Apakah Anda pernah mendengar nama Sir James Augustus Henry Murray? Ia adalah seorang Filolog dan leksikografer abad 19. Ia juga adalah penyunting kamus bahasa Inggris Oxford University yang terkenal itu. 

Kerja-kerjanya telah membangun peradaban Inggris menjadi peradaban raksasa yang rasa-rasanya hampir mustahil kita lampaui. Ia telah menyusun bahasa Inggris ke dalam suatu urutan ensiklopedis, hingga setiap suku kata dari bahasa yang pernah digunakan di dalam bahasa Inggris memiliki makna yang terjaga.

Filologi juga mengamati perkembangan suatu kata dan dari mana kata itu berasal. Di balik karyanya yang monumental, ternyata James Murray dibantu oleh seseorang yang memiliki gangguan jiwa—seorang mantan perwira menengah angkatan darat Amerika yang penuh dengan trauma.

Dramaturgi penyusunan Oxford English Dictionary yang penuh darah dan air mata ini pun dibuat menjadi sebuah film yang berjudul The Professor and The Madman. Disutradarai oleh Farhad Safina, film ini berhasil memancing emosi pembaca untuk lebih menghargai kata-kata.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengurai apa yang mungkin dilakukan untuk membangun peradaban Indonesia. Ya, Perpres 69 memang kontroversial. Sepanjang pengamatan saya, ia juga penuh hujatan. Di tengah harapan banyak orang agar presiden memperkuat KPK melalui Perppu, presiden malah memproduksi hal lain.

Selanjutnya, saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pengakuan. Bahwa saya bukanlah bagian dari pendukung dan pemilih Joko Widodo, baik di 2014 maupun di 2019. Tapi apa yang akan saya sampaikan dengan segala macam kedangkalannya barangkali dapat bermanfaat untuk peradaban bangsa Indonesia di kemudian hari.

***

Siapa penggagas awal English Oxford Dictionary sebenarnya? Dialah Richard Chevenix Trench, seorang pendeta terkemuka yang berpidato di London Library pada 1857 dengan sangat meyakinkan dan berapi-api. 

Pidatonya menyihir para filolog dan ahli statistik yang mendengarnya. Keyakinan bahwa imperium sebesar Inggris membutuhkan kunci-kunci baru bagi peradaban mereka yang pernah menguasai banyak bangsa-bangsa di dunia.

Sebagaimana Trench, para filolog dan banyak filusuf Inggris di zaman itu meyakini bahwa kunci utama untuk menguasai dunia adalah dengan menguasai alam pikiran masyarakat dunia melalui bahasa.

Dengan demikian, Trench melalui pidatonya menyampaikan bahwa dunia membutuhkan suatu kamus yang merekam seluruh bahasa yang pernah dipakai dalam rentang waktu sejarah manusia.

Tentang kamus itu, harus dibangun di atas suatu bahasa standar. Ia merekam seluruh jejak historis penggunaan suatu kata tentang kapan pertama kali kata itu ditulis dalam bahasa Inggris, masing-masing arti kata sampai pada tanggal perubahan penggunaan kata tersebut.

Tapi memang gagasan sebesar itu tak serta-merta dapat ditampung logika zamannya. Baru setelah 20 tahun sejak pidato Trench, gagasan itu dapat terealisasikan di bawah James Murray.

Murray sendiri adalah seseorang yang menawarkan diri untuk mengambil tugas besar tersebut. Para akademisi Oxford menjemput Murray dan mewawancarainya. Di dalam wawancara tersebut, terjadi perdebatan karena secara personal Murray sangat meragukan. Ia bukan seseorang yang merasakan bangku sekolah—ia putus sekolah sejak umur 14 tahun.

Murray mengatakan di tengah perdebatan para akademisi bahwa ia adalah seorang pekerja yang gigih dan menguasai bahasa Prancis, Spanyol, Catalan, Latin, Portugis, Voudouis, German, Denmark, Belanda, Italia, Aramaik, Arab, Koptik, Ibrani, Rusia, dan bahasa Celtic. Murray sangat percaya diri bahwa dengan kemampuan berbahasanya, ia mampu mendeteksi setiap kata yang pernah digunakan dalam bahasa Inggris.

Pada 26 April 1978, Murray resmi diangkat sebagai editor resmi English Oxford Dictionary.

