Gara-gara sering melihat postang-posting status WhatsApp (WA) keponakanku, Fajrin, ketika ia dan teman-temannya selalu mengadakan berbagai kegiatan membuatku tertarik mengikutinya dan ingin segera ke sana. 

Apalagi kegiatan yang tepatnya dilaksanakan di desa Sambaliwali, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kegiatan yang banyak berbicara tentang "literasi masyarakat" itu di antaranya; bedah buku, bedah cerpen, diskusi tematik, ngaji keislaman, sampai pada kegiatan atau acara pesta rakyat yang menghadirkan "Parrawana Towaine". 

Nah, parrawana towaine ini yang paling menarik perhatianku apalagi di zaman tik-tok ini. Parrawana towaine merupakan sekelompok perempuan yang menabuh rebana sambil menyanyikan lagu tradisional berbahasa Mandar (nama etnis) yang bernuansa tasawuf dan berfilosofi tinggi pada setiap untaian katanya.

Setiap Fajrin menampilkan foto-foto parrawana towaine Sambaliwali di status WhatsApp yang selalu kukomentari; keren.

Dan sebagai tantenya, chatku selalu dibalasnya;

"kalok mau merapat, tanggal 31, tan, di karoke. Parrawana towaine massal, 26 personel, gabungan dari empat grup dari dusun yang berbeda-berbeda."

Atau "yuks tan, parrawana towaine massal, neeh."

Dan "iye, tan. senang sekali. yuks hadir, tan. parrawana towaine massal siap menyambut ta."

Beberapa kali Fajrin menshare apa pun tentang Sambaliwali, dan ajakannya yang sangat menarik hati namun belum bisa kuikuti. Sampai menemuiku dan memberikan video-video parrawana towaine dan syair-syairnya, semua menjadi harapan untuk bisa segera ke sana. 

Hingga suatu hari, ibu ketua Parrawana Towaine SambaliwaliSyamsiah, beserta keluarga menyiarahi rumah kakekku di Lapeo. Kami akhirnya bertemu di sana. 

Aku bilang padanya, aku tahu ia dan profesinya sebagai penabuh rebana dari Fajrin. Ibu Syamsiah mengiyakan bahwa Fajrin memang selalu di sana dan sudah seperti "orang" Sambaliwali.

Aku bilang lagi, aku ingin sekali ke Sambaliwali dan mendengarkan ibu Syamsiah dan kelompoknya menabuh rebana dan menyanyikan lagu-lagu. Ibu Syamsiah memelukku, dan sangat senang mendengarnya, katanya; kami menunggu anda di Sambaliwali.

Aku segera menghubungi Fajrin yang saat itu lagi prepare perjalanan ke Lokasi Sekolah Alam Salulebo di Mamuju Tengah (Mateng). Aku katakan, jika aku bertemu ibu Syamsiah. 

Fajrin menanggapi dan bilang, bagaimana jika buku Imam Lapeo yang kutulis sekalian dibedah di Sambaliwali, nanti sekalian mendengar suara indah dari parrawana towaine. Namun, agenda itu akan dilaksanakan sepulangnya ia dan kawan-kawannya dari sekolah alam.

Keajaiban Terjadi Ketika akan Dipotongkan Ayam

Sebulan berlalu, Fajrin telah pulang dari Mateng. Ia dan teman-temannya di Lantera yang  merupakan komunitas pemuda pedesaan Sambaliwali  yang sudah menyusun agenda bedah buku tentang Imam Lapeo yang kutulis.

Namun, ketika Fajrin mengkonfirmasi agenda teman-teman Lantera, aku merasa belum bisa memenuhi undangan mereka. Pasalnya sangat sepele, kakiku lagi terserang kutu air. Aku sampai bilang ke Fajrin semoga nanti ada  keajaiban kakiku bisa sembuh.

Dan keajaiban itu terjadi ketika Fajrin bilang di japri WA; jika ibu atau kindo parrawana sudah menunggu kedatanganku. Sampai-sampai kindo mau memotongkan ayam kampung. Aku terharu, mereka di Sambaliwali mengharap kepastian kedatanganku. Aku memang harus ke Sambaliwali.

Kakiku yang lagi kutu air masih gatal dan berair walau sudah kuberi berbagai macam salep dan minyak belum juga sembuh. Namun, dengan izin Tuhan setelah kuberi bubuk kunyit asli langsung kering dengan segera. 

