Saat ini sedang terjadi sebuah fenomena wabah virus yang sudah menjadi pandemi global. Dan banyak kalangan yang mengutarakan pendapatnya terhadap fenomena ini. Mulai dari pejabat negara, elite politik, public figure, dokter, pedagang, pelajar, bahkan sampai pada tingkat buruh pun ikut bersuara soal fenomena ini. 

Akibatnya muncul berbagai opini dari macam-macam sebab, akibat dan dampak dari fenomena ini. Dan yang sering menjadi topik pembahasan dan obrolan baru-baru ini adalah cara penyelesaiannya.

Secara umum pandangan masyarakat dunia berpedoman pada World Health Organization atau sering disebut WHOWorld Health Organization merupakan lembaga kesehatan dunia. Dan dengan berdasarkan pernyataan dari lembaga kesehatan itu, maka dibuatlah berbagai macam kebijakan oleh pemerintah di seluruh dunia. Kemudian dari kebijakan itu muncullah berbagai macam pro-kontra.

Terlepas dari berbagai macam pro-kontra tentang berbagai hal tentang fenomena ini, bagi penulis, dengan adanya fenomena ini, peningkatan perhatian masyarakat terhadap kesehatan tubuh menjadi wajar. Mengingat Covid-19 ini dapat menularkan kepada siapa saja.

Selain itu juga disebabkan karena gencarnya kampanye tentang protokol pencegahan penularan Covid-19 ini. Sehingga dapat kita temui orang-orang yang memakai masker di tempat umum dan orang-orang yang rajin mencuci tangan, baik menggunakan hand sanitizer ataupun menggunakan air mengalir dan sabun yang saat ini banyak kita jumpai di depan toko dan tempat umum lainnya.

Dari pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, penulis mencoba melihat fenomena ini melalui konsep hegemoni dari Antonio Gramsci.

Antonio Gramsci (1891-1937) lebih dikenal dengan Gramsci adalah seorang filosof dan penulis buku. Gramsci banyak membaca dan mempelajari pemikiran seorang filosof idealis Bennedetto Croce sehingga pemikiran Croce banyak memengaruhi penjalanan hidup Gramsci.

Titik awal konsep hegemoni Gramsci adalah, bahwa suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan kekerasan dan persuasi. Gramsci mengartikan hegemoni berbeda dengan pengertian secara umum.

Konsep hegemoni Gramsci merupakan salah satu konsep politik paling penting di abad XX. Konsep ini dibangun atas pentingnya ide dan tidak mencukupinya kontrol fisik belaka di dalam kontrol sosial politik.

Gramsci memandang bahwa, agar yang dikuasai tidak hanya diharuskan merasa mempunyai, dan menginternalisasi nilai dan norma penguasa. Tetapi mereka juga harus memiliki persetujuan tentang subordinasi mereka. Nah, inilah yang disebut konsep hegemoni, yaitu menguasai dengan kepemimpinan moral dan intelektual secara konsensual.

Jika dihubungkan dengan  kondisi saat ini, bisa kita lihat bagaimana Covid-19 ini menghegemoni masyarakat. Dan ketika WHO (World Health Organization) menetapkan Covid-19 ini menjadi sebuah pandemi global, maka seluruh dunia akan terhegemoni seiring dengan ditetapkannya berbagai macam aturan oleh negara-negara di dunia. Mulai dari penutupan tempat-tempat umum, pembatasan interaksi sosial, pemakaian masker, cuci tangan, dan lain ssebagainya.

Dengan adanya berbagai macam aturan, maka akan menimbulkan berbagai macam dampak. Baik dampak ekonomi, sosial, dan budaya. Dapat kita ketahui saat ini ekonomi di berbagai negara makin melambat. Keadaan masyarakat yang makin tidak stabil, perubahan gaya hidup dan paradigma hidup di masyarakat.

Memang tidak semua dampak dari ditetapkannya Covid-19 menjadi pandemi global adalah negatif. Tetapi dapat kita lihat sebuah perubahan besar sedang dan akan terjadi. Karena mau tidak mau kita harus merubah hampir segalanya. Jika tidak, maka semuanya akan hancur.

Akan tetapi manusia adalah makhluk yang mudah beradaptasi. Dan ketika kita beradaptasi, maka di saat itulah kita sudah terhegemoni.

Fenomena ini sangat menguntungkan bagi beberapa pihak dan merugikan beberapa pihak lainnya. Pihak yang diuntungakan akan menjadi penguasa dan pihak yang dirugikan akan dikuasai. 

Covid-19 ini telah banyak menimbulkan konflik di dalam berbagai macam institusi sosial. Mulai dari keluarga, kampung, sekolah, pekerjaan, dan lain sebagainya. Karena virus ini menguntungkan beberapa pihak. Maka terjadi ketidaksetaraan ekonomi. Ini sangat sesuai dengan pandangan Foucault tentang kekuasaan.

Foucault memandang kekuasaan dapat dilokalisasi sebagai tatanan disiplin yang dihubungkan dengan jaringan-jaringan sehingga memberikan struktur kegiatan-kegiatan yang tidak represif tetapi produktif serta melekat pada kehendak untuk mengetahui.

Akibat dari fenomena ini, maka berbagai negara membuat berbagai macam kebijakan. Tetapi kebijakan-kebijakan yang dibuat sangat lekat dengan jaringan-jaringan bisnis. Sehingga mengakibatkan ketergantungan terhadap hal-hal yang sangat berkaitan dengan jaringan-jaringan bisnis tersebut.

Dengan ditetapkannya virus ini menjadi pendemi global, maka bukan tidak mungkin adanya keuntungan global di segolongan pihak.

Pandemi ini adalah sebuah wabah permasalahan kesehatan. Maka pemangku kebijakan sangat erat hubungannya dengan jaringan-jaringan kesehatan seperti farmasi dan kedokteran.

Selain itu. dengan adanya berbagai macam aturan, maka juga berakibat pada perubahan sistem perekonomian. Akhirnya semua itu bergantung pada jaringan yang terkuat di dunia. Terlepas dari masalah untung rugi, dunia saat ini sudah terhegemoni oleh duet WHO dan IMF.