Pelajar
2 tahun lalu · 388 view · 6 menit baca · Agama 71861.jpg
https://www.google.com/search?q=al+qur+an+gambar&client=firefox-b-ab&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjR_ru2uoPUAhVMpo8KHfQ1BL0Q_AUICigB&biw=1366&bih=657#imgrc=QM3cU1c1tWN_yM:

Hermeneutika dalam Lintasan Sejarah Interpretasi Teks

Al Quran yang merupakan tuntunan hidup, hudan (petunjuk) bagi umat manusia dituntut untuk dipahami, dimengerti arti dan maksudnya oleh manusia sebagai reader (pembaca) dan subyek sesuai kemampuan, dan kemampuan tersebut berdasarkan subyektifitas manusia itu sendiri.

Pemahaman dan interpretasi teks al Quran tentu akan jauh dari makna yang terkandung di dalamnya secara tepat seiring dengan ketiadaan Rasulullah sebagai seorang Rasul (utusan) yang mengemban amanat untuk meyampaikan risalah tersebut. Semakin jauh jarak dan rentang waktu seorang penafsir dengan keberadaan Rasulullah, memungkinkan pula jauh makna al Quran itu secara kontekstual. 

Hal ini wajar karena ketika terjadi ketidakpahaman terhadap makna yang terkandung di dalam al Quran. Pada zaman Rasulullah, sahabat langsung bertanya kepadanya. Sedangkan sejak ketiadaan Rasulullah sampai sekarang menjadikan umat Islam menafsirkan isi kandungan al Qu an berdasarkan tingkat pemahaman masing-masing dan kondisi yang melingkupinya.

Karena subyektif, maka kebenaran yang diperoleh dari hasil penafsiran tersebut bersifat tidak tunggal dan dinamis, artinya selalu berubah sesuai dengan kondisi zaman. 

Padahal al Qur an adalah petunjuk yang akan selalu relevan sepanjang zaman dan tempat (saalikun li kulli zaman wa makan) dalam artian harus berdialetika dengan zaman sampai hari kiamat dengan kadar kebenaran isi yang tidak bisa diragukan lagi (al Baqarah: 2).

Terkesan ta’arudl atau kontradiktif memang, karena kita tahu bahwa al Quran turun terikat oleh lokalitas yang lebih banyak merupakan jawaban dan respon atas segala sesuatu terkait dengan kejadian saat itu dengan batasan locus (lokasi) dan tempus (waktu) di jazirah Arab. 

Inilah yang kemudian seakan-akan memunculkan dualisme sifat al Quran. Di satu sisi al Quran merupakan kalam Tuhan yang bersifat sakral, abadi atau kekal. Di lain sisi al Quran merupakan teks yang mempunyai sejarah yang lekat dan tidak bisa dipisahkan dengan nuansa Arab pada saat itu, bahkan ada pemikir Islam kontemporer mengatakan selain kalam Tuhan ia juga sekaligus sebagai produk budaya (muntaj tsaqafi)

Maka, dalam kaitannya dengan zaman, al Quran adalah sesuatu yang ahistoris (sakral dan transenden) dan historis (profan) sekaligus. Kemudian bagaimana mungkin ia (al Quran) harus selaras dengan kemajuan zaman berikut segala permasalahan (kontemporer) yang sungguh sangat jauh berbeda pada saat itu? 

Untuk menjawab pertanyaan di atas kita sepakat bahwa al Quran itu berupa teks atau tulisan, maka sumber dan media utama untuk memahaminya adalah teks itu sendiri. Dan karena berupa teks, maka kemudian muncul ragam pemahaman atas teks suci tersebut. Akan tetapi yang banyak muncul saat ini justru ragam pemahaman itu didasari oleh salah satu anggapan bahwa al Quran sebagai teks yang bersifat transendental saja. 

Karena bersifat transenden (dimensi keimanan) maka penafsiran yang dilakukan mengabaikan aspek historisasi ayat (asbabun nuzul), sosiologis, antropologis ayat. Sehingga formulasi makna yang kemudian menjadi produk hukum terkesan figrid (kaku), tidak berkembang dan tidak fleksibel.

Alih-alih memberikan jawaban atas permasalahan era sekarang, justru pemahaman itu menjadikan pola pikir yang sangat militan, radikal dan fanatisme berlebihan atas apa yang mejadi pemahaman nya dengan mengabaikan pendapat orang lain. Akhirnya yang jamak terjadi adalah sikap-sikap keagamaan bersifat eksklusif yang cenderung memandang negatif perbedaan dan bermuara pada anarkisme dangan dalih agama. 

Atas dasar itulah kemudian muncul pemikir-pemikir Islam kontemporer menawarkan metode baru dalam menafsirkan al Quran sebagai solusi sekaligus reaksi atas pemahaman Islam yang dirasakan kurang relevan pada saat ini (kekinian). Tidak mudah untuk mendekonstruksi paradigma dan corak penafsiran yang sudah sejak lama mapan (establish).

Apa lagi jika kemudian suatu madzhab atau manhaj tersebut sudah dijadikan acuan resmi oleh suatu negara. Adapaun metode baru yang coba ditawarkan tersebut bernama hermeneutik, yang sebagian orang menganggapnya sebagai momok menakutkan dengan segala kontroversi asal usul metode ini dan cara kerjanya. 

Terlepas dari segala kontroversi tersebut, hermeneutika tetap merupakan ilmu dan manhaj tafsir yang patut kita ketahui dan pelajari, murni sebagai seorang penuntut ilmu dan dalam rangka memperkaya khazanah pemikiran Islam umumnya di bidang filologi dan manhaj tafsir khususnya.

