Mahasiswa
2 tahun lalu · 816 view · 7 menit baca · Filsafat images600x400_0.jpg
ludfielbangsali.blogspot.co.id

Hermeneutika Reproduktif

Proses pencarian makna di dunia ini tidak terlepas dari peran manusia sebagai subyek yang bisa menggunakan akal-budinya dengan baik dan sesuai dengan fitrahnya. Pencarian makna atas keberadaan obyek seperti teks, konteks, budaya, manusia dan sebagainya, tidak banyak orang bisa melakukannya tanpa mengetahui metode-metode tersendiri baik untuk memahami maupun menafsirkan suatu makna di balik fenomen-fenomen yang ada dan yang mungkin ada.

Perdebatan akan pencarian makna dilakukan tokoh-tokoh hermeneutika mulai dari Schleiermacher sampai Derrida. Tawaran-tawaran para tokoh hermeneutik dengan berbagai konsep sentralnya justru membuahkan khasanah keilmuan yang mendalam untuk studi ilmu-ilmu kemanusiaan. Hermeneutik menjadi jalan baru untuk menemukan dan memahami makna (Sinnverstehen).

Kata-kata termasyhur Merleau Ponty, man is condemned to meaning, melukiskan bahwa kita tidak bisa bereksistensi di luar sistem makna, karena “di luar” itu pun akan segera menjadi yang “di dalam” oleh pemaknaan yang kita hasikan. Dalam arti ini, suatu ketidakbermaknaan pun merupakan obyek pemaknaan.

Di sini penulis hanya akan membahas tokoh hermeneutika reproduktif, yaitu Schleiermacher dan Dilthey. Karena perkembangan pemikiran hermeneutika sebagai metode memahami teks dan ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan tidak bisa lepas dari kedua tokoh tersebut.

Sekilas tentang Hermeneutik

Secara umum, hermeneutika dapat diartikan sebagai teori interpretasi untuk menemukan makna. Kata hermeneutika sendiri berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein, yang artinya mengatakan, menjelaskan dan menafsirkan.

 Jika dirunut ke belakang, kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata Hermes, dewa dalam mitologi Yunani yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan dari Dewa tertinggi kepada manusia.

Menurut versi lain, Hermes merupakan seorang utusan yang memiliki tugas menyampaikan pesan Yupiter kepada manusia. Tugas utama Hermes, yang digambarkan memiliki kaki bersayap dan lebih dikenal dengan sebutan Mercurius, adalah menerjemahkan pesan-pesan dari gunung Olimpus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia.

Hermes menyampaikan pesan para Dewa kepada manusia. Tidak hanya menyampaikan kata-kata persis dari sang Dewa saja tapi bertindak sebagai penerjemah yang membuat kata-kata para Dewa bisa dimengerti dengan jelas dan bermakna dan beberapa hal lainnya sebagai tambahan. Atau kita sering menyebutnya sebagai tafsiran.

Dari konteks Hermes di atas, Hermeneutika secara konsekuen terikat pada dua tugas: Pertama, memastikan isi dan makna sebuah kata, kalimat, teks dan sebagainya. Kedua, menemukan intruksi-intruksi yang terdapat di dalam bentuk-bentuk simbolis.

Hermes juga dituntut agar mampu menginterpretasikan atau menerjemahkan sebuah pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Sejak itulah Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani dengan sebuah misi tertentu.

Lewat konteks ini, kita bisa memahami fungsi hermeneutika sebagai metode (Diskursus) untuk memahami.

Di sepanjang sejarahnya, hermeneutika secara sporadis muncul dan berkembang sebagai teori interpretasi saat ia mulai diperlukan, untuk menerjemahkan literatur otoritatif di bawah kondisi-kondisi yang tidak mengijinkan akses kepadanya, karena alasan jarak ruang-waktu.

Dalam kedua kasus ini, makna asli sebuah teks dapat saja diperdebatkan atau tetap tersembunyi sehingga memerlukan interpretasi agar membuatnya transparan, sebagai cara untuk memperoleh pemahaman yang benar.

Hermeneutika dipergunakan dalam tiga jenis kapasita. Pertama, membantu diskusi mengenai bahasa teks, yaitu kosa kata dan tata bahasa yang kemudian melahirkan filologi. Kedua, memfasilitasi eksegesis literatur suci. Ketiga, menuntun yuridiksi. Begitulah sedikit dan sekilas perjalanan hermeneutika sebagai teori interpretasi.

