Orang Sangihe merupakan penduduk utama yang mendiami satu gugusan Kepulauan Sangihe, yang terdiri dari tiga pulau besar, yakni Pulau Sangihe Besar, Siau, Tagulandang; dan puluhan pulau kecil di sekitar ketiga pulau utama tersebut.

Secara historis, masyarakat yang menghuni Kepulauan Sangihe diperkirakan berasal dari kurun waktu 2000-500 tahun SM. Tahun 1521 tercatat adanya empat kerajaan di Pulau Sangihe Besar dan satu kerajaan di Siau.

Sebelum ada catatan sejarah dan berbagai peristiwa politik, masyarakat memformulasikannya dalam tradisi lisan. Beragam puisi dalam tradisi lisan Kepulauan Sangihe adalah Sasambo, Sasalamatē, Kakumbaede, Kakalumpang, Papinitu, Tatinggung, dan Papatung.

Paul Thomson, dalam karyanya “Suara dari Masa Silam: Teori Metode Sejarah Silam”, mengutip pendapat Michelet, seorang sejarawan Prancis berikut.

“…ketika mengatakan sejarah lisan, yang saya maksudkan adalah tradisi nasional, yang umumnya tersebar dalam mulut semua orang, yang dikatakan dan diulangi setiap orang, petani, orang udik, orang tua, perempuan, bahkan anak-anak; yang dapat kau dengar ketika memasuki kedai minum desa di malam hari; yang dapat kau kumpulkan dan temukan pada perjalanan kaki di tengah berhenti, kau mulai bercakap-cakap dengannya tentang hujan, musim, kemudian tentang persediaan makanan, zaman-zaman para kaisar, zaman-zaman revolusi.” (Thompson, 2012:25)

Kisah dalam tradisi lisan dapat dikategorikan sebagai “dokumen sejarah di kalangan masyarakat nir-aksara” apabila isinya dianggap merepresentasikan kenyataan pada masa lalu, serta merupakan “pesan yang mengekspresikan kebudayaan” serta sebagai “informasi yang diingat” (Vansina, 2014:231).

Sebagai ekspresi kebudayaan, memerlukan metode penafsiran untuk memahaminya. Beberapa kajian kebudayaan di Indonesia menggunakan prinsip dasar tradisi hermeneutika, misalnya antropologi interpretatifnya Clifford Geertz.

Menurut Geerzt, untuk memahami kebudayaan sebagai teks simbolik harus melalui deskripsi mendalam, yang mengungkap makna tersembunyi yang melandasi elemen kebudayaan bersifat behavioral dan kasatmata (Geertz, 1993:3-39).

Tradisi Lisan dalam Hermeneutika Dilthey

Charles Taylor dalam Bryan S. Turner menyebut hermeneutika sebagai “deskripsi diri” atau self description. Dan tujuan hermeneutika tradisional adalah untuk menjelaskan realita sosial melalui penafsiran atau interpretasi (Turner, 2012:85).

Metode hermeneutika berakar pada prinsip Hegel yang kemudian dikembangkan oleh sejumlah ahli ilmu sosial dan humaniora. Di bidang bahasa dan sastra, ada tiga nama yang sering menjadi rujukan dalam metode hermeneutika, yaitu Ricoer, Dilthey, dan Habermas.

Namun dalam hal metode hermeneutika untuk karya sastra bersifat historis adalah Dilthey. Maka dari itu, penulis akan mengacu pada kerangka konseptual paradigma hermeneutika Dilthey.

Dalam analisis hermeneutika Dilthey, menganalisis arti ekspresi kebudayaan sebagai pengalaman konkret dari orang atau pelaku sejarah seperti yang dikisahkan dan memahami sistem yang dihasilkan atau sebaliknya.

Menurutnya, individu merupakan hasil eksternal, sehingga pengenalan tentang sistem adalah basis pemahaman historis. Prinsip ini menjadi dasar dalam memilah tokoh yang dikisahkan seturut sistem  yang ada atau seperti dikisahkan dalam narasi sejarah.

Dalam paradigma Dilthey, bagaimana manusia dalam hal ini kelompok pendukung narasi kesejarahan tersebut pada masanya, menegaskan keberadaan mereka melalui teks-teks simbolik dan menjadikannya sebagai elemen-elemen kebudayaan yang bersifat behavioral dan kasatmata (Geertz, 1993; Rafieg, 2012; Turner, 2012).

Hermeneutika pada Kisah Medellu alias Gumansalangi

Apakah kisah Medellu alias Gumansalangi adalah sebuah karya sastra bersifat historis? Dalam paradigma hermeneutika Dilthey menyaratkan adanya “dua wajah” dalam karya tersebut, yaitu “wajah dalam” (interior) dan “wajah luar” (eksterior).

