Kematian satu orang adalah tragedi. Kematian banyak orang adalah statistik. (Asalnya tidak diketahui, tetapi dianggap sebagai ucapan Josef Stalin.)

---

Saya muak dengan tahun 2016 ini. Ketika di awal tahun negeri kita diguncang serangan teror bersenjata di Sarinah yang berhasil digagalkan, korban tak bersalah yang tewas mengenaskan hanya menjadi catatan kaki.

Mungkin karena mereka hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tidak seperti si tukang sate yang masih sibuk berdagang dan ibu-ibu yang asyik selfie (yang kemudian terbukti palsu) di tengah desingan peluru dan ledakan mesiu. Mereka mati konyol, tidak seperti para penonton yang tetap hidup dan menceritakannya pada dunia.

Para penonton ini lalu terbelah antara yang menghina teror Paris yang memakan banyak korban dengan yang menganggap teror Sarinah adalah pengalihan isu. Yang pertama mengatai orang lain bodoh, yang kedua mengatai orang lain kafir.

Lompat ke bulan November.

Seseorang melemparkan bom molotov ke halaman Gereja Oikoumene di Samarinda, di mana beberapa anak kecil sedang bermain selepas sekolah minggu. Mereka terbakar... Ya Tuhan...

Dan Intan... Intan kecil... yang hampir seumur anak saya... Ya Tuhan, saya tidak kuat menulisnya...

Tetapi ada di antara mereka yang berani-beraninya mengatakan itu mungkin cuma petasan? Kelihatannya hanya luka ringan? Lalu mereka dengan entengnya mengunggah foto-foto palsu tentang kerusuhan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, yang menghanguskan ratusan rumah suku Rohingya.

Kerusuhan itu memang terjadi, tetapi foto mayat-mayat terbakar mereka ambil dari upacara kremasi di tempat lain. Hanya untuk menunjukkan bahwa dibandingkan Rohingya, Intan adalah masalah sepele...

(Dan lagi-lagi mereka berbicara tentang pengalihan isu.)

Tentu saja, penderitaan Rohingya pun bisa didaur ulang sebagai pembanding untuk kasus yang lebih baru. Misalnya untuk membungkam umat Kristen yang baper karena kebaktiannya yang hanya segelintir di dalam ruangan tertutup itu digusur. Seharusnya mereka bersyukur masih dikasih ijin, eh ini malah dilanggar. Coba mereka diperlakukan seperti Rohingya...

Dan kemarin...

Ada orang-orang yang ditangkap Densus 88 karena merakit bom untuk diledakkan di hari Minggu di berbagai titik strategis Ibukota. Bom pun berhasil diamankan. Para pelakunya diduga masih terkait ISIS.

Kebetulan di belahan bumi lain tidak begitu beruntung. Hari Sabtu, ledakan mengguncang stadion klub sepak bola Beşiktaş di Istanbul, Turki, dan sebuah taman di dekatnya. 44 orang tewas dan 166 lainnya cedera. Hari Minggu, Gereja Katedral Ortodoks Koptik St. Markus di Kairo, Mesir, diguncang bom yang menewaskan 25 orang dan melukai 49 lainnya.

Pemeberontak Kurdi di Turki sudah menyatakan bertanggung jawab, sementara sampai tulisan ini diturunkan, tidak diketahui siapa pelaku pemboman Katedral Kairo.

Tetapi dengan gagah berani kita mengunggah data statistik kematian itu, termasuk mencomot kematian karena tragedi lain (misalnya runtuhnya atap gereja di Nigeria yang menewaskan 100 orang lebih) sebagai kegagalan negara-negara itu mengantisipasi teror (semuanya dilabeli ISIS). Lumayan buat menambah-nambah hebohnya kematian mereka dibandingkan Indonesia yang nol.

Seolah mereka lupa dengan dua bom Bali, entah berapa gereja, hotel dan kedutaan asing dan ratusan korban yang tewas, termasuk, Ya Tuhan, Intan...

