Di zaman modern seperti ini semakin sulit bagi kita untuk menentukan gaya hidup yang tepat. Tak sedikit orang yang terjebak pada gaya hidup yang salah. Lalu apakah sebenarnya gaya hidup itu? Gaya hidup merupakan pola hidup seseorang yang diekspresikan melalui minat, aktivitas, dan opininya.

Gaya hidup pada prinsipnya adalah pola seseorang dalam mengelola waktu dan uang. Sebuah gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang yang pada akhirnya menentukan pola konsumsi seseorang. Gaya hidup mencakup tiga kategori, yakni prinsip, status, dan tindakan.

Gaya hidup seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi. Sedangkan faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.

Ada berapakah macam gaya hidup itu? Gaya hidup digolongkan menjadi lima macam, di antaranya ada gaya hidup modern di mana semua serba modern dan praktis, lalu ada juga gaya hidup sehat, pasti semua sudah tahu mengenai gaya hidup sehat ini, pada gaya hidup sehat ini seseorang lebih berfokus pada kesehatannya.

Gaya hidup yang selanjutnya adalah gaya hidup hemat di mana seseorang menimbang terlebih dahulu tingkat kebutuhannya sebelum mengeluarkan uang atau hartanya, gaya hidup seperti ini sangat dianjurkan dalam agama. Sebaliknya gaya hidup hedonisme yakni seseorang membelanjakan sesuatu secara berlebihan dan memiliki pola hidup yang mewah.

Terakhir adalah gaya hidup bebas yakni pola hidup seseorang yang tanpa memperhatikan norma-norma dan batasan-batasan dalam menjalani hidupnya. Teknologi yang semakin canggih, e-commerce yang semakin banyak jenisnya, keinginan hidup yang mudah dan praktis menyebabkan timbulnya gaya hidup hedonisme.

Mengapa demikian? Saat kita melihat rekomendasi barang yang penilaiannya bagus dari sosial media terkadang kita langsung tergiur akan barang tersebut. Apabila sudah tergiur maka akan timbul keinginan untuk membelinya.

Semakin pesatnya perkembangan globalisasi menuntut kita agar tidak ketinggalan zaman, seperti contoh dalam hal berpakaian maupun yang lainnya. Para remaja saat ini, tidak ingin ketinggalan tren, mereka akan mengupayakan segala cara agar dapat selalu mengikuti tren, ya tujuannya supaya tidak dikatakan ketinggalan zaman.

Dengan mengikuti tren tersebut mereka tidak sadar bahwa gaya hidupnya boros. Tren memang perlu diikuti perkembangannya namun kita juga harus dapat memilih dan memilah tren tersebut, perlu untuk disaring antara yang positif dengan yang negatif. Tren pada saat ini seperti kejar-kejaran, dikatakan begitu karena tren muncul hanya sebentar lalu disusul dengan tren berikutnya.

Di antara beberapa faktor eksternal, kelas sosial lah yang paling mempengaruhi terjadinya gaya hidup hedonisme, terkadang kita selalu ingin menggunakan barang-barang bermerek agar lebih dipandang. Walaupun sebenarnya barang bermerek maupun tidak sama-sama memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda. Bagi sebagian orang mereka adalah segala-galanya.

Dalam kelas sosial yang tinggi, mungkin barang bermerek merupakan suatu kewajiban yang harus mereka miliki dan mereka gunakan. Apabila tidak menggunakan barang yang bermerek mereka akan merasa malu sendiri dan merasa telah dipandang rendah oleh orang-orang dalam kelas sosialnya tersebut.

Gaya hidup hedonisme dapat juga timbul dari membelanjakan harta untuk mengikuti trend semata. Maksud tren di sini lebih tertuju pada pembelian barang yang merupakan keluaran terbaru, seperti contoh yang paling familiar adalah handphone.

Terkadang kita membeli handphone hanya karena tergoda oleh iklan, mengikuti trend, karena warnanya yang unik, atau pun karena ingin memiliki model handphone yang sama seperti milik idola kita. Padahal sebenarnya handphone saat ini dimiliki masih dalam keadaan yang baik, namun kita tetap memaksakan untuk membeli handphone baru yang merupakan keluaran terbaru, lagi-lagi agar lebih dipandang.

Sebenarnya mengikuti keinginan dalam membelanjakan harta merupakan hal yang tidak baik, keinginan yang terus menerus menyebabkan kita menjadi orang yang boros. Alangkah baiknya sebelum membeli sesuatu dipertimbangkan terlebih dahulu manfaatnya, tingkat kebutuhannya, efek jangka panjangnya, serta kemampuan kita dalam pembelian barang tersebut.

Dalam agama pun manusia yang boros sangat tidak dianjurkan karena merupakan hal yang tidak terpuji. Di dalam Al-Qur'an pada surah Al-Isra’ ayat 27 disebutkan bahwa “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” Dari ayat tersebut kita diperintahkan untuk hidup secara hemat atau dengan kata lain yakni hidup sesuai kemampuan bukan kemauan.

Gaya hidup hedonisme menyebabkan seseorang menjadi boros dan sombong. Jangan terlalu memaksakan keinginan diri kita untuk selalu mengikuti tren, namun yang harus yang harus diperhatikan adalah kemampuan diri kita.

Gaya hidup yang sangat cocok diterapkan adalah gaya hidup hemat, karena dalam gaya hidup tersebut kita diajarkan agar selalu bijak serta menjadi seseorang yang penuh pertimbangan akan pengeluaran harta yang dimiliki. Apabila diberi rezeki berlebih sebaiknya ditabung atau disedekahkan kepada yang lebih membutuhkan agar nantinya menjadi pahala bagi kita.

Harta yang dimiliki tidak semata-mata untuk dinikmati seorang diri, namun untuk dinikmati bersama melalui jalan berbagi. Semakin banyak barang yang kita miliki maka semakin banyak pula yang harus kita pertanggungjawabkan di akhirat nanti. Mari kita selalu bijak dalam membeli maupun mengeluarkan harta yang kita miliki.