Pro dan kontra hermeneutika di dunia Islam hingga kini sebenarnya juga belum tuntas. Hermeneutika dipandang sebagai produk Barat untuk merusak akidah Islam. Di sisi lain hermenutika masih dipandang sebelah mata karena telah digunakan untuk menafsirkan Bibel sehingga memposisikannya sebagai Kitab Suci yang tidak kebal dengan kritik.

Sesuai dengan perkembangannya hermeneutika kemudian melahirkan beberapa aliran. Pertama, hermeneutika teoritisnya Scheleirmacher dan Dilthey yang menitikberatkan pada problem pemahaman, pendekatan yang digunakan adalah linguistik dan psikologis.

Kedua, hermeneutika filosofis Hans George Gadamer, argument hermeneutiknya menitikberatkan pada bagaimana tindakan memahami, bukan bagaimana memahami teks dengan benar dan objektif. Gadamer menganggap hermeneutiknya sebagai risalah ontology, bukan metodologi.

Ketiga, hermeneutika Kritis Jurgen habermas yang menitik beratkan pada tendensi politis hadirnya sebuah teks.

Keempat, Hermeneutika fenomenologis/interpretatif Paul Ricoer, argument ini menitik beratkan bahwa teks bisa otonom dari penggagas, teks bisa menentukan maknanya yang baru terhadap situasi yang baru, bahkan makna teks mampu melampaui apa yang sebelumnya diinginkan penggagas teks.

Hermenutika selalu memposisikan teks sebagai objek utama, disamping penulis dan konteks. Bagi kalangan hermeneutika teks terbebas dari segala hal, bahkan teks bisa otonom dari penulis atau pengarangnya, dan lebih jauh lagi teks mampu melampaui dimensi pertama kali ia dilahirkan.

Bagi hermeneutika, al-Qur’an harus diposisikan sama seperti teks-teks lainnya yang historis, sehingga al-Qur’an bisa dikaji secara komprehensif dalam merespon kekinian problematika kehidupan umat. Akan tetapi bagi kalangan yang menolak keberadaan hermeneutika, usaha menempatkan hermeneutika sama dengan teks-teks lainnya telah menodai sakralitas al-Qur’an itu sendiri, dan hal demikian tidak diperkenankan dalam keyakinan umat Islam.

Menurut Quraish Shihab, hermeneutika tidak sepenuhnya salah. Hermeneutika bisa menjadi bagian dari kaidah untuk menafsirkan al-Qur’an. Bahkan menurut penulis Tafsir al-Misbah ini, hermeneutika bisa digunakan untuk mempertajam dan menambah wawasan seputar kaidah penafsiran serta memperkaya khazanah tafsir al-Qur’an.

Sebagaimana uraian Quraish Shihab: “Tidak semua ide yang diketengahkan oleh pelbagai aliran dan pakar hermeneutika merupakan ide negative. Pasti ada diantaranya yang baik dan baru serta dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, bahkan memperkaya penafsiran, termasuk penafsiran al-Qur’an.”

Quraish menerangkan bahwa apa yang sebenarnya dibahas dalam hermeneutika sebenarnya juga pernah dibahas dalam Ilmu Tafsir al-Qur’an. Namun yang menjadikannya problematis adalah kemunculannya kembali, ditambah kedangkalan terhadap wawasan-wawasan kaidah tafsir al-Qur’an yang pernah berkembang.

Hal demikian yang menjadikan hermeneutika dengan perwajahan baru dan muncul dari tradisi non-musim sulit diterima padahal memiliki semangat yang sama dalam melakukan interpretasi atau menafsirkan teks-teks keagamaan.

Quraish Shihab menerima hermeneutika sebagai bagian dari kaidah tafsir al-Qur’an tidak secara langsung melihatnya sebagai produk barat ataupun alat interpretasi Bibel. Namun, dengan sangat bijaksana Quraish melihat semangat interpretasi Hermeneutika yang sama dengan kaidah tafsir al-Qur’an pada umumnya yang pernah berkembang.

Quraish melihat hermeneutika sebagai salah satu kaidah kekinian dalam memperkaya khazanah tafsir al-Qur’an dan upaya untuk membaca problem kekinian umat Islam.

Hermeneutika – sebagaimana kategori perkembangannya – menempatkan al-Qur’an seperti teks pada umumnya. Ia otonom, tidak kaku, peafsir memiliki peranan penting dalam dinamika perkembangannya, penafsiran bersifat historis, makna teks mampu melampaui awal kelahirannya, dan penafsiran melalui proses dialog.

Catatan Khusus oleh Prof. Quraish Shihab

Semua upaya hermeneutik sepenuhnya identik dengan kaidah tafsir al-Qur’an, berikut Quraish memberikan catatan-catatan khusus terhadapnya. Pertama, menyangkut kemandirian teks, walau secara umum ide ini dapat diterima, tetapi kemandiriannya tidak bisa mutlak. Melainkan al-Qur’an yang berisikan ayat-ayat tidak bisa dipisahkan dengan penjelasan-penjelasan Nabi Muhammad (dalam hal ini hadis).

Pernyataan Quraish demikian merupakan wujud bahwa al-Qur’an mandiri atau otonom bersama hadits, setiap interpretasi ayat-ayat al-Qur’an dengan kaidah-kaidah hermeneutika tidak bisa dilepaskan dengan hadis Nabi, sebagai penjelas dan pelengkap dalam menguraikan ataupu memutuskan suatu perkara hukum.

