Mahasiswa
6 hari lalu · 34 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 91749_81155.jpg
Foto: Shopee

Hidup Tanpa Kertas? Saya Sangsi

“Ci, kamu bisakah, tidak, membayangkan sebuah perpustakaan tanpa kertas, sebuah perpustakaan yang semuanya serbadigital? Apakah perpustakaan model begitu akan masih menjadi tempat menarik untuk kita kunjungi? Saya sangsi.”

Begitu pertanyaan bernada ragu dari seorang kawan ketika kami tengah asyik berbincang perihal tradisi literasi di negeri ini. Ia tak habis pikir soal bagaimana nasib perpustakaan konvensional nanti jika buku-buku berbasis elektronik benar-benar berkuasa; dalam arti, buku-buku yang fisiknya diraba sudah tidak tergunakan lagi, tenggelam di samudra modernitas.

“Sering saya merenungkan ini. Soal kepraktisan, tentu yang serbadigital memang jauh lebih mumpuni. Tetapi kita tidak boleh lupa, akan ada beberapa kebahagiaan yang nantinya terenggut secara perlahan. Masifnya digitalisasi terhadap buku-buku cetak ke depan akan menghapus kebahagiaan-kebahagiaan itu.”

Sebagai penikmat buku, suka baca meski tidak lihai memahami isinya, saya tentu sadar kebahagiaan apa yang kelak akan terenggut yang kawan saya itu maksud. Salah satunya sudah pernah saya kisahkan di sini, Aroma Surga yang Alpa di E-Book.

Tetapi saya juga sadar, selama masih menyediakan referensi-referensi yang memadai, kenapa tidak? Justru perpustakaan yang berisi buku-buku serbadigital tetap akan masih menarik untuk dikunjungi. Itu jika yang konvensional memang tidak mampu bersaing dari segi penyediaan referensinya.

“Persaingan, itulah kuncinya,” kata saya berusaha menjelaskan. “Kalau perpustakaan konvensional mengabaikan persediaan buku-buku berkualitas, maka tunggu saja, cepat atau lambat, dengan sendirinya akan ditinggalkan. Kecenderungan manusia adalah beralih ke hal-hal yang sesuai selera.”

“Iya juga, ya, Ci,” balasnya. “Tapi bagaimana jika kalah modal? Bukankah modal berupa materi atau uang jauh lebih berkuasa? Jika ini yang dimainkan perpus-perpus berbasis digital, bisa-bisa gulung tikar semua perpus-perpus konvensional.”


“Itu memang satu kelebihan, tapi bukan faktor penentu yang utama. Ada banyak cara yang bisa diupayakan untuk menarik pengunjung.”

“Seperti pada warung kopi ini,” lanjut saya, “kenapa lebih banyak orang nongkrong di sini dibanding warung kopi sebelah? Karena, selain soal kualitas kopi yang ditawarkan, ditambah dengan harga yang terjangkau, tentu juga karena pelayanannya yang baik. Semua unsur ini saling mendukung dalam hal menggaet para pengunjung. Jadi bukan melulu soal modal berupa materi.”

Perbincangan kami terhenti. Kawan itu pamit pergi. Sementara saya memilih melanjutkan renungan-renungan soal perpustakaan ini kembali.

Jujur saja, saya memang sangat menggantungkan banyak hal pada penelusuran-penelusuran di Internet, termasuk mencari referensi-referensi bacaan juga tulisan. Dengan Internet, ada begitu banyak kemudahan yang bisa saya raih jika dibanding hanya mengandalkan perpustakaan konvensional.

Misalnya hendak menyelesaikan tugas-tugas kuliah, tentu—dengan Internet—saya bisa mengerjakannya di mana saja. Tidak harus di perpustakaan pribadi atau di tempat-tempat tertentu yang menyediakan buku-buku fisik seperti perpustakaan konvensional. Bahkan di kamar mandi pun bisa. 

Itulah sisi praktisnya yang tidak akan pernah saya dapati dengan tanpa Internet. Segalanya jadi terkesan simpel.

Apalagi belakangan ini, di tengah deadline tugas akhir yang mendesak, saya harus mengambil jalan cepat. Mengakses jurnal-jurnal pendukung akademik berbasis elektronik adalah pilihan yang bagi saya sangat tepat. Beruntung kiranya karena ada aplikasi perpustakaan online yang bisa diunduh siapa pun tanpa beban untuk membayar, seperti iPusnas.

Nikmat Internet apa lagi yang harus saya dustakan jika begitu? Selain praktis, setidaknya bisa menghemat uang jajan saya yang tidak seberapa. Anak-anak kos, kan, memburu kenikmatan seperti ini? Kecuali anak kos gedongan.

Meski demikian, satu hal yang tetap saya sayangkan dari ini adalah tidak ada lagi aroma manisnya kertas yang muncul dari lembar demi lembar pada buku-buku elektronik itu. Sebagaimana sudah saya ungkap di cerita sebelumnya, aroma surga benar-benar alpa jika buku-buku tidak lagi berbentuk kertas yang bisa diraba.

Selain itu, banyak juga file dari buku-buku yang saya cari tidak tersedia. Entah karena tidak menarik untuk dijadikan dalam bentuk elektronik, atau mungkin karena si pemegang hak cipta (penulis) tidak memberi izinnya untuk hal itu. Yang pasti, tentang ini begitu mengecewakan.


Benar. Saya menggantungkan banyak hal kepada alam Internet, khususnya menyangkut buku-buku yang ingin saya baca atau referensi-referensi pendukung akademik. Tapi ternyata, biar bagaimana pun, saya memang lebih menyukai yang berbahan kertas. Seperti kata kawan saya di atas, ada kebahagiaan yang terenggut di sini.

Di luar soal aroma, meski saya sadari sangat klise, ada satu semangat tersendiri jika melihat rak-rak di kamar dipenuhi buku-buku berfisik. Ragam warnanya memancing gairah; fisiknya yang bisa disentuh, dicium, dipeluk, hingga dibawa tidur bisa menjadi teman teristimewa, terutama di kala suntuk dan sepi.

Jadi, khusus perpustakaan, sepertinya hampir tidak ada lagi yang menarik jika yang konvensional diubah menjadi perputakaan digital yang benar-benar melupakan buku-buku cetak. Saya tidak bisa bayangkan ketika berkunjung ke sebuah perputakaan yang nihil dari tatanan buku-buku yang biasanya apik bertengger di rak-rak dengan aroma khas yang manis di tiap lembarannya. Pasti membosankan.

Lebih jauh, tentu saya akan kesulitan memberi bacaan untuk sanak saudara di kampung seperti biasa. Bagaimana mungkin saya bisa mengirim buku-buku cetak melalu pos jika semuanya sudah itu tidak lagi berbentuk kertas? 

Tanah kelahiran saya yang jauh di sana tidak bisa diandalkan sebagai tempat akses-mengakses Internet. Dengan apa kiranya saya harus mengirim file-file yang bejibun berisi buku-buku elektronik itu? Susahnya di sini.

Karena itu, walau sudah banyak perpustakaan yang mendigitalkan koleksi-koleksinya, dan buku-buku elektronik banyak digandrungi, tetapi buku-buku cetak, buat saya, tetap akan bertahan. Sehingga pertanyaan kawan tadi menjadi ada benarnya dan perlu dipikirkan. 

Masih menarikkah mengunjungi perpustakaan yang nihil dari buku-buku dan kertas? Saya akhirnya sangsi juga.

Artikel Terkait