Di era postruth ini, kita seringkali disibukkan oleh hal-hal yang sifatnya kurang substansial. Kita terpaksa kembali menurunkan kualitas pemikiran karena gejala-gejala sosial saat ini menunjukkan penurunan kualitas peradaban pula. Fenomena ini terjadi lantaran kejahatan berbasis verbal seperti hoax, ujaran kebencian, dan cyber bullying membanjiri jagat media sosial kita. Bahkan pada tahun 2020, netizen dari negara kita dinobatkan sebagai yang paling tidak sopan di kawasan Asia-Pasifik.

Dalam bermedia sosial, tidak jarang kita ikut panas melihat berbagai kekejian verbal yang lalu-lalang di kolom komentar. Kekejian verbal tersebut kadang jadi bersifat politis dan menjebak kira dalam arus politik praktis, kadang pula menjelma jadi kalimat-kalimat agamis yang menggiring kita pada parsialitas pemahaman agama yang menyesakkan. Dalam menyikapi arus media sosial media yang demikian, kita perlu pertolongan dari sebuah alat yang disebut hermeneutika.

Istilah hermeneutika diadaptasi dari satu di antara 12 dewa dalam mitologi Yunani, yaitu Hermes. Dalam tradisi mitos Yunani, Hermes merupakan salah satu putra Zeus yang digambarkan sebagai dewa pembawa pesan. Ia memiliki kemampuan mengubah pesan dari bahasa para Dewa menjadi mimpi (bahasa manusia) ketika tersampaikan pada manusia. Karena kemampuan tersebut, kata hermeneuin dalam kosakata Yunani diartikan sebagai interpretasi atau menafsirkan.

Dalam arti terminologisnya, hermeneutika dapat dimaknai sebagai sebuah metode mengubah sesuatu yang tidak dipahami menjadi dipahami. Dalam artian lain, hermeneutika adalah sebuah seni untuk memahami. Salah satu pentolan dalam diskursus ini adalah filsuf asal Jerman, Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, atau yang akrab disebut Schleiermacher.

Sekilas tentang Schleiermacher

            Friedrich Daniel Erns Schleiermacher merupakan seorang filsuf berkebangsaan Jerman yang lahir pada 21 November 1768  di Breslau, Silesia (sekarang Polandia). Ia hidup di sebuah lingkungan dan Protestan. Sejak kecil ia dikenal berbakat dalam urusan agama, utamanya dalam kemampuan berkhotbah. Dengan demikian, ia diamanatkan untuk melanjutkan pendidikannya di seminari untuk mempelajari teologi.

            Sembari menuntut ilmu di bidang teologi, ia justru mulai tertarik pada filsafat. Awalnya ia mendalami filsafat Imanuel Kant. Mengingat suara Kant dan Hegel amat sangat kentara pada tradisi protestan pada masa itu. Selain itu, ia juga berinteraksi dengan beberapa cendekiawan yang turut mempengaruhi filsafatnya, di antaranya yaitu Friedrich Schlegel yang mendorongnya untuk membaca teks-teks idealisme Plato.

            Karya-karya Schleiermacher banyak terpengaruh oleh tradisi romantisisme. Salah satu pengaruh tradisi romantisisme yang paling mahsyur dalam karyanya adalah bahwa hermeneutika seharusnya melampaui teknis-teknis kebahasaan. Pemahaman tidak hanya berhenti pada yang objektif semata, tapi juga menyentuh ranah subjektifitas.

Proses Memaknai

            Hermeneutika dalam pemikiran Schleiermacher sebenarnya dimaksudkan untuk menjadi alat dalam memahami suatu teks yang serius (dalam hal ini teks-teks ilmiah). Namun, hermeneutilka a la Schleiermacher tidak menutup kemungkinan untuk digunakan dalam memaknai fenomena-fenomena dari yang besar hingga yang remeh-temeh. Salah satunya adalah hal kecil semacam komentar di kolom komentar sosial media.

            Schleiermacher membagi proses memaknai menjadi 2, yaitu: pertama, pemaknaan grammatikal dan kedua, pemaknaan psikologis. Pemaknaan gramatikal merupakan pemaknaan yang berfokus pada tataran bahasa. Artinya proses pemaknaan grammatikal ini bertugas mencari makna melalui bahasa apa yang digunakan, bagaimana bahasa itu digunakan dan bagaimana strukturnya.

            Yang kedua, pemaknaan psikologis. Proses memahami ini memerlukan perhatian khusus pada kondisi psikologis macam apa yang dialami oleh penulis. Dalam proses ini diperlukan suatu pengamatan terhadap latar belakang historis seorang penulis, misal dari mana dia berasal, seperti apa latar belakang pendidikannya dan dalam kondisi sosial politik seperti apa yang terjadi saat penulis tersebut menulis sebuah teks. Seorang interpreter harus berusaha merasuk ke pengalaman hidup penulis.

            Dua proses tersebut diharapkan untuk mencapai pada pemaknaan yang menyeluruh dari suatu teks. Karena menurut Schleiermacher, sebuah teks merupakan suara batin yang diformulasikan melalui bahasa. Sehingga tugas seorang interpreter adalah melampaui keduanya. Lebih jauh dari itu, interpreter diharapkan memahami teks lebih dari penulis memahami teks tersebut.

Memahami Komentar Netizen

            Menjadi netizen yang bijak adalah tugas kita bersama sebagai manusia yang beradab. Namun, memang perlu diakui bahwa manusia tempatnya luput dan keliru. Buktinya masih saja ada komentar di media sosial yang tidak berakhklak dan bahkan ada yang menanggapinya dengan komentar yang tidak berakhlak pula.

            Dengan memahami hermeneutika Schleimacher, setidaknya sebelum memutuskan untuk mengomentari komentar nakal orang lain, kita sebagai interpreter dipaksa untuk menahan diri sejenak. Sebelum terburu-buru mengungkapkan amarah, kita harus sadar bahwa memahami sebelum berkomentar itu perlu. Sedangkan memahami perlu waktu untuk menganalisa sisi grammatikal dan sisi psikologis penulis. Lebih jauh dari itu, bahkan kita dituntut untuk memahami lebih dari si penulis itu sendiri.

           

Sumber

https://tanwir.id/hermeneutika-schleiermacher-teks-itu-berbicara-sendiri/

https://marakom.id/2021/11/bisakah-kita-objektif-dengan-hermeunetik-schleiermacher/

https://nationalgeographic.grid.id/read/133143948/hermes-dewa-pengantar-pesan-dan-pencuri-dari-mitologi-yunani?page=all

https://mjscolombo.com/seni-memahami-hermeneutik-schleiermacher

E. Sumaryono, Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat

Kaelan M.S., Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika