Mengelola hutan secara lestari, merupakan salah satu tujuan yang terkandung dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, alih-alih menjaganya, Indonesia justru kehilangan hutannya. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa luas tutupan hutan di Indonesia telah berkurang sebanyak 1,9 juta hektare hanya dalam kurun waktu lima tahun, dari tahun 2009 sampai tahun 2014. Banyaknya hutan yang hilang ini setara dengan 27 kali luas negara Singapura.

Berbagai kampanye untuk melindungi hutan bertemakan “Go Green” kerapkali dilakukan oleh berbagai macam kelompok peduli lingkungan. Salah satu aspirasi yang selalu disuarakan adalah mengurangi penggunaan kertas dalam kehidupan sehari-hari. Alasannya sederhana, karena bahan baku kertas adalah kayu. Oleh karena itu, mengurangi pemakaian kertas akan sama dengan mengurangi penebangan pohon-pohon di hutan. Namun, benarkah dengan hidup paperless, hutan kita pasti akan terhindar dari penggundulan?

Benar sekali bahwa bahan baku kertas adalah kayu. Tanpa kayu, maka tidak ada kertas. Akan tetapi, apakah kayu hanya dibutuhkan untuk memproduksi kertas? Jika kita ikuti perjalanan setiap kayu yang dihasilkan dari penebangan pohon-pohon di hutan, kita akan menemukan bahwa kayu dibutuhkan tidak hanya oleh industri kertas, tetapi juga oleh industri-industri lain baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Data menunjukkan bahwa dari semua kayu yang diproduksi di Indonesia, hanya sekitar 8 persen saja yang digunakan oleh industri kertas untuk menghasilkan kertas maupun barang-barang dari kertas. Dengan demikian, seandainya saja kita berhenti memproduksi kertas, maka banyaknya pohon-pohon yang ditebang hanya akan berkurang sebesar 8 persen.

Sebagian besar kayu di Indonesia digunakan untuk keperluan konstruksi. Selain itu, kayu-kayu tersebut juga lebih banyak digunakan oleh industri kayu dan furnitur. Dibandingkan dengan industri kertas yang hanya menggunakan 8 persen, industri kayu dan furnitur serta konstruksi menggunakan sekitar 84 persen dari total kayu di Indonesia, lebih dari sepuluh kali lipat yang dibutuhkan oleh industri kertas. Oleh karena itu, mengurangi penggunaan kertas tidaklah lebih efektif untuk mengurangi penggundulan hutan daripada mengurangi penggunaan barang-barang dari kayu atau mengurangi penggunaan kayu dalam pembangunan gedung dan infrastruktur.

Di sisi lain, paperless tidak selalu berdampak positif untuk kelangsungan kehidupan kita sehari-hari. Terdapat beberapa aspek dalam kehidupan yang sebaiknya tetap menggunakan cara konvensional, yakni dengan kertas, daripada menggunakan cara modern yang lebih berbasis digital.

Salah satu gaya hidup yang kurang baik jika dilakukan dengan paperless adalah membaca. Dewasa ini, telah berkembang berbagai sumber bacaan berbasis digital yang dapat dengan mudah diakses melalui gawai yang kita miliki. Dari bacaan ringan seperti koran hingga bacaan berat seperti novel dan buku-buku ilmiah, telah tersedia versi digitalnya di internet.

Akan tetapi, kebiasaan membaca melalui layar komputer atau gawai ternyata memiliki dampak buruk terhadap kesehatan. Sebuah studi dari Harvard University menemukan bahwa kebiasaan membaca e-book sebelum tidur dapat menyebabkan seseorang memiliki waktu tidur yang lebih sedikit, karena produksi hormon melatonin yang menyebabkan manusia tertidur menjadi berkurang. Sementara itu, kebiasaan membaca melalui buku justru akan membuat seseorang melupakan stres dan cepat mengantuk, sehingga tidur menjadi lebih nyenyak.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa membaca melalui buku dapat membuat seseorang merasakan santai seketika hanya dalam waktu enam menit. Hal ini tentu akan mengurangi stres yang dialami oleh seseorang. Sebaliknya, kebiasaan membaca melalui ponsel atau laptop setiap malam justru akan menyebabkan depresi, tingkat stres yang lebih tinggi, dan kelelahan.

