“Hoooh. Barusan saya sudah gerak badan, Pak RT.” Yudi menepuk-nepuk dadanya sendiri.

Pagi

Olah raga ringan

Akhir pekan baru saja memulai hari. Perjalanan detak jam dinding yang menggantung di tembok putih sebelah barat ruangan tamu seolah menjadi mayoret barisan foton-foton energi matahari penebar kehangatan dalam bumi.

Cahaya menyemburat mulai jingga kemerahan, lama-lama kuning menyilaukan, lalu perlahan memudar pelan-pelan berganti biru memenuhi langit bagai kanvas lukisan yang begitu besar.

Gumpalan awan putih berserakan tak beraturan, di permukaan kanvas langit. Terlihat seperti menggantung, jemari tangan gemas memetik awan-awan putih, laksana kapas.

Angan Yudi sedang memetik kapas sontak buyar, ada orang mengetuk pintu depan.

Tok tok tok!

“Assalaamu’alaikuum, kulo nuwun.” Suara Edi, sang Pak ketua Rukun Tetangga, RT, yang kebapakan dan dihormati banyak kalangan.

“Wa’alaikum Salam. Lho ya Pak RT. Lha monggo sini pinarak.” Yudi menyambut riang.

Lhoalah hari libur cerah anget gini kok nggak olah raga to Pak?”

”Oh iya Pak RT. Olah raga gerak badan gitu?”

Hiya he’eh, ben sehat.”

Hoooh. Barusan saya sudah gerak badan, Pak RT.” Yudi menepuk-nepuk dadanya sendiri.

Lho! Lha kok nggak keliatan tadi? Di mana gerak badannya?”

Lha ini, habis gerak-gerak ngupas mangga.”

Kedua anak manusia itu, lalu melanjutkan bahasan rencana mengaspal jalan.

Obrolan menjadi tambah seru. Karena, selain hangat matahari yang tengah tersenyum menyaksikan, di meja teras depan juga ada sepiring penuh berisi irisan mangga arum manis gadung manalagi, Mangifera indica L.

Sepiring Irisan Mangga Arum Manis Gadung Manalagi itu.



Pok! Tangan Pak Kemis nyampluk pipi Cak Ri, yang berdiri samping kanan.

Siang

Baris berbaris

Jelang siang akhir pekan ini cuaca begitu cerah. Mungkin alam memberi kesempatan bagi manusia agar menikmati hangatnya sinar matahari, sebelum berganti mendung pekar lalu hujan lebat pada sore hari.

Masih seperti tadi pagi, matahari pagi menyapa begitu ramah, menebar hangat. Langit tampak lebih biru. Gumpalan awan berganti ukuran, berpindah tempat bagai kapas betebaran tersapu angin.

Gumpalan Kapas Awan Tersapu Angin Menyibak Langit Biru

Di area taman rumput ujung perumahan, Edi terlihat memberi arahan kepada para petugas keamanan baru.

Ada tiga orang, semua sudah tak muda lagi, namun juga tak terlalu tua menjadi Satpam.

Siyaaaapp! Grak!!” Pekik Edi, lantang berwibawa.

Ketiga Satpam lalu berdiri tegap.

Siyaaaap!! Grak!” Edi mengulangi perintah.

Ketiga Satpam berdiri tambah tegap. Wajah menegang, kena dua kali perintah yang sama.

”Kalian! Masih baru di perumahan ini.”

”Siap!”

”Tugas Satpam tak mudah!”

“Siap!!”

”Pagi, siang, malam, kalian bergiliran jaga!”

”Siap!”

”Kudu waspada tapi tetap ramah!”

“Siap!”

”Sekarang kita latihan baris berbaris biar disiplin.”

“Siap!!”

”Siap tok wis.” Ujar Cak Ri, Satpam paling yunior, dalam hati.

Siyaaap!! Grak!” Perintah sama ketiga.

Ketiganya berdiri tambah tegap. Doyong tertarik ke belakang, ndegeg.

Boyoookk.” Sambat Pak Kemis, tapi dalam hati.

”Lencang kanan! Grak!”

Pok! Tangan Pak Kemis nyampluk pipi kiri Cak Ri, yang berdiri samping kanan.

Atoh! Tangan sampeyan nyampluk saya Pak Mis, Kurang jauh sampeyan.” Keluh Cak Ri mengusap-usap pipi.

”Baris nggak boleh sambat Cak Ri. Kudu diem.” Tukas Pak Kemis yang terhitung paling tua diantara ketiga Satpam.

”Baris gak boleh ngomoong.” Lik Sodik dari tadi diam gemes melihat kedua temannya baris tapi ngobrol terus.

Siyaaapp!!” Edi memekik, suaranya terdengar hampir seluas satu wilayah Rukun Warga, RW.

Ketiga Satpam berdiri tegap lagi, diam.

Naah ini yang bener. Baris itu gak boleh ngomong.” Pak Kemis mengomentari suasana dan kondisi berbaris yang benar.

