Istilah Hermeneutika berasal dari nama Hermes, dewa Yunani yang melayani sebagai utusan bagi dewa-dewa bagi manusia. Ia bertugas untuk mengirim dan menafsirkan komunikasi pesan pada orang-orang yang menerima pesan tersebut.

Hermeneutika merupakan studi penafsiran teks yang mula-mula merujuk pada kitab suci maupun naskah-naskah kuno dan berkembang pada studi penafsiran modern dengan cakupan yang lebih luas menyangkut unsur realitas yang mengandung makna.

Hermeneutika memainkan peranan fundamental dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Penekanan “seluruh aspek” oleh penulis bukanlah hal yang berlebihan karena memang pada prinsipnya kehidupan manusia didominasi oleh pemaknaan hermeneutic yang bukan hanya terbatas pada teks-teks tertulis namun juga perihal fenomena, gejala-gejala, serta simbol-simbol kebudayaan yang abstrak.

Penalaran hermeneutic tersebut kemudian tersusun dalam sebuah konsep wawasan dunia yang menjadi tumpuan dan arah hidup seseorang, baik secara individu maupun komunal.

Sensitivitas intelektual yang tajam, dengan cepat menangkap ragam fenomena filosofis dalam eksistensi kehidupan manusia, seperti tren filosofis di balik semangat zaman ini. Menjelang abat ke-21, pergeseran tradisi filosofis bergeser begitu tajam dan ikut memengaruhi kerangka pikir serta arah tujuan hidup manusia.

Kellner mengatakan, “Masa postmodern telah tiba, dan para intelektual, seniman, dan pengusaha budaya bingung, apakah sebaiknya mereka ikut menumpanginya dan turut serta dalam kemeriahan itu ataukah sebaiknya duduk di pinggir jalan menunggu hingga metode baru itu lenyap secara kultural.”

Postmodernisme bukan hanya membingungkan para intelektual dan budayawan, namun juga bagi kalangan teolog dan agamawan oleh karena konsep iman dan keyakinan keagamaan yang secara fundamental dibangun pada fondasi struktur narasi kitab suci kini digugat.

Kerangka keyakinan agama masa kini seperti sedang berada dalam posisi dilematis di tepian parade budaya yang dengan euforianya telah menggiring opini publik dan perilaku masyarakat agamis dalam berbagai hal, baik dalam konsep berpikir, berteologi, maupun berperilaku.

Keyakinan-keyakinan religius sekali lagi ditantang oleh spiritualitas zaman postmodern. Akar dari kecenderungan-kecenderungan filosofis posmodernisme tersebut lahir dari satu persoalan mendasar yang diperdebatkan, yaitu hermeneutika.

Ketidakseriusan dalam mengkaji persoalan ini mengakibatkan kecenderungan menuju kesesatan pun makin besar. Kegagalan hermeneutika adalah sebuah kegagalan eksistensial umat manusia, yang sekaligus mencakup kegagalan spiritualitas manusia.

Cakrawala Hermeneutika Postmodernisme

Hingga menjelang abat ke-20, pergerakan filsafat masih seputar akal, Roh, pengalaman dan kesadaran. Namun ketika memasuki era postmodern, arah pergerakan filosofis berganti menuju bahasa seperti yang jauh sebelumnya telah dikemukakan oleh Schaeffer, “positivisme telah mati dan di mana-mana telah digantikan oleh analisis linguistic.”

Pergerakan tersebut tentu juga ikut memengaruhi metode serta konsep kajian hermeneutic dalam konteks agama, terutama dalam kalangan tertentu yang tidak memahami spirit filsafat sebagai landasan di baliknya.

Sementara dalam hal lain yang menyangkut konsep wawasan dunia manusia, baik perihal keyakinan iman, agama, ideologi, sains (dalam segala bidangnya), kebudayaan, dan semua hal yang berhubungan erat dengan dunia konsep pemikiran manusia, hingga hal yang paling sepele seperti kesalahpahaman dalam komunikasi, keseluruhannya didirikan di atas fondasi hermeneutika.

Pokok gagasan tersebut yang diserang dengan gencar oleh teori hermeneutika radikal postmodernisme.

