Dimalam yang sunyi nan sepi David duduk termenung sendiri dan hanya ditemani taburan bintang di langit terbesit keinginan yang berkelebat di kepala, yang mengobarkan keinginan untuk merampas semua yang ada di dunia ini, yaitu "Ilmu". Entah kenapa mendengar kata itu, hati ini semakin menggebu-gebu.

Kisah ini dimulai dari saat dia berusia 14 tahun.

Kala itu David sangat membenci pelajaran agama terutama Aqidah. Entah apa sebabnya, yang pasti dia tidak suka dengan pelajaran itu. Mungkin karena gurunya yang galak atau memang membosankannya itu, Pak Rahmat. Setiap kali pelajaran beliau, dia selalu mendapatkan nilai terendah dan bahkan bisa dibilang murid yang paling suka membuat onar setiap harinya.

Waktu itu David mendapat teguran dari beliau yang kesekian kalinya. "David, lihat! Ini yang kamu mau hah? Selalu saja kamu mendapat nilai merah, terendah pula, apakah kamu sudah tidak niat sekolah? Setiap hari kerjaannya buat rusuh saja, mau jadi apa kamu?" Tanya pak Rahmat dengan nada keras. 

"Tingkatkan lagi belajarmu, jangan malas-malasan, nilai kok ga pernah naik". Tambah beliau.

"Bukan tidak pernah naik, tapi memang itu bisa saya pak, ya saya pasrah". Jawab David dengan enteng.

"Pasrah, kalau kamu mau berusaha nilai kamu tidak mungkin seburuk ini. Kamu pikir Albert Einstein yang pintarnya diatas rata-rata jebrol langsung pintar? Tidak! Dia seperti itu karena usahanya yang luar biasa. Mau jadi apa kamu? Ingat kamu sudah kelas 3, sebentar lagi kamu SMA. Apa kamu mau tidak naik kelas?" Tanya Pak Rahmat.

"Ya mau lah Pak, ya kali saya tinggal kelas". Jawab David menganggap remeh.

"itu, itu yang harus kamu lakukan berusahalah, perbaiki tingkah lakumu, kamu itu sudah besar jadi contoh buat adik kelas kamu. Sudah, sekarang pergi ke kelas". Perintah Pak Rahmat.

David pun meninggalkan ruangan Pak Rahmat dengan rasa tidak bersalah. Malamnya, ketika David tidur ia bermimpi bertemu ayahnya yang sudah meninggal. Di dalam mimpinya tangan dan kakinya di rantai dengan besi yang berat. Dia melihat ayahnya menangis melihatnya dan David selalu meminta ampun dan ampun.

"Nak, berhentilah nak, berhenti berbuat dosa, berubahlah menjadi orang yang baik. Jangan kau teruskan perbuatan burukmu". Pinta ayahnya sambil menangis.

"Bapak, maafkanlah aku! Tolong David, lepaskan rantai ini aku sudah tidak tahan" mohon David dengan suara berat.

"Tobatlah nak, mintalah ampun kepada Allah, cari ilmu setinggi-tingginya, hormatilah ibumu dan berhentilah berbuat dosa." ucap ayah David dan seketika menghilang.

"Pak....bapak jangan pergi, tolong David, Bapak.... lepaskan rantai ini". Jerit David. Tiba-tiba terlihat sosok laki-laki datang menghampiri David dan membukakan rantai tersebut. 

Ternyata sosok itu adalah Pak Rahmat. Dan seketika itu juga David terbangun dari mimpinya. David bingung kenapa ayahnya mengatakan hal seperti itu, lalu ia merasa takut yang sangat dan mulai menyadari semua kesalahannya.

                             *3 tahun setelahnya. 

Kini David sudah lulus dari SMA dengan gelar siswa terbaik dan mendapatkan beasiswa kuliah di Al-Azhar Kairo, Mesir. Disana kuliah sambil mengajar sebagai kegiatan sampingan. "Bagaimana? Pelajarannya ada yang sulit?" tanya David pada anak didiknya.

"Kak, ngga suka pelajarannya, membosankan dan sulit." kata seorang gadis kecil.

 "Tidak ada pelajaran yang sulit, semua mudah asalkan kita mau berusaha." jawab David dengan lembut.

"Tapi itu sulit" bantah gadis tersebut. 

"Tidak, belajarnya sedikit-sedikit insyaallah mudah, ingat, Allah tidak akan merubah suatu kaum, sebelum kaum tersebut mau merubahnya. Jadi harus sabar." kata David meyakinkan.

                               *4 tahun berlalu. 

Tak terasa 4 tahun di negeri orang akhirnya David menyelesaikan Studinya dengan gelar Camlaude dan mendapatkan beasiswa S2 nya di Turkey.

"Assalamualaikum, Bu.." suaranya parau dengan butiran air yang menetes di kelopak mata. 

"Waalaikumsalam, Da...vid?" jawab ibu kaget. Keduanya saling terdiam karena haru. 

"Bu, ibu gimana kabarnya, David lama nggak dengar suara ibu?" tanya David.

"Alhamdulillah, ibu disini baik-baik saja nak" jawab ibunya penuh bahagia dengan menahan tangisnya.

"Alhamdulillah, Bu David sudah lulus S1, dan David dapat beasiswa lagi." ucap David.

"Subhanallah... David, kamu....?" tangis ibu semakin pecah. 

"Iya Bu, doakan David semoga bisa cepat pulang ya Bu,"

"Pasti anakku" jawab ibu meyakinkan.

"Assalamualaikum" tutup percakapan David di telfon dengan ibunya.

Ibunya David lalu menjawab "Waalaikumsalam".

Entah nasib atau anugerah, David bisa melangkah sejauh ini. Tak dikira seorang yang dulunya selalu membuat kerusuhan bisa menjadi sosok seorang yang haus akan ilmu. Sampai berhijrah ke negeri orang dengan gelar Master. Nikmat Tuhan tak pernah pergi, disana David menemukan pendamping hidupnya. Yang merupakan orang Indonesia, yang sama-sama berpendidikan tinggi. Gadis cantik, putih dan Sholihah yang menjadi idaman para lelaki. 

Tak lama setelah kepulangannya, ia mempersunting kekasihnya. "Terimakasih Salma, kamu sudah mau menjadi pendampingku dengan segala rintangan yang menghadang nanti."

"Tidak perlu berterimakasih kepada saya, berterimakasihlah kepada Allah yang sudah mentakdirkan saya untuk menjadi pendamping anda sampai nanti dengan segala cobaan yang akan datang". Salma pun menyandarkan kepalanya di pundak suaminya dan mereka berdua saling tersenyum memandang langit malam yang indah.