2 tahun lalu · 1878 view · 8 min baca menit baca · Budaya hijab_ilustrasi.jpg
Ilustrasi: aulia87.wordpress.com

Hijab dan Kebebasan Perempuan

Aku akan menulis tentang sahabat-sahabat perempuanku
Dan kisah masing-masing dari mereka
Aku melihat mereka, aku melihat diriku sendiri
Tragedi seperti tragediku
Aku akan menulis tentang sahabat-sahabat perempuanku
Tentang jutaan syuhada’ perempuan
Yang dikubur tanpa nama
Di kuburan tradisi
Sahabat-sahabat perempuanku

~ Nazzar Qubbani (1923 – 1998)

Perempuan dan hijab masih sering jadi tema debat di banyak kalangan. Mulai dari pelajar atau mahasiswa, ilmuwan, akademisi atau dosen, kaum awam sampai golongan agamawan, terlihat masih banyak menampilkan, terutama soal apakah hijab benar sebagai kewajiban (tuntutan agama) atau hanya sebatas rekayasa sosial belaka.

Sebagai tuntutan agama, tentulah kewajiban hijab punya pendasaran jelas dalam nilai ajaran. Tentulah ia harus diatur secara detail dalam teks-teks hukum keagamaan. Dan karenanya, debat-debat tentangnya pun tidak akan mungkin bisa untuk kita masuki. Dan saya pun tidak akan menuliskannya lagi hanya untuk sekadar berbagi tulisan di rubrik qureta.com ini.

Hanya saja—mungkin suatu keberuntungan juga, teks hukum agama tak menyuratkan secara jelas tentang posisi hijab: apakah sebagai kewajiban atau bukan. Syariat hanya menyiratkan bahwa umat Islam (laki-laki dan perempuan beriman; dewasa) hanya harus menutup aurat, kecuali yang biasa terlihat, guna menghindarkan diri dari fitnah. Adapun batas-batas aurat yang harus tertutupi tersebut sama sekali tidak ditegaskan secara detail. Maka wajar jika nilai dari teks hanya mampu menginspirasi lahirnya ragam debat tentang hijab.

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka... Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan jangan menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,.. Dan janganlah mereka menghentikan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan... ~ al-Nur [24]: 30 – 31.

Tanpa hendak melangkahi bagaimana pandangan para ahli fikih dalam menerjemahkan teks tersebut, kiranya bijak untuk dihemat saja bahwa soal ini akan jauh lebih baik untuk dikembalikan ke tiap-tiap individu yang menjalaninya. Toh syariat tidak menyuratkannya secara jelas. Dan lagi pula hikmah-hikmah di balik itu akan sangat mudah kita dapati jika kita mampu melihat ke dalam persoalan hidup sehari-hari kita.

Sebagai contoh, bayangkan misalnya kalau ada seorang perempuan yang hendak memberi kesaksian di depan pengadilan dengan pakaian yang hampir nyaris tertutup. Hal ini tentu akan menyulitkan upaya peradilan sebab seorang hakim tidak akan mampu menganalisa tubuh dan mimik wajah si pemberi kesaksian, yang berimbas kepada ketidak-mampuan sang hakim memperkirakan apakah kesaksian yang diberikannya tersebut benar atau tidak.

Contoh di atas hanyalah berupa puncak gunung es saja. Masih banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan bagaimana hijab sama sekali tak diperkenankan, apalagi hendak membatasi dan menyembunyikan fakta-fakta yang sebenarnya, semisal dalam pernikahan, transaksi jual-beli, dan lain sebagainya.

Fenomena Hijab yang Menggelikan

Anjuran ber-hijab, di satu sisi, diyakini sebagai seruan pada kebaikan. Semakin banyak orang menyeru pada sesama untuk ber-hijab, semakin banyak pula kebaikan akan diperoleh. Dan kebaikan ini, meski diyakini secara kurang kritis, termanifestasi kepada pahala-pahala sebagai bekal hidup di akhirat nanti. Maka tak salah ketika semua orang nampak berlomba-lomba dalam pengupayaannya.

Tentang ini, ada satu artikel menarik dari Orrik Ormeari berjudul Resenya Anjuran Berjilbab. Ia gambarkan secara gamblang bagaimana seruan yang didorong oleh pandangan “kewajiban” tersebut nampak berujung bak aktivitas Multi Level Marketing (MLM).

Di awal paragraf ia menulis, “Saya pikir kenalan-kenalan saya yang beragama Islam sudah mulai keterlaluan dalam aktivitas MLM-nya sesama muslim demi mengamankan kuota mereka di surga nanti. Lama-lama saya muak juga melihatnya.”

