Apa itu Rubik? Apakah kita sebelumnya pernah memikirkan bahwa hidup kita itu bagaikan sebuah puzzle rubik yang rumit dan penuh kesesatan dalam perjalanannya, sama seperti kita bermain di labirin besar yang penuh akan jalan buntu?

Rubik itu bukan hanya sekadar mainan yang mengasah kemampuan berpikir otak dan mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan teka-tekinya, melainkan sebuah kubus rubik ini memiliki relevansi yang filosofis dalam kehidupan kita sehari-hari.

Hidup kita bagaikan sebuah mainan rubik. Penuh dengan jalan yang kita tidak ketahui sebelumnya. Jika kita takut untuk mengambil langkah, maka kita tidak benar-benar menyelesaikan permasalahan pada hidup kita.

Manusia umumnya sedari kecil tidak pernah diajari bagaimana untuk memecahkan suatu permasalahan dengan baik dan benar. Biasanya pada tahap ini, kebanyakan orang akan memilih untuk menyerah dan memutuskan untuk tetap berada pada zona aman mereka.

Banyak orang terlihat seperti orang yang acuh tak acuh dan tidak bersemangat ketika mereka dihadapi situasi atau permasalahan yang sulit yang menimpa hidup mereka. Untuk itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu secukupnya untuk merefleksikan dan berpikir sejenak apa makna rubik bagi kehidupan kita.

“Rubik merupakan sebuah teka-teki tiga dimensi berbentuk kubus yang memiliki enam sisi dan enam warna yang berbeda. Tujuan dari rubik adalah menyinkronkan warna dari setiap sisi yang berbeda menjadi suatu keharmonisan warna yang sama dalam setiap sisinya.”

Rubik memiliki bagian-bagian tersendiri dalam setiap sisi, antara lain; bagian tengah (center), bagian samping (edge), dan bagian sudut (corner). Bagian tengah (center) dapat diartikan sebagai manusia yang memerani tokoh utama dalam suatu cerita yang dikelilingi oleh tokoh-tokoh pembantu di dalamnya.

Sama halnya seperti kehidupan kita yang terdiri dari fragmen-fragmen terkecil yang saling terhubung atau terkoneksi dengan satu yang lainnya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kita dikelilingi oleh keluarga, sahabat, karir, percintaan, pendidikan, dan kehidupan spiritual.

Namun, kehidupan seorang manusia tidak harus semuanya saling terhubung setiap sisi seperti rubik, melainkan manusia perlu untuk menjaga relasi yang ada di lingkungan sekitarnya agar tetap awet dan terasa lengkap.

Rubik di sini hanya sebagai analogi untuk menggambarkan bagaimana relasi manusia antar sesamanya. Maka dari itu, manusia yang berakal budi sudah seharusnya menghargai sesama di lingkungannya tanpa memandang rendah ras, suku, agama, tingkat pendidikan, ataupun jenis pekerjaannya.

Justru manusia perlu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada mereka dan mencoba untuk menerima diri sendiri dengan segala kekurangan. Dengan melakukannya, secara tidak sadar, manusia sudah melengkapi setiap fragmen-fragmen terkecil dari kehidupan mereka.

“Kunci sukses mempelajari rubik adalah pemikiran yang positif. Dengan tertanamnya mindset yang positif, maka kehidupan kita pun akan mengalami perubahan signifikan dari pribadi yang awalnya negatif berubah menjadi pribadi yang positif dalam memandang sesuatu hal.”

Hal seperti ini terjadi dalam kehidupan manusia. Kita terkadang selalu berpikiran pesimis terhadap sesuatu tanpa memberikan celah bagi kita untuk setidaknya mencobanya sekali. Misalnya kita ingin sekali untuk mempelajari skill atau keterampilan tertentu seperti, skill bermusik atau menulis.

Tetapi, entah kenapa, seakan-akan pemikiran kita yang negatif selalu mendominasi penuh dalam diri kita. Seringkali kita pun merasa tidak terbuka dengan mencoba sesuatu yang baru. Kita tentu pernah muncul pemikiran-pemikiran negatif seperti ini.

“Ah, aku pengen banget belajar piano, mau daftar les piano, tapi aku malu karena aku sudah berkepala tiga, malulah sama anak kecil yang umur sepuluh tahun, tapi sudah jago bermain piano."

Atau “Aku pengen banget latihan gym tapi aku takut banget karena orang-orang di sana itu badannya bagus-bagus, cuma aku aja yang kurus kerempeng. Takutnya aku akan menjadi bahan hinaan mereka saja di sana.”

Nah, pemikiran-pemikiran negatif seperti itulah yang harus kita hindari demi perkembangan hidup kita. Kita harus sadar bahwa semua orang memulai sesuatu dari 0, semuanya berawal dari mempelajari sesuatu dengan perlahan-lahan, dan bertahap-tahap, dari tahap yang mudah hingga tahap yang sulit.

Alangkah baiknya jika kita tidak terlalu mempedulikan tentang berapa usia dan segala kekurangan dalam diri kita untuk melakukan sesuatu yang positif. 

Percayailah, apabila kita masih punya kecintaan dan komitmen yang kuat untuk melakukan sesuatu, maka kita pasti bisa menguasai suatu hal, seperti halnya kita menguasai rubik.

“Menyelesaikan sebuah acakan rubik itu butuh proses. Kita nggak secara untung-untungan untuk bisa menyamakan setiap sisi rubiknya. Maka dari itu, diperlukan pembelajaran dan penguasaan mengenai rumus-rumusnya, sehingga keterampilan kita dalam bermain rubik akan menjadi lancar.”

Untuk menjadi sukses dalam mempelajari suatu hal itu dibutuhkan kemauan yang kuat untuk belajar hal-hal yang menjadi fundamental dari sesuatu, jangan seperti orang yang bermain judi yang hanya mengandalkan nasibnya saja.

Sering kali orang terjebak dalam mindset yang salah bahwa mereka hanya percaya pada keberuntungan atau nasibnya saja tanpa ada usaha yang keras untuk belajar.

Hal ini dapat dianalogikan sebagai seorang kapten dari pasukan samurai. Agar dapat memenangkan segala medan pertempuran, idealnya seorang kapten dibutuhkan pemahaman dan penguasaan taktik yang mumpuni untuk dapat selalu menang pada setiap medan perang. 

Jadi, penulis ingin mengakhiri tulisan ini bahwasannya rubik itu adalah gambaran besar hidup kita yang setiap sisinya dikelilingi oleh bagian-bagian terkecil yang saling terhubung satu dengan lainnya dalam suatu kehidupan manusia seperti, keluarga, kerabat, sekolah, percintaan, karir, dan kehidupan spiritual.

Serta, rubik mengajarkan kita untuk memiliki mindset yang positif bahwa kita pasti bisa meraih apa yang kita inginkan apabila kita masih memiliki kepercayaan dengan kemampuan kita sendiri dan melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa berharap pada nasib.