Schleiermacher

Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher disebut-sebut sebagai bapak hermeneutika modern karena sumbangsihnya membawa praktik hermeneutika yang muncul dari gerakan yang menjauh secara gradual dari titik awalnya yang bersifat dogmatik. Tepatnya ia memperbaharui konsep hermeneutika.

Pertama, ia melengkapi eksegesis gramatis dengan interpretasi psikologis, yang diacunya sebagai “keilahian”. Di sini hermeneutika lebih mirip seni daripada ilmu. Pertama, ia berusaha merekonstruksi tindakan kreatif yang asli, “bagaimana ia sesungguhnya”.

Kedua, ia memasuki usaha pertama untuk menganalisa proses pemahaman dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan dan batasan-batasannya.

Yang kemudian menjadi konsep sentral Schleiermacher yaitu Divinatorisches Vertehen (pemahaman intuitif).

Georg Anton Friedrich Ast dan Friedrich August Wolf merupakan filolog atau peneliti teks-teks kuno warisan Yunani Romawi kuno, yang mempengaruhi pemikiran Schleiermacher. Ast berpendapat bahwa tugas filologi adalah untuk menangkap roh (Geist).

Istilah “roh” di sini memadatkan berbagai aspek mental-intelektual kebudayaan seperti tata nilai, moralitas, alam pikiran dan seterusnya.

Mengerti mentalitas kebudayaan dalam teks bukan tugas yang mudah. Untuk melaksanakan tugas rumit itu, filolog perlu mempelajari gramatik. Tetapi gramatik hanyalah alat bantu saja bagi hermeneutika untuk menarik keluar makna spiritual dari teks.

Ast mengandaikan adanya akal-budi bersama umat manusia. Dan pemikiran secara keseluruhan tercermin di dalam akal individu. Karena itu, untuk memahami roh kebudayaan kuno, penafsir harus memahami karya-karya individu dan sebaliknya.

Bagi Ast, tujuan dasar filologi adalah untuk menangkap spirit Antiquitas (barang-barang zaman kuno) yang diterima dengan jelas dalam warisan literatur. Bentuk dalam antiquitas merupakan roh (geist) yang menujukkan satu kesatuan yang harmonis.

Wolf membatasi hermeneutika sebagai upaya untuk menangkap makna dan teks-teks kuno. Baginya interpretasi adalah sebuah dialog dengan penulis.

Agar dapat menangkap pikiran penulis, penafsir harus menempatkan diri pada situasi penulis. Atau dalam bahasanya Wolf “keringanan jiwa” yang lekas menyelaraskan diri dengan pikiran asing. Dengan ungkapan lain penafsir harus mampu memasuki dunia mental penulis.

Dari Ast dan Wolf, Schleiermacher menyusun dan mengembangkan konsep memahami teks dengan dua bagian yaitu interpretasi gramatis dan psikologis, dengan kata lain: hermeneutika reproduktif. Dua bagian ini sangat penting kedudukannya dan menjadi penjelas bagi seluruh pendekatan Schleiermacher.

Pertama, segala sesuatu yang memerlukan pembatasan lebih jauh dalam sebuah teks hanya dapat dibatasi dengan mengaitkannya pada wilayah bahasa yang dapat digunakan bersama oleh pengarang dan publik aslinya.

Kedua, makna sebuah kata dalam sebuah ayat harus ditentukan dalam kaitannya dengan koeksistensinya dengan kata-kata yang ada di sekitarnya.

Khusus pada interpretasi psikologis Schleiermacher, Gadamer dalam magnum opusnya Truth and Method berkomentar bahwa penafsiran psikologis merupakan proses ilahiah, sebuah penempatan seseorang di dalam pikiran penulis, sebuah pemahaman terhadap asal usul batin komposisi karya.

Pemahaman merupakan sebuah reproduksi yang berkaitan dengan produksi orisinal. Bagi Gadamer, hermeneutika Schleiermacher lebih kepada “seni menghindari kesalahpahaman”.

Hermeneutika Schleiermacher adalah hermeneutika universal, karena tidak membatasi diri pada teks-teks khusus seperti hukum, sastra, kitab suci atau sejarah melainkan teks pada umunya dan mengandaikan adanya kesamaan hakikat berbagai hermeneutika atas teks-teks itu.

Dilthey

Wilhelm Christian Ludwig Dilthey merupakan tokoh hermeneutika yang sangat diperhitungkan keberadaannya.

Dengan paradigma Lebensphilosophie (filsafat kehidupan) dari Henri Bergson dan Nietzche, ia mengkritik positivism yang memandang manusia dan masyarakat melulu dari sisi lahiriah dan material yang bisa diperhitungkan secara obyektif dan mekanis. Marxisme tergolong dalam pandangan ini.

