Pelajar
3 minggu lalu · 64 view · 19 min baca menit baca · Cerpen 47796_33978.jpg
Ilustrasi: Pixabay

Haus Kekuasaan

Kupandangi kota Hazel dari atas gedung tua. Suasananya sedang sangat cerah, matahari bersinar bersahabat, awan-awan bergandengan dengan mesranya. Membuatku ingin menari saking gembiranya. 

Orang-orang terdekatku sedang sangat bahagia dengan kegiatan mereka masing-masing. Karena ini adalah hari libur, maka jadilah aku bisa berjalan-jalan untuk mengelilingi kota—sebenarnya bukan aku, hanya mereka, aku lebih memilih berkeliling kota untuk berjualan roti.

Tidak ada tempat untuk pikiran jenuh mengganggu pekerjaanku yang mengasyikkan, berjualan dan membagikan kebahagiaan dari sepotong roti. Yang ada hanya tempat untuk kebahagiaan di hati kecilku.

Beberapa kawanku yang lainnya sedang duduk di emperan toko bersama orang-orang terdekat mereka, bisa kubaca dari segurat senyum di wajah mereka. Itu jelas wajah kebahagiaan saat sedang bersama orang terkasih.

Lonceng dari jam besar di pusat kota berdenting beberapa kali, memberitahukan kepada warga sekitar bahwa sekarang sudah pukul 6 pagi, sudah waktunya bagi mereka untuk bangun dari dunia mimpi indah.

“Hei! Miquila, kau sudah bangun,” teriakku dari atas, pada sesosok bayangan bersepeda yang kutangkap dari kejauhan, ia adalah sahabat baikku, Miquila.

“Tentu, aku selalu bangun pukul lima pagi,” jawabnya. Setelah beberapa saat ia menungguku untuk turun dari atas gedung.

“Kau mau ke mana dengan keranjang-keranjang berisi roti itu? Ini kan hari libur,” lanjutnya, lalu turun dari sepeda dan menghampiriku yang sudah berada di depan gedung.

“Aku mau mengantar roti-roti ini pada pelangganku.”

“Kenapa kau suka mengantarkan roti, Marie? Bukankah itu adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan?” tanya Miquila, yang sepertinya amat penasaran dengan pekerjaanku. Padahal setiap hari ia saksikan aku bersepeda dengan keranjang-keranjang ini di kendaraanku.

“Tidak, Miquila, mengantar roti bukan hanya sekadar pekerjaan atau bahkan sebuah kegiatan menyenangkan buatku, ini adalah pekerjaan yang menyenangkan sekaligus membahagiakan. Bayangkan berapa banyak wajah bahagia yang kau lihat saat bertemu dengan pelanggan di balik pintu itu?” ujarku dengan riang gembira, bak guru taman kanak-kanak yang sedang mengajarkan kebaikan pada anak muridnya.

Ya, begitulah diriku, selalu berpikir dari sudut pandang yang sederhana namun memukau siapa pun yang mendengarkannya. Ucapan yang kadang dianggap sebagian orang seperti dongeng musim semi yang indah. Walau tak jarang ada yang mencibir karena dianggap terlalu naif, itu bukan masalah buatku.

Sayangnya pertemuan kami hanya sampai di sana, sekadar menyapa dan menanyakan hal-hal yang sederhana, setelahnya Miquila kembali mengayuh sepedanya dan pergi menjauh, begitu pun denganku yang kembali mengayuh sepeda untuk mengantar pesanan.

“Tok tok tok!” suara pintu diketuk hingga terdengar nada lembut.

Seseorang datang menghampiri, anak berusia delapan tahun yang tengah menggendong boneka beruang besar. Wajahnya terlihat sangat bersahaja tersenyum pada kepadaku.

“Apakah kakak yang mau mengantarkan roti kepadaku?” ujarnya, masih dengan menggendong boneka berwarna merah jambu di pangkuannya.

“Sepertinya gadis kecil ini sangat menyukai boneka sampai-sampai ia tidak berpaling barang sebentar saja.” pemikiran itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku, membuat senyum mengembang di wajahku tanpa disadari.

