(Maha) siswa
10 bulan lalu · 302 view · 3 menit baca · Budaya 87607_68528.jpg
HMI STAIN Pamekasan.doc

Hidup sebagai Singa atau Mati sebagai Kambing

Beberapa bulan yang lalu, saya sempatkan diskusi mengenai idealisme. Yang oleh Tan malaka disebut sebagai kekayaan terakhir bagi pemuda. Saat itu, teman diskusi saya seorang kader HMI Ciputat.

Saya pikir, meski saat itu saya belum pernah mengunjungi diskusi-diskusi teman-teman HMI ciputat, paling tidak, saya sudah berdiskusi walaupun dengan satu orang kader HMI yang secara ideologis adalah anak Cak Nur.

Diskusi 1 jam itu berakhir dengan kesimpulan,  idealisme murni itu tidak ada. Yang ada kepentingan-kepentingan semata. Dia mengatakan, " idealisme murni hanya membuat kita mati kutu."

Pernyataan itu terus mengiang di telinga. Bagaimana dengan Wahib yang rela bercerai dengan himpunan karena mempertahankan idealismenya, bagaimana juga dengan Soe Hok Gie yang memilih membusungkan dada di depan kemunafikan, bagaimana dengan Mahasiswa angkatan '66 dan '98? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku mengernyitkan dahi.

Kalau kematian aktivis mahasiswa '98 itu bukan karena nilai-nilai yang diyakini kesempurnaan dan kebenarannya, lantas bagaimana dengan harga nyawa yang dipersembahkan? Bukankah Soe Hok Gie mati dalam dekapan puncak Semeru? Bukankah dia rela dimusuhi banyak orang demi mempertahankan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya? 

Pertanyaan itu terus berbenturan dengan kenyataan. Buat apa kehilangan nyawa, jika yang diperjuangkan hanya kepentingan. Kalkulasi-kalkulasi matang perlu dikedepankan, bukankah begitu? 

Barangkali bagi Soe Hok Gie, nilai-nilai yang menjadi patokannya yang sudah dianggap sempurna. Atau , apa yang kita sebut sebagai idealisme harus terus dipegang teguh. Persis seperti Ucapan Muhammad SAW, seandainya matahari di tangan kanan atau bulan di tangan kiri, saya akan tetap memperjuangkan kebenaran ini.

Saya pikir, idealisme memang tak kenal kompromi. Kaku, dalam pandangan orang kompromistis. Teguh pendirian dalam pandangan orang idealis. Kiri-kanan kepentingan masuk. Jabatan dan uang pancingan pertama bagi sang idealis. Kata orang kompromistis, " ah itu karena dia tak lagi di posisi kita". 

Kesimpulan idealisme bagi orang kompromis hanya angan-angan semata. Terbang di langit tak pernah menyentuh bumi. idealisme, akan tetap bertentangan dengan realitas.  sampai akhirnya realitas menyerah. Sampai kapan idealitas tercapai? Entah. Tapi, yang pasti perjuangan jangan sampai ditakbiri empat kali..

Berbicara kenyataan berupa tuntutan untuk berkompromi demi kepentingan, banyak yang tak tahan. Akhirnya masuk angin. Kadang kala kenyataan memaksa kita menjadi yang lain. Jubah-jubah kenabian sosial kita tinggalkan. Idealisme ditinggalkan layaknya puntung rokok di asbak. Ia akan diketahui manfaatnya tatkala kita terkena racun serangga (semut semai atau tomcat). 

Begitulah idealisme. Manakala berbagai kepentingan masuk, menyerang dari berbagai lini, maka saat itu pula akan terlintas keinginan untuk kembali ke niat awal atau niat yang murni. Realitas memang lebih banyak menuntut daripada idealitas. Sulit orang bertahan di tengah keinginan dan tuntutan. 

Sebut saja, intelektual yang melacurkan ilmunya demi kepentingan sesaat dan hasrat kekuasaan. Pada akhirnya, ia tak ada bedanya dengan pelacur sungguhan. Ia sama-sama dapat imbalan karena bisa memuaskan tuannya.

Soe Hok Gie  dalam catatannya, menulis tentang pertanyaan pada Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro, Rektor UI  yang menjadi menteri pertambangan saat itu. "Mengapa rektor mau menjadi menteri pertambangan?" tanyanya. 

Yang jelas, dalam catatannya, Soe Hok Gie gelisah ketika seorang rektor kampus ternama masuk dalam lingkran politik yang olehnya disebut sebagai tempat yang kotor, tempat calo-calo pertambangan, perampok uang negara. 

Si Rektor UI tersebut menjawab, "Sebenarnya ada dua pilihan, masuk dalam lingkaran dengan mengubah, meski agak sulit, atau menunggu sampai ambruknya rezim ini." 

Idealisme Soe Hok Gie membawanya pada keberanian hidup yang ditempuh dengan konsekuensinya. Orang-orang yang tak kuat memegang teguh idealisme, akan terus mengikuti arus. Memang, memegang teguh sikap Idealis itu berat. 

Seorang aktivis yang idealis mungkin akan merasakan diputus jaringannya oleh para senior-senior. Ia akan dipersulit jalan-jalannya. Akan ditenggelamkan namanya. Akhirnya, ia mati kutu. Tapi bagi yang kuat, akan ada angin segar, satu pintu tertutup pintu lain masih terbuka lebar. 

Sebuah Pesan, sebagai motivasi bagi orang-orang idealis, dari Soe Hok Gie:

"Lebih baik terasingkan daripada menyerah pada kemunafikan."

Sungguh mulia cita-cita Soe Hok Gie. Lagi-lagi saya teringat lanjutan pernyataan teman saya yang dari Ciputat tersebut, " kita ini harus realistis tapi bukan materialistis." Teman-teman Panitia LK 1 seangkatanku mengatakan dalam bahasa mMadura, "mun bedeh pakon, bedeh pakan."  Artinya, kalau menyuruh mesti dengan ongkosnya. 

Saya sambil menahan tawa, memang kenyataan manusia abad modern kalkulasinya matang-matang. 

Di  akhir tulisan ini, saya ingin memperjelas bahwa memang idealisme mengajak seseorang terbang tinggi meski kadangkala melupakan daratannya. Tapi kenyataan akan menyadarkan seseorang, bahwa mata yang memandang lidi dalam gelas berisi air berbeda dengan lidi yang di luarnya. Kenyataan menuntut kita beradaptasi. Tapi, perlukah semua nilai-nilai dikompromikan? Mati sebagai singa atau hidup sebagai kambing? 

Pilihlah sesuai dengan hati nurani. "A man is as he thinks" ucap Dokter Yahudi dalam buku Soe Hok Gie, Zaman Peralihan.