Bermula ketika ia bertandang ke Banda Aceh untuk mengikuti salah satu acara di sana. Kita tahu, kondisi daerah ini berselimut rapat pada aturan atau hukum agama (syariat Islam). Imbasnya terutama pada kaum perempuan (muslimah). Mereka yang tidak berhijab akan dilirik sinis. Sedang mereka yang menggunakannya akan langsung dibombardir untuk tetap mempertahankan tradisi berhijabnya.

Lumrah memang ketika hasil pose di acara tertentu, apalagi yang berskala besar dan melibatkan orang-orang penting di dalamnya, dan lalu di-share ke jejaring sosial. Akibatnya, beragam komentar pun bermunculan, bahkan untuk sekadar nge-like. “Kamu cantik ya kalau pakai jilbab. Mudah-mudahan selamanya pakai jilbab,” begitulah salah satu komentar yang tertera yang Orrik gambarkan layaknya seruan pelaku MLM.

“Ada apa dengan orang-orang ini? Kok sepertinya ada propaganda khusus untuk hal-hal berbau agama? Setiap ada perempuan yang menggunakan jilbab, teman dan kenalannya langsung berbondong-bondong memberikan ucapan selamat, pujian, dan sebagainya,” tulis Orrik yang nampak disertai dengan jeritan hati.

Memang, ada seruan Tuhan agar para perempuan (juga laki-laki) menutup aurat sebagaimana bunyi ayat al-Nur di atas. Hanya saja, bukankah seruan tersebut hanya diperuntukkan ke pada masing-masing individu? Mengapa kita yang harus ribut betul apakah si A pakai jilbab atau si B tidak pakai jilbab? Ini kan perkara pribadi, antara si A atau si B dengan Tuhan mereka sendiri.

Jikalau benar bahwa anjuran berhijab adalah seruan pada kebaikan, tulis Orrik, tentu kita patut bertanya: “Untuk apa? Jaminan masuk surga? Apakah dengan semakin banyak orang yang kita dakwahi, maka akan semakin banyak bonus pahala yang kita dapati? Kalau begitu, apa bedanya kita dengan agen MLM? Ataukah jangan-jangan agama ternyata hanya sebentuk usaha MLM?”

Menggelikan memang melihat dan mendengar komentar-komentar seperti “Aduh, kamu tambah kelihatan cantik setelah menggunakan jilbab.” Maksudnya apa coba? Apakah sebelum dia berjilbab, kecantikannya mirip dengan sosok pemeran Sundal Balong Susanna? Atau Si Manis Jembatan Ancol yang ngeri-ngeri sedap itu?

Bagaimana dengan para koruptor perempuan atau pelaku tindak kejahatan yang lazim menggunakan jilbab ketika menghadiri persidangan? Kok gak ada yang berbondong-bondong menghampiri dan memberi ucapan selamat, cipaka-cipiki, dan lalu berkata, “Masya Allah, kamu tambah cantik deh berjilbab begini. Semoga kamu tidak dihukum mati, ya”?

Sungguh, fenomena hijab semacam ini hanya akan melahirkan bullying kepada orang tertentu yang bersangkutan. Apakah demi sebuah kuota di surga atau bonus pahala yang nyata belum tentu juga adanya lalu kita sah melakukan tindakan bullying? Ataukah agama memang menganjur hal demikian demi kuota atau bonus pahala tersebut?

Entahlah. Yang jelas, kita hanya akan terlihat norak atau kampungan dengan memberi ucapan selamat kepada mereka yang menggunakan hijab, dan sebaliknya, memberi bullying kepada mereka yang tidak mengindahkan.

Mau pakai jilbab kek, mau tidak, terserah yang bersangkutan. Tak perlulah ber-norak ria. Tak perlu pula kebakaran jenggot ketika melihat ada orang yang melepas hijabnya. Toh ibadah adalah urusan masing-masing individu kepada Tuhannya, bukan? Kata Gusdur, “Begitu aja kok repot?”

Antara Hijab dan Kebebasan, Manakah yang Mampu Menjaga?

Orang sering keliru dengan mengatakan bahwa hijab tak ubahnya sebagai perisai di medan perang. Bagi perempuan, hijab dapat menjaga tubuh mereka dari mara-bahaya. Bagi laki-laki, hijab memungkinkan mereka untuk menjaga pandangan seksualnya. Hematnya, hijab dinilai dapat meminimalisir terjadinya hubungan badan yang dianggap tak layak (tindak asusila seperti perzinahan; pemerkosaan).

Sedangkal itu kah pikiran kita selama ini dalam memandang hijab? Meski hijab dapat mencegah kontak fisik secara langsung antara dua jenis kelamin yang berbeda, bukankah kecenderungan untuk ber-kontak juga ada dalam hati? Sungguh, apa yang kita sebut sebagai fungsi hijab hanya berkisar pada ungkapan, “Di antara bentuk pencegahan adalah ketidaktahuan.”