Ketika menyinggung mengenai postmodernisme, maka tentu nama Derrida tidak dapat dikesampingkan. Semangat hermeneutika postmodernisme memperoleh kekuatan dari pendekatan filsafat dekonstruksi Derrida.

Meski bukan hal baru, namun pemikiran filosofisnya tersebut telah memenuhi konsep berpikir dan penafsiran masyarakat postmodern. Entahkah disadari maupun tidak, gambaran samarnya ikut termanifestasikan dalam sistem pemikiran politik, sosial budaya, dan agama.

Kaum posmodernisme paham batul kerangka pikir modernisme yang lahir dari inspirasi filsafat Yunani klasik dan kemudian diperbarui dan diperkuat oleh wawasan dunia Kristen abad pertengahan, berakar dari penegakan logosentris. Sebuah kerangka pikir yang sistematis dan logis sebagai sistem pemikiran bagi studi keilmuan dan keyakinan religius.

Dengan metode dekonstruksinya atau Hermeneutika Radikal, Derrida berusaha untuk melepaskan prinsip dasar hermeneutika tradisional, yang mana sudah menjadi standar acuan baku bagi kajian literatur/sastra kuno (juga kitab suci) sekaligus sebagai metodologi baku yang membangun wawasan dunia dan konsep berpikir manusia postmodern secara luas.

Hermeneutika Radikal/Dekonstrusksi Jacques Derrida   

Tentu saja dekonstruksi tidak lahir dalam ruang hampa tanpa gagasan tumpuannya. Dekonstruksi yang digagas Derrida adalah merupakan pokok pikiran dari Wacana Abnormal dalam bahasan hermeneutika Rotry.

Konsep demikian, jika dirunut pada bentuk awalnya, juga akan dijumpai pada karya E.D Hirsch dalam bukunya Validity in Intepretation. Hanya saja, perkembangan dan pengembangannya makin memperlihatkan pengaruhnya pada istilah dan teori yang digagas Derrida.

Pertanyaan mengenai dekonstruksi itu sendiri tidak mudah untuk dijawab. Namun secara sederhana dapat digambarkan sebagai satu cara baru dalam membaca teks dengan menyingkirkan “inti teks” ke pinggir dan menempatkan gagasan yang ada di “pinggir” menuju kepada inti teks.

Dalam kajian konseptual dekonstruksi Derrida tersebut, hermeneutika hanya menghasilkan deskripsi, dialog, percakapan, atau wacana sebagai pemahaman/interpretasi subjektif semata. Posisi hermeneutika radikal (baca: dekonstruksi) demikian berusaha mendongkel semua bentuk hermeneutika normal (dalam istilah Rotry, yang mana juga merupakan prinsip umum dalam kajian hermeneutika strukturalis).

Sehingga batasan-batasan serta norma-norma yang berlaku dalam disiplin penafsiran didekonstruksikan. Sistem-sistem serta norma-norma yang menjadi rambu dalam disiplin pernafsiran ditiadakan dalam dekonstruksi.

Pemahaman objektif yang dihasilkan melalui serangkaian metodologi hermeneutika, kini berganti dengan pemahaman subjektif yang dihasilkan oleh masing-masing individu sebagai penafsir oleh karena “dekonstruksi menghentikan upaya rehabilitasi (makna teks). Berbeda dari hermeneutika normal, dekonstruksi justru bukan hanya mengandaikan tiadanya makna asli sebuah teks, melainkan juga ketidakmungkinan keutuhan makna sebuah teks.”

Seperti yang nyata dalam tulisan Derrida, “There is nothing outside the text”, yang secara literal dapat dipahami sebagai tidak ada teks di luar teks yang ada. Karena yang ada hanyalah teks (tanpa konteks, tanpa metodologi, tanpa kaidah), maka teks tersebut memiliki ragam penafsiran dan interpretasi oleh siapa pun. Pemaknaan baru oleh si penafsir memiliki otoritas makna yang setara dan sama-sama benar meskipun subjektif.

