Hermes yang gagah dan atletis
kutemukan kau di simpang harmoni
sebagai sosok yang paling memahami negeri ini, barangkali

Di tengah melambungnya harga-harga,
perseteruan puisi esai yang kusut masai,
dan keruhnya permasalahan negara.
kau tetap tersenyum ramah dan santai selayaknya tak ada apa-apa
dengan tangan mengarah ke udara seolah berkata
"Indonesia akan maju pada waktunya"

Hermes yang lahir di Arkadia, tumbuh di Olympus, pembawa pesan para Dewa
mungkinkah kau tersesat, mencari tas, atau sekadar singgah di negeri ini?
mencari Pevita Pearce yang kau pikir Afrodit berparas lembut itu?

Di antara slogan-slogan tentang revolusi mental, kemacetan, bising klakson, deru kendaraan, dan debu jalanan yang semakin puas mencoreng wajah ibukota
sesungguhnya tak ada yang lebih jujur dan tulus selain puisi ini
yang hendak memahami arti kesabaran dari unjuk rasa perut-perut kelaparan.

Dengan sepatu bersayap dan tongkat caduceusmu itu,
hantarkanlah sejumlah harapan kami
agar rezeki berderai-derai, dan
damai bumi pertiwi dari segala duka dunia

Jakarta, Februari 2016