Beberapa minggu lalu, masyarakat Indonesia diramaikan oleh keberadaan restoran Padang bernama 'Babiambo' yang menjual rendang dengan olahan daging babi. Pemilik restoran Padang, Sergio mengaku kaget usahanya viral di media sosial. 

Restoran yang beroperasi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara itu dilaporkan ke polisi oleh dua politisi asal Sumatera Barat, yaitu Andre Rosiade dan Guspardi Gaus.

Anggota kepolisian Kelapa Gading sempat memeriksa pemilik usaha kuliner tersebut yang membuat makanan dengan bumbu masakan Padang dengan bahan baku olahan daging babi. 

Polisi mengatakan pengusaha menjual menu makanannya menggunakan aplikasi online. Kemudian, polisi menjelaskan belum menemukan adanya pelanggaran hukum dan masih memeriksa pengusaha tersebut. 

Pengusaha sudah memberikan klarifikasi dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat yang tersinggung. Selain itu, Pengusaha sudah memberi informasi bahwa makanan yang dijual menggunakan daging babi atau tidak halal.

Pengusaha tidak bermaksud untuk merendahkan budaya masyarakat Minang. Penggunaan rumah makan 'Padang' hanya merupakan ide pengusaha agar pembeli familiar dengan makanan yang dijualnya, seperti gulai, rendang, dendeng, dan sebagainya.

Pengusaha mengaku bahwa restoran Padang tersebut sudah berhenti beroperasi sejak tahun 2020. Lalu, mengapa hal tersebut masih ramai diperdebatkan oleh masyarakat hingga sekarang?

Sebagian besar masyarakat Minang merasa sakit hati karena pengusaha mengatasnamakan rumah makan 'Padang'. Mereka juga tidak terima dengan masakan rendang babi walaupun pemilik restoran Padang tersebut sudah meminta maaf. 

Islam di Minangkabau sangat kuat, jadi tidak mungkin makanan Minang adalah makanan tidak halal. Mereka merasa resah karena makanan Padang identik dengan makanan halal sesuai dengan falsafah masyarakat Minang yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. 

Namun, apakah arti sebenarnya dari Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah? Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah filosofi hidup yang dipegang dalam masyarakat Minangkabau, yang menjadikan ajaran Islam sebagai satu satunya landasan dan atau pedoman tata pola perilaku dalam berkehidupan. 

Pada tanggal 11 Juni 2022, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi mengusulkan untuk membuat sertifikasi khusus untuk restoran Padang. Tujuannya agar masyarakat mengetahui restoran Padang asli yang berisi masakan halal dan restoran Padang tidak asli.

 “Pada intinya tidak boleh lagi ada masakan Padang yang tidak halal, kita harus pastikan masakan Padang itu semuanya halal dan dapat dikonsumsi oleh umat muslim. Kedepan harus ada sertifikasi oleh IKM, mana yang asli Padang, mana yang bukan. Nanti ada stikernya. Ujar Mahyeldi dalam keterangannya di laman resmi Pemprov Sumbar.

Masyarakat Minang tidak masalah jika bumbu resep rendang digunakan oleh siapa saja. Namun, mereka tidak setuju jika dikatakan sebagai rumah makan Padang tetapi menjual rendang babi dan ditambah dengan logo Rumah Gadang.

Penggunaan nama restoran Padang 'Babiambo' juga dikatakan tidak tepat. Babiambo merupakan bahasa Padang. Kata "Ambo" yang artinya adalah saya. Bahasa juga merupakan bagian dari budaya.

Masyarakat Sumatera Barat dapat dikatakan hampir 99% adalah umat muslim. Bagi masyarakat Minang, masakan merupakan bagian dari budaya mereka. Jadi harus menggunakan bahan yang halal karena pengusaha menggunakan simbol budaya mereka.

Sebaliknya, selama tidak menggunakan simbol budaya masyarakat Minang, tidak akan menjadi masalah. Masyarakat Minang merasa bangga karena resep bumbu nya digunakan oleh siapa saja. Rendang juga menjadi makanan terenak di dunia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya merasa tidak ada yang salah dengan rendang yang menggunakan olahan daging babi. Tidak ada hukum yang melarang olahan dari daging babi karena makanan ini sudah dikonsumsi sejak dahulu dan tidak ada satu pun pasal yang melarang segala bentuk makanan dari olahan daging babi.

Pakar kuliner dari Universitas Gadjah Mada, Dwi Larasatie Nur Fibri ikut mengkritisi mengenai hal ini. Menurut beliau, perdebatan ini terjadi karena selama ini makanan khas Minang selalu dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang halal.

Sebagai negara yang heterogen, jelas saja jika ada banyak perbedaan yang dimiliki oleh negara Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam hanya shock culture karena pada umumnya rendang menggunakan bahan dasar yang halal, seperti daging sapi dan ayam.

"Jadi ini karena masalah kebiasaan, rendang yang biasanya halal kemudian dibuat dari daging babi tentu menjadi sesuatu yang spektakuler dan perlu waktu untuk bisa diterima." ujar Dwi Larasatie.

Selain itu, anggota DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak juga turut mengkritik polisi. Mengapa pengusaha tersebut dapat dipanggil ke polisi? Apakah terdapat tindakan yang dilakukan oleh pengusaha tersebut sehingga dapat dipidanakan? karena pemilik restoran Padang tersebut sudah jelas memberikan informasi Non-Halal di restoran Padang nya.

Hal tersebut tentu saja dapat menimbulkan perpecahan jika tidak segera diselesaikan dengan baik. Indonesia memang negara yang memiliki keberagaman budaya, maka rasa toleransi yang tinggi harus dijunjung tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.