Agama Islam adalah agama murni, Agama yang diturunkan Allah kepada kekasih pilihannya. Agama yang menuntun kepada jalan yang benar dan agama yang penuh dengan rahmat. 

Dalam ajaran Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa beribadah kepada Allah, Tuhan sang pencipta Seluruh Alam , Tuhan yang tiada duanya, Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang , dan Tuhan pengampun segala dosa. 

Dalam ajaran Islam, Islam mengajarkan umatnya untuk menjalani hidup dengan bersyukur atas semua nikmat yang Allab berikan dan bersabar dalam menghadapi berbagai macam cobaan, selalu berbuat baik, saling menghargai dan tolong menolong.

Salah satu sikap yang sangat penting dalam hidup adalah bersyukur atau hidup secara berkecukupan tidak berlebihan dan tidak berkurang tidak lain adalah berzuhud.

Salah satu ajaran Islam yang salah dipahami oleh banyak orang yaitu zuhud. Banyak yang mengartikan   bahwa zuhud itu tidak mau mengikuti perkembangan zaman atau bahasa sekarang menganggapnya katrok, kudet ( kurang update). 

Sehingga banyak dari sekian orang yang enggan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahpahaman inilah yang membuat orang-orang tidak dapat merenggut manfaat berzuhud seperti yang diajarkan Nabi SAW. 

Pengertian  Zuhud sendiri berasal dari bahasa arab  زهدا yang artinya berpaling dan meninggalkan atau menyendiri . Secara keseluruhan Zuhud meninggalkan bergantung kepada dunia, atau meninggalkan sesuatu karena suatu kehinaan baginya.

 Setiap hamba diberi rezeki oleh Allah secara matang.Meskipun tidak punya uang, semua yang dibutuhkan selalu diberi kecukupan, namun hal yang demikian dizaman sekarang banyak yang menganggap miskin.

Hakikat Zuhud sendiri yaitu tidak menyukai sesuatu dan mengharap  ganti pada sesuatu yang lain, jadi orang-orang yang meninggalkan sisa-sisa dunia dan menolaknya demi mengharap keuntungan akhirat, maka ia adalah orang yang berzuhud dari dunia ( Ihya’ Ulumudin. Hlm 378 ).

Seseorang yang berzuhud itu disebut zahid. Zuhud itu hidup dalam kesederhanaan dimana hidupnya selalu mimikirkan akhirat dan tergiur kehidupan dunia. Seseorang yang berzuhud itu hidupnya dan matinya  hanya untuk allah, berzuhud harus disertai dengan kesadaran tidak asal-asalan bahwa  akhirat itu lebih baik dari pada kehidupan dunia, karena kita makhluk hidup akan kekal selamanya di akhirat kelak.

Zuhud atau hidup sederhana sendiri sudah banyak diterangkan didalam Al-Qur’an . Dalam surat Q.S Al Kahfi ayat 7 yang artinya “ Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang dibumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka yang terbaik perbuatannya.” 

Dan juga surat Al-Qashas ayat 77 yang artinya “ Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah di anugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu didunia  dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telag berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi. Sungguh, Allah tidak mnyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” 

Kehidupan berzuhud itu bukan berarti harus hidup miskin dahulu baru bisa disebut zuhud yang terpenting hatinya tidak terkait dengan harta kekayaan yang dimiliki. Belum tentu jika malah seorang yang miskin justru hatinya malah memikirkan duniawi dan orang yang kaya  harta tetapi justru hatinya memikirkan akhirat. 

Imam Ghazali mengatakan “ jiwa harus merawat tubuh sebagaimana orang mau naik haii harus merawat untanya. Tapi kalau ia sibuk dan menghabiskan waktu unta itu, memberi makan dan menghiasinya. Maka kafilah (rombongan) akan meninggalkannya. Dan dia akan mati di gurun pasir. 

Artinya kita  bukan tidak boleh merawat yang bersifat fisik, tapi yang tidak boleh adalah tenggelam didalam. Begitu sama saja dengan dunia. Kita bukannya tidak boleh memikirkan dunia tetapi kita tidak boleh terlalu memikirkan dunia sehingga kita melupakan kehidupan akhirat ( Buku saku Tasawuf.hlm 115).

Berperilaku zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tidak mau berusaha, hanya beribadah shalat, dzikir, berdo’a, mengaji, dan sebagainya, tetapi menjadikan dunia ini sekedar sarana untuk menuju akhirat dia bekerja tapi tidak sampai melalaikan akhirat. 

Ciri-ciri orang yang berzuhud yaitu Tetap hidup sederhana walaupun hartanya melimpah, tidak suka menumpuk-numpuk harta, menghindari foya-foya dan bermegah-megahan, senantiasa mengedepankan kehidupan akhirat, tidak mudah terpengaruh dengan kesenangan duniawi. Sangat berhati-hati dalam memperoleh atau mencari nafkah.

Dalam berperilaku berzuhud banyak sekali hal-hal positif yang dapat kita ambil antara lain, kita semakin dekat dengan Allah, hatinya merasa senang, tidak ambisius untuk memperoleh kemuliaan dunia, dan banyak lainnya.  

Rasulullah mengatakan bahwa dunia adalah ladang menuju akhirat. Dalam artian tersebut Dunia saat ini sebagai sarana menuju akhirat. Apa yang kita tanam di dunia kita akan memetik buah nya di akhirat kelak. 

Dunia adalah tempat untuk mencari ilmu dan hikmah bagi orang-orang yang ingin meraihnya, tempat beribadah bagi sahabat-sahabat Allah dan para malaikatnya. Kehidupan dunia dapat mengantarkan kita ke singgasana di akhirat nanti. Hidup didunia ini hanya sementara saja , jadi pandai-pandai lah memanfaatkan waktu dengan baik didunia dan selalu berbuat kebaikan.


DAFTAR PUSTAKA

Al Gazali, Imam. Ihya’ Ulumuddin. Tanpa tahun. Kota terbit dan penerbit

Baghir, Haidar. Buku Saku Tasawuf. Tanpa tahun, kota terbit dan penerbit