1 tahun lalu · 1995 view · 7 menit baca · Gaya Hidup 70572.jpg
https://www.facebook.com/mualimin.grard

Hei Mahasiswa, Kemerdekaan Itu Didapat dari Melawan!

Agustusan untuk Mendobrak Kemapanan

Marx menyadarkan pembaca bahwa penguasa penindas tidak mungkin mau bernegosiasi membahas ketidakadilan yang dialami pekerja. Dalam Islam, bila pelaku tidak mau mengakhiri perbudakannya, boleh digunakan kekerasan sebagai alat pemaksa untuk membebaskan kelompok terbudak. Menyatakan perang sah hukumnya bila cara-cara persuasif tidak diindahkan oleh penguasa jahat.

Menurut Lenin, revolusi hanya efektif dilakukan oleh kaum buruh. Buruh hanya ada bila berdiri pepabrikan. Pabrik-pabrik hanya ada dalam negara yang tingkat capaian industrinya mapan. Tahun 1917, Lenin berhasil mengaplikasikan teorinya dan kekaisaran Tsar II runtuh. Maka, berdirilah Republik Rusia yang membawa ide baru tentang perubahan dan kemajuan.

Mao Tse-tung tidak setuju gagasan Lenin. Baginya, menggulirkan revolusi sosialis dengan menunggu Cina menjadi negara industri dulu, tidak mungkin, terlalu lambat. Revolusi komunis Mao yang berbasis massa petani pedesaan dan bukan buruh industri, nyatanya juga terbukti berhasil. Republik Tiongkok yang berdiri tahun 1912 runtuh, digantikan Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949.

Berdirinya RRT tahun 1949 mematahkan teori Lenin dan Stalin tentang faktor objektif penyebab revolusi. Perubahan entah di mana pun adanya, ternyata sangat bergantung dari usaha pelaku dan didukung kegigihan tokohnya dalam memperjuangkan ide yang diyakini. Artinya, kebenaran ilmiah suatu teori pasti lapuk dan tidak relevan lagi seiring berjalannya waktu. Kebenaran mempunyai wajah plural.

Di dunia ini, tidak ada kebenaran tunggal. Apa yang disebut kebenaran (mainstream) hanyalah pemenang konstelasi pergulatan ide, narasi, kuasa, dan kuantitas penganut. Ada banyak kebenaran lain yang bisa jadi tersisih dipojokkan, di pinggir jalan, di gubuk-gubuk reot, atau di sela-sela ruang sepi nan terasing.

Hidup ini bukan soal mengikuti arus besar atau kecil, tapi tentang apakah arus kebenaran tersebut bersumber dari orisinalitas diri sendiri atau dari memungut milik orang lain.

Di sini, tidak ada seruan mengangkat senjata atau memprovokasi orang untuk melakukan kekerasan. Penulis sadar, kaum intelektual bukan pada tempatnya bila memperjuangkan ide-ide menggunakan kekerasan fisik. Prinsip ahimsa-nya Mahatma Ghandi harus menjadi prioritas dalam memperjuangkan prinsip yang diyakini. Ya, bicara mahasiswa hari ini tidak relevan bila tidak membahas penindasan intelektual.

Bagi penulis, tidak penting Anda kuliah di kampus negeri atau swasta. Anda jurusan Hukum, Teknik, Ekonomi atau apa. Anda tergabung di HMI, GMKI, GMNI atau PMKRI, itu tidak penting. Karena yang penulis bahas adalah mahasiswa secara umum. Mahasiswa yang katanya pelajar dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan lebih tinggi ketimbang golongan masyarakat mana pun.

Sadar bahwa kebenaran tidak tunggal, maka tiap orang, tiap perkataan manusia, pasti ada sisi lemah dan salahnya. Oleh karenanya, Anda jangan pernah sekali-kali nurut dan patuh begitu saja. Baik nurut pada senior, dosen, rektor, maupun petinggi organisasi yang sedang Anda geluti. Mereka-mereka itu adalah makhluk lemah, yang melanggengkan reputasi dan kehormatannya menggunakan jabatan yang diemban.

Nurut dan patuh harus, asal apa yang diucap dan diajarkan pada Anda adalah kebenaran. Lain cerita manakala terdapat inkonsistensi, kerancuan, kemunafikan, dan penindasan. Mahasiswa yang nurut pada perkataan orang lain, entah karena takut akan kuasanya, butuh sesuatu dari jabatannya, atau karena tidak enak karena statusnya, sangat disesalkan mengingat dia adalah kaum intelektual.