Adapun yang dimaksud dengan “wajah dalam” adalah kisah yang dilihat dan dipahami secara sadar –baik oleh penuturnya maupun pendengarnya sebagai pendukung kebudayaan atau tradisi lisan– sebagai “sejarah” yang mengisahkan asal muala “sesuatu”.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan “wajah luar” menyangkut penanggalan atau kala, serta tempat terjadinya peristiwa yang dikisahkan.

Dalam khasanah budaya daerah Sangihe dapat ditemukan sejumlah tradisi lisan baikitu berbentuk prosa, seperti halnya bēke (sejarah, hikayat, kisah) maupun berbentuk puisi seperti sasambo  dan kakumbaede.

Tokoh Gumansanlangi adalah seorang raja dari kerajaan yang terletak di wilayah Filipina.  Tokoh ini dikisahkan dalam beberapa versi cerita mulai dari seorang yang berwatak kejam hingga baik budi.

Ketika dikisahkan sebagai seorang putra raja yang kejam terhadap rakyat, kemudian rela menerima hukuman dan dikucilkan dan dibuang ke hutan. Selama berada di hutan, Gumansalangi mengalami pencerahan dan menjadi seorang yang  berbudi.

Tempat pembuangan di dalam hutan merupakan gejala yang universal. Dalam kondisi terancam tersebut seseorang akan sulit bertahan hidup. Lapar, cuaca buruk, dan ancaman binatang buas menjadi tantangan.

Di tengah kondisi seperti itu tampak bagaimana relasi manusia dengan hubungan yang Maha Kuasa, diberi tanda-tanda alam. Dengan mengarungi lautan mengunakan rakit, sampai menemukan tempat mendirikan tenda, hal ini menunjukan budaya bahari yang masih sangat sederhana.

Kemudian, bila ada tanda alam berupa gemuru Guntur dan kilat yang terjadi pada saat cuaca cerah, di tempat itulah hendaknya tinggal dan menetap dan akan membuahkan keberuntungan.

Kisah tersebut dikomparasikan, dianalisis secara stuktural, dan dimaknai secara hermeneutika.

Terdapat empat teks yang menuliskan kisah Medellu alias Gumansalangi. Keempat teks ini, dituturkan, disadari, maupun dipercayai sebagai “sejarah”.

Dalam teks tersebut, nama tokoh kisah Medellu alias Gumansalangi, serta istrinya Onda Assa alias Sangiang Kila atau juga Mekila, disebut-sebut sebagai peletak dasar kerajaan Tampunganglawo.

Aspek eksterior yang ditemukan dalam kisah ini tidak menyebut tanggal dan tahun selain tempat, baik itu di pulau Mindano dan sekitarnya maupun di pulau-pulau Sangihe.

Sebuah penanda kala yang tidak tegas kapan periode waktunya. Hal itu dapat dipahami karena “sistem panggalan” kalender baru saja dikenal setelah adanya kontak dengan bangsa barat (Spanyol pada abad ke-16).

Sebelumnya, warga Sangihe masa lampau mengenal sistem musim yang bersifat lunar atau seturut peredaran bulan.

Lepas dari persoalan tidak tepatnya penyebutan nama tempat, keempat teks tersebut menyebutkan nama-nama tempat yang dilewati selama pengembaraan tokoh kisah yang dituturkan.

Dikisahkan bahwa, untuk mendapatkan tempat tinggal yang baru, dipesankan kepada Onda Assa bahwa jika di siang cerah lalu ada suara Guntur dan kilat kedengaran, maka itulah tandanya bahwa di tempat itulah yang disediakan untuk mereka.

Dalam kisah pula bahwa penduduk Sangihe begitu kaget dan bertanya-tanya, mengapa Guntur dan kilat tiba-tiba terjadi, lalu mereka berupaya mencari tahu, dan temulah mereka dengan dua orang seorang pemuda dan seorang pemudi.

Sang pemuda langsung dinamai Medellu, dari kata dellu artinya Guntur, sedangkan si pemudi di namai Mekilla’, dari kata kila’ artinya cahaya kilat.

Meskipun prinsip membaca “tanda-tanda alam” ditemukan di antara sekian banyak kelompok etnis di Nusantara, tidak hanya di kalangan warga Sangihe, namun dari isi kisah Gumansalangi menunjukan betapa dekatnya alam dan kehidupan warga masyarakat kala itu sejak kisah itu dituturkan.