Ya, tubuh memang bisa saja kita jaga. Tetapi ingat, mayoritas hati cenderung berkhianat. Bukankah dengan demikian bahwa yang kita butuhkan itu adalah penjaga hati?

Meski menggunakan “polisi-polisi syariat” sekalipun, apakah mereka akan mampu menjaga hati-hati yang berbeda? Bagaimana mereka harus menghukum dan memenjarakan hati-hati yang berkhianat itu? Lagipula, di dunia ini belum pernah ada istilah “penjara hati” untuk para hati yang berbeda dan berkhianat.

 Adapun klaim bahwa hijab merupakan satu etika kesopanan, ini pun tak punya nilai kebenaran apa-apa. Tak ada dasar yang menguatkan klaim semacam ini.

Apa hubungannya etika kesopanan dengan menutup aurat? Atas dasar apa laki-laki dan perempuan harus dibedakan? Bukankah etika kesopanan itu pada hakikatnya satu, bagi laki-laki dan perempuan? Dan bukankah jantung etika kesopanan itu adalah tindakan dan tujuan, bukan bentuk formal dan pakaian?

Jika kita beragumentasi bahwa hijab hendak menjaga perempuan-perempuan dari mara-bahaya yang ada, pertanyaannya, apakah dengan hijab perempuan secara otomatis bisa terjaga? Bukankah mereka juga punya kemampuan yang sama sebagaimana kemampuan laki-laki dalam menjaga keamanan diri mereka sendiri? Lagipula, mudharat hijab jauh lebih banyak daripada manfaatnya.

Entah disadari atau tidak, dengan hijab, seorang perempuan bisa jadi akan terhalangi menggunakan hak asasinya, seperti mengejar pendidikan tinggi dan mencari penghidupan yang layak. Bayangkan misalnya kalau seorang perempuan yang hendak belajar atau bekerja di tempat yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk menggunakan hijab, padahal itu merupakan keharusan yang wajib mereka taati.

Sungguh, tradisi hijab hanyalah rekayasa sosial yang bersumber dari tradisi-tradisi klasik yang tak berdasar. Tradisi semacam ini sama sekali tak membuahkan manfaat apa-apa bagi kehidupan. Kita butuh cara-cara lain yang lebih selaras dengan kondisi kekinian kita sendiri, yakni dengan kebebasan.

Sebagai cara yang paling relevan, kebebasan tentu saja tidak lahir tanpa cela. Banyak juga penyalahgunaan atas kebebasan. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, terutama ditopang oleh tingkat pendidikan yang memadai, tiap orang akan mampu mengerti tanggungjawabnya, memikul dan menjalankan tugas-tugasnya, dan terbiasa dalam mengandalkan diri sendiri dan membela kehormatannya.

Derajat mulia seperti ini tidak akan mungkin didapatkan oleh perempuan melalui hijab, tapi akan sangat mudah ia dapatkan melalui kebebasan. Seperti yang dituturkan oleh Paolo Montegazza, psikolog-antropolog terkemuka asal Italia:

Hijab dan kebebasan adalah dua cara untuk menjaga perempuan. Tapi, hasil dari keduanya sangat jauh berbeda. Cara pertama memposisikan perempuan di rak barang dan perhiasan, dan menciderai kemanusiaan. Adapun cara kedua menyelarasi kemanusiaan, menuntun perempuan ke jalan kemajuan nalar dan kesempurnaan moral. ~ Paolo Montegazza (1831 – 1910).

Pertanyaannya, bagaimana mungkin melahirkan perempuan-perempuan bebas jika mereka sendiri masih dibebankan kewajiban-kewajiban yang tak semestinya harus ditanggung? Ketika kita masih mengharuskan mereka agar menutup rapat-rapat semua anggota tubuhnya dengan hijab, sampai-sampai tak bisa membuatnya berjalan, bahkan membuatnya susah bernafas, melihat, dan berbicara, bukankah dengan demikian bahwa kita masih membuatnya terkategori sebagai budak?

Entahlah. Yang jelas, hijab bukanlah termasuk tuntutan dalam agama Islam, bukan sebagai bentuk ibadah ataupun bentuk etika kesopanan. Bahwa hijab hanyalah tradisi klasik, yang bahkan sudah ada sebelum eksistensi Islam sendiri terbentuk dan terbangun.

Meski demikian, tak berarti memakai hijab itu dilarang agama. Yang tidak diperkenankan darinya hanyalah menganggapnya sebagai kewajiban mutlak yang harus penganutnya jalankan. Jadi, pakailah hijab sebagai busana belaka, bukan sebagai kewajiban.

Artikel Terkait