Bukan hanya membaca, kebiasaan menulis tangan di kertas yang mulai digantikan dengan kebiasaan mengetik di komputer juga memiliki dampak buruk terhadap tubuh manusia. Hasil riset menunjukkan bahwa meninggalkan kebiasaan menulis tangan akan berefek pada penurunan kemampuan manusia untuk mengingat, belajar, dan bekerja. Hasil penelitian neuroscientific telah menemukan bahwa terdapat suatu jalur syaraf yang berbeda di dalam otak yang hanya bisa diaktifkan dengan olah motorik halus menulis. Jalur syaraf tersebut sangat mempengaruhi kinerja memori dan proses belajar seseorang. Oleh karena itu, kebiasaan menulis tangan sebaiknya tidak boleh ditinggalkan sepenuhnya. Dengan kata lain, kertas masih kita butuhkan sebagai medium untuk menulis.

Salah satu bentuk penerapan paperless lainnya adalah otomatisasi administrasi perkantoran. Berdasarkan data dari BPS, sektor ekonomi yang paling banyak menggunakan kertas adalah administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib. Dengan menerapkan otomatisasi administrasi perkantoran, yang mengganti proses administrasi berbasis manual dengan kertas ke proses berbasis elektronis dengan memanfaatkan komputer dan fasilitas jaringan lokal, akan tercipta budaya kerja yang lebih efisien dan produktif di lingkungan pemerintahan. Selain itu, pengelolaan data-data administratif juga menjadi relatif lebih mudah.

Sayangnya, penyimpanan data-data penting di media digital juga rawan terhadap kasus pencurian data oleh hacker. Jika tidak diamankan dengan sistem pengamanan yang baik, maka data-data rahasia milik negara yang tersimpan secara digital dapat dengan mudah dicuri oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, kasus pencurian data ini pernah dialami oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2015 silam, ketika informasi-informasi personal dari 22 juta orang, termasuk alamat, kesehatan mental, dan catatan kriminal, berhasil dicuri oleh hacker.

Jika data-data penting negara tersebut dapat dicuri, bukan tidak mungkin para hacker juga dapat menghapus data-data tersebut. Oleh karena itu, data-data penting sudah sepatutnya juga disimpan di media lain untuk menghindari hilangnya data-data yang disimpan secara digital. Dalam kasus ini, penyimpanan data-data secara manual dengan media kertas masih diperlukan, walaupun kita sudah memasuki era yang serba digital.

Jadi, sejauh manakah kita harus paperless? Apakah kita harus mengorbankan keamanan dan kesehatan demi mengurangi penebangan hutan sebanyak 8 persen?

Menjaga kelestarian hutan itu penting, tetapi kertas juga tidak kalah penting. Bukan hanya pepohonan saja yang harus ditebang pilih, namun kertas juga harus dikurang pilih. Satu hal yang perlu ditekankan di sini adalah kelestarian lingkungan tidak hanya bisa dicapai dengan mengurangi penggunaan kertas, tetapi juga dapat diraih dengan menambah penggunaan kertas.

Lingkungan tidak hanya sebatas hutan saja. Cakupan lingkungan juga meliputi tanah, air, udara, suara, sumber daya akuatik, sumber daya biologikal, dan sumber daya lainnya. Kelestarian lingkungan dapat dijaga melalui dua cara, yaitu melalui perlindungan lingkungan dan manajemen sumber daya. Perlindungan lingkungan dilakukan dengan cara mencegah, mengurangi, dan mengeliminasi polusi serta bentuk lain degradasi lingkungan. Sementara itu, manajemen sumber daya mencakup kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mencegah deplesi, memelihara, dan penggunaan sumber daya agar lebih efisien.

Kertas memiliki peran yang penting dalam manajemen sumber daya. Apabila peran kertas dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dikurangi, maka kertas dapat diolah sedemikian rupa hingga menjadi barang teradaptasi, yaitu barang yang secara khusus dimodifikasi untuk menjadi lebih ramah lingkungan atau lebih bersih sehingga penggunaannya bermanfaat untuk perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya.

Contoh nyata peran kertas dalam manajemen sumber daya alam adalah melalui daur ulang kertas. Daur ulang kertas jelas akan dapat mencegah terjadinya deplesi yang lebih besar terhadap sumber daya kayu di Indonesia. Dengan daur ulang kertas, kebutuhan seseorang akan kertas tidak lagi hanya bersumber dari kayu, tetapi dapat juga bersumber dari kertas yang sudah ada. Secara tidak langsung, dengan mendaur ulang kertas, kita akan dapat mengurangi penebangan kayu di hutan tanpa mengurangi penggunaan kertas dalam kehidupan sehari-hari.