“Iya, sayang, ini ambillah.” aku mengulurkan tangannya kepada si gadis kecil pembawa boneka.

“Tapi, kak, aku tidak punya uang, orang tuaku pergi entah ke mana dan mereka hanya memberiku sedikit uang yang sudah habis beberapa hari lalu. Padahal saat memesan roti ini uangku masih tersisa.”

Terlihat aura kesedihan dari wajahnya. Air mata mulai mengalir membasahi pipi busanya. 

Tidak kusangka, setelah bertahun-tahun aku tinggal di Utopia ini, baru kali ini melihat ada anak menangis sedemikian pilu. Dalam hati aku merasa iba kepadanya, bagaimana bisa ada orang tua yang sedemikian tega hingga membiarkan anaknya hidup sendiri, apalagi di usianya yang terbilang masih belia.

Baca Juga: Dalang Kejahatan

Kejadian ini seolah membuka mataku bahwa di Negeri Ajaib yang punya pemimpin terbaik sekali pun masih ada rakyatnya yang belum merasakan nikmatnya hidup dalam kebahagiaan.

“Jangan menangis. Kamu tidak perlu membayar, ini gratis untukmu. Nah, sekarang siapa namamu?” aku tersenyum padanya dan lalu duduk di samping di kursi tempatnya duduk.

“Namaku Constantine.”

“Nah, Constantine, bagaimana kalau kakak tinggal di sini untuk menemanimu sementara orang tuamu pergi?” aku berseru dengan nada gembira.

“Kakak benar mau melakukannya?”

“Tentu saja kakak mau, sekarang jangan menangis ya. Ini, kamu suka bunga mawar putih? Ini adalah lambang perdamaian, simbol penting bagi kota ini,” ujarku, memberi setangkai mawar putih yang biasa kubawa sebagai jimat keberuntungan.

Aku terbangun di pagi yang dingin bersama gadis kecil yang baru kehilangan orang tuanya, waktu masih menunjukkan pukul lima pagi—belum banyak orang yang beraktivitas di luar sepagi ini, mereka lebih sibuk untuk tidur atau mungkin mempersiapkan diri mereka memulai rutinitas.

Dengan sedikit malas kucoba menapakkan kakiku keluar dari tempat tidur dan keluar untuk menikmati pagi hari yang cerah di kota Hazel, meninggalkan seseorang Constantine kecil yang masih tidur lelap. Rencanaku pagi ini adalah pergi ke museum kota, mungkin dengan begitu aku sedikit bisa memahami apa itu penderitaan warga, dengan begitu aku bisa lebih banyak membantu mereka yang sedang dalam kesulitan.

“Kakak mau ke mana?” ia tiba-tiba terbangun saat baru saja beberapa kali kulangkahkan kaki.

“Sayang, kamu sudah bangun? Ini masih sangat pagi, belum saatnya bagi anak seusiamu untuk bangun, kamu perlu banyak beristirahat.”

“Aku sudah terbiasa, kak. Bolehkah aku minta sesuatu?”

“Tentu boleh, kamu mau minta apa?”

“Aku mau ke taman bermain di sebelah balai kota itu. Boleh ya?”

“Baiklah, ayo kita naik sepeda saja agar cepat ya?”

Aku menaiki sepedaku yang memang didesain sedemikian rupa agar bisa memuat dua orang sekaligus mengantar roti, karena biasanya kupakai untuk bersepeda bersama Miquila sambil berjalan-jalan mengelilingi distrik.

Satu dua kereta kuda berlalu-lalang di jalan satu arah, disertai dengan warga yang ikut menumpang di dalamnya, ditambah dengan kendaraan tradisional lain, menambah kesan bersahaja. Seperti contohnya trem tua yang dibangun sepuluh tahun lalu, angkutan kuno yang masih banyak peminatnya.

“Kakak mau ikut bermain bersamaku?” dengan jelas kudengar suara lembut nan menyejukkan dari arah belakang, suara yang membujukku untuk berkunjung ke taman bermain dengan segera, suara dari anak yang menyadarkanku bahwa di kota ini bukan surga yang sesungguhnya.

