Saya sempat miris kala mendapati sebuah notifikasi yang muncul di layar ponsel saya, kebetulan saya memang berlangganan berita daring (online) yang menurut saya semakin hari berita yang ditayangkan semakin menyedihkan.

Tapi bukankah bad news is a good news? Dan kebanyakan masyarakat kita memang gemar melahap berita-berita yang mempertontonkan betapa bobroknya moral bangsa. Anehnya, komentar mereka malah nyinyir, provokasi, pedas, dan memojokkan pelaku kejahatan seolah-olah mereka paling benar.

Sebelumnya saya mau klarifikasi, saya bukannya membela pelaku kejahatan, tapi saya agak kurang setuju dengan sebagian masyarakat yang kerap kali main hakim sendiri. Misalnya ada maling ayam, terus tertangkap warga, ya saya paham betapa kesalnya si empunya ayam. Jangankan ayam, gebetan kita diembat orang saja kesal kan?

Si maling ayam memang bersalah, dan dia layak mendapat hukuman, tujuannya supaya apa? Supaya jera kan? Supaya tidak mengulang kisah-kisah lama, eh bukan, maksudnya biar tidak mengulang kesalahan dan kekhilafan yang sama. Jadi ya laporkan saja ke pihak yang berwenang, atau kalau mau diselesaikan secara kekeluargaan. Kan enak, si pelaku jera dan si ayam bisa kembali ke pelukan si empunya.

Nah sama halnya dengan berita yang saya baca itu, judul beritanya tertulis begini: “Ya Tuhan! Pasangan Mesum Diarak Massa, Wanitanya Menangis Dicolek-colek Warga”.

Peristiwa yang terjadi Samarinda, Kalimatan Timur pada 15 Juli 2016 ini memang sontak jadi viral di media, sebab dilihat dari judulnya saja kita pasti sudah bisa menebak apa isi beritanya, bahkan membayangkan kronologi kejadiannya.

Ya, sepasang kekasih yang kedapatan tengah berbuat mesum digelandang dan diarak-arak warga. Pakaian mereka dilucuti tanpa sehelai benang pun yang diizinkan tersangkut di kulit mereka. Warga berbondong-bondong mengarak mereka di sepanjang jalan raya, mempertontonkan pelaku zina ke seantero kampung agar membuat pelaku merasa malu.

Nyatanya masyarakat memang berhasil membuat dua sejoli yang tengah dimabuk asmara merasa malu telah berzina. Maka kedua pelaku berupaya dengan menutup alat vital mereka dengan kedua tangan agar tidak terlihat oleh warga yang mengarak mereka.

Dan yang membuat saya miris adalah, warga yang menyaksikan kejadian tersebut ikut larut dan mencolek-colek wanita pelaku zina, dalam berita yang saya baca warga pun berteriak-teriak “Buka..buka..” pada kedua pasangan mesum tersebut.

Tak hanya orang dewasa yang menyaksikan, anak-anak yang tak mengerti atas apa yang terjadi pun ikut-ikutan dalam arak-arakan. Mereka bersorak, seolah-olah mereka tengah berada dalam karnaval atau semarak perayaan. Apakah pantas kejadian memilukan seperti ini disaksikan oleh anak-anak?

Bahkan, salah seorang anak sekolah dasar sempat mengunggah video arak-arakan tersebut di akun Facebook miliknya dan telah dibagikan sehingga bisa dinikmati oleh teman-temannya. Saya tak bisa membayangkan apa yang anak-anak SD itu pikirkan tentang apa yang mereka saksikan. Setahu saya, pada dasarnya anak-anak adalah peniru paling ulung, dan saya sangat khawatir mereka meniru perbuatan tersebut.

Katanya, arak-arakan bertujuan untuk membuat pelaku zina jera dan malu, juga membuat orang lain yang berniat mencoba-coba berbuat mesum ketakutan setengah mati. Nyatanya saya tak melihat nilai positif apa pun dari arak-arakan pasangan mesum, yang ada hanyalah kegelisahan, pengucilan, ketakutan, dan yang pasti perbuatan zina yang konon tak disadari.

Apakah kita sadar, bahwa upaya masyarakat dalam membenahi moral-–khususnya pelaku zina---justru melahirkan zina-zina lainnya. Okay, pasangan mesum memang jelas-jelas melakukan perbuatan zina, perbuatan yang dalam ajaran Islam menduduki posisi yang tergolong dalam perbuatan berdosa besar. Lantas, bagaimana dengan warga yang menonton pasangan mesum telanjang bulat di jalan? Apakah mereka bisa dikatakan terlepas dari zina?

Mereka melihat, menonton, dan menyaksikan kemolekan dua badan telanjang dengan mata mereka, bahkan mencolek-colek tubuh pelaku zina layaknya ayam potong segar yang biasa dijual di pasar-pasar. Lalu apa bedanya? Pezina kok sok-sokan menghakimi pezina?

Loh, kok saya jadi nyinyir? Ya saya geram dengan mereka, kalau mau membuat jera pezina ya pakai cara yang benar begitu. Negara kita ‘kan punya hukum, ada undang-undang, jangan seenak jidat sendiri dong menghukum dengan cara tak terhormat seperti itu. Sungguh arak-arakan adalah seburuk-buruknya hukuman bagi pezina.

Saya rasa Tuhan saja tidak setega itu dalam memperlakukan manusia, sebanyak apa pun dosa kita, Ia tidak menelanjangi kita dan membuat kita malu dan hina di depan manusia. Coba bayangkan misalnya saja setiap dosa yang kita lakukan dibalas dengan benjol di kepala, lalu cobalah kita kalkulasi, ada berapa banyak benjol yang sudah kita punya saat ini?

Sungguh, saya pun bergidik ngeri membayangkannya. Tapi Tuhan memang mahabaik, setidaknya Ia tidak mempermalukan kita di hadapan manusia lainnya dengan dosa-dosa kita yang bermetamorfosa menjadi benjol di kepala, seperti mereka yang menghukum pezina dengan melahirkan zina-zina yang lainnya. Pezina kok sok-sokan menghakimi pezina?

Loh, kok saya nyinyir lagi?