Menjelang penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi, seluruh organisasi pergerakan mahasiswa di kampus selalu disibukkan dengan penyusunan strategi untuk menyerap kader baru sebagai kelanjutan etos kerja generasi organisasinya masing-masing. Lebih tepatnya setelah masa OSPEK berakhir, mahasiswa baru dihadapkan dengan pemandangan banyaknya stand dan reklame open recruitment organisasi kemahasiswaan.

Namun yang menarik dari semua promosi organisasi yang ada, yaitu terdapat wajah tokoh bangsa yang selalu dijadikan daya jual ataupun daya tarik organisasi tersebut. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi kemahasiswaan tertua tentunya sudah melahirkan kader yang sudah menjadi tokoh berpengaruh dalam skala nasional bahkan internasional. Wajah Lafran Pane, Nurcholis Madjid (Cak Nur), Mahfud Md, Dawam Rahardjo, dan lainnya.

Memasang wajah mereka memang sangat ampuh dengan dalih ketika memasuki organisasi terkait mereka kelak akan menjadi seperti mereka. Rasanya memang kurang ajar apabila senior HMI menggunakan ketokohan mereka sebagai daya tarik organisasi, namun di sisi lain ia tidak mengenal kiprah tokoh tersebut.

Pada Haul ke-15 Cak Nur yang tiba pada 29 Agustus 2020, kiranya penulis berikhtiar untuk mengenalkan sosok cendekiawan muslim Indonesia sekaligus sebagai penggagas pembaruan Islam di Indonesia terlepas dari pro dan kontranya.

Selayang Pandang Cak Nur

Pria berkacamata ini lahir di Jombang pada 17 Maret 1939 dari pasangan Haji Abdul Madjid dan Fathonah. Ayahnya adalah pendiri sekaligus guru di Madrasah Al-Wathaniyah, Mojoanyar, Jombang. Budaya belajar dan membaca diturunkan dari ayahnya. Pada Ayah yang dicintainya, ia sering kali bertukar surat dengan bahasa Arab. 

Lulus dari pendidikan pesantren di Jombang dan Ponorogo, Cak Nur menyelesaikan kuliah di Institut Agama Islam Negeri pada tahun 1968. Ia juga sempat menjadi ketua umum PB HMI selama dua periode sampai tahun 1971.

Penulis sendiri lebih mengenal beliau sebagai tokoh penting dalam perjalanan sejarah Indonesia modern. Sepanjang hidupnya ia bergelut di bidang pemikiran dan pembaruan sosial serta keagamaan. Ia meyakini bahwa pendidikan adalah solusi dari tantangan masyarakat modern Indonesia. 

Ketekunannya berlanjut dengan berbagai kegiatan kajian agama yang dirintis dengan teman seangkatannya hingga ia menyelesaikan gelar doktornya di university Chicago pada 1978 di bawah bimbingan pemikir besar Islam, Fazlur Rahman.

Islamic Renaissance Ala Cak Nur

Selepas dari Chicago, Cak Nur makin meyakini akan pentingnya gagasan bernegara bagi bangsa Indonesia yang sangat plural. Ia merupakan seorang pemikir Islam yang unik karena kombinasi dua ide besar yang disebut dengan tradisional Islam dan modernisme Islam. 

Dengan adanya dua kombinasi ini merupakan suatu yang baru sebab belum dimiliki oleh pemikir Islam Indonesia sebelumnya. Sehingga menurut Budhy Munawar-Rachman disebut dengan “Renaissance Islam”.

Gagasan Cak Nur sudah dirangkum semua dalam 4 volume ensiklopedia yang telah diterbitkan. Ensiklopedia tersebut ditulis oleh Budhy Munawar-Rachman yang selalu mendampingi Cak Nur dalam menjalankan program kajian agama bulanan untuk kalangan urban menengah di Jakarta selama kurang lebih 10 tahun.