”Tapi sampeyan ngomong aeee.” Tukas Lik Sodik, ganti geregetan.

”Ini baris cap apa kok pada nguomong semua! Pokok e diem! Siyaaapp!!” Edi mulai ikut geregetan.

Ketiga Satpam lalu berdiri tegap. Berjanji untuk tetap diam, dalam hati.

Kil! Kat! Ji!” Pekik Edi memerintah.

Ketiga Satpam berdiri tetap tegap, tapi bingung. Saling menoleh pelan, lalu berpandangan.

”Ijin bertanya Pak RT! Kil kat ji tuh, apa ‘an?” Pak Kemis paling senior bertanya. Ada sensasi suara mendengung pada bagian ’an.

Hah! Kalian ini. Kil kat ji kok ora ngerti. Kil kat ji, sikil e diangkat sijii.”

Oalaah.” Bertiga Satpam, bergumam serempak, sambil angkat kaki kanan menekuk sepinggang.

”Kayak manuk kuntul yo Pak Mis.” Gumam Lik Sodik.

Lha iya Cak. Apik e metangkring kayak gini bentuk e.” Pak Mis menahan geli.

Sssttt. Baris gak boleh ngomoong.” Cak Ri berbisik mengingatkan.

Maa juuj. Jal laan!” Tegas Edi memberi perintah pada ketiga Satpam, yang sedang mengangkat satu kaki.

Ketiga Satpam pun berjalan melompat-lompat satu kaki, kayak sedang bermain ingkling.

‘Breg! Breg! Breg! Breg! Breg! Breg!’ Begitu derap langkah ingkling, gema suaranya tertahan oleh rerumputan.

Brentiii! Grak!”

Breg!’ Serempak berhenti. Bertiga mereka para Satpam berdiri agak geloyoran.

”Ini lho baris model oapaaa, ini?!  Maju jalan kok malah ingkling?!” Edi protes keras pada ketiga Satpam. Kedua tangan Edi berkacak pinggang.

Siyap! Tadi gak ada perintah turun kaki Pak!” Lik Sodik beralasan.

Lha saya lupa kok gak diingetin?!”

Lha katanya baris gak boleh ngomoong.” Kali ini Cak Ri yang paling muda ganti mengingatkan Edi.

Halah! Ini semua kita salah. Hayo pada pus aap!” Edi mengambil posisi push up hendak memberi teladan.

”Hayo diitung. Satu! Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam!” Semua peserta latihan baris berbaris, push up bebarengan.

Hitungan kesepuluh mulai muncul bunyi desah ngos-ngosan.

Lho! Pak Kemis! Pus ap itu naik turun dadanya. Sampeyan kok cuman pinggulnya yang munggah mudun?” Edi yang sejak hitungan ketiga, diam-diam memang sudah berdiri mengamati.

Selama satu jam mereka berempat belajar baris berbaris sebisanya. Biar pada disiplin menjaga lingkungan warga. Sebuah kawasan hunian perumahan mewah, di wilayah satelit Ibu Kota.

Mewah, singkatan dari mepet sawah.

Hamparan Sawah Menguning Persis di Sebelah Utara Perumahan Tempat Edi Menghuni.

Setelah itu Edi mengajak mereka bertiga, para Satpam pilihan the best of the worst, untuk menikmati pisang goreng di warung kopi Mak Pah.

Lelah berbaris, terbayar sudah.

Hmm?! Hhmmm?!... Hmm?!” Perintah Edi sambil mengulum pisang goreng.

Hmm! Hm!!” Serempak jawaban Satpam bertiga, sambil mingkem.

Maksud deretan kata “Hmm” tersebut, adalah sebagai berikut;

Piye? Pisgor e enak? Mau nambah?”

Manut!

Oh. Buah ketelatenan dan keriangan pun membuat pilihan terbaik dari yang terburuk, masih punya kesempatan menjadi pilihan terbaik dari yang terbaik.

Pisang Raja Goreng Sajian Pelepas Penat, Penumbuh Semangat.



Edi dapat ide, agak berteriak nyaring; “Permisii!. Pakeett!”

Sore

Ngopi Susu

Menjelang sore, hujan deras sempat mengguyur perumahan. Tak seorang pun mengeluh karena memaklumi alam saat musim penghujan. 

Hawa sejuk berkat tebaran plasma air hujan yang melemahkan aktivitas segala kuman. Aroma tanah rerumputan yang tertabur air, menambah kesegaran yang memikat, sehabis hujan.

Tok tok tok! Suara pintu depan lagi-lagi diketuk orang.

Orang itu Edi namanya, sang Pak RT. Tak pernah bosan dia bertamu ke rumah sahabatnya, Yudi.

“Assalaamu'alaikuum.” Edi mulai menyapa, di luar pintu rumah.

Tak ada sahutan dari dalam rumah.

“Assalaamu'alaikuum....” Edi mengulangi, suaranya agak meninggi.

Masih hening.

“Assalaamu'alaikuum....” Kali ini suara Edi benar-benar meninggi.

Tak bergeming si empunya rumah.