Kedua, terkait teks – al-Qur’an – tidak memiliki makna yang kaku dan permanen. Bagi Quraish ini mengandaikan relativitas makna teks atau penafsiran. Terlebih lagi penafsiran terhadap teks terkait erat dengan penafsir dengan pelbagai latar belakang keilmuan, pasti melahirkan ragam penafsiran yang berbeda-beda. Hal ini benar adanya, bagi Quraish penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang berbeda-beda tidak bertolak belakang, hanya saja beragam.

Ketiga, terkait keberadaan mufassir yang tidak bisa lepas dari wawasannya. Hal ini bagi Quraish memang benar adanya, terbukti khazanah tafsir al-Qur’an berkembang dengan melahirkan pelbagai corak, seperti corak hukum, kebahasaan, akidah, filsafat, sosial, budaya dan lain-lain.

Semua ragam corak tafsir ini lahir  karena wawasan dan kecenderungan masing-masing mufassir yang berbeda-beda. Namun, menurut Quraish, wawasan, kecenderungan, dan bawah sadar mufassir tidak boleh dilepaskan begitu saja.

Keempat, terkait penafsir menjadi salah satu penafsir dan tafsirnya merupakan salah satu tafsir. Bagi Quraish ini memang benar, seorang penafsir sendiri pastilah memahami secara utuh apa yang ia tafsirkan. Apalagi penggagas al-Qur’an adalah Allah sendiri, sudah senyatanya Allah sebagai penggagas memahami dengan sebenarnya maksud, tujuan dan keinginan dari teks-teks yang hendak disampaikan.

Kelima, terkait makna yang otonom dari teks bahkan melampaui maksud teks. Dalam hal ini Qurasih memberikan catatan, bahwa dimungkinkan terjadi kesalahan argument dalam menjelaskan kandungan ayat atau teks, bisa juga karena kesalahan kandungan ayat atau teks tetapi argumennya yang salah. Quraish bermaksud bahwa makna teks benar mampu melampaui makna sebelumnya karena adanya kandungan yang secara argumentatif mengandung kesalahan.

Keenam,  terkait adanya dialog imajinatiif antara penafsir dan pengarang teks. Bagi Quraish karena teks yang dimaksud adalah al-Qur’an yang mana pengarangnya adalah Allah maka dialog imajinatif tentu sulit dan bahkan tidak mungkin dilakukan, hal ini karena dialog imajinatif mengandaikan lahirnya teks baru. Namun, Quraish menambahkan dialog imajinatif bisa terjadi sepanjang masa terutama dalam kitab-kitab tafsir yang berkembang.

Hermeneutika dan Tafsir al-Qur’an

Antara Hermenutika dan kaidah tafsir al-Qur’an memiliki semangat yang sama dalam menafsirkan teks. Memang ada perbedaan dan persamaan namun upaya dalam memahami teks secara komprehensif dengan pelbagai perangkat dari mana pun itu keniscayaan.

Adapun adanya perbedaan, menurut Quraish Shihab itu semua bisa ditoleransi dan dipertemukan setelah dilakukan penyesuaian. Hermeneutika memang sejak awal menjadikan konsepsi penafsiran pada teks yang dikarang oleh manusia, karena al-Qur’an tidak demikian maka hermeneutika berlaku dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dalam melahirkan teks-teks tafsir.

Dalam wacana hermeneutika, ada pertanyaan yang banyak menyulut perdebatan, yakni benarkan al-Qur’an produk budaya? Benarkah dia disusun oleh (Nabi) Muhammad saw sebagai hasil renungan beliau setelah memikirkan keadaan masyarakat dan budaya beliau?.

Menurut Quraish Shihab, tidak mungkin seorang muslim meyakini al-Qur’an sebagai budaya, senyatanya dalam ayat al-Quran surat al-Haqqah ayat 44-47 dan Yunus ayat 15 bahwa al-Qur’an bersumber dari Allah bukan lahir dari kebudayaan atau produk dari budaya tertentu.

Namun, menurut Quraish Shihab, apabila yang dimaksudkan dengan “al-Qur’an” adalah penafsirannya, maka kekeliruan itu hanya pada redaksi bukan substansi. Dalam uraian Quraish, bahwa apa yang ditafsirkan oleh para ulama terdahulu dan kontemporer juga bukanlah sesuatu yang suci, pasti benar dan tidak dapat dikritik. Demikian pula pendapat para sahabat Nabi saw. pun tidak bebas dari kritik, bahkan penolakan, lebih-lebih generasi sesudahnya.

Qurasih Shihab telah memperhitungkan baik dan buruk hermeneutika sebagai bagian dari kaidah Tafsir al-Qur’an. Memang Quraish melakukan penyelarasan wacana hermeneutika dengan ilmu tafsir, namun upayanya ini mampu membuka kran penolakan-penolakan yang hanya berdimensi kultural, yakni hanya karena produk Barat dan lain sebagainya.

Menerima hermeneutika sebagai bagian dari keilmuan kontemporer adalah suatu keniscayaan, menimbangnya menjadi mitra tafsir mutlak diperlukan.