Dari sekian banyak isu yang ditulis oleh Cak Nur, tetapi secara sederhana kita bisa ringkaskan menjadi enam pokok pikiran. 1) Cak Nur senantiasa mencoba untuk melawan gagasan teokrasi atau ide-ide tentang negara Islam, 2) beliau juga mencoba untuk mempromosikan demokrasi, 3) kesetaraan gender, 4) pluralisme, 5) kebebasan berskspresi, 6) istikamah mendukung gagasan tentang kemajuan.

Pembaruan yang dibawa seseorang tidak selamanya akan diterima baik oleh masyarakat. Begitu pun yang dialami oleh Cak Nur. 

Ada dua pidato penting Cak Nur yang mengundang perdebatan tentang posisi agama dalam bernegara, keduanya dibacakan oleh dirinya di Taman Islami Marzuki pada tahun 1972 dan 1992. Kandungan pidatonya ia memberi penekanan pada kehidupan beragama di masa depan yang berorientasi pada keislaman plural.

Konsentrasi Cak Nur adalah mengkritisi kecenderungan organisasi keagamaan yang membuat agama yang sebenarnya kehilangan daya responnya. Agama yang semestinya memberi solusi atas kejenuhan masyarakat justru menjadi problem itu sendiri. 

Sejak tahun 70-an Cak Nur sudah melakukan suatu hentakan yang luar biasa khususnya kepada umat Islam yang sering kali melihat masalah pada aspek persatuan dan ukhuwan. Menurutnya, permasalahan utama terletak pada kejumudan berpikir umat manusia.

Peran Cak Nur di Orde Baru

Ketika terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997-1998, Cak Nur sempat menolak tawaran untuk duduk di komite reformasi yang akan dibentuk Presiden Soeharto untuk menghadapi tuntutan reformasi. Penolakan yang dilakukannya meruntuhkan rencana Soeharto untuk mempertahankan posisinya sebagai presiden.

Pada Mei 1998, Cak Nur dan sejumlah tokoh diundang ke Istana Negara untuk dimintai nasihat oleh Presiden Soeharto terkait gejolak politik pasca kerusuhan pada Meri 1998 di Jakarta. Kepada Soeharto, Cak Nur menyarankan agar pemimpin orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun itu mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari gejolak politik yang berkepanjangan. Pak Harto memenuhi saran tersebut dan mengundurkan diri dari jabatan presiden.

Hampir Masuk pada Politik Praktis

Sebagai cendekiawan yang lebih banyak bergelut dengan pemikiran, Cak Nur nyaris tidak berurusan dengan praktik politik praktis. Meski demikian, menjelang pemilu tahun 2004, Nurcholis Madjid sempat untuk mengikuti pencalonan calon presiden dengan alasan gundah terhadap kondisi politik kala itu.

Namun tidak lama setelah pernyataan kesiapan dirinya sebagai calon presiden pada pemilihan 2004, Cak Nur menarik kembali ketersediannya karena menilai sistem politik yang ada belum bebas dari praktik politik uang.

Banyak yang menyayangkan akan keputusan Cak Nur sebab menurut pubik tokoh yang bersih sangat penting untuk menjadi pemimpin negara agar mereka tidak hanya berada di menara gading dan berada di kampus yang mengajarkan teori-teori.

Karena pemikirannya dinilai berkontribusi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, jenazah Nurcholis Madjid dimakamkan di makam pahlawan Kalibata.

Bagi orang-orang yang merasa tercerahkan dengan pemikirannya, maka tak kurang bahwa Cak Nur adalah seorang ikon dan simbol pembaruan pemikiran Islam Indonesia yang tiang-tiang utamanya adalah keterbukaan. Dengan keterbukaan, umat Islam tidak hanya dituntut untuk mengorek kekurangan dirinya sendiri, namun juga dapat belajar dari pihak manapun untuk terus memperbaiki diri sendiri.