Kertas dapat didaur ulang hingga enam kali. Hal ini memungkinkan kita untuk menambah penggunaan kertas tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Akan tetapi, setiap kali kertas didaur ulang, serat-serat pada kertas akan menjadi semakin lemah. Dengan kata lain, kualitas kertas yang dihasilkan tidak akan sama lagi dengan kualitas kertas yang baru saja diproduksi dari pengolahan kayu.

Berbedanya kualitas kertas yang dihasilkan ini akan berefek pada penurunan efektivitas fungsi kertas tersebut. Implikasinya, kertas daur ulang tidak selalu dapat menggantikan peran kertas yang belum didaur ulang. Terdapat beberapa aktivitas yang harus menggunakan kertas dengan kualitas tinggi, namun bukan berarti tidak ada aktivitas yang dapat dilakukan dengan mengganti penggunaan kertas ‘orisinal’ menjadi kertas daur ulang.

Segmentasi aktivitas terkait penggunaan kertas perlu dilakukan, mengingat peran kertas bagaimanapun tidak dapat seluruhnya digantikan oleh peran digital. Aktivitas-aktivitas yang tetap harus menggunakan kertas orisinal tidak perlu dipaksakan untuk menggunakan kertas daur ulang, misalnya pencetakan dokumen-dokumen penting negara untuk urusan pemerintahan, pencetakan surat-surat berharga, dan sejenisnya. Aktivitas-aktivitas semacam ini memerlukan kertas yang tahan lama dan berkualitas baik sehingga tidak dapat digantikan oleh kertas daur ulang.

Sementara itu, aktivitas-aktivitas yang outputnya hanya digunakan sementara atau hanya dalam jangka waktu yang sebentar, dapat disarankan untuk menggunakan kertas daur ulang. Contohnya adalah penggunaan kertas untuk pencetakan soal-soal ujian dan buku-buku latihan soal siswa-siswa di sekolah, kartu ucapan, atau koran-koran harian.

Kertas daur ulang juga dapat digunakan untuk menjadi barang substitusi bagi produk-produk yang kurang ramah lingkungan. Contoh nyatanya adalah mengganti penggunaan plastik dengan kertas daur ulang.

Seorang peneliti bernama Margarita Calafell telah berhasil menemukan material baru yang dapat mengganti bahan-bahan material yang tidak ramah lingkungan seperti plastik, kayu buatan, atau karet, dengan memanfaatkan bioteknologi. Material tersebut memiliki kerapatan yang rendah, dapat dibentuk, anti api, tidak dapat ditembus, dan memiliki resistensi yang tinggi.

Bayangkan saja, apa yang akan terjadi jika kantong-kantong plastik yang biasa kita gunakan untuk membawa barang-barang dari supermarket atau minimarket digantikan dengan kantong-kantong yang berasal dari kertas daur ulang? Jelas, itu sama artinya dengan kita menambah penggunaan kertas. Tetapi, penambahan kertas yang kita lakukan ini justru berdampak baik terhadap lingkungan. Alhasil, kita tidak hanya melakukan perlindungan terhadap sumber daya kayu, tetapi juga melakukan perlindungan terhadap sumber daya tanah. Dibandingkan plastik yang tidak dapat terurai, material kertas yang berasal dari bahan organik tentu akan dapat terurai di dalam tanah, sehingga tidak merusak kualitas tanah tersebut.

Jadi, apakah kita harus selalu paperless untuk menjaga kelestarian lingkungan? Jawabannya tidak.

Pada era modern yang sarat dengan teknologi canggih dewasa ini, sudah saatnya kita memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan barang-barang yang ramah lingkungan tanpa harus mengurangi penggunaan barang tersebut dan justru membahayakan diri kita sendiri. Dengan teknologi, kita dapat mengolah kertas menjadi barang teradaptasi yang dapat menggantikan fungsi barang-barang lain yang tidak ramah lingkungan. Kita masih tetap dapat menggunakan kertas sebagaimana biasanya tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Sekarang bukan lagi zaman ‘paperless’. Sekarang adalah zamannya ‘paperwise’. Kertas bukanlah musuh bagi lingkungan. Kertas adalah pahlawan bagi keselamatan lingkungan.