Edi dapat ide, agak berteriak nyaring; “Permisii!. Pakeett!”

Lhak! Pintu terbuka. Yudi keluar rumah penuh harap.

Lhooalah, Pak RT to. Wa’alaikum Salam. Lha, monggo mlebet.” Yudi sontak kikuk, tak menyangka Pak RT-nya, punya ide brilian.

Diuluk salam tiga kali nggak keluar. Diteriakin paket kok langsung mencungul to Paak, Pak, sampeyan niki wis jan og.”

Hiiya maap Pak RT... Ngga denger tadi. Gimana Pak RT, bisa dibantu?” Raut muka Yudi ingah ingih, klejingan.

“Sore-sore gini hawa seger. Enaknya olah raga ini mas e. Yuk badminton.”

Woooh. Kalo olah raga saya ini nggak pernah setop Pak RT.”

Woh hoo iya? Gerak badan apalagi barusan? Ngupas mangga lagi?”

“Lho, bukan. Ini barusan saya gerak anggota badan yang lain Pak RT.” Jawab Yudi, sambil mengacungkan jempol tangan kanannya. Mata sebelah kanannya berkedip.

Juga, Yudi mengadu ujung lidah dengan langit-langit mulut bagian depan, sampai berbunyi pelan, “Ceq!

“Nah! Mbok gitu. Gerak badan yang mana tadi?” Tanya Edi lagi.

“Saya barusan kunyah-kunyah singkong kukus yang digoreng lagi, Pak RT. Gimana?”

Edi terdiam, terpana sejenak.

Lhah! Cocok iki. Yo wis tak duduk dulu, kayak mana to? Singkong kukus gorengnya?” Tukas Edi setelah berdiam diri tak lama.

Wis jan sip pokoknya Pak RT. Hitz!” Yudi membalik badan, hendak mengambil singkong kukus goreng, meninggalkan Edi yang tengah manggut-manggut pelan, kebapakan.

Tapi! Tiba-tiba Yudi ingat satu hal. Dia berbalik badan lagi, menghadap Edi.

“Oh iya! ... Pak RT mau ngersakaken ngunjuk apa?”

“Mau teh?” Tanya Yudi sambil memiringkan jempol tangan kanan, ke arah kanan.

“Atau kopi?” Imbuh Yudi yang ganti memiringkan jempol tangan kiri, ke arah kiri.

“Atau?” Yudi mengangkat telunjuk kanan memberi isyarat agar menunggu sebentar.

Sus? Suuu?!” Yudi lalu membungkuk, sambil menggoyang-goyang dadanya.

Halah kok jadi ngrepoti. Kopi...” Tukas Edi. Jempol kanannya miring ke kiri, sambil menggoyang-goyang dada. Sebagai isyarat dia minta dibikinin kopi susu.

Ooo ancene RT geleman...” Gumam Yudi dalam hati, balik badan lagi.

Dua orang saling bersahabat dalam satu area perumahan itu pun lalu bercengkerama, membahas perkembangan dunia badminton tanah air, berhias melodi kriuk singkong kukus goreng dan seruputan kopi susu.

Secangkir Kopi Susu Bersanding Singkong Kukus yang Digoreng Lagi.



Galak gampil istilahnya, tadinya seolah galak, pas lebaran menjadi ramah, mudah, gampang, gampil.

Petang

Nyawug Jajan

Barusan, Yudi berkunjung ke rumah ketua RT di perumahan tempatnya tinggal. Berlebaran, bersua Edi dan Istri memohon maaf atas segala khilaf, perbuatan, tutur kata, kalimat tulisan pesan yang mungkin kurang berkenan.

Asyik ngobrol ke sana kemari, topik demi topik sambung menyambung, hingga keluar melenceng jauh dari jalur topik bahasan pertama.

Pertama tentang fenomena cegatan mudik, bablas sampai cara bikin Madu Mongso dan Kuping Gajah.

Sebagai wanita nomor satu dilingkungan RT, Istri Edi ternyata sangatlah ramah. Sekali terpancing satu omongan, langsung mendominasi pembicaraan. Apalagi jika perbicangan mengarah urusan dapur.

Baru saja Yudi bilang, ”Oh ada lagi Bu RT, yang namanya Mad...

Istri Edi langsung menyahut, ”Du Mongso kan? Iya, tau gak? Kenapa dinamakan Mongso? Soalnya bikinnya tak setiap hari. Tapi kala-kala tertentu kayak pas hari raya. Mangkanya dinamain Mongso yang artinya musim.”

Tak lama berhenti, belum memberi kesempatan lawan bicara menarik napas buat berkata-kata, langsung Istri Edi menimpali, “Terus? Kenapa dinamain Madu? Hayo? Soal e ya ... bla bla bla bla bla.”

Suasana perbincangan pun menjadi reka adegan berwujud suara yang pelan-pelan melirih, lalu memudar, fade away. Hanya menyisakan gambaran kehangatan pertemuan berlebaran mereka bertiga.