Arti menjadi mahasiswa adalah tentang pergulatan. Barangsiapa mengalah dan tidak bersikap kritis, maka dia itulah Sang Pembunuh kebenaran. Masing-masing orang memiliki kebenarannya sendiri, tapi mengapa membiarkan kebenarannya mati dan memungut pendapat orang lain? Tidak ada harganyakah diri kita hingga tidak mau menghormati ide yang lahir dari diri sendiri?

Menjadi mahasiswa adalah tentang memproduksi kebenaran. Barangsiapa mengkonsumsi (konsumtif) kebenaran orang lain, maka sesungguhnya mentalnya tidak ada bedanya dengan budak, yang hidup dan eksis dari bergantung (disetir) pada manusia lain. Mahasiswa yang seperti ini, bila lulus menjadi sarjana, lalu berkarir menjadi pejabat publik, pasti akan menjual negara dan menggadaikan kehormatan bangsa.

Pengaturan pendidikan hari ini sengaja merancang mahasiswa menjadi ‘’pembebek’’. Ada banyak sekali aturan, tata etika, kebijakan, narasi kebenaran yang coba untuk diterapkan dan diinternalisasikan ke dalam pikiran mahasiswa. Aturan-aturan konyol seolah-olah menjadi tren umum yang sudah sewajibnya diberlakukan.

Dalang dari semua penindasan kebenaran adalah penguasa. Penguasa adalah siapa pun, yaitu dia pihak yang memiliki kekuasaan. Kuasa adalah sesuatu yang apabila dipilih, diambil, dijalankan orang lain, dampaknya mempengaruhi diri kita.

Ketika Anda naik bus antarkota, sopir bus tersebut adalah penguasa. Ketika Anda memesan makanan di restoran, koki tersebut adalah penguasa. Ketika Anda dilarang-larang datang ke suatu kegiatan organisasi oleh pacar, maka pacarmu tersebut adalah penguasa atas diri kamu. Tapi sayangnya, mereka hanya penguasa kecil. Penguasa terbesar di tanah ini tentu saja adalah Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia.

Aturan mahasiswa harus memakai baju berkerah, berjilbab, bersepatu, celana tidak boleh robek-robek, harus mencatat materi kuliah, hanyalah cara berpikir penguasa yang hendak dipaksakan dan untuk dipatuhi mahasiswa. Untuk mengantisipasi ide penguasa tidak diindahkan, mereka menyiapkan infrastruktur, aparat, dan sanksi untuk menjadi ancaman bagi yang mencoba-coba berani melanggarnya.

Ancaman skorsing, pelanggar etik, mencap mahasiswa tidak beradab, manusia tidak agamis, individu nakal dan liar, menjadi senjata ampuh penguasa. Sederet cap, cemooh, dan sanksi menjadi alat penegakkan ide para penguasa. Dan sialnya lagi, mahasiswa selalu tidak terorganisir dan menjadi bulan-bulanan aturan yang sepihak tersebut. Sebetapa lemah dan bodohnya seorang mahasiswa, tetap memiliki kebenaran dan etika sendiri yang harusnya dihargai.

Bila Anda sudah membayar kewajiban Anda tapi tidak mendapat fasilitas pembelajaran yang baik, kedisiplinan pengajar yang tepat waktu dan kurikulum yang mendorong tumbuhnya suasana intelektual peserta didik, maka proteslah!. Anda berhak mendapatkan suasana perkuliahan maksimal atas uang yang Anda bayarkan tiap semester.

Bila bimbingan akademik hanya menjadikan Anda pengemis kepentingan, lebih baik Anda tinggalkan! Tidak ada gunanya kuliah dengan sistem menindas, yang akhirnya hanya akan membentuk Anda menjadi manusia-manusia pandai menjilat. Kuliah itu untuk pendewasaan diri dan perluasan wawasan, bukan dilatih menjadi jongos yang dikejar-kejar waktu tanpa tahu semua itu esensinya apa.

Dosen bukan pemborong kebenaran, maka jangan pernah mengikuti saja apa yang dikatakannya. Ada banyak sekali teori, ajaran, dan ilmu yang salah yang terkandung di dalamnya. Bersikap kritis wajib hukumnya. Ikuti Dosen yang perkataannya benar, tapi melawanlah secara hikmah bila dia melakukan kesalahan. Mahasiswa yang diam saat menjumpai ketidakbenaran merupakan calon sarjana yang tidak sarjanawan.

Pihak yang mempunyai infrastruktur, media, aparat, lembaga, dan kekuasaan paling besar, maka dialah yang bakal menentukan kebenaran. Bila masing-masing individu mempunyai ukuran kebenaran sendiri, maka pihak yang kuasanya lebih kecil, akan dilumat oleh kebenaran milik ‘’Penguasa Besar’’. Mengkritik itu sah dan wajar, tapi bisa dianggap penghinaan dan pelecehan bagi pemilik kuasa dominan.

Bila Anda tergabung diorganisasi hanya dijadikan kacung senior, lebih baik Anda minggat dan cari wadah lain yang lebih menghargai kemanusiaan Anda. Hidup sekali, gunakan status mahasiswamu sebagai masa emas untuk menunjukkan dirimu yang sebebas-bebasnya. Jangan mau diperalat dan diatur-atur. Anda manusia merdeka. Anda subjek yang hidup dan punya kehendak sendiri, bukan objek pasif, bukan benda mati.

Mahasiswa harus bangkit, jangan sampai waktumu hanya habis untuk pacaran, nongkrong atau belanja. Mahasiswi yang terbudak oleh tren kosmetika, hanya akan menjadi manusia ‘’kelas ternak’’. Yang menghabiskan hidupnya sebagai objek seksualitas suami, pembantu di dapur dan mamalia yang bisanya hanya beranak-pinak. Ia tidak akan pernah dapat merebut ladang-ladang karir yang strategis ditiap lini.

Mahasiswa yang tidak pernah mengorganisasikan diri dan mempertanyakan kebenaran mapan, hanya akan menjadi sapi perahnya institusi. Uang kuliah terus naik, tapi fasilitas pembelajaran tidak berubah. Bayaran selalu meroket, tapi manajemen kampus dan kedisiplinan pengajar tidak membaik. Karena terlalu lama dibawah hegemoni institusi, mahasiswa mengalami kematian daya kritis. Akhirnya pengisapan yang terjadi hanya didiamkan dan tidak digugat sama sekali.

Kebijakan penguasa merancang pimpinan Kampus dipilih pemerintah, katanya untuk mengantisipasi maraknya ideologi radikal-terorisme. Padahal sangat mungkin dijadikan pion Negara dalam merepresi pergerakan mahasiswa. Rektor adalah bapaknya mahasiswa, harusnya dipilih dari bawah, bukan dari atas (pemerintah).

Harga diri seorang mahasiswa dilihat dari seberapa bebas dia menyatakan pendapat. Bila hal itu diberangus oleh bapaknya sendiri, maka, sesungguhnya dunia civitas akademika sedang mengalami pembusukan intelektual. Kampus adalah ruang persemaian kebenaran baru, teori baru dan kritik baru. Bila kritik dibungkam, maka tidak mungkin ada pembaruan ilmiah didalamnya.

Universitas didirikan untuk membantah kebenaran lama, mereparasi teori lama, lalu menggantinya dengan ide baru. Ide hanya dapat diketahui sisi lemah dan salahnya melalui kritik. Bila kritik dilarang, yang menyampaikan dipolisikan, yang mendukung diskorsing, maka Pimpinan kampus yang model demikian adalah musuh norma ilmiah. Dia sudah menjadi Penghianat prinsip dunia akademik.

Terasing dalam meneriakkan kebenaran yang diberangus, memang memilukan hati. Akan tetapi, bila kita diam, lalu mengalah pada tekanan, lalu siapa lagi yang bakal memperjuangkan kebenaran yang kita yakini hari ini? semua manusia bakal mati, semua mahasiswa bakal binasa. Tapi, yang namanya gagasan, akan selalu hidup sepanjang zaman.

Biarlah semua orang menjadi budak kepentingan, jongos uang, lonte jabatan dan mengorbankan rasa keadilan. Tapi, Anda jangan pernah sekali-kali mencicipi rasanya kemapanan yang berasal dari kemunafikan, karena itu bertentangan dengan nilai-nilai Ketuhanan yang terkandung dalam Pancasila yang katanya landasan hidup manusia Indonesia.

Meneladani prinsip Munir, kita boleh takut. Tapi jangan sekali-kali menunjukkan ketakutan kita pada rekan-rekan seperjuangan. Karena ketakutan yang nampak, akan membuat semua orang ketakutan. Bila semua orang ketakutan, lalu siapa yang berani maju dan menghadapi resiko yang dilempar oleh orang-orang jahat diluar sana.

Merasa takut itu wajar. Resiko apapun dalam memperjuangkan kebenaran, harus kita antisipasi secara rasional. Ketika kita berhenti dan tunduk pada ancaman, maka kejahatan terancam menang. Bila kebenaran kalah, apa jadinya wajah kehidupan dunia ini?

Bagi siapa pun yang merindukan kemerdekaan, kata ‘’takut’’ tidak ada dalam kamus hidupnya. Pejuang tidak mati tua sakit-sakitan diatas kasur. Pahlawan mati terterjang peluru didadanya. Merdeka! Mari melawan untuk kebebasan!