digunakan pada semua tipe kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin. Adapun etanol 100% (E100) juga dapat digunakan sebagai bahan bakar, tetapi penggunaan E100 membutuhkan modifikasi pada mesin[3].

Berangkat dari konsep ini, saya dan tim mengerjakan proyek dengan berbekal kertas-kertas tugas mahasiswa. Berikut adalah tahapan pengolahan limbah kertas menjadi bioetanol[4]:

Pertama. Limbah kertas sebanyak 50 gram ditambahkan dengan larutan natrium hidroksida 10% sebanyak 800 ml. Limbah kertas diblender sampai menjadi bubur lalu disaring menggunakan kain saring. 

Selanjutnya, endapan yang diperoleh dicuci dengan air sampai pH 7. Endapan kemudian dimasukkan ke dalam talang dan dikeringkan di oven selama 8 jam pada suhu 100C.

Kedua. Sampel kertas kering sebanyak 60 gram dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Sampel kertas kering lalu ditambahkan dengan larutan asam klorida 25% sebanyak 200 ml. Proses hidrolisis dilakukan pada suhu 1000 C selama 180 menit. Sampel hasil hidrolisis kemudian disaring dan dinetralkan dengan larutan natrium hidroksida.

Ketiga. Sampel hasil hidrolisis selulosa limbah kertas dimasukkan ke dalam fermentor dan ditambahkan ragi roti sebanyak 25 gram. 

Selanjutnya, sampel diinkubasi pada suhu ruang selama 48 jam dengan pengulangan sebanyak dua kali. Produk fermentasi kemudian disaring menggunakan kain saring dan didestilasi menggunakan rotary vacum evaporator.

Proses fermentasi bioetanol (dokumen pribadi)

Dari tahapan di atas, diperoleh kadar etanol sebesar 31% untuk sampel pertama dan 32% untuk sampel kedua. Hasil penelitian ini mendapat beberapa saran. Pertama, bioetanol yang diperoleh perlu diuji coba pada kendaraan, karena kadar etanol yang memenuhi standar (± 30%) dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. 

Kedua, kertas yang bertinta juga perlu digunakan agar lebih efektif dalam pengolahan limbah kertas, mengingat saya dan tim hanya menggunakan bagian kertas yang putih.

Pengembangan Lebih Lanjut

Alhamdulillah, saya dan tim mendapat juara III. Namun, kami tidak menindaklanjuti saran-saran yang diberikan, karena kami hanya berfokus untuk mengikuti lomba dan tidak ada rencana jangka panjang setelahnya. Selain itu, kesibukan menjelang ujian nasional juga menjadi hambatan untuk mengerjakan proyek yang berkelanjutan.

Sebelum menulis esai ini, saya menyempatkan diri untuk mencari tahu apakah sudah ada penelitian yang menjawab saran-saran di atas. Saya pun mendapatkan artikel ilmiah yang membahas mengenai penggunaan kertas koran bekas sebagai bahan pembuatan bioetanol. Metode penelitiannya meliputi proses pre-treatment, hidrolisis enzimatis, fermentasi, dan distilasi. Kadar bioetanol yang diperoleh cukup tinggi, yaitu sebesar 55,3%[5].

Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, saya merekomendasikan kepada Asia Pulp and Paper (APP) Sinarmas selaku salah satu perusahaan produsen kertas untuk mengembangkan lebih lanjut mengenai pengolahan limbah kertas menjadi bioetanol. Rekomendasi ini juga sejalan dengan rencana Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan bahan bakar alternatif berbahan utama etanol[6].  

Saya meyakini limbah kertas yang dihasilkan oleh pabrik APP Sinarmas dan limbah-limbah kertas di tempat lainnya membuat biaya investasi untuk pengembangan bahan bakar bioetanol menjadi lebih murah. 

Dengan demikian, APP Sinarmas dan juga masyarakat yang membaca esai ini diharapkan dapat berpartisipasi untuk menghijaukan bumi dengan kertas – salah satunya dengan mengolah limbah kertas menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Referensi:

[1] R. Juliani, UIN Alaudin Akui Buang Ribuan Skripsi

[2] E. Hambali, S. Mujdalipah, A.H. Tambunan, A.W. Pratiwi, dan R. Hendrok, Teknologi Bioenergi. Jakarta: PT. Agro Media Pustaka, 2007.

[3] S. Duryatmo, Bensin Singkong dari Halaman. Majalah Trubus no. 458 Edisi Januari 2008.

[4] D.Y. Alam, N. Mahfudz, dan Muammar, Pemanfaatan Limbah Kertas sebagai Bahan Bakar Alternatif. Palu: SMA Negeri Model Terpadu Madani, 2011.

[5] C.N. Putri dan B. Utami, Pembuatan Bioetanol dengan Cara Hidrolisis Menggunakan Kertas Koran Bekas serta Pemurnian Menggunakan Agen Pengering (MgSO4, Na2SO4, dan CaCl2). Journal Cis-Trans (JC-T), 1, 10-15 (2017).

[6] R. Pratama, Selain Mobil Listrik, Indonesia Siapkan Kendaraan Bioetanol.