 “Ngecipris cicit cuit terus! Suwi-suwi tak cokot lambe mu lho Buk.” Edi hanya berani berkata-kata dalam hati. Gemas demi melihat Istri tercintanya begitu riang merangkai kalimat dan kata.

Akrab suasana berlebaran, dari yang tadinya agak kikuk menjadi grapyak bersahabat.

Galak gampil istilahnya, tadinya seolah galak, pas lebaran menjadi ramah, mudah, gampang, gampil.

Saking kikuknya, pertama kali bertamu ke rumah ketua RT, pas ada Istrinya juga, membuat Yudi sampai terheran-heran kenapa kacang mede yang dia ambil tak pernah bisa masuk ke mulutnya.

Oh! Ternyata Yudi lupa membuka masker penutup mulut hidungnya. Kelupaan saking kikuknya.

Hendak berpamitan pulang, Yudi diijinkan untuk mengambil beberapa cemilan suguhan lebaran yang dia minati. Ya sudah, akhirnya dia nyawug jajan lebaran sedapat mungkin. Karena diameter bukaan toples wadah jajannya kecil, jadi agak susah dimasukin jari jemari.

Paling banter nyawug dapat 3 jajan. Mau ditumpahin ke meja tamu terus ditadahin kertas tisu kok kesannya gimana.

Tapi, Yudi punya strategi dan cara. Dia mengajak Edi berdiskusi tentang peta kawasan siskamling. Selembar tisu makanan dia bentangkan di atas meja tamu, di samping toples-toples jananan lebaran.

“Jadi Pak RT, misalnya nih, nanti orang-orang masuknya liwat gang ini." Yudi membuka topik bahasan, kacang mede dituangnya ke atas tisu.

“Terus orang-orang perumahan sebelah, lewatnya pintu gang ini." Sambung Yudi lagi. Kini giliran Suwar-Suwir di taruh satu per satu, menggambarkan letak pintu-pintu gerbang gang perumahan.

“Terus, satpam-satpam kita yang hanya segelintir ada di sini, sini, sini, sini daaan situ." Yudi menebar beberapa butir Madu Mongso, mencoba memberi gambaran letak strategis petugas keamanan lingkungan perumahan.

"Kalo begini peta keamanannya berarti sayaa setuju Pak RT." Yudi bermaksud menarik kesimpulan.

“Bener Pak e, setuju saya sama mas Yudi ini. Itu pintu gerbang sisi utara sama selatan juga bisa ditambah palang portal.” Tambah Istri Edi, menambah dua batang Suwar-Suwir lagi di sisi utara dan selatan pada peta tisu.

Tak menunggu lama respon Edi yang masih termangu memandang hamparan peta tisu berisi aneka jajan, Yudi lantas minta pamit pulang. Tisu penuh jajan lebaran pun dibungkus serta, dibawa pulang penuh hati-hati dalam genggaman.

Pulang melangkah senang, hati Yudi sangat lega riang karena sudah saling memaafkan dihari lebaran.

Hamparan Tisu Peta Perumahan Bertabur Aneka Jajanan Lebaran.



"Gigi Drakula tajem-tajem." Tetiba mas Cemoe memotong pembicaraan.

Malam 

Obrolan Tenda Cemoe

Cahaya bulan sabit tipis bagai alis perempuan belum beranjak terlalu ke tengah malam. Sebuah obrolan agak mencekam, di sebuah kedai gerobak tenda penyedia wedang Cemoe dan kudapan Ote-ote, sehabis hujan

Dalam hening cuaca dingin, Yudi tengah duduk melamun sendiri, menunggu sajian semangkok Cemoe pesanan.

Masih belum tuntas lamunan, tiba-tiba Yudi merasa pundak bagian kanan atasnya, dijawil seseorang.

Merasa demikian, Yudi ingat rumus bersosial pertemanan yang jika dijawil sebelah kanan, maka mesti orang yang iseng tengah berdiri di sebelah kiri. Dia pun lantas menoleh ke kiri.

Jreng!

Betapa wajah yang Yudi sangat familiar mengenalnya. Wajah Edi sang Pak RT yang disayangi semua warga.

"Eeh. Pak RT! Lho kok njanur gunung malam-malam gini mlipir tenda Cemoe?"

"He he, iya. Ini tadi saya barusan ngambil afdrek foto empat kali enam, buat besok diserahin ke Pak Lurah.” Mengambil posisi nyaman di bangku panjang, Edi menaruh kacamatanya ke atas meja gerobak Cemoe.

“Lihat sepeda sampeyan njogrok di luar tenda, kok mendadak sepeda saya maunya mlipir ngiri ke sini." Sambung Edi, kedua tangannya ikut bergerak ke arah kiri.

"Wah, ndaftar apa ini Pak RT, kok sampai Lurah segala macem?"

"Iyaa, ini saya niat mau ndaftar calon ketua RW."

"Hwalah muantab. Saya dukung Pak RT." Yudi memberi salam tos.

"He he iya iya. Nanti, saya dibantu ya. He he he.” Edi sumringah, kedua matanya berkejap-kejap.