Dilatarbelakangi Lebensphilosophie, Dilthey mengembangkan hermeneutikanya untuk melawan citra mekanistis yang disokong oleh positivism.

Di sini hermenetika tidak lagi dipahami sebagai metode memahami teks, tapi sebagai metode ilmiah untuk menghayati pengalaman manusia yang menghasilkan makna. Menangkap makna tersebut merupakan tugas hermeneutika.

Rasionalisasi hermeneutika Dilthey: untuk memahami sebuah teks kita harus menempatkan pada konteks penulisnya yaitu keadaan sosial-budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.

Hermeneutika dapat menjadi dasar proses memahami di dalam ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan atau Geisteswissenchaften. Dari sini ia mengkritik hermeneutika Schleiermacher yang terlalu psikologistis karena mereproduksi mental pengarang.

Bagi Dilthey, yang direproduksi adalah peristiwa-peristiwa sejarah yang melingkupi pengarang teks, karena teks-teks kuno harus dipahami sebagai suatu ekspresi kehidupan sejarah. Meskipun demikian, Dilthey tetap pada garis yang sama dengan Schleiermacher, yaitu sama-sama memahami hermeneutika sebagai penafsiran reproduktif.

Dilthey mengembangkan distingsi penting yang berasal dari Wolf yaitu Verstehen (Memahami) dan Erklaren (Menjelaskan). Menurut Wolf memahami adalah untuk diri kita sendiri, sedangkan menjelaskan adlah untuk orang lain.

Kita memahami dengan membaca dan menjelaskan dengan mengungkapkan hasil pemahaman kita atas bacaan. Oleh Dilthey distingsi ini kemudian dipakai untuk membedakan cara kerja ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan (Geisteswissenchaften) dan ilmu-ilmu alam (Naturwissenchaften).

Metode erklaren menurut Dilthey memusatkan diri pada sisi luar obyek penelitian, yaitu proses-proses obyektif alam seperti gravitasi, relativitas, kadar kolesterol pada manusia dan sebagainya yang bisa diamati secara lahiriah dan dapat disepakati bersama oleh para peneliti yang berbeda-beda. Peneliti dengan cara itu tidak berurusan dengan dunia mental atau penghayatan manusia.

Oleh karena itu dalam metode erklaren, sikap peneliti mengambil distansi penuh atas obyeknya tanpa mengikutsertakan perasaan, penilaian ataupun keinginannya dalam mengetahui obyek itu.

Pengambilan jarak tersebut dikenal juga dengan istilah “mengobyektifikasi”; dengan membuat pengukuran, percobaan dan perhitungan matematis.

Erklaren pada akhirnya merupakan analisis-kausal, yaitu analisis atas proses-proses yang berhubungan sebab-akibat untuk menemukan hukum-hukum alam.

Berbeda dengan metode erklaren, verstehen yang memusatkan diri pada “sisi dalam” obyek penelitiannya yaitu dunia mental atau penghayatan. Bagi Dilthey, ini sesuai untuk masyarakat dan kebudayaan.

Tentu manusia memiliki “sisi luar” karena ia juga merupakan organisme dalam alam yang memiliki sel, sistem reproduksi, metabolism, genetik dan sebagainya yang bisa didekati dengan metode erklaren seperti pada ilmu fisiologi dan kedokteran.

Versetehen tidak mengambil jarak atau distansi penuh atas obyek yang ditelitinya, melainkan berpartisipasi dalam interaksi dan komunikasi dengan hal-hal yang ditelitinya atau tepatnya membaur dengan sosial-kemasyarakatan yang sedang diteliti untuk menarik dan memahami sebuah makna.

Perilaku, norma, institusi, budaya, bahasa dan bahkan artefak dalam dunia social dapat dilihat sebagai jalinan makna-makna sebagaimana juga terdapat dalam teks. Versetehen kemudian menjadi pondasi epistemologis untuk ilmu-ilmu social-kemanusiaan (Geisteswissenchaften).


Bahan Bacaan:

  • Sumaryono, E., Hermeneutika; Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996.
  • Budi Hardiman, Francisco, Seni Memahami; Hermeneutika dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2016.
  • Palmer, Richard E., Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, terj. Mansur Hery & Damanhuri M, Hermeneutika; Teori Baru mengenal Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
  • Gadamer, Hans-Georg, Truth and Method, terj. Ahmad Sahidah, Kebenaran dan Metode, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.