Hawa Nafsu, Perspektif Linguistik

Nafsu adalah bahasa arab, yang secara letterlijk (harfiah) berarti ‘diri’. Memang, nafsu sebagai bahasa arab mempunyai beberapa arti yang berbeda, yaitu diri, jiwa, benda, darah (seperti pada term fikih, ma la nafsu [a] lahu sailah; hewan yang tak berdarah), sama (seperti pada kata, nafsu al-marji’; referensinya sama), dan lain-lain.

Di dalam literatur sufisme, nafsu juga mempunyai beberapa arti yang berbeda. Tulisan ini hanya akan mengungkap nafsu yang paling mendasar dan terbesar. Kata al-Gazali di dalam Ihya’, nafsu ini adalah hijab pertama manusia.

Nafsu sering disandarkan pada kata hawa, menjadi hawa nafsu. Hawa adalah bahasa arab juga, yang secara letterlijk berarti keinginan. Memang, hawa sebagai bahasa arab mempunyai beberapa arti yang berbeda, yaitu keinginan, cinta (seperti pada bait syair, la’alli ila man qad hawa [i]ytu athiru; seandainya saya bisa terbang menuju orang yang saya cintai), rendah, dan turun. Hawa nafsu berarti keinginan diri manusia.

Hawa Nafsu, Perspektif Biologis Dan Sufistik

Cara termudah memahami hawa nafsu adalah memahami manusia dari perspektif ilmu biologi sederhana. Di dalam ilmu biologi, manusia adalah makhluk hidup yang terdiri dari beberapa organ, kepala, tubuh, tangan, dan kaki.

Agar mudah dipahami, tulisan ini akan membenturkan definisi makhluk hidup dari dua perspektif yang berbeda. Menurut perspektif biologi, makhluk hidup adalah tubuh manusia. Sedangkan menurut perspektif sufisme, makhluk hidup adalah hati. Jadi, ada dua makhluk hidup dari dua perspektif yang berbeda.

Tubuh manusia menurut perspektif sufisme adalah tubuh manusia menurut perspektif biologi. Artinya, apa yang dimaksud dengan tubuh manusia menurut ilmu biologi, adalah tubuh manusia menurut kaum sufi. Tetapi, menurut sufisme, tubuh manusia bukan makhluk hidup. Tubuh manusia, menurut sufisme, tak lain adalah bangkai atau makhluk mati.

Hati sebagai makhluk hidup menurut sufisme, berbeda dengan hati yang dipahami oleh ilmu biologi. Hati biologis hanya memiliki korelasi dengan hati sufistik.

Sebagai makhluk hidup, hati adalah sebuah rahasia yang memiliki potensi memahami, mendengar, melihat, merasa, dan lain-lain. Dikatakan potensi, karena tak semua orang mau menghidupkannya.

Mari kita mulai membenturkan kedua makhluk hidup ini. Agar hidup, tubuh manusia butuh makan nasi. Siapa yang makan nasi? Tubuh manusia. Lalu, apa makanan hati? Makanan hati adalah dzikir dan ilmu. Yang membutuhkan makan nasi adalah tubuh manusia. Dari perspektif sufisme, yang membutuhkan makan nasi adalah nafsu manusia. Karena itu, sufisme mengatur sangat detil tentang makan.

Makan nasi, menurut sufisme, merupakan pemenuhan syahwat perut yang mempunyai efek mengotori kehidupan hati. Karena, orang yang makan berarti menuruti hawa nafsunya. Benar, secara syariat-fikih, hukum makan boleh. Namun jangan lupa bahwa fikih menganjurkan puasa.

Bahkan ada banyak jenis puasa. Puasa Senin Kamis. Puasa Tiga tiga hari tiap bulan, di awal bulan, di pertengahan bulan, di akhir bulan. Ada puasa hari Arafah. Ada puasa Daud. Dan masih banyak lagi macam puasa.

Peperangan Manusia Melawan Manusia

Setiap kesibukan manusia untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, yang melalaikan hatinya untuk tetap mendetakkan nama Allah, berarti memprioritaskan hawa nafsu daripada kehiduan hatinya. Kesibukan apapun, selama hatinya tetap berdetak Allah, dan tidak melanggar syariat, adalah keseimbangan antara yang lahir dan yang batin. Maka, menarik yang lahir ke arah ibadah berarti memperkuat keseimbangan itu untuk semakin menghidupkan hatinya.

Setelah hati hidup, manusia biologis akan beralih menjadi manusia sufistik. Yang hidup bukan lagi tubuhnya, melainkan hatinya. Tubuhnya hanya seonggok makhluk mati, yang numpang hidup. Tubuhnya tak lagi mengendalikan hati, melainkan hatinya mengendalikan tubuhnya. Tubuhnya tak lagi membawa hatinya, melainkan hatinya yang membawa tubuhnya.

Matanya melihat, dan hatinya juga melihat. Telinganya mendengar, dan hatinya juga mendengar. Mulutnya berbicara, dan hatinya juga berbicara. Tubuhnya makan, dan hatinya juga makan. Maka, ada dua manusia yang sudah hidup, manusia biologis dan manusia hati. Kebutuhan manusia biologis tidak boleh membunuh manusia hati.

Peperangan manusia biologis melawan manusia hati akan terlihat, setelah menjawab pertanyaan berikut; Siapa yang tidur? Nafsu. Siapa yang nonton film porno? Nafsu. Siapa yang korupsi? Nafsu. Siapa yang mencuri? Nafsu. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini bisa diganti dengan manusia biologis. Siapa yang tidur? Manusia biologis. Siapa yang nonton film porno? Manusia biologis. Siapa yang korupsi? Manusia biologis.

Kenapa tidur, mencuri, korupsi, dan nonton film? Jawabannya tak lain adalah karena untuk memenuhi keinginan manusia biologis. Tubuh manusia butuh istirahat, maka dia butuh tidur. Tubuh manusia butuh makan, maka dia mencuri dan korupsi. Memang benar, bahwa tidak semua yang lapar mau mencuri. Namun, mencuri tak dilakukan kecuali untuk memenuhi kebutuhan tubuh fisik manusia.

Tubuh biologislah yang membutuhkan makan nasi. Tubuh hati tidak butuh makan nasi. makanan hati adalah dzikir dan ilmu. Karena itu, kaum sufi mempraktikkan hadis Nabi, “Semua isi dunia adalah terlaknat, kecuali dzikir dan ilmu”.