Sebagai Contoh; “Misteri yang paling mengeruk dalam diri kita adalah keajaiban, dan mujizat”.

Kita tahu homo sapiens itu, “makhluk yang berfikir”, dan menggunakan naluri. Tetapi diluar keajaiban, sungguh tidak akan mungkin naluri dan akal bisa menerimanya.

Misalnya kejadian-kejadian tanpa sadar, hukum alam diluar perkiraan. Dan misteri-misteri alam yang sungguh ajaib. Itu sungguh kemungkinan, kita akan ragu segala sesuatu. Karena sejauh kebenaran. Kita tidak akan bisa menelanjangi kenyataan.

Fiksi itu lawan-Nya realitas bukan fakta. Sebab fakta bisa dibuktikan dan bisa dibenarkan. Kalau Neil Amstrom naik ke bulan. Itu bukan fiksi tapi realitas. Tetapi kalau saya membaca novel. Itu bukan fakta, tetapi kenyataan.

Maka, kenapa kita terjebak pada dunia fiksi?

Karena kita menganggap fiksi itu bohong. Fiksi itu palsu. Tidak ada kebenaran, dan kenyataannya. Orang baca novel, baca puisi dan baca kitab, menganggap “imajinasi itu jauh lebih penting daripada pengetahuan”.

Sebab fiksi jauh lebih baik ‘bekerja’ daripada ‘fakta’. Karena fungsional daripada “sifat fiksi” itu mengatifkan imajinasi. Kalau Albert Einstein membaca buku. Poin utama yang ia telisik adalah sifat fungsional daripada sifat fiksi, bukan kenyataan.

Karena dengan dunia fiksi orang akan mengelupas bahwa segala sesuatu bisa dicapai. Bila digerus dengan upaya, usaha, optimis dan proses yang panjang. Berbeda lagi dengan kenyataan. Sebab kenyataan itu sendiri Lawan-Nya realitas, bukan fiksi.

Namun bagaimana struktrur imajinasi bisa menjadi kenyataan?

Seperti yang kita pahami selama ini, pada umumnya. Imajinasi itu adalah mekanisme psikis untuk memvisualkan materi ke dalam alam kesadaran. Mulla Sadra menyebutkan demikian yakni “jiwa yang hidup dalam unsur materi”, yang dekonstruksi-Nya memiliki hubungan langsung dari rangsangan luar (Amir Piliang, 2011: 994).

Dengan maksud, apa yang bisa kita tangkap, dan apa yang bisa kita lihat, rasa, raba dan benar apa adanya, itu fungsional daripada sifat kenyataan (Experimental).

Maka kenapa Madilog; Materialisme, Dialektika Dan Logika. Karya Tan Malaka itu menolak keras hidup dalam dunia fiksi itu jauh lebih baik daripada kenyataan?

Karena ia yakin, unsur yang hidup dan benar terjadi dalam dunia kenyataan, dan ide ialah materi. Bukan imajinasi, dan fiksi. Tetapi lemahnya dia. Ketika tidak bisa melumat perbedaan antara dunia imajinasi dan dunia ide.

Karena yang dia pahami, dunia imajinasi dan dunia fiksi,—atau dunia ide itu adalah hal kemustahilan,—ajaib, dan mujizat yang terjadi diluar dugaan, nalar dan superioritas akal dan Logika. Jadi sangat keruh, dan absurd sekali Kemutlakannya!

Tetapi apakah mungkin materi akan hidup tanpa “fiksi bekerja”?

Dalam literatur, fiksi itu akan ‘bekerja’, bila terkontaminasi dengan ‘materi’ dan begitu juga dengan ‘materi’ tidak akan aktif, bila fiksi tidak ‘bekerja’. Keduanya memiki siklus yang berbeda. Namun tujuanya sama.

Namun, apakah dalam kitab, fiksi itu bisa disebut sebagai keyakinan? Tentu bisa.

Sebab orang baca novel dengan orang baca kitab, kimianya sama, jenis hormon yang diproduksinnya sama, dan materi,—ide dan akal yang dihasilkan juga sama. Tidak ada yang jauh berbeda.

Antara mereka yang bahagia dengan mereka yang sedih adalah sama. Dan mereka sama-sama hidup dalam dunia fiksi. Ketimbang dalam dunia realitas. Kenapa? Karena mereka akan sadar bahwa puncak kebahagian dan penderitaan tertinggi adalah terletak pada pikiran, dan perasaan yang terkoyak. Bukan pada kenyataan yang semu,—atau kenyataan yang sebenarnya.

Maka, kenapa kita lebih menyingkap hidup di alam imajinasi, daripada kenyataan?

Karena segala yang transenden, abstrak, dan yang sifatnya fiksional. Itu tidak dapat diterima oleh akal. Sama halnya, ketika kita menolak kujujuran, namun menerima kebohongan. Itu persis, kita sedang menggerogoti dunia realitas.

Sebab kenyataannya, kita tidak bisa membongkar keyakinan, atas kekalutan keraguan yang hidup dalam transendensi, akal dan imajinasi. Contohnya saja! Orang males, yang berubah menjadi rajin. Itu dikarenakan adanya fungsional daripada imajinasi, dan orang kotor, berubah menjadi suci. Itu juga, dikarenakan adanya fungsional daripada fiksi.

Maka Kenapa, fiksi jauh lebih indah sebagai imajinasi, namun berbahaya sebagai fakta?

Karena kita mengabaikan sifat fungsional daripada “sifat fiksi dan imajinasi”. Sebab selama ini kata “fiksi dan imajinasi” dibebani oleh unsur kebohongan, unsur kepicikan, dan unsur keterkutukan imajinasi. Padahal, kalau kita selami selama ini. Dunia fiksi itu lebih “banyak bekerja” daripada “dunia realitas”.

Misalnya, bumi dan langit ini ada. Itu bukan karena unsur realitas yang terjadi. Tetapi ini ada, karena adanya unsur metafisika, dan imajinasi. Dengan maksud ada mekanisme yang terstruktur dan teratur dalam dunia ide dan dunia fiksi.