Tujuanku adalah taman bermain yang menjadi hiburan menyenangkan bagi anak-anak. Listrik di sekitar taman ini dihasilkan oleh kincir-kincir air yang besar dan megah yang merupakan kebanggaan distrik Pertanian yang dikenal sebagai pemasok makanan terbesar di kota Hazel.

Sungguh menyenangkan bisa berkunjung ke sini, dahulu—ketika kecil aku sering sekali berkunjung ke distrik ini untuk bermain di anak sungai yang menyegarkan. Sepanjang tahun di sini tidak pernah mengalami kekeringan, airnya mengalir sepanjang tahun. Betapa indah distrik Persawahan, pusat bahan makanan.

Kulihat kincir air besar yang dulu sering kujadikan sebagai sarana bermain bersama teman-teman. Walau dilarang petugas tapi di situlah letak kesenangannya—saat petugas memperingatkan dan salah satu temanku mengejeknya hingga kami dikejar-kejar seperti kancil dikejar serigala.

Tidak terasa sepuluh tahun sudah berlalu, sekarang aku sudah dewasa, masa-masa menyenangkan saat kanak-kanak sudah berakhir.

“Hai! Sedang apa di sini?” seseorang menyapaku, pria berseragam indigo itu tersenyum ramah.

“Pak petugas!” aku begitu kaget saat melihat siapa yang menyapaku.

“Jangan khawatir, selama kau tidak mengacau aku tak akan mengejarmu.” Ia terkekeh, melihat ke atas seolah sedang mengenang kenangan ‘manis’ itu.

Aku hanya tersenyum mengingat itu, kelakuanku dulu sungguh tak bisa dibanggakan.

“Kudengar dari berita di koran, distrik Taman Angin saat ini sedang berada di masa krisis. Apa itu benar?” tanyanya, lalu duduk di hamparan rumput hijau yang segar.

“Tidak tahu, pak. Sebenarnya aku tidak tinggal di distrik itu, aku tinggal di distrik ini,” jawabku, menahan sedikit tawa karena kupikir pak petugas sudah mulai pikun.

“Ah iya, aku hampir lupa.” Ia menepuk kepala bertopinya.

Distrik taman angin merupakan pusat pembangkit listrik di kota ini, berbeda dengan distrik pusat makanan di mana aku tinggal, listrik-listrik di sana memang didistribusikan untuk keperluan seluruh warga kota, jadi tidak heran jika terdapat area khusus yang luas untuk keperluan pembangkit listrik.

“Anak itu! Apa dia adikmu?” pak petugas duduk di bangku taman dengan santainya, lantas bertanya.

Baca Juga: Beban Moral

“Bisa dibilang begitu, Constantine bukan adik kandungku, tapi sudah kuanggap dia adik sejak kemarin,” aku sedikit menahan tawa.

“Kemarin? Kau baru mengenalnya tapi sudah kau anggap adik?” pak petugas tampak bingung dengan pernyataanku barusan.

“Tidak perlu heran begitu, pak. Dia anak yang sangat baik, jadi aku sudah menganggapnya adikku sendiri.” Aku menatap langit.

“Oh, ya Tuhan, kau memang selalu membuatku kaget. Omong-omong apa kau tahu kebenaran tentangnya?” pak petugas berbisik di telingaku.

“Kebenaran? Kebenaran apa maksud Bapak?” mataku mulai serius menatap pak petugas.

“Jangan pernah memberitahukan ini kepadanya, tetapi orang tuanya meninggal beberapa hari yang lalu pada sebuah kecelakaan mobil. Kudengar warga kota tidak pernah mau memberitahu anak itu karena takut jiwanya akan terguncang. Ini menjadi semacam rahasia umum yang diketahui warga distrik ini, kukira kau sudah tahu.” Ia menundukkan kepala, prihatin dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Ya Tuhan! Kasihan sekali, anak sekecil itu harus menanggung luka yang begitu dalam.” Aku kembali menatap langit setelah menunduk prihatin selama beberapa saat. Langit yang entah kenapa berubah mendung dalam beberapa saat, seolah turut berduka atas apa yang ia dengar.