Ia memulai kerja-kerjanya dengan membentuk tim yang berisi beberapa orang dengan seorang Asisten. Tim ini diperuntukkan agar kata demi kata dari A sampai Z dapat dikelompokkan ke dalam satuan-satuan tertentu. Dengan kelihaian, kegigihan serta kemampuannya berbahasa, ia mengalami kemandegan di tahun-tahun awal tim ini dibentuk.

Akhirnya Murray mencetuskan idenya untuk mengirim surat kepada seluruh masyarakat bahkan, di negara-negara koloni Inggris, untuk dapat membantu kerjanya dengan kesukarelawanan. Ia meminta masyarakat membaca buku apa pun dan mencari kata-kata yang diinginkan lengkap dengan kutipan yang mereka dapatkan serta arti kata tersebut dalam hubungannya dengan aktivitas dan profesi mereka sehari-hari.

Dalam usaha keras meyakinkan seluruh masyarakat bahwa apa yang sedang dikerjakan Murray adalah suatu kerja peradaban, ia dipertemukan dengan sang "Madman". Seorang mantan perwira menengah angkatan darat Amerika yang menderita gangguan jiwa, yang juga adalah pasien dari RSJ broadmoor di Crowthorne. Dialah Dr. William Chester Minor.

Minor sendiri berkontribusi untuk lebih dari 10 ribu kata plus definisinya. Kondisi kejiwaannya yang labil malah membuat kerja-kerjanya makin maksimal.

Kerja sama ini membuka jalan-jalan yang tadinya buntu bagi Murray. Sebelum meninggal, Murray sempat menyelamatkan Minor dari kemungkinan terjebak selamanya di RSJ. Murray berkomunikasi dengan Churchill yang memiliki peto sendiri bagi keputusan politik dan yudisial di Inggris kala itu. Akhirnya Minor dikembalikan ke Amerika dan Murray berhasil menyelesaikan English Oxford Dictionary sampai ke huruf T.

Kini, kamus itu memuat lebih dari 3,5 juta kutipan yang berakar pada karya sastra klasik, terbitan berseri sampai pada resep makanan. Satu setengah abad lebih, kamus itu telah berkontribusi memberikan pemahaman kepada dunia tentang bagaimana suatu kata berkembang setiap waktu dan dari mana kata tersebut berasal lengkap dengan variasinya di seluruh dunia.

Keunikan English Oxford Dictionary ini adalah ia mencatat setiap suku kata berdasarkan sejarah dan konteks dari kata tersebut sejak seribu tahun sebelum kamus itu ditulis.

***

Bagaimana Perpres 69 tahun 2019 tentang penggunaan bahasa Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai tonggak awal berdirinya bangunan kesusastraan kita?

Indonesia, sebagaimana yang mafhum diketahui bukan memiliki akar sejarah yang tua. Tanah subur ini dulunya disebut dengan Nusantara. Bahasanya sendiri berasal dari bahasa Melayu. Namun setiap kata yang hari ini kita gunakan, memiliki akar sejarah dan muasal yang entah dari mana.

Sebagai peradaban tua yang pernah berjaya, Nusantara melalui Indonesia harusnya memiliki keinginan untuk membangun peradaban bahasa yang megah. Kemegahan dan keragaman budaya butuh direkam ke dalam suatu daftar ensiklopedis yang jauh lebih mutakhir dari English Oxford university.

Perpres ini tak boleh menjadi seremonial semata bagi penamaan gedung dan tempat tempat dimana bahasa Indonesia digunakan. Apalagi membenarkan para penghujat yang mengatakan bahwa ini adalah alibi untuk Presiden agar dapat berbahasa Indonesia di forum internasional.

Penulis sendiri berkeyakinan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam forum Internasional adalah kemuliaan bagi bangsa ini. Dunia harus belajar menerjemahkan "bahasa" untuk mengetahui dan memahami bahwa Indonesia yang ragam adalah agency bagi perdamaian dunia yang berakar bukan pada militerisme, tapi melalui peradaban akal-pikiran.

Dengan demikian, Pancasila sebagai prinsip yang mempersatukan kita sebagai bangsa menjadi terbuka untuk dimaknai dan diterima dunia.

***

Sejarah dunia adalah sejarah kata-kata.