"Siaap Pak RT. Mas! Cemoenya nambah satu. Eh, Pak RT mau wedang Cemoe apa es kacang ijo?"

"Lho, ya wong namanya dingin gini ya yang anget-anget to. He he he." Terdapat tekanan nada yang menandakan kelegaan Edi, dalam ungkapan tawa ringan 'He he he'.

Mas Cemoe meski pendiam, orangnya sigap cekatan. Wajah mudanya terlihat lurus cenderung kaku.

Dua mangkok wedang Cemoe telah dihidangkan di atas meja gerobak, tepat di hadapan Pak RT dan saya.

Segera saja kami menyeruput wedang beraroma paduan santan dan jahe ini pelan-pelan. Sedikit demi sedikit, hawa dingin yang sedari tadi hinggap pun terbang melayang.

Wedang Cemoe sangat mirip wedang Angsle. Hanya saja, isiannya cukup minimalis. Cukup irisan persegi panjang roti tawar dan taburan gorengan kacang.

Semangkok Wedang Cemoe Bersanding Aneka Kudapan Ringan.

"Pak RT." Suara Yudi mulai memecah kesunyian.

"Pripun?" Jawab Edi sekaligus bertanya, tanpa berpaling dari mangkok Cemoe.

"Saya mendengar warga mulai resah."

"Kenapa? Uhuk uhuk..." Edi batuk-batuk tersedak ringan. Seruputan kuah Cemoe terlalu kencang, sambil berbincang.

"Iya Pak RT, kabar burung kehadiran Drakula pas tengah malam membuat banyak warga ketakutan." Sambung Yudi melanjutkan.

"Oh! Apalagi itu?"

Sekilas wajah mas Cemoe mulai terlihat waspada, demi mendengar kata ‘Drakula’.

"Drakula Pak RT, yang suka terbang malam-malam terus hinggap menghisap darah manusia."

"Halah... Muosok! Drakula mau menghisap darah itu loh, lewat manaa?" Kata Edi sambil tetap tekun menyeruput kuah Cemoe sampai bersuara 'Sruuuuutt'. Kencang sekali bunyinya.

"Lho! ... Bisa lewat leher atau mbun-mbunan mangsanya, Pak RT." Yudi larut dalam suasana, ikut-ikutan seruput Cemoe. Bunyinya lebih nyaring.

"Lha kok bisa? Pakai apaa?"

"Gigi Drakula tajem-tajem." Tetiba mas Cemoe memotong pembicaraan.

Edi dan Yudi terkesiap, tak menyangka mas Cemoe angkat bicara.

"Pernah lihat Drakula, mas?" tanya Edi, menatap tajam wajah mas Cemoe.

"Belum." Jawab mas Cemoe singkat. Wajahnya tetap lurus.

Edi dan Yudi lalu saling memandang. Di luar tenda, lengking suara jangkrik tambah nyaring berbunyi, ‘krik krik krik’.

"Lha iya, Drakula itu kok pinter milih leher manusia. Bagian daging empuk, tak bertulang." Tukas Edi sambil menepuk leher kanannya. Ada jingklong hinggap menghisap sekian mililiter darah punya Edi.

"Lho? Memangnya Pak RT gak takut kalo ketemu Drakula?"

"Wohoo! Saya sudah kenyang asem garem kehidupan gini kok takut sama Drakula. Aapa itu?"

"Wih!  Hebat e Pak RT." Yudi berbinar takjub.

"Inggih Pak RT hebat e." Timpal mas Cemoe. Kali ini satu senyuman mulai tersungging di wajahnya. Kurang lebih selebar satu senti meteran di tepi kedua sudut bibirnya.

Kami pun memiringkan masing-masing mangkok, pertanda isi Cemoe hampir habis. Suara sendok mulai nyaring berdenting pertanda tandas kuah Cemoe yang manis.

"Pokok e ya, kalo Drakula itu berani datang?!" Ujar Edi sambil mengacungkan telunjuk kanan. Suaranya terdengar begitu dalam, paduan getaran suara dengan basahnya kerongkongan.

Mendengar suara berwibawa yang demikian, membuat mas Cemoe dan Yudi siaga mendengar kelanjutan ucapan Edi, penuh tegang.

"Kalo Drakula datang?! … Ya kita lari sama-sama." Edi memberi konklusi.

Tanpa bicara, Yudi segera menyerahkan mangkok kosong ke mas Cemoe.

Si mas Cemoe juga langsung melompat berdiri dari kursi tempat duduknya, siap-siap kukutan gulung tenda, beresin gerobak.

Edi juga begitu, buru-buru mau ikutan bubar.

Bertiga, mereka mendadak panik!

"Mas Yud. Anu e, tadi saya pas gak bawa uang e." Iba Edi sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal.

"Ooo … Ancene koen selawase gak tau nggowo." Ucap Yudi dalam hati.

Kehangatan Cemoe pun membantu kami tetap waspada selama mengayuh sepeda. Cepat-cepat menuju pulang menerobos senyapnya malam.