“Oh iya, pak. Bagaimana keadaan nona Walikota saat ini?” aku berusaha mengalihkan agar Constantine tidak mendengar yang sedang kami bicarakan.

“Kurang baik, beliau tidak pernah keluar kamarnya sejak seminggu lalu.”

Percakapan kami berakhir sampai di sana, namun aku hanya berpamitan kepada Pak petugas untuk berjalan-jalan ke tempat lain.

Lonceng di tengah kota berbunyi sebanyak tiga kali—menurut tradisi kami itu artinya ada seseorang yang baru saja meninggal dunia. Tapi siapa? Firasatku mengatakan bahwa ini adalah kematian yang akan memberi pengaruh besar.

“Kak Marie ... Kak Marie ... kemari, kakak tak akan percaya dengan apa yang akan kukatakan. Oh Tuhan, ini benar-benar bencana.” Constantine—gadis kecil yang kutemui kemarin dulu tiba-tiba berlari ke arahku yang sedang berdiri di pintu rumah.

“Ada apa, sayang? Katakan apa yang terjadi?” aku sedikit panik melihatnya menangis dan berlari ke arahku.

“Nona Marceline, dia ... beliau baru saja meninggal dunia,” ujarnya dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Apa katamu? Itu... itu... mustahil, orang sebaik dia mana mungkin ....” Kataku, panik.

Kulihat suasana kesedihan yang tampak jelas dari wajah mungil yang biasanya kelihatan semangat dan bahagia. Kabar yang begitu menggemparkan, sekarang siapa yang akan menjadi Walikota? Tidak mungkin ada yang lebih baik dari nona Marceline.

Dua minggu lalu baru saja kulihat beliau tengah berkeliling bersama menterinya menunggangi kuda, tapi sekarang? Demi Tuhan! Aku tak sanggup menahan air mata saat mendengar ini. Pantas saja Pak Petugas bilang beliau tidak pernah keluar dari kantornya seminggu terakhir, jadi itu sebabnya.

“Perhatian warga kota. Diharap untuk segera datang ke alun-alun kota, ada pengumuman penting yang akan disampaikan oleh Tn. Ashworth.” Begitulah bunyi yang  terdengar dari atas menara berlonceng besar yang disampaikan oleh Sang Utusan—orang yang bertugas menyampaikan pengumuman penting. Di saat kabar duka baru berembus justru ada pengumuman. Memang sepenting apa pengumuman yang akan disampaikan?

Rasanya malas sekali pergi untuk mendengar pengumuman itu, tidak ada pemimpin yang lebih baik selain Nona Marceline di kota ini, tidak mungkin ada pemimpin yang lebih baik jika sudah ada yang terbaik. Tapi biar bagaimana pun nona Marceline sudah tiada. Aku harus tenang, tidak baik jika aku terus-terusan mengingatnya hingga menangis tersedu, apalagi di depan Constantine.

Dahulu di hari minggu seperti sekarang, biasanya nona Marceline akan berkeliling kota untuk menyapa penduduk kota dengan senyumnya yang tulus. Kadang disertai dengan pembagian makanan dan pakaian gratis bagi penduduk yang membutuhkan.” Ujarku dalam hati, kembali mengingat saat-saat itu ketika aku berjalan di Jl. Maple untuk mendengar pengumuman dari Sang Utusan.

Apakah jangan-jangan kematian nona Marceline ada hubungannya dengan pengumuman yang akan disampaikan ini? Ah, kalau begitu baiklah, aku akan berada di sana untuk menyelidiki masalah ini.

Tanpa sadar ternyata selama melamun mengeluhkan kematiannya, langkah kakiku sudah berada di alun-alun kota. Tempat seluas 45 meter persegi itu sudah mulai dipadati oleh penduduk yang hendak mendengar pengumuman tadi. Namun ada satu hal yang menarik perhatianku sejak datang dan melihat ke tengah, sebuah mimbar yang biasa dipakai nona Marceline untuk berpidato di depan orang-orang.