(Dan kelompok yang lain itu lagi-lagi mengomel tentang pengalihan isu. Dan merengek lagi minta Densus 88 dibubarkan.)

***

Saya sudah hafal tabiat bangsa ini yang suka membanding-bandingkan.

Mulai dari kepandaian anak sejak lahir sampai kesuksesan finansial dan karir. Jangankan membandingkan tempat wisata di Tanah Air nan permai dengan di luar negeri yang jelek dan ngehek: bahkan ada yang mengatakan tak perlu ke Raja Ampat karena ada taman laut di dekat Pulau Jawa yang sama (atau lebih) indahnya.

Bahkan beramal pun dipakai sebagai perbandingan. Saya tahu banyak yang sombong dalam beramal, namun hanya di sini kita terang-terangan menggunakan amal kita untuk menghina orang lain? "Kelompok itu mana pernah beramal seperti kita?" (Dan mereka mengomel karena tidak diliput media mainstream.)

Tetapi membandingkan kematian? Situ lebih sial dari saya, saya bangga. Saya lebih sial dari situ, saya menuduh situ tidak simpati dengan saya. Situ menangis karena keluarganya mati dibilang baper. Saya hanya tersinggung, tapi memaksa situ menangisi ketersinggungan saya.

Atau memang bangsa ini tidak peduli dengan kematian sebelum menimpa dirinya sendiri?

Karenanya kita dengan santainya menyerahkan anak-anak kita kepada maut dengan membiarkan mereka mengendarai motor dan mobil di bawah umur. Supaya menunjukkan kepada orang lain bahwa kita tidak takut. Lalu kita menertawakan mereka yang sudah berhati-hati tapi tetap saja mati konyol.

Sudah banyak peraturan dan pemakai jalannya lebih tertib, tapi tetap saja kecelakaan berkendara terjadi. (Jadi untuk apa berhati-hati?) Sudah super ketat menjaga imigrasi tetap saja kecolongan aksi teror oleh imigran.

Tetapi ketika maut benar-benar menjemput, kita menyalahkan mobil lain, polisi, pemerintah, bahkan (walaupun secara halus) Tuhan. Ketika orang lain dan pemerintah berusaha mencegah terjadinya hal serupa di masa depan, kita menuduh mereka menjadi antek asing yang mengekang kebebasan kita.

Bahkan termasuk anak-anak. Biarlah anak orang lain mati konyol, yang penting anak-anak saya (dan anak-anak mereka yang sejalan dengan saya) aman. Oh, pasti aman, tapi kalau sampai lecet sedikit saja, saya minta pertanggung jawaban orang lain.

Dan belakangan ini tuntutan kematian atas orang lain dengan mudah diumbar. Mereka mengumpulkan massa demi menuntut kematian. Bahkan dengan cara-cara yang kelihatannya halus dan menggugah hati para intelektual. Merinding, kata mereka yang melihat. Lalu perlahan-lahan, ikut mengamini...

Ya, para cerdik cendekia itu, mengamini dan mengiyakan mereka yang berteriak "Bunuh!"

Lalu mereka masih mau membuat perbandingan? Teman-teman kami luar sana kan yang dibunuh banyak, di sini kami cuma minta satu. Padahal ketika ada satu saja dari mereka yang terbunuh, mereka ributnya minta ampun dan diungkit-ungkit terus.

Betapa sulitnya kultur kematian ini diberantas. Kita menyembah kematian, tetapi bukan kematian kita sendiri, melainkan orang lain. Bahkan kita mempengaruhi orang lain supaya mati demi Tuhan. Kenapa tidak kita sendiri yang mati demi Tuhan? Untuk yang satu itu kita selalu menghindar dan mencari kambing hitam.

Atau, kenapa kita sendiri tidak, dan juga tidak menganjurkan orang lain untuk, hidup demi Tuhan?

Mungkin karena, jauh di dalam hati kecil kita, siapapun dan apapun latar belakang kita, kita senang melihat orang lain mati...