Ajaib, kakiku sembuh, karena kunyit bubuk tadi dan aku sangat bersemangat karena menghargai mereka yang ingin mendengarkan perbincangan tentang Imam Lapeo. 

Maka agenda diskusi dan bedah buku Imam Lapeo yang dihelat oleh Lantera yang akan diselenggarakan hari  Senin, tanggal 07 September 2020, jam 19.30-selesai, di rumah Imam masjid Palugan, Sambaliwali, fix akan kuhadiri.

Senin sore tiba, aku masuk ke desa Sambaliwali bersama adikku, Ammoz. Di Mapili, mahasiswi sepupuku, Risma akan menghantarkan kami sampai ke tujuan. Walau seorang teman dari Lantera, Nurdin, sudah mengirimkan chat akan juga menjemput di pasar Mapili. 

Di sore hari, Lantera juga menghelat obrolan tentang seksualitas bersama Mega S. Haruna yang tidak sempat kuikuti karena kami masih di perjalanan menuju Sambaliwali. 

Ketika tiba di rumah Cacculu, teman-teman Lantera dan organisasi lainnya telah menunggu. Rumah sangat ramai baik oleh anak-anak muda Sambaliwali maupun dari luar Sambaliwali. Namun, acara diskusi dipindahkan ke rumah kebun kindo parrawana . 

Di sana, sudah menunggu para tetua, tokoh agama, adat, masyarakat. Diskusi pun digelar, aku hanya memberikan pengantar sedikit tentang siapa Imam Lapeo, mengapa beliau dianggap sebagai wali atau annangguru di Mandar, Sulawesi Barat selebihnya kami akan lebih banyak berdiskusi.

Bagaimana strategi dakwah Imam Lapeo, ajaran-ajaran Imam Lapeo, sampai pada sakralitas atau mitos Imam Lapeo dan lain sebagainya. Rata-rata yang bertanya adalah mahasiswa dan mahasiswi yang memang harus menganalisa dulu apa yang harus dipercayainya.

Setelah itu, kami makan malam dengan menu ayam goreng, ikan bakar, telur rebus, mie rebus plus kacang, ketupat, buras (beras yang dimasak dengan santan kental), to'ja (ubi kayu yang dimasak kemudian ditumbuk dan diberi kelapa parut).

Semuanya enak. Kami semua makan dengan sangat lahap. Apalagi, cuaca sangat mendukung, udara di Sambaliwali lagi dingin dan agak gerimis. 

Setelah makan, kami mendengarkan parrawana towaine menyanyikan delapan (8) syair yang sangat bermakna. Mulai dari salat, hakikat diri, dan lain sebagainya. Sebelumnya, mereka melakukan ritual berdoa. 

Di sela-sela mendengarkan lagu, kami kembali disuguhi tuan rumah kue-kue tradisional khas Mandar yaitu baje. Dan kue modern agar-agar dan pawai bersama kopi hitam. Tapi, aku lebih memilih minum teh.

Panggadeang; Ruang Belanja dan Diskusi

Keesokan paginya, Fajrin mengajakku dan teman-teman yang menginap malam itu di rumah Cacculu ke panggadeang. 

Panggadeang merupakan istilah untuk sebuah kedai kopi di pasar Karoke, Sambaliwali. Di sana orang-orang membeli gogos atau ketan bakar dan tumbu' seperti buras namun bentuknya agak panjang seharga seribu rupiah. 

Itu pun sudah disertai sepiring kecil , cowe-cowe atau sambal cabe yang digoreng. Bukan hanya bonus sambal tadi tapi juga free cup of coffee or tea. Oh My God, kindo sebutan akrab Fajrin dan teman-teman pada pemilik kedai yang memang menganggap setiap konsumen adalah tamunya bukan pembelinya. 

Di masa lalu, dikatakan oleh Nasfa; panggadeang adalah ruang membicarakan politik yang tidak terendus oleh penguasa. Panggadeang menjadi ruang bagi orang-orang kampung untuk  minum kopi sambil membicarakan berbagai masalah dengan santuy dan rileks.

Hidup itu memang harus ngopi atau ngeteh yang ditemani gogos, tumbu', plus cowe-cowe. Seperti hari gini, biar gak stres, yukz ngopi-ngopi di Panggadeang. Ayo ke sini Sambaliwali.