Ada apa gerangan? Mungkinkah ada pemimpin baru yang akan menggantikan pemimpin yang paling bijak itu? Semoga ketakutanku kali ini tidak menjadi nyata, jangan sampai ada pemimpin baru yang dipilih tanpa proses pemilihan. Jangan sampai ada praktik politik kotor di kotaku tercinta ini.

“Salam, penduduk kota. Hari ini adalah hari yang sangat kelam bagi kota Hazel. Pemimpin tercinta kita, nona Marceline Appleton baru saja pergi meninggalkan dunia kita untuk selamanya. Namun jangan khawatir atas nasib kota kita. 

Atas nama leluhur Negeri ini, aku, Ashworth Nottingham menobatkan diri sebagai pemimpin kota Hazel.” Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba seorang pria naik ke mimbar dan menyampaikan pidato secepat kilat untuk menobatkan dirinya sendiri sebagai pemimpin.

Suara tepuk tangan yang dibarengi tangisan warga terdengar jelas di telingaku. Memekakkan telinga yang sangat membenci kebisingan.

Lima bulan setelah “pelantikan” kilat itu, Keadaan kota semakin memburuk. Kelaparan semakin meluas ke mana-mana, pencurian terjadi hampir setiap saat, orang-orang sangat menderita karenanya.

Peraturan ketat mengikat diberlakukan sejak dua bulan lalu, sekarang warga tidak bisa keluar rumah dengan bebas, baik untuk berorasi atau sekadar berkumpul dengan orang-orang di luar.

Penjaga-penjaga selalu berkeliling mengawasi gerak-gerik penduduk kota Hazel. Kudengar jika ada yang keluar rumah tanpa izin maka ia akan dibawa ke balai kota untuk diadili. Sungguh semena-mena, pemimpin macam apa yang tega membiarkan rakyatnya kelaparan dan mengurung mereka di dalam rumah.

Demi alasan kemanusiaan kini aku jadi banting setir dari penjual roti menjadi pembagi makanan setiap malam tiba, agar tidak ada lagi orang yang kelaparan di kota—atau setidaknya distrik ini.

“Tuan, apakah tuan tega menghukum kami hanya karena mencuri sepotong keju, sedangkan tuan itu memiliki ribuan kilogram keju di gudang makanan. Kami sedang lapar sehingga tidak sadar sudah melakukan sebuah kesalahan besar, dan apabila berkenan, kami meminta maaf atas semua kekacauan yang kami buat.” Beberapa anak menangis tersedu di depan toko yang terletak tidak jauh dari rumah Constantine.

“Tidak ada maaf bagi pencuri, kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian,” ujar si petugas yang angkuh, tak memedulikan anak-anak kelaparan yang mencuri sepotong keju tersebut.

“Hei tunggu! Jangan bawa dia!” suara tegas namun tetap lembut kudengar dari belakang mereka.

“Siapa kau?” tanya petugas keamanan dengan nada yang sedikit angkuh seperti tadi.

“Lepaskan mereka, aku akan membayar keju yang mereka curi,” ujarnya, masih tetap tak kehilangan nyali.

“Tidak bisa, Nona, kami akan membawanya untuk diadili, tidak ada maaf untuk penjahat!” ucapnya, tegas.

“Hei! Apa kalian tidak punya empati? Kasihan anak-anak itu,” aku berujar, ikut membantu adikku yang berani ini—entah dari mana uang yang dia bicarakan tadi.

“Maafkan aku, nona-nona, tetapi kami hanya menjalankan tugas,” anak-anak yang mencuri keju tadi dibawa paksa naik ke atas mobil patroli, meninggalkanku dan Constantine yang kesal karena gagal membantu mereka.

“Apakah semuanya akan berakhir di sini? Apakah kotaku akan hancur karena pemimpin yang semena-mena ini, hanya satu hal yang akan menjawab semua ini, yaitu waktu.” aku membatin.

Malam harinya aku bersepeda di gang sempit bersama Miquila, kali ini kami keluar setelah memastikan bahwa Constantine sudah tidur. Ada sesuatu yang ingin kami lakukan atas dasar kemanusiaan, tapi aku tidak mau melibatkan gadis kecil itu, terlalu berbahaya.


