Secara etimologi hati nurani berasal dari kata  syneidesis (Yunani), yang padanan katanya dari kata conscientia (Latin), dua kata ini memberi kesan bahwa hati nurani berarti ‘pengetahuan pendamping’ atau oleh C.J. Vaughan mendevenisikannya sebagai kecapan untuk ‘pengetahuan bersama dengan dirinya sendiri’.

Dengan kata lain, makna hati nurani di dalamnya mengandung lebih daripada ‘sekedar’ atau ‘penginderaan’, karena hati nurani secara otentik mencakup penghakiman Allah atas suatu perbuatan yang dilakukan dengan sadar.

Selanjutnya, dalam kacamata Katolik, Konstitusi pastoral tentang Gereja (Gaudium et Spes), mendevenisikan hati nurani sebagai inti manusia yang paling rahasia, sanggar suciNya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaanNya menggema dalam batinya.

Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama.

Dua pengertian ini  sesungguhnya menegaskan bahwa hati nurani memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. 

Dengan demikian, manusia yang baik adalah manusia yang mampu merefleksikan dan memaknai hidupnya dengan hati nuraninya  sebagaimana yang dikatakan Plato.

Manusia yang baik adalah manusia yang bermoral, yang menciptakan keharrmonisan dalam kehidupanya, baik bagi dirinya sendiri maupun dalam kehidupan sosial.

Peran Hati Nurani

Ellen G. White dalam bukunya “The Sanctified Life” menguraikan  bahwa Allah sendirilah yang telah memberikan hati nurani itu kepada manusia.

 Segala sesuatu yang berasal dari Allah itu baik karena Allah itu baik adanya dan apa saja yang diberikan-Nya kepada manusia itu adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.

Oleh sebab itu Allah sudah merancang tiap orang untuk menggunakan hati nuraninya untuk dirinya sendiri demi tatanan kehidupan yang harmonis dan damai.

Roh Allah dengan cara yang ajaib bekerja atau mempengaruhi hati nurani manusia, dan Roh Allah  ini mengontrol dan mengarahkan manusia pada   rencana-rencana Allah, sehingga pada titik ini,  hati nurani itu semata-mata   milik Allah.

Karena hati nurani itu adalah milik Allah, maka Allah memiliki patokan hidup moral manusia dan patokan itu adalah hukum-Nya.

Dalam cara yang tertentu Allah menempatkan hukum-Nya ini dalam  hati manusia. Manusia mengetahui patokan ini. Patokan ini adalah benar karena berasal dari Allah yang benar.

White menggambarkan bahwa hati nurani yang mampu menciptakan situasi yang harmonis  adalah buah dari pikiran. Tentunya itu adalah untuk melihat atau membedakan terang dan gelap yaitu yang benar dan yang salah, yang baik dan yang jahat.

Selanjunya White menjelaskan bahwa dalam setiap tindakan manusia peran hati nurani adalah untuk  menyetujui atau menyalahkan. Hati nurani bertindak dan berperan  sebagai evalator dari setiap perbuatan.

Hati nurani berperan mengamarkan segala tindakan. Di tengah-tengah pergumulan dalam berbagai nafsu manusia, suara Allah dapat didengar melalui hati nurani.

Melalui hati nurani manusia dapat menyadari tuntutan hukum Allah dan dengan demikian melaluinya juga manusia dapat menginsafi dosanya.

Uraian   tentang hati nurani sebagai sanggar suci Allah dan otoritas serta peran hati  nurani sebagaimana  yang dikemukan oleh Ellen G. White dalam bukunya “The Sanctified Life” menjadi satu landasan untuk menyimpulkan bahwa peran hati nurani sangat penting dalam menata keharrmonisan.

Dalam konteks kehidupan sosial, keharmonisan itu akan tercipta bila setiap komponen mentatai aturan dan norma dengan berbasis pada hati nurani.

Dengan demikian usaha untuk mencapai kemenangan yang ideal dalam  kehidupan bersama dapat tercapai melalui situasi eksternal yang kondusif. 

Hati Nurani: Akar Dari Keharmonisan

Secara terminologi, keharmonisan berasal dari kata “harmonis’ yang berarti serasi atau selaras. Tujuan dalam keharmonisan adalah mencapai keselarasan atau keserasian.

Berlandasakan pada konsep White, tercipta sebuah asumsi bahwa mentaati suara hati tanpa syarat dalam kehidupan dapat menghasilkan nilai-nilai keharmonisan.

Setidaknya ada bebarapa nilai-nilai keharmonisan yang dapat tumbuh bila dalam hidup berkomunitas setiap anggota mentaati suara hatinya tanpa syarat, yang mana ketaatan terhadap hati nurani  itu diaplikasan dalam seluruh norma dan aturan yang mengikat. Nilai-nilai keharmonisan itu antara lain:

1. Keterbukaan (openes)

Adanya keharmonisan yang berlandaskan pada hati nurani dapat melahirkan pribadi-pribadi yang terbuka. Sikap terbuka dalam kehidupan sosial  sangatlah penting. Penting karena bertujuan untuk memudahkan setiap orang dalam menerima gagasan orang lain.

Secara tidak langsung, adanya keterbukaan dalam kehidupan sosial dapat memudahkan seseorang dalam belajar baik mengenai kharakter orang lain maupun mengenai pengetahuan.

Lebih dari itu, keterbukaan dalam hidup kehidupan sosial memudahkan setiap orang untuk bergaul dan bersahabat dengan siapa pun dan membuat seseorang dapat menghargai perbedaan yang ditemui.

`2. Empaty (empathy)

Terciptanya keharmonisan yang didasarkan pada hati nurani dapat melahirkan mