"Hei Nak, kautahu apa itu hidup?" sosok itu bertanya. Ah, pertanyaan berat. Hujan masih setia menimpa atap kafe tempatku berteduh ketika sosok itu tiba-tiba merasuk, menghajarku dengan satu pertanyaan telak.

"Entahlah," aku menyahut malas, bertanya-tanya dalam hati kapan hujan akan berhenti dan sosok itu pergi. Kuaduk secangkir kopi yang kupesan dengan gusar.

"Wahai Engkau, jawab aku!"

Hah, selalu saja seperti ini. Sampai hujan berhenti, dia takkan berhenti mencecarku. Sungguh, aku benci hujan dengan segala pertanyaannya!

"Kalau kaumenjawab, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita," ucapan sosok itu melembut.

Aku memandangnya, tak tahu harus menjawab apa. Hidupku? Hidupku ya seperti ini saja. Kosong. Yang kutahu hanyalah fakta bahwa aku masih bernyawa. Sesederhana itu.

"Kau tak tahu?" sorot matanya menatapku prihatin, "lalu mengapa kau tidak mengakhiri ini semua?"

Aku membelalak kesal menatapnya, "Oh, kau itu tidak tahu apa-apa soal hidupku, tolonglah diam! Asal kautahu, perkataanmu itu bisa saja kulakukan sejak dulu jika kau tak selalu menggangguku setiap kali hujan turun!" aku berteriak. Beberapa pengunjung kafe memandangku kesal dengan tatapan seakan aku orang gila. Cukup sudah. Aku muak.

"Sungguh, pertanyaanmu itu selalu mengurungkan niatku untuk mati. Apa maumu, hah? Setiap kaubertanya, aku selalu sibuk memikirkan jawabannya tanpa kusadari. Kaumenambah beban pikiranku!" air mata menggenangi pelupuk mataku.

"Aduh, jangan menangis," sosok itu menatapku cemas. Aku tak peduli. Isakanku semakin keras.

"Baiklah, begini saja. Aku tak menuntutmu menjawab macam-macam. Apa yang terlintas di pikiranmu tentang apa itu hidup?"

"Hidup ya hidup saja. Selesai," jawabku asal. Tanganku sibuk membersihkan hidung dengan sehelai tisu. Terisak lamat-lamat.

"Wahai anak muda. Kaubenar," tanggapnya mengejutkan, tersenyum menatapku. Aku terperangah. Heran campur kaget. Bagaimana mungkin malah jawaban spontan itu yang benar di antara jawaban-jawaban lain yang selama ini kulamunkan setiap malam sebelum tidur?

"Ya, kaubenar. Hidup itu terkadang hanya perkara menjalani. Kaucukup bersyukur untuk setiap hari kaumasih diberikan hidup. Bertahanlah, tolong. Apa pun yang terjadi," ia menarik napas berat, lalu melanjutkan. 

"Memang tidak mudah. Tidak ada yang pernah mengatakan mudah di saat hidupnya berada di titik terbawah. Saat ini terjadi, tancapkan keyakinan sekuat-kuatnya bahwa kauberharga. Kaulayak. Kauharus tetap hidup. Tidak ada yang lebih mengharukan di saat kautemukan harapan yang selalu kautitipkan setiap esok hari, setelah hari-hari berat yang harus dilewati."

"Begitulah, nak. Jangan kaupikirkan lagi pertanyaanku yang tadi. Mengapa kau tidak mengakhirinya saja? Ah, maaf. Aku hanya ingin tahu apa tanggapanmu, dan ternyata kau masih tekun memikirkan apa yang seharusnya kaujawab. Itu bagus, misi pengalihanku berhasil," lanjutnya puas. Aku tepekur mencerna kata-katanya. 

Sosok itu memandang ke luar. Gelas-gelas berdenting saat para pengunjung kafe mulai membereskan barang-barang mereka. Hujan sudah berhenti. Udara dingin masih melekat, menyisakan suasana suram, basah, dan jingga pucat. Hari beranjak petang.

"Sesuai janjiku, ini pertemuan terakhir kita, anak muda. Hiduplah dengan baik, jangan risaukan bagaimana hidup mengukir takdirnya. Jalani saja dengan segala usahamu, hal-hal terbaikmu. Cukup seperti itu," senyum dan sosoknya mulai memudar.

"Ah ya. Terakhir, jangan pernah lagi berpikir untuk terjun dari jembatan seperti waktu itu, Nak!" serunya sebelum lenyap di keremangan sore.

Aku terkejut. Hei, bagaimana dia bisa tahu? Hanya aku sendirian di sana.

Sekelebat ingatanku berputar. Saat itu hujan deras, aku berdiri di tepi jembatan dengan kaki gemetar. Sudah kubulatkan tekadku untuk terjun ketika sebuah sosok menghadangku tiba-tiba, mendorongku kembali ke tanah. Bukan ke derasnya arus sungai di mana aku ingin mengakhiri segalanya.

Ah, sekarang semua menjadi jelas. Karena sejak saat itu, sosok yang sama terus menghantuiku setiap hujan turun, sibuk menanyakan hal yang sama. Menuntut sebuah jawaban. Hei, apa itu hidup?

Aku tersenyum, melangkah ke luar kafe. Menghela napas dalam-dalam. Mungkin masalah hidupku memang seberat itu. Mungkin aku memang sempat merasa begitu putus asa, berada di titik terbawahku. Tetapi sekarang, aku hanya perlu menjalaninya saja, bukan?

Sebelumnya, maafkan aku jika banyak dari kalian merasa bahwa apa yang kutuliskan ini terkesan mengada-ada, karena masalah hidup sejatinya tidak pernah se-simple itu. Sejujurnya, kalian benar. Tulisan ini hanya sebatas representasi dari kerasnya hidup yang sudah kalian jalani.

Pesanku hanya satu. Kumohon, tolong bertahan hidup. Bersabarlah menunggu sampai Tuhan benar-benar memanggilmu, bahkan ketika tidak ada yang bisa kaulakukan lagi. Bersabarlah menunggu, sampai semesta benar-benar siap mendekapmu.

Atau, barangkali kita bisa bertemu? Dengan senang hati aku akan menjadi pendengarmu yang paling setia, mencerna setiap keluh-kesahmu.

Sosok itu, sungguh telah mengajarkanku satu hal penting. Makna dari kata "hidup" itu sendiri. Bagi setiap orang mungkin berbeda, tetapi itulah yang sesungguhnya menjadi alasan terbesar mengapa sampai detik ini kaumasih setia dengan napasmu dan membaca tulisanku. Terima kasih telah membaca, dan terima kasih karena telah memilih untuk bertahan.

Sampai jumpa. Semoga hujan tak pernah lagi mengganggumu.