Sepeda modifikasi milikku terus dikayuh Miquila, malam hari bukan waktu yang bagus untuk bersepeda, apalagi ini sudah pukul 22:00, karena pasti sudah sangat gelap. Tapi ini kami lakukan agar tidak diketahui oleh anak buah Tn. Ashworth, sejak beliau memimpin, aktivitas warga sangat dibatasi, tidak ada kebebasan lagi bagi kami—bahkan untuk sekadar jalan-jalan, apalagi sejak terjadi pencurian tadi siang.

“Kalian sedang apa di sini?” Petugas yang tadi menangkap anak-anak ‘tak berdosa’ itu menghalangi jalan.

“Bukan urusanmu!” Miquila berkata ketus.

“Hei, santailah, aku berada di pihak kalian, sejujurnya sejak Tn. Ashworth memimpin, kami dipaksa untuk memenjarakan banyak orang yang sebenarnya tidak bersalah. Tentu saja ini menyayat nurani kami, jadi aku ingin mengajak kalian untuk bekerja sama. Bagaimana, apa kalian mau?”

Miquila berbisik-bisik padaku, saling bertanya mendiskusikan masalah ini.

“Aku tahu kalian pasti tidak percaya padaku, setidaknya untuk malam ini, aku akan membantu kalian membagikan roti-roti itu, kebetulan di distrik ini akulah yang bertugas patroli malam, jadi kalian bisa dengan mudah menebar roti-roti kebaikan itu,” ia menunjuk ke arah keranjang roti yang berada di depan sepeda.

“Baiklah, kita menjadi sekutu untuk meruntuhkan rezim ini, tapi bagaimana caranya, apa Anda punya rencana?” Miquila tiba-tiba berkata mantap.

“Namaku Rudolf, tidak perlu terlalu formal jika bicara denganku.” Ia tersenyum lebar, memunculkan deretan gigi yang jarang ia perlihatkan di depan orang-orang.

Paman Rudolf memberi isyarat agar kami mengikutinya ke suatu tempat, walau sejujurnya aku masih belum percaya padanya, tetapi apa boleh buat? Miquila-lah yang memegang kemudi sepeda, jadi kupercayakan saja ini kepadanya.

“Jadi begini, aku punya rencana untuk menghabisi Tn Ashworth tepat saat beliau berpidato dua hari lagi. Bagaimana menurut kalian?” ujar Rudolf yang kembali ke wajah seriusnya. Setelah berada di gang sempit yang sangat gelap dan sepi.

“Tidak, jangan gegabah, membunuh Tn. Ashworth hanya akan memunculkan pemimpin tiran lain yang serupa dengan dirinya,” Miquila angkat bicara, tak kalah seriusnya.

“Jadi, apa rencanamu, gadis muda?” tanyanya.

“Aku masih belum tahu, terlalu cepat jika kita memutuskan rencana dari sekarang. Jadi, temui aku di tempat yang sama satu bulan lagi, dan akan kuberi rencananya, aku berjanji.”

“Apa? Kalian gila ya? Jika demikian, maka akan banyak orang yang meninggal dunia.” Paman Rudolf melotot ke arah Miquila yang justru menanggapinya dengan ekspresi ‘mengejek’.

“Aku hanya mengetesmu, dengan membentakku karena rencana itu ternyata kau memang orang baik,” ujarnya, santai seperti tidak merasa bersalah sedikit pun karena sudah bersikap kurang sopan.

“Kurang ajar kau! Jadi, apa rencana yang sebenarnya?” ia hampir saja menggebrak tong sampah yang terbuat dari logam andai aku tidak menahannya.

“Temui aku di sini enam hari lagi, akan kusiapkan semua rencana yang kita butuhkah. Dan soal penduduk kelaparan, aku dan Marie hanya bisa menangani orang-orang di distrik ini untuk sementara waktu, apa kau bisa meminta temanmu untuk membantu orang di distrik lain?” Miquila memastikan.

“Baiklah, gadis roti, kita sepakat. Akan kuminta orang-orangku untuk membantu penduduk. Aku pergi dulu, waktuku tidak banyak untuk melakukan pertemuan ini, jika tidak terlihat berpatroli selama dua puluh menit saja Tn. Ashworth dan  antek-anteknya pasti akan menghukumku. Terima kasih sudah memercayaiku.” 