Dengan ini, hermeneutika radikal/abnormal mendegradasi kaidah dan metode hermeneutika normal yang selama ini dipergunakan sebagai dasar kajian keilmuan, baik sekuler maupun teologi sehingga jelas, tidak ada lagi kebenaran objektif, melainkan kebenaran subjektif. Penekanan makna tekstual secara otoritatif beralih dari penulis kepada penafsir. Teks kini memiliki sekumpulan makna.

Dalam sistem hermeneutika postmodern, Klein, Blomberg, dan Hubbard Jr merangkum ciri dekonstruksi menjadi empat hal utama yang menonjol, yaitu: 1) kemustahilan adanya objektivitas dalam penafsiran dan pendekatan-pendekatan yang sudah terlebih dahulu dibenahi dengan berbagai konsep nilai; 2) pentingnya peran komunitas umat manusia dalam membentuk diri kita sendiri dan perspektif penafsiran yang kita miliki.

Selanjutnya, 3) peran formatif dan naratif dalam memahami jalan hidup sendiri dan orang lain, seiring dengan penolakan atas keber-adaan dari “meta-narasi” yang mampu mencakup segala sesuatu dan dapat memberikan makna kepada semua kisah dari setiap individu; 4) bahasa sebagai unsur yang menentukan dalam pemikiran dan makna.

Empat ciri umum tersebut menjadi kerangka dasar pemikiran dan pengkajian hermeneutika postmodern, seperti yang tampak jelas dalam konsep dekonstruksi.

Hermeneutika Radikal dan Gerakan Fundamentalis

Hal yang lebih berbahaya akan terlihat dengan jelas ketika spirit tersebut juga ikut mengakomodasi prinsip hermeneutika kalangan agamawan yang mana sekaligus menjadi sumber perpecahan, bidat, dan klaim-klaim kebenaran subjektif sepihak.

Contoh serta gambaran konkret dari hal ini dapat dijumpai pada spiritualitas kaum fundamentalis yang secara arogan mengeklaim narasi-narasi teks suci secara otoritatif dalam kerangka hermeneutika mereka sebagai yang superior sehingga tak jarang menghasilkan tindakan-tindakan anarkis.

Tidak dapat dimungkiri bahwa gerakan-gerakan fundamentalis agama timbul dari satu hal mendasar; kegagalan hermeneutika.

Kegagalan studi hermeneutika yang benar (studi mendalam mengenai teks dan konteks) menyebabkan  satu-satunya jalan lain yang ditempuh adalah pendekatan hermeneutika radikal Derrida, meskipun penulis meyakini bahwa hal itu dipraktikkan di luar kesadaran para penafsir, namun prinsip dan semangatnya jelas mencerminkan semacam kebebasan otoritatif untuk menafsirkan dan memaknai teks suci sesuai dengan kemauan si penafsir dan bukan berdasarkan maksud si penulis.

Sampai pada titik ini kita dapat melihat suatu kegagalan yang dimulai dari hal sederhana—hermeneutika—namun memiliki dampak yang sangat mengerikan jika ditunjang oleh sosok figur di balik kerangka tafsir yang menyesatkan tersebut.

Di sisi lain, media serta publik global yang gagal perihal pemahaman hermeneutika yang normatif akan sama gagalnya dengan kaum fundamentalis oleh karena frame hermeneutika sebagai sarana kajian independen yang tersamarkan karena sentimen ideologi tertentu, tidak lagi dapat berfungsi secara jernih dalam pendekatan penafsiran suatu isu yang dikemas secara religius.

Maka tentu saja perlu keberanian untuk melangkah keluar dari kotak dekonstruksi Derrida dan kembali pada poros hermeneutika strukturalis agamis agar dapat menemukan realitas kebenaran teks-teks suci yang terbebas dari jerat penafsiran dan arogansi subjektif, tanpa harus mengorbankan kebenaran religius dan orang lain yang tidak sepaham.

Penutup

Cakupan hermeneutika begitu luas dan berpengaruh pada kehidupan manusia. Kita dapat melihat secara jelas manifestasi kerangka hermeneutika dari kursi pejabat, mimbar para agamawan, hingga dapur ibu-ibu.

