9 bulan lalu · 232 view · 2 menit baca · Sosok 81697_43489.jpg
religionnews.com

Henri Nouwen: Kembali ke Titik Nol

Perkenalan saya dengan Henri Nouwen dimulai ketika saya membaca buku Labirin Kehidupan terbitan BPK Gunung Mulia, yang ditulis oleh Joas Adiprasetya. Adiprasetya adalah pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta yang mendapatkan gelar doktor di Boston University. 

Dalam buku tersebut, Adiprasetya menuliskan mengenai perjalanan hidup Nouwen. Nouwen adalah seorang penulis buku spiritual Kristen yang mengajar di Harvard University dan Yale University. Yang menarik, pada akhirnya Nouwen meninggalkan kampus tersebut. Ia lebih memilih bergabung dengan komunitas yang peduli terhadap kaum disabilitas. 

Di tempat itulah Nouwen bertemu Adam, seseorang yang tidak mampu berbuat banyak, sehingga Nouwen harus menggantikan peran itu: termasuk memandikan dan menggantikan pakaian. Dalam tulisannya, Adiprasetya mengatakan bahwa dari Adam Nouwen bisa belajar banyak hal.

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa Harvard University adalah sebuah tempat impian bagi semua orang. Jangankan menjadi pengajar seperti Nouwen, menjadi mahasiswa Harvard, sepertinya sudah menjanjikan masa depan yang cerah. Kampus ini bergengsi dan terkenal. 

Tetapi sebaliknya, Nouwen, seperti yang tertuang dalam bukunya yang berjudul Letters On The Spiritual Life yang sesungguhnya adalah kumpulan surat-suratnya, telah merasakan “kegelisahan” hatinya ketika ia  berada di Harvard. Hatinya tak tenang. Pada akhirnya, kegelisahan itu terjawab, ketika Nouwen memutuskan untuk bergabung dengan L’Arche Daybreak di Ontario, Kanada. Tempat ia bertemu dengan Adam. Menarik, tetapi mungkin keputusan yang aneh bagi sebagian orang.

Saya adalah salah satu orang yang berpikir bahwa langkah tersebut sepertinya aneh. Tetapi ketika saya mencoba memikirkan kembali, saya berkesimpulan bahwa ketika langkah ini diambilnya, Nouwen sudah menjadi pribadi yang telah lulus dengan dirinya sendiri.

Ia bukan mencari kedudukan, apalagi kekayaan. Baginya, hidup adalah memberi makna bagi orang lain. Hidupnya adalah sebuah aksi yang nyata, dan bukan hanya sekadar diksi-diksi yang manis didengar. Ia telah kembali ke titik nol, titik di mana ia merasa bahwa apa yang ia punya dan lakukan, semata-mata hanya pemberian Sang Kekal.

Sebagai manusia yang hidup di zaman sekarang, agak sulit memang membayangkan langkah yang diambil oleh Nouwen. Kita hidup di zaman yang memuja pencapaian. Pencapaian seolah-olah adalah penentu apa dan siapa manusia. Sehingga, tak jarang banyak orang yang mengejar pencapaian, demi mendapat “tepuk sorai” dari orang lain. 

Segala upaya dilakukan apa pun resikonya. Yang menyedihkan, banyak cara yang kurang manusiawi akhirnya ditempuh. Bahkan, jika orang lain harus menjadi korban, sama sekali tak dianggap masalah. Terpenting dari semuanya itu adalah sukses. Punya banyak uang. Pengakuan. Lalu, ironisnya, ketika semuanya itu hilang, manusia mengalami keputusasaan. Merasa tak berarti.

Seharusnya, sama seperti Nouwen, kita harus mengubah pola pikir kita. Pekerjaan apa pun yang kita lakukan, kita lakukan karena kita mencintai pekerjaan tersebut, dan darinya kita dapat memberi makna bagi orang lain. Bukan lagi hanya mengejar kepuasan sendiri, tetapi juga memberi ruang dan arti bagi hidup orang lain. Hidup, memang harus digerakan oleh visi yang murni dan tidak merugikan orang lain. Seorang tukang parkir, bekerja karena ingin menolong orang lain. Seorang guru, mengajar karena ingin orang lain berhasil. Anggota Dewan yang terhormat, bekerja karena ingin menolong masyarakat.  

Saya tidak ingin memaksa bahwa hidup kita harus sama seperti Nouwen. Tetapi, setidaknya, sedari sekarang perlu untuk bertanya pada diri sendiri, “apa tujuan hidup saya?” Bila hanya ingin mendapatkan uang, kedudukan, dan kehormatan dengan cara yang tidak baik, lebih baik kita bertanya lagi. Masih ada hidup yang jauh lebih menarik.

Artikel Terkait