Paman Rudolf berjalan keluar dari lorong sempit antara toko kue dan toko perhiasan yang saat itu sedang sangat sepi.

Sekarang hanya tinggal menunggu Miquila menyelesaikan rencananya dan semua akan baik-baik saja. Semoga ia punya taktik yang benar-benar jitu untuk menangani semua masalah ini.

Enam hari kemudian, aku dan Miquila sudah berada di dekat lorong yang tempo hari dijadikan tempat pertemuan mendadak. Suasananya masih sangat sepi seperti biasa, gelap seperti bulan yang tertutup awan.

“Kalian ditangkap atas tuduhan pengkhianatan” dua orang menodongkan senjata laras panjang ke arah kami.

“Jadi Rudolf membohongi kita? Demi Tuhan! Bagaimana ini?” aku berteriak.

“Rudolf, kenapa kami ditangkap?” ujar Miquila, menatap paman Rudolf dengan penuh kebencian.

Pada akhirnya ini tidak berjalan sesuai rencana, paman Rudolf membawa kami ke kantor polisi yang tidak jauh dari tempat pertemuan kami. Apakah ini akan menjadi akhir? Entahlah, mungkin semua memang akan berakhir jika kau terlalu percaya pada orang lain.

Paman Rudolf hanya tersenyum melihat kami yang sedang diborgol dengan tangan di belakang punggung, bersama kedua anak buahnya yang mengawasi kami di ruangan sempit seluas 4×6 meter yang merupakan ruang interogasi ini.

“Jangan khawatir, mereka di pihak kita, terlalu berbahaya jika kita terus berbicara di luar. Sekarang kubawa kalian ke ruang interogasi ini supaya kita bisa bicara dengan bebas, Tn. Ashworth dan antek-anteknya tidak akan menemukan kita di sini. Sekarang apa rencana kalian? Aku menyarankan agar kita melakukan revolusi seperti tempo hari.” paman Rudolf kembali tersenyum melihat kami yang kebingungan.

“Tidak, paman, aku menawarkan sesuatu yang lebih baik. Kita akan menyadarkan Tn. Ashworth bahwa negeri ini begitu menderita,” Miquila berujar dengan santai, setelah beberapa detik tertegun.

“Tidak, Nak. Kau tidak tahu seberapa kejamnya Tn. Ashworth, kita tidak mungkin bisa bicara baik-baik dengannya,”

“Paman, setiap masalah bisa diselesaikan dengan sepotong roti dan teh hangat,” Aku berujar.

“Baiklah, tapi aku benar-benar tidak yakin kalian bisa melakukannya.”

“Percaya pada kami.” Kami menepuk pundak paman Rudolf, memberinya kepercayaan.

Kemudian percakapan berhenti sampai di sana dan paman Rudolf mengantar kami ke rumah masing-masing.

Pagi hari yang cerah di rumah Constantine. Di ruang keluarga ini kami menikmati teh hangat bersama, sambil membicarakan topik yang ringan. Menurut Constantine, ruangan ini adalah tempat yang paling sering ia dan keluarganya habiskan untuk minum teh. Beruntung sekali bisa minum teh bersamanya di ruangan istimewa ini.

Anak yang malang, aku jadi semakin kasihan kepadanya. Ia pasti sangat terguncang jika mengetahui keluarganya yang sudah tiada.

“Nona Marie Sugarsweet, Anda diundang untuk bicara dengan Tn Ashworth di ruangannya sore nanti pukul 03:00.”

Demikian bunyi surat yang diantar oleh kurir tadi, terdengar istimewa tetapi sebenarnya sangat menakutkan. Memang kubilang bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan teh dan roti, tapi tidak kusangka akan secepat ini rencananya berjalan.

Sore harinya aku memutuskan untuk menemui Tn Ashworth atas pertimbangan rencanaku dengan Miquila dan Rudolf, sebenarnya memang bukan benar-benar sesuai dengan yang kurencanakan, tetapi soal menemui Tn. Pemimpin adalah yang utama.