”Berani lah. Wong anaknya juga belum tak apa apain. Paling tak minta tolong foto kopi, bikin kopi, sama belajar bilang Papi.” Senyum Edi mulai nakal…

Pagi Lagi

Curhat Jemblem 4x6

Setelah kejadian malam mencekam sepulang pembahasan tentang Drakula di warung tenda Cemoe malam tadi, ternyata alam masih mempertemukan kembali Edi dan Yudi.

Kali ini, Lik Sodik, Satpam yang bertugas shift pagi, turut memeriahkan, menemani.

Ayam jago baru saja menyuarakan nyanyian menyambut pagi, matahari pun masih terlihat enggan segera menampakkan cahaya terangnya.

Yudi merasa hangat, karena sehabis subuhan, dia melaksanakan janji untuk mulai rajin menggerakkan tubuhnya. Tak lagi sekedar mengupas mangga ataupun mengunyah singkong kukus goreng saja.

Pagi ini Yudi mulai berjalan kaki. Bukan jalan kaki santai, tapi ngoyo cenderung ngeden. Melangkah cepat-cepat. Sudah hampir setengah jam dia mengelilingi lingkungan perumahan. Peluh mulai membasahi kening, sejalan kaki menapak ringan melewati sebuah pos jaga di salah satu gang perumahan.

Tampak sesosok bayangan hinggap di sisi kiri pandangan Yudi yang menatap ke depan. Sekitar lima belasan langkah dia memutuskan untuk mundur lagi, demi memastikan bayangan tadi adalah sosok yang sangat ia kenal.

Benar, Yudi melihat Edi, sang Pak RT yang ia hormati tengah duduk sendiri, di dalam pos Kamling.

“Assalaamu’alaikum, Pak RT.” Sapa Yudi sambil mencari ruang duduk di tembok buk dalam pos yang cukup bersih, muat hingga empat orang itu.

Tak ada jawaban, tatapan Edi menerawang jauh, menembus luar jendela pos Kamling yang berangsur menghangat oleh matahari yang beranjak semakin ke atas.

“Pak RT?! Are you Okey?!” Yudi mencoba gaul menyapa.

Mulai bergerak mengangkat kepala, Edi menghela nafas panjang. Berat terdengar dengusan nafasnya. Dia sedang menghadapi masalah berat rupanya.

“Wa’alaikum Salaam.” Jawab Edi singkat, tak seceria seperti sebelum-sebelumnya.

“Masih pagi gini sudah di pos Kamling, Pak RT? Ada kejadian keamanan apa?” Yudi mencoba membuka pembicaraan, meski ia merasa bukan urusan keamanan yang membuat Edi terlihat begitu sumpek.

 “Sori mas e, semaleman saya nggak bisa tidur. Habis subuh tadi saya sudah ndeprok di pos ini.” Dua kantung kulit terlihat kembung menggantung di bawah kedua mata Edi.

Lho?! Lha Lik Sodik mana Pak?”

“Tadi barusan tak mintain tolong beli sarapan gorengan ke warung Yu Nani.”

Oalaah... Ada problem apa to Pak RT? Ini saya sudah coba ngikuti arahan gerak badan Njenengan. Kok sekarang ada masalah? Ada apa toh Pak?”

Edi memandang lagi ke luar jendela pos kamling. Dia menggelengkan kepala perlahan. Berat rupanya masalah yang mendera.

“Masih ingat pertemuan Cemoe kita semalem?”

”Ingatlah Pak, kita kan sempet panik gara-gara Drakula.”

”Iya, tapi yang sebelum itu.” Tukas Edi.

”Ooh . Nggak usah dipikir lah Pak RT. Orang saya niatnya memang mau nraktir sampeyan kok.” Terlintas dalam benak Yudi, bakal ada urusan bayar utang Cemoe.

Bukaaan. Bukan itu, yang sebelumnya lagi.” Sergah Edi.

Halah lali Pak RT.” Pupus harapan Yudi akan pengembalian dana Cemoe.

”Wah. Sampeyan i mas, mas, kandidat suksesor RT kok lalian. Ingat kan saya habis afdrek foto empat kali enam?”

Haa. Ho’oh ingat saya Pak, yang sepeda sampeyan tak bisa dikendalikan terus maunya nylonong ke tenda Cemoe itu toh? Ingaat saya.”

Haa! Lha ya itu.” Wajah Edi mulai memerah.

”Kenapa foto afdrekannya Pak, ada yang aneh? Atau ada barang alus yang ngikut kefoto?”

”Enggak! Bukan itu masalahnya.”

”Lha gimana?”

”Tak ceritain ya, tapi ini buat kita saja. Nggak usah kemana-mana.” Mimik Edi serius, menengok ke kanan lalu kiri memastikan tak ada orang lain dalam pos Kamling.

Gimana, gimana Pak RT?” Yudi ikutan serius, wajahnya condong mendekat ke arah Edi yang mau berbisik.

”Jadi ya mas, saya itu sebenarnya punya kenalan, anaknya masih muda.”

