Nandur pari mesti ngunduh pari (menanam padi pasti menuai padi).

Suatu saat nanti pasti ada penyesalan luar biasa sebab anggapan "kesempurnaan" itu. Kesempurnaan yang kau gunakan untuk menertawakan dan merasa "lebih" dari yang lain.

Kenapa menggunakan mulut yang begitu mulia untuk menertawakan kesakitan orang lain? Apakah kau sudah "kebal" dari rasa sakit seperti yang kualami? Andai saja kau memikirkan ini.

Orang yang kesakitan parah tidak pernah meminta rasa sakit itu. Aku yang berjuang sekuat mungkin melawan penyakitku harus berjuang ganda melawan tertawaan orang lain. Kenapa dia menertawakanku, bukankah aku tidak mengganggu hidupnya? Entahlah.

Makan pun aku tidak minta orang lain. Tapi, kebanyakan orang sekarang seolah berprofesi "hakim" saja. Serba-merasa tahu!

Dalam keheningan malam, aku menyesapi kesakitanku demikian nikmat. Kusemogakan agar mereka merasakan apa yang saat ini kurasakan. Apakah aku jahat? Tidak! Aku hanya ingin bersikap adil, bahwa 'yang menanam padi harus menuai padi' pula.

Ya Tuhan, alangkah pedihnya merasakan semua ini. Jika Engkau saja selalu menghiburku, maka mengapa mereka malah melempariku batu? Bukankah aku hanya memerankan peran dari-Mu Tuhan?

Sebenarnya, aku tidak masalah dengan keadaan seseorang atau "peran"-nya dalam hidup ini. Jika dia memerankan kesempurnaan, aku tidak iri sama sekali. Namun, satu hal yang membuat kemarahanku mengakar kuat-kuat; dia mencampuri kehidupanku.

Aku marah, Tuhan! Izinkan aku dalam keheningan ini menyumpah-serapahi kelakuan ciptaan-Mu yang lain. Aku tahu, posisiku sama seperti siapa saja di dunia ini. Kau tidak akan pilih kasih, Kau menyayangiku dan menyayanginya (yang menertawakanku).

Aku tidak ada keistimewaan apa-apa yang bisa membujuk-Mu untuk membuatnya merasakan keadaanku. Maka, izinkanlah aku memaki-maki dia sepuas hatiku dalam keheningan ini, agar lelap sudah tidurku nanti. Setidaknya, segala yang dilakukan mereka tidak akan terbawa mimpi yang akan terngiang-ngiang.

Pada akhirnya, Tuhan selalu menyenangkan hatiku. Tuhan selalu menghiburku dengan kasih-Nya yang tiada terputus. Aku selalu merasa Dia mengelus rambutku dengan lembut, memelukku dengan erat, dan menghapus air mataku seraya bersenandung merdu:

"Jangan sedih, sayang! Kau selalu punya Aku untuk berkeluh kesah. Jangan menyerah dengan keadaan! Tiap napas yang kau hirup adalah bukti kasih sayang-Ku untukmu. Kau bisa bersender kapan saja dipundak-Ku.

Jangan pedulikan orang lain itu, sebab kau dilahirkan ke dunia ini sendiri dan akan dikuburkan seorang diri. Jangan meratapi sakitmu! Aku akan mengobatimu jika saatnya sudah tiba. Sabarlah dulu,  semua sudah Kuatur dengan indah."

Sungguh, aku selalu mendengar Dia menghiburku begitu. Dan, menyadarkanku bahwa satu detik ke depan pun tiada tahu aku masih hidup atau tidak. Semua benar-benar terjadi atas izin-Nya, pun segala sakit yang kuderita.

Aku merasakan kasih yang luar biasa menusuk dari Penciptaku. Dia mengajari untuk hidup berserah diri seberserah-berserahnya, sepasrah-pasrahnya. Hingga melangkahkan kaki begitu ringan, karena tidak ada ketakutan lagi jika sewaktu-waktu aku harus "kembali".

Hidup begitu indah, ketika aku merasa esok hari bukanlah milikku. Tidak seperti yang sudah-sudah, aku sangat sombong mentari pasti masih menyinariku. Saat ini, keangkuhanku padam tiada bersisa, ternyata 'kematian tidak menunggu usia senja'.

Dalam hening, aku merasa sangat ramai oleh hiburan Tuhan secara langsung ini. Bahwa, aku tidak perlu iri dengan kesempurnaan yang bisa ditinggal tetiba mungkin. Dengan ketidaksempurnaanku, aku semakin tiada beban meninggalkan dunia ini kapan saja.

Bagaimana aku takut mati, sedangkan umurku sudah terukur pasti? Aku tersenyum menikmati tiap detik dalam sejuknya keheningan. Tidak ingin rasanya waktu yang singkat ini sia-sia. Mau disyukuri atau disesali, jangka hidup tidak berubah. Jadi, kusyukuri saja segala yang menjadi bagianku.

Apa-apa yang ditakdirkan untukku, pasti sampai ke tanganku. Kemudahan dan kesembuhan pasti datang, jika memang sudah disiapkan untukku. Segala penyakit pasti ada obatnya, jika pun tidak, kematian itulah obatnya.

Lalu, apakah obatku 'kematian'? Belum tentu! Tuhan sudah bercerita kepadaku bahwa aku akan menikmati hidup ini seperti yang kuimpikan dan segala rasa sakit ini sebagai bekal berguna 'entah untuk apa'. Tuhan tidak memberi kelanjutan ceritanya meski telah kudesak.

Bagaimana bisa mendengarkan Tuhan bercerita kepadamu? Heningkanlah hatimu sejenak, maka cerita dari Tuhan akan menembus keramaian dunia ini. Seperti yang terjadi kepadaku, aku tidak akan ketakutan melangkahkan kaki ke mana saja. Seperti apa pun keadaanku, aku tetap merasa berarti di dunia ini.

Posisi semua manusia sama. Tuhan sama-sama mengasihi kita, tidak peduli penuh dosa atau tidak, Dia selalu menerima keadaan kita. Jangan terlalu memikirkan perihal seberapa banyak dosa kita, hanya Dia Yang Mahatahu. Tuhan pun selalu rindu bercerita dengan ciptaan-Nya.

Dari keheningan, aku belajar memaafkan segala yang menyakitkan hatiku tanpa harus membalas. Meski aku tetap ingin mengutuki kelakuan mereka, itu hanya untuk melegakan hatiku semata. Tidak untuk membalas menertawakan kesakitan mereka jika suatu saat Tuhan berlaku adil, karena aku sudah tahu rasanya ditertawakan itu seperti apa.

Hening, tapi ramai akan makna dari Tuhan agar tidak "melangit". Bagaimana bisa aku melangit, sedang tanah selalu merindukanku? Sembah sujudku, Tuhan.