Apa yang terlintas pertama kali saat mendengar atau membaca kata 'penulis'? Kalau aku, langsung terpikir motivasi, inspirasi, curahan hati, dan sejenisnya.

Menurutku, seru sekali menjadi penulis. Apalagi jika berkesempatan punya buku "sendiri". Pasti tak terbayang euforia kebahagiaan atas karya yang dibaca oleh khalayak umum.

Aku pun memimpikannya (bisa menerbitkan buku suatu hari nanti). Semoga aku bisa berbagi lewat tulisan-tulisanku. Memberi sedikit motivasi, inspirasi, dan saling menguatkan pribadi yang kerap goyah oleh angin kehidupan.

Tiada yang lebih mengadiksiku daripada kopi, membaca, dan menulis. Ketiganya adalah perpaduan sempurna buatku. Jika ada yang bertanya dan meributkan, "Perempuan kok ngopi, Mbak?" Haduh, sudah deh ya, tidak usah ribet dengan "perempuan" dan "laki-laki" lagi. Kita rehat sejenak mengenai gender.

Kesukaan menulis diawali dari seringnya uring-uringan di diary. Entah berapa buku harianku dari masa kecil dulu. Isinya lucu-lucu; harapan, keluhan, dan cita-cita.

Ajaibnya, sebagian besar cita-cita yang kutuliskan di buku harian terpenuhi. Mungkin, ini adalah arahan dan kode-kode dari semesta bahwa aku (mungkin) terlahir sebagai penulis. Semoga ini bukan ajang kepedean, ya. Hehe.

Menulis adalah kecanduanku yang bisa membuat lupa sejenak apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Aku benar-benar terjun ke dalamnya. Bisa dikatakan bahwa tulisanku sudah menjadi tempat bersemayam jiwaku. Aku eksis di antara rangkaian kata ini.

Tiada yang bersedia menampungku dengan tangan terbuka lebar selain rangkaian kata-kata. Aku tak ingin berharap kepada dunia dan orang lain yang bisa berubah asing dan kejam seketika. Cukuplah aku bercumbu dengan "kata-kata".

Ya, aku benci dunia dan orang-orang yang menghakimi seenaknya. Bahkan hanya mengenal sebatas nama. Tapi, di dalam kata-kata aku disambut dengan senang hati. Aku tidak pernah takut menjadi diriku sendiri dan penghakiman-penghakiman yang cenderung diskriminatif.

Menjadi penulis sudah kuniatkan dan kuusahakan dan kuperjuangkan sedemikian gigih. Aku sedang membangun fondasi supaya tulisanku menjadi "bangunan" yang nyaman, bermanfaat, dan menginspirasi.

Jadi, bagian menyenangkan dari menulis adalah aku menemukan diriku sendiri. Lalu, apa yang tidak menyenangkan?

Sebenarnya, tidak menyenangkan adalah kewajaran. Bukan berarti ini menjadi kendala atau penghambat proses menulisku. Justru hal-hal tidak menyenangkan ini yang mendorongku kuat-kuat untuk secepatnya "melahirkan" sebuah tulisan.

Apa itu?

Jawabannya adalah proses kehidupan yang tidak bisa ditebak sama sekali. Harus mengolah rasa supaya baik-baik saja di segala situasi dan kondisi (sikon) hidup yang bergelombang itu tidak mudah, lho.

Pokoknya, ada saja tiap hari kejadian yang mengejutkan. Bisa-bisa aku sakit jantung mendadak kalau tidak kuat mental, hehe.

Misalnya, baru jadian semalam. Eh, paginya diputusin. Atau, baru ada yang bilang mau serius, eh dia unggah foto pamer tunangan. Jadi pengen berkata sesuatu ke Dilan, "Yang berat itu bukan rindu, tapi proses menjadi penulis."

Contoh di atas sebagian kecil kejadian tak terduga dalam hidupku. Tentunya sangat berpengaruh kepada tulisanku. Dengan begitu, si penulis yang masih coba-coba ini tak kehilangan topik cerita atau mengurangi writer's block.

Ya Allah, gini amat mau jadi penulis, ya? Apa harus dikejutkan dengan kejadian yang lumayan mengguncang mental terus?

Ibarat jalan aspal, hidupku bukan jalan yang mulus tanpa lubang. Justru penuh lubang-lubang yang membuat badan sakit karena terhentak.

Aku berbaik sangka kepada Pemberi hidup. Kesimpulanku dari keadaan tak mengenakkan yang sering saja menghadang adalah supaya tidak terkena writer's block. Apa yang mau dibagikan jika hidup mulus-mulus saja? Masa iya mau pamer kebahagiaan, kan tidak mungkin begitu.

Justru dari pengalaman pahit bisa dibagikan dan langkah-langkah menyikapinya harus bagaimana. Ya, meskipun rasanya tidak enak sekali. Tapi, sekarang sebagian kecil kejadian itu tidak sesakit zaman dulu.

Sekarang, masalah percintaan yang sering kelam tiada sesakit dulu. Jika dulu rasanya ibarat terinjak gajah, sekarang ibarat digigit nyamuk saja. Tinggal gatal-gatal dikit, sebentar juga sembuh. Ini serius, lho. Hehe.

Yang dulunya, semalam baru ada gebetan baru. Eh, dia unggah sama pasangannya (ternyata aku hanya "tempat singgah" sebentar). Pasti aku nangis sampai mata bengkak-bengkak.

Kalau sekarang? Ekspresiku pas lihat paling cuma gini, "Oh, jadi begitu." Sudah, memang cuma begitu. Habis melihat, ya terlupa sendiri.

Terkadang kita harus melewati peristiwa luar biasa terlebih dulu, supaya akhirnya bisa bersikap biasa-biasa saja. Hal baiknya, aku tidak pernah kehabisan ide cerita untuk kubagikan.

Sebab, bagi penulis, konflik adalah hal-hal yang dicari untuk dituliskannya. Aku tidak butuh itu, Tuhan sudah memberikan hidupku penuh konflik. Tugasku adalah menguatkan mental dan menuliskannya.

Dengan demikian, jangan takut menghadapi hidup yang penuh "gelombang". Hikmahnya, kita akan merasa perubahan sakit yang awalnya seperti terinjak gajah, akhirnya tinggal gatal-gatal saja seperti digigit nyamuk.

Dan, itu tak bisa terasa tanpa dialami sendiri. Tidak bisa serta-merta langsung terasa hanya dari membaca tulisan ini. Jika berhasil mengalahkan kesakitan dan menguatkan mental sendiri, rasanya menakjubkan sekali. Kenapa? Karena bisa membagikan dan memberikan penguatan terhadap orang lain. Bukan hanya berguna bagi diri sendiri, tapi bisa dibagikan kepada pembaca.

Bagaimana? Sudah siap menjadi penulis dengan hidup yang mengejutkan? Mari, berbagi bersama melalui tulisan dan saling menguatkan!