Dari isu agama, politik, hukum, budaya dan social, semuanya membutuhkan semacam hermeneutika. Bahkan konflik yang terjadi pun merupakan akar dari kegagalan hermeneutika dan usaha pendamaian yang dilakukan adalah juga sebuah usaha hermeneutika, pemahaman dan penafsiran terhadap sebuah gagasan.

Dari perspektif sosial budaya, hermeneutika radikal (dekonstruksi) Derrida sesungguhnya memiliki tujuan yang baik. Dengan metodologi dekonstruksi, Derrida hendak menghantarkan peradaban dunia pada keadaan “apa adanya” dengan serangkaian perbedaan dan keunikannya, tanpa ada kekangan dan intimidasi dari pihak mana pun. Dari perspektif ini, kita tentu sama-sama setuju oleh karena prinsipnya yang juga mengakomodasi nilai-nilai luhur Pancasila.

Meski demikian, dekonstruksi secara tak terhindarkan juga mengakomodasi sebuah gagasan kebenaran pluralistik bagi semua keyakinan agama. Semua agama kini menjadi sama-sama benar. Semua agama adalah jalan menuju surga. Semua agama memiliki kebenaran yang sama dari satu sumber keTuhanan yang sama.

Ketika sampai pada hal yang paling prinsip mengenai kebenaran, maka dekonstruksi itu justru menjadi gagal oleh karena apa yang menjadi “khas” dari suatu keyakinan agama, kini direduksi menjadi agama yang “sama saja dengan yang lain”. Bukankah dekonstruksi itu menekankan pada sisi keragaman, lantas mengapa kini justru diseragamkan?

Kritik yang umum diajukan dari perspektif filosofis adalah bahwa dekonstruksi itu sendiri cukup membingungkan oleh karena terdapat penekanan pada kemungkinan tafsir sisi alteris (“yang lain”), namun kemungkinan itu juga dinihilkan dengan penekanan yang kuat pula pada sisi subjektivitas penafsir. Maksudnya, subjektivitas penafsiran yang didukung oleh kekuatan politik, uang dan kekuasaan pada akhirnya akan berbuah menjadi gerakan mendominasi dan arogansi yang pada akhirnya akan menindas sisi alterisnya.

Singkatnya, dekonstruksi Derrida ingin mendekonstruksi cara-cara berpikir dan tafsir tradisional yang berdiri dalam frame oposisi biner (sesuatu yang eksis secara bersamaan namun berlawanan, mis. hitam—putih; terang—gelap, kaya—miskin, dll) dengan teori hermeneutika radikalnya. Namun dengan menegakkan teori hermeneutika radikal, maka bukankah hal itu merupakan bentuk oposisi biner itu sendiri yang berdiri sebagai lawan dari hermeneutika tradisional?

Dari gambaran ini kritik tersebut jelas terlihat bahwa dekonstruksi seperti mendekonstruksi dekonstruksi itu sendiri. Untuk menafsirkan kalimat ini pun penulis berharap pembaca tidak mendekonstruksi dekonstruksi yang dilakukan penulis terhadap dekonstruksi Derrida. Salam.

Kepustakaan

  • Akyhar Yusuf Lubis, Postmodernisme: Teori dan Metode (Depok: Raja Grafindo Persada, 2016).
  • F. Budi Hardiman, Seni Memahami:Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida (Yogyakarta: Kanisius, 2015).
  • Francis Schaeffer, Ia Ada di Sana dan Ia Tidak Diam, pen. Junedy Lee, (Surabaya: Momentum, 2012).
  • Hendry A Virkler dan Karelynne Gerger Ayayo, Hermeneutik: Prinsip-prinsip dan Proses Interpretasi alkitabiah, pen. Jhony The (Yogyakarta: Andy, 2015).
  • I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1996).
  • Togardo Siburian, STULOS: Jurnal Teologi Volume 8 (Bandung: STTB, 2009).
  • William W Klein, Craig L. Blomberg, dan Robert L. Hubbard. Jr, Introduction to Biblical Interpretation, pen. Timotius Lo (Malang: Literatur SAAT, 2012).