Akhirnya pintu rumah diketuk dengan sedemikian keras, aku tahu itu adalah kaki tangan Ashworth—jelas sekali dari caranya datang dengan tak beretika sama sekali.

“Nona Marie, cepat keluar! Kami tahu Anda ada di dalam.” Mereka berteriak dengan sedemikian kencang sampai membuat telingaku sakit.

“Iya sebentar, aku segera ke sana,” teriakku dari dapur.

Setelah semua siap, aku keluar dengan membawa sekeranjang roti manis yang lezat. Rencananya mau kubagi dengan Tn. Ashworth, barangkali ia suka.

Sesampainya di balai kota, aku disambut dengan hangat oleh seseorang yang beberapa bulan lalu menobatkan dirinya sendiri sebagai pemimpin kota Hazel, orang yang sangat kubenci, tirani yang mungkin namanya akan dikenang dalam sejarah—ia adalah Tn Ashworth sendiri.

“Selamat datang, nona Sugarsweet, pahlawan kota Hazel.” Tanpa diduga ia menundukkan badannya untuk memberi hormat kepadaku. Ya ampun! Situasi ini kian membingungkan.

“Kenapa Anda diam saja? Mari, silakan masuk,” ujarnya dengan amat hangat dan ramah. Jauh di luar dugaanku.

“Eh, baiklah.” Kataku, sekenanya.

Seseorang berpakaian rapi menghampiri kami di meja makan, seseorang yang sangat tidak asing namun membuatku semakin kebingungan dengan semua ini.

“Paman Rudolf? Kenapa dia berpakaian sepeti pelayan dan bukan petugas polisi.” Ujarku dalam hati.

“Saya dengar Anda sering membagikan roti gratis kepada penduduk yang kelaparan di tengah krisis bahan pangan yang menerpa kota ini?” Tn Ashworth membuka percakapan.

“Eh iya, begitulah.” Aku begitu gugup sampai tidak bisa mengendalikan kosa kataku.

“Tidak perlu malu untuk mengatakannya, Anda sudah sangat membantu kami dalam menangani masalah kelaparan yang terjadi beberapa bulan belakangan.” Ia kembali menunjukkan senyum yang ramah.

“Silakan dimakan.” Paman Rudolf—apa yang terjadi padanya malah menyajikan banyak makanan, dibantu oleh orang-orang yang tempo hari menodong kami dengan senjata laras panjang.

“Nah, sekarang makanlah apa yang Anda suka, jangan sungkan.”

Aku memberanikan diri memakan makanan yang sudah disajikan, Tn. Ashworth juga ikut makan setelah beberapa saat hening.

“Kau adalah penganggu bagiku, jika tidak segera menyingkirkanmu pastilah orang-orang yang sangat mengagumimu akan melakukan revolusi dan mengangkatmu sebagai pemimpin Hazeltown. Jadi, aku membunuh Ashworth dan dirimu di tempat ini agar aku bisa menjadi pemimpin Hazeltown yang baru. Dan seperti dugaanmu, sebenarnya akulah yang sudah membuat aturan seketat dan sekejam ini agar masyarakat semakin membenci Ashworth sehingga aku dengan mudah melakukan revolusi. Ashworth memang pemimpin yang baik, tapi sayang ia begitu naif.” 

Paman Rudolf tiba-tiba tertawa seperti orang kesetanan.

Tiba-tiba tenggorokanku menjadi sakit bukan kepalang setelah ia mengatakan itu, rasa tercekik yang membuat pandangan menjadi kabur. Sepertinya Paman Rudolf memberiku makanan beracun. 

Dengan pandangan yang masih kabur, kulihat juga Tn Ashworth yang keracunan makanan terjatuh dari kursinya. Ternyata selama ini ada pengkhianat di antara kami. Sayangnya aku telat menyadari akan hal itu. Aku hanya bisa menatap wajah liciknya, tak bisa berkata apa-apa selain mengaduh kesakitan. Dalam hatiku, doa untuk Constantin kecil, Miquila dan semua orang di kota.

Artikel Terkait