Loh! Ya?!” Yudi berjingkat, kaget beneran.

Sebentaar... Sudah hampir setahun lalu, mahasiswi mau lulus, magang di tempat saya kerja.” Sinar mata Edi mulai menyala. Kerut di dahinya berubah melebar, mirip bulatan matahari di timur sana yang mulai menyilau.

Huwik Pak RT rek, nggak bilang-bilang!” Pekik Yudi, lupa kalau ini pembicaraan kudu berbisik pelan.

Ssstt!.. Lho mangkanya ini sampeyan tak bilangin.”

”Terus? Terus?”

Yaa terus saya kenalan lah. Wong saya ditunjuk jadi pembimbingnya og.”

Heluk wenak e rek, ayu tah arek e Pak?” Tanya Yudi menggoda biar langsung ke inti bahasan.

He he yo ayu tah... Mirip-mirip Celsi Izlan lah ibarat e.”

”Wih... Cik akehe rejeki sampeyan Pak. Wis bolak balik ditraktir, saiki entuk bimbingan seleb.”

Hush!... Bukan itu! ... Tapi setelah bolak balik ketemu kok dia merasa nyaman deket saya.”

”Nah kan?!... Yo mungkin seneng tipikal kebapakan berambut jarang kayak sampeyan Pak?” Yudi menggoda lagi.

Lha ya itu, saya juga kok nggak bisa mengingkari isi hati saya sendiri”

”Maksud e?”

Arep tak pek bojo itu anaknya.”

Wani tah Pak? Lha Bu RT gimana?” Yudi lalu ingat Bu RT yang satu grup WA sama istrinya.

”Berani lah. Wong anaknya juga belum tak apa-apain. Paling tak minta tolong fotokopi, bikin kopi, sama belajar bilang Papi.” Senyum Edi mulai nakal. Kedua alisnya diangkat-angkat. 

Tuing! Tuing!

”Ya jangan diapa-apain lah Pak anaknya. Sakno kalo gak jadi.” Tukas Yudi. Nada kalimatnya sungguh bersayap.

Mangkanya itu, sebelum afdrek foto kemarin itu, saya memberanikan diri minta persetujuan istri saya.”

”Wih! Hebat ya sampeyan. Jujur. Bener deh, gak salah kepilih jadi pamong warga.”

”Ya harus gitu lah mas. Saya mau istri saya tau dan saya serahkan apakah disetujui atau nggak. Semua sudah saya ceritakan gamblang, mulai a sampai zet, komprehensip.” Jempol tangan kanan Edi mendongak bareng suku kata ‘sip’.

Lha terus? Tanggapan Bu RT?” Yudi mulai gak sabar.

”Itulah yang membahagiakan saya. Istri saya sama sekali tak keberatan. Malah mendukung. Saya sangat bersyukur waktu itu, mendapat Istri yang penuh pengertian, meskipun ada syaratnya.”

Ho ya?! Syaratnya apa Pak RT? Berlaku adil?”

Haa klise itu. Bukan itu. Saya juga nggak menyangka syarat yang diajukan istri saya untuk dimadu, begitu mudahnya.”

Weh?! Apa itu Pak?”

”Saya cukup diminta segera afdrek foto saya. Hitam putih, empat kali enam. Lha rak gampang toh?”

Oalah mulyo ne Paak bojone sampeyan. Melu seneng aku.”

Mangkanya saya semalem itu langsung afdrek foto terus ketemu sama sampeyan Wedangan Cemoe, cerita Drakula.”

”Oh iya ya begitu toh? ... Yaa ya ya... Yaa selamat lah Pak, yang penting siap membina dua hati.” Jawab Yudi ala kuliah subuh di tivi-tivi.

Beluum selesai mas.” Mendadak wajah Edi menegang.

”Opo maneeh?”

”Sepulang dari Cemoe, foto afdrekan tak serahin ke istri saya. Sekalian saya nanya selanjutnya gimana.”

”Nah! Jawaban Bu RT?”

Yaah istri saya menjawabnya pelan sih. Katanya foto saya afdrekan itu mau dicetak jadi cover buku Yasinan.”

Mateng koen!  Lak dikongkon matek sampeyan Pak?!” Jawab Yudi kaget, mencoba berempati sekaligus ngempet ngguyu.

Lha ya itu mas. Tibane bojoku nesu. Gak iso turu sewengian aku.” Edi tertawa kecil. Menertawai dirinya.

Lha sampeyan itu juga kebangetan. Mengajukan proposal hati kok sak deg sak nyet. Kurang strategi itu. Mbok yao dianalisa SWOT duluu.” Jiwa konsultan Yudi ikut tergerak.

”Lha mau tak analisa SWOT, bojoku wis kadung sewot duluan i piye jal?”

”Lha sampeyan juga gitu. Saya kok jadi inget lirik tembang uyon-uyon, jadinya Paak, Pak.”

Piye bunyi tembange jal?”

”Begini... Tho petho, pethak pethak, petho petho Jemblem!” Yudi mulai nembang.