Ditinjau dari segi etimologis, kata “hermeneutik” berasal dari bahasa Yunani hermeneuein, yang berarti “menafsirkan”. Maka noun (kata benda) hermeneia dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. Term ini memiliki asosiasi etimologi dengan sebuah nama dalam mitologi Yunani, yaitu Hermes.

Yang kita ketahui bersama bahwa Hermes adalah salah satu dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan Tuhan kepada manusia. Dewa Hermes diilustrasikan sebagai seorang yang mempunyai kaki, bersayap dan lebih banyak dikenal dengan sebutan Merkurius dalam bahasa latin. 

Sedangkan, hermeneutik berdasar pendapat Aristoteles menyebutkan bahwa kata-kata yang kita ucapkan sejatinya adalah simbol dari pengalaman mental kita, begitu juga kata-kata yang kita tulis adalah cerminan dari apa yang kita ucapkan itu (peri hermeneias atau de interpretatione)

Walhasil, hermeneutik pada akhirnya diartikan sebagai suatu proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi situasi yang diketahui. Bisa dipahami juga, metode hermeneutik adalah suatu metode yang mencoba menganalisis dan menjelaskan teori penafsiran teks (Nazhariyat Ta’wil an Nushus) dengan mengajukan pendekatan-pendekatan disiplin ilmu lain (interdispliner) yang dengan sendirinya menguji proses pemahaman, mekanisme penafsiran dan penjelasan teks.

Hermeneutika dengan konsep dasarnya tersebut berusaha menggali makna terdalam apa yang disampaikan oleh teks, membaca yang tak terbaca, atau berusaha menemukan makna yang selama ini dikatakan “narasi tak terbaca” oleh seorang pembaca. Historisasi hermeneutik sendiri sebenarnya merupakan sejarah yang panjang dan dinamis.

Apalagi ketika dikaitkan dengan teks suci yang sakral. Istilah hermeneutik berawal ketika Plato (347 SM) menuliskan dalam sebuah karya nya berupa Definition, maka sejak itu pulalah hermenutik menjadi istilah yang populer pada saat itu.

Disebutkan dalam karya tersebut bahwa hermeneutik adalah penunjuk sesuatu. Kemudian berkembang menjadi ilmu dan seni interpretasi dengan pendekatan alegoris (model tafsir dengan mencari makna di balik kata-kata yang tertulis dalam teks) yang dipelopori seorang filosof lain, yakni Stoicisme (300 SM). Di sini Stoicisme mencoba menggali dan memahami makna suatu teks diluar makna dan pemahaman literal. 

Dari pendekatan alegoris ini kemudian berkembang menjadi sebuah teori pembacaan simbol (semiotika) yang dipelopori oleh Augustune of Hippo (230 SM) yang pada fase terakhir metode ini kemudian merambah ke ranah teologis untuk mengetahui isi tersirat dari Bibel. 

Dalam tradisi keilmuan Barat, hermeneutik merupakan cabang dari ilmu filologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang asal usul suatu bahasa atau teks. Sehingga ranah pembahasan secara prinsipil adalah perspektif kebahasaan terutama terkait dengan historisitas bahasa itu sendiri. 

Selanjutnya memasuki abad ke 16, hermeneutika menjadi pembahasan tersendiri dan mendapatkan perhatian serius dikalangan ilmuwan gereja di Eropa karena adanya protes dan debat yang sangat alot mengenai otentifikasi Bibel.

Mereka (para ilmuwan gereja) terutama yang berpikiran progresif menuntut penjelasan secara detail dari isi Bibel yang menurut mereka banyak terjadi penyimpangan dari makna sebenarnya. Ada sebagian isi Bibel tersebut yang dirasakan bertentangan, kontradiksi antar ayat serta inkonsistensi substansi ayat itu sendiri. 

Pada abad 18 hermeneutika menjadi sebuah kajian ilmu yang sangat penting dan tantangan bagi ilmu- ilmu sosial, terlebih sosiologi dan antropologi. Hal ini karena, hermeneutika sebagai suatu metode banyak menggugat konsep dasar ilmu sosial yang sudah baku. 

Padahal inti dari hermeneutika terutama ditinjau dari aspek bahasa, adalah tidak ada nya kebakuan dalam pemahaman suatu teks (hermeneutika Gadamerian). Al Quran mayoritas ayat-ayat yang terkandung di dalamnya bersifat “dhanniyu ad dhalalah” sangat memungkinkan untuk dilakukan “pembacaan ulang” yang mengacu pada realitas zaman.

Akan tetapi pembacaan atau penafsiran ulang itu meski memberikan “problem solving” tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah yang telah disepakati bersama dengan berbagai disiplin ilmu sebagai pisau analisis untuk mendapatkan makna yang paling relevan dengan era sekarang. 

Keberadaan hermeneutika sebagai metode dalam menafsirkan ayat al Quran dengan berbagai pro dan kontra tidak harus menjadikan kita apatis dan menganggap metode tersebut menghancurkan kaidah penafsiran yang telah ada sebelumnya tanpa kita mempelajari terlebih dahulu. 

Sebagai insan yang bernaung di bawah lembaga keilmuan, nalar kritis kita dituntut untuk selalu mempelajari, menganalisis yang selanjutnya memberikan penilaian atas metode tersebut.

Karena pada dasarnya perbedaan-perbedaan tersebut masih dalam ranah “ikhtilaf furu’iyyah” (perbedaan terhadap permasalahan yang bersifat partikular) adalah karunia Tuhan yang wajib kita berdayakan sehingga spirit hadits “ikhtilafu ummati rahmah” yang menjadikan perbedaan sebagai rahmat benar-benar tercapai dan bukan sebaliknya yang justru menjadi sumber perpecahan.

Artikel Terkait