Pesantren bukan hanya sebuah bangunan pendidikan biasa. Ia menjadi pusat pendidikan berbasis tradisi, budaya, yang kajian utamanya terfokus pada keilmuan agama Islam. Dari pesantren banyak lahir para pejuang militan, juga totalitas dalam mengemban tanggung jawab sosial dan lingkungannya.

Para santri yang memondok di pesantren benar-benar akan terbentuk jiwa kedisiplinannya, militansinya, dan tanggung jawab penuh atas kewajibannya. Selain itu, kualitas beragama seorang santri tak diragukan lagi. Karena disokong penuh oleh kualitas pendidik yang paham betul, bagaimana cara mendidik santri yang baik dan benar berlandaskan Islam.

Pondok pesantren dalam tradisi dan corak metodologi pembelajaran konon diadopsi dan malah mirip dengan “Ashabu Shuffah” di kota Madinah. Sebuah komunitas/kelompok sahabat Nabi pecinta ilmu, yang tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka tinggal di serambi masjid, dan tradisi mereka sehari-hari dalam menghabiskan waktu adalah mengikuti segala perilaku dan perkataan Nabi (qawlan wa fi’lan).

Tak jarang, dari kalangan mereka, lahir banyak periwayat hadis seperti Abu Hurairah, yang merupakan ikon utama dari kelompok ini, juga paling banyak meriwayatkan hadis-hadis Rasulullah saw.

Kalau ditelusuri, sanad pesantren mungkin punya ketersambungan sampai pada ashab al-suffah tersebut. Mengingat ada kesamaan corak kehidupan/tradisi pesantren dan kelompok ashab al-suffah, seperti yang terdapat dalam kebanyakan pondok pesantren di Indonesia.

Pesantren di Indonesia—dalam beberapa catatan literatur—pertama kali didirikan oleh Sunan Ampel, yang pada waktu itu, berlokasi di Ampel Denta pada abad ke-16 M. Sunan Ampel pada masa tersebut mengader santri-santrinya dan dikirim ke seluruh penjuru dan pelosok tanah air, bahkan tak jarang juga ada yang ditugaskan sampai ke beberapa negara tetangga.

Bersumber dari tangan para santri inilah kemudian menjamur dan berkembang pesantren-pesantren di tanah air di berbagai penjuru. Puncaknya terletak pada pertengahan abad ke-19 M hingga awal abad ke-20 M yang jatuh pada masa Syekh Kholil Bangkalan. Dan dari tangan ketulusan beliau, lahirlah kiai-kiai besar, turut juga melahirkan kembali kiai-kiai besar pula.

Seturut perkembangannya, pesantren masa kini terbagi menjadi dua macam; tradisional dan modern. Meminjam gagasan Geertz, dalam pesantren tradisional, ragam kepribadian seorang santri yang ditempa dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya, penuh dengan kesederhanaan, belajar tanpa pamrih dan penuh tanggung jawab, dan jiwanya terikat oleh rasa solidaritas yang tinggi.

Ciri-ciri lain pesantren tradisional yaitu materi yang diajarkan bersumber dari kitab kuning yang berbahasa Arab dari luar negeri maupun dalam negeri, dan para santrinya tidak membayar biaya atas pendidikan yang diajarkan, dan kiai yang mengajar pun tidak dibayar. Biaya lembaga tersebut dipikul oleh orang-orang saleh sebagai bagian kewajiban dalam andil membayar zakat.

Sedangkan pesantren modern, terlihat dari struktur bangunan, sistem pendidikan, dan pengurusannya sangat mudah dibedakan dengan pesantren tradisional. Bangunan pesantren modern lebih terlihat bersih, terdapat dapur makanan siap saji, labolatorium bahasa, auditorium megah, dan adanya ruang pengembang minat dan bakat.

Di sisi kepengurusannya, kiai tidak lagi mengurusi semua hal tentang pesantren, yang mengurusinya biasanya anak kiai atau para santri yang sudah lama memondok dan terlatih jiwanya dalam memimpin.

Dalam sistem pendidikan, pesantren modern bukan saja mengajarkan kitab-kitab kuning, melainkan pelajaran umum juga dimasukkan dalam kurikulum pesantren. Harapannya, agar para santri mampu bersaing secara global dan memiliki basis disiplin keilmuan tertentu selain ilmu agama.

Bukan berarti pesantren-pesantren modern menghilangkan tradisi dan corak tradisional. Tapi, lebih dari itu, asumsi yang dipegang oleh pesantren berbasis modern adalah al-muhafazatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah (memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

Tradisi pesantren dari masa ke masa, banyak mengadopsi cara belajar kitab Ta’lim al-Muta’allim, sebagai pola aktivitas dan interaksi serta mekanisme belajar maupun mengajar. Maka tidak heran, akhlak dan adab menjadi hal yang dinomorsatukan dalam proses belajar maupun mengajar, apalagi yang menyangkut ilmu-ilmu syariat.

Jarang dimungkiri, berkah dari adab dan akhlak yang diterapkan akan dirasakan betul oleh para santri yang benar-benar dan tulus dalam menjalankannya di setiap tingkah laku sosial maupun belajar.

Patut menjadi rujukan utama, bahwa pesantren adalah tempat pendidikan terbaik, jika seseorang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan agama dan umum, serta ruh ilmu pengetahuan berupa pendidikan akhlak dan adab yang tidak diajarkan di institusi/lembaga pendidikan umum selain pesantren.

Apalagi jika segala jenis mertua yang lagi atau sedang mencarikan jodoh terbaik untuk anaknya. Ya, mungkin penulis bisa rekomendasikan para alumni-alumni pesantren. Selain paham agama, mereka pun paham akan berumah tangga dan bagaimana cara terbaik mendidik anak-anaknya kelak.

Barangkali, kualitas para santri pondok pesantren tak diragukan lagi kalibernya dalam segala hal apalagi menyangkut agama. Ini sebagai bukti, bahwa ngajinya belajar langsung lewat para kiai dan tenaga pendidik yang piawai. Bukan lewat ustaz YouTube atau syekh Google.