“Terus?” Bahu Edi naik turun ikuti irama tembang.

Semar mikul kotak, sorodadu mikul meriyem!”

Lha kok bisa?” Tukas Edi, sambil kepalanya gela-gelo.

Ngguyu weruh wong lanang umur seket enem.”

Wa ini?!” Edi mulai nggak sabar lanjutannya.

Sirah e wis butak, ruh wong ayu melek merem!”

Halah asem ik.”

Pas Foto Afdrekan 4x6 yang Menghebohkan itu.

”Assalaamu’alaikum, wahai bapak-bapak penguasa!” Suara Lik Sodik tetiba memecah keceriaan dalam pos Kamling. Dia menenteng sekantong gorengan masih panas.

Salaam... Wah panjang umur, baru juga ngomongin jemblem.” Edi membalas.

”Gorengan Yu Nani memang sudah dari jauh aromanya ketauan. Dibuka sini aja Lik Sodik!” Yudi ikut menyambut kantong hangat isi jemblem.

”Iya, dapet salam Pak RT dari Yu Nani. Tadi bilangnya bayar iuran Kamling nanti akhir bulan.” Lik Sodik melaporkan perjalanannya membeli jemblem.

”Warung Yu Nani itu yang sebelah utaranya lapangan bola itu kan?” Tanya Yudi.

”Bukan, itu lak sego kuning Mbak Nina. Ini Yu Nani kidul bulak yang habis nyebrang uwot baratnya rumah Kang Drin.” Lik Sodik merinci lokasi jemblem bagai google map.

Bener, kang Drin Sarimin yang depot lengo gas.” Imbuh Edi yang lebih hafal lokasi sekitar.

Lha iya Pak RT itu lho Lik Sodik, kok masih dapat salam sana sini.” Yudi memancing rumpi.

Lha gimana, wong penguasa og.” Lik Sodik tersenyum lebar, kumisnya terlihat merenggang jarang.

Lha pengen tak ajari po piye? Hayo niki gorengan ne mumpung panas gek ndang dicokot.” Edi mempersilakan. Sudah sejak tadi pagi perutnya keroncongan, gara-gara tak bisa tidur semalaman.

”Sebentar Pak RT, tak bikinin kopi dulu.” Sigap Lik Sodik mulai merebus air dari teko elektronik.

Wis to Pak RT, sama Bu RT aja. Dulu keliatan siapa, sekarang keliatan siapa?” Mulai lagi Yudi mencoba melanjutkan topik bahasan sejak awal.

”Dulu sih masih keliatan Celsi Izlan...” Tukas Edi rada lirih.

Lha sekarang?”

Wis Titik Busba.”

”Ayu-ayu kabeh tapi Pak, Titik Busba iloo awet nom.” Lagi-lagi Yudi menggoda ketua RT-nya.

”Konon Titik Busba di dadanya ada bulunya, Pak RT.” Lik Sodik urun rembug. Jari jemarinya terampil ala barista meracik kopi dan gula, yang bukan sasetan.

Kemeroh!” Ujar Edi singkat.

”Kok bisa?” Imbuh Yudi. Jiwa penasarannya terkoyak demi mendengar kalimat ‘ada bulu di dada’.

”Lho iya, Titik Busba memang nggak pernah operasi plastik. Tapi terapi tarik kulit.” Lik Sodik mulai menjelaskan ilmiah. Air panas dituangkannya ke dalam cangkir berisi kopi dan gula. Aroma harum gurih kopi Robusta sontak menyeruak seisi pos Kamling.

”Terus?”

”Lha kan terapi awet muda menarik kulit dari bagian leher, Pak. Ditarik, tarik, tariik, tariiikk... Terus lama-lama bulunya ketarik ke atas, pindah ke dada.”

Oooh... Pancen menungso ngeres.” Sergah Edi.

”Ha ha ... tapi kan sip.” Yudi menengahi.

”Lha niki monggo kopi sudah siap, bapak-bapak penguasa.”

Tiga kopi panas disuguhkan bersanding gorengan dan jemblem olahan Yu Nani, yang terkenal legit gurih manis seantero kampung.

Weh sip ini.” Edi riang ceria, masalah semalam terlupakan.

”Sip, pake telor!” Lik Sodik mengumpan pantun.

”Kurang siip?” Yudi menarik umpan.

”Buka kolor!” Edi menimpali umpan.

Wis tambah nemen Pak RT rek! ... Tho petho pethak pethak, petho petho?!

Jemblem!” Serempak, pos Kamling pun bergetar.

Bertiga, mereka lalu menikmati kopi panas racikan Lik Sodik sang barista dadakan. Sambil membahas impian langkah-langkah strategis mengenalkan jemblem sebagai kudapan favorit dunia.

Visinya; menduniakan jemblem.

Misinya; menjemblemkan dunia.

Lukumades ‘Jemblem’ ala Yunani, Bisa Menginspirasi Inovasi Jemblem Lokal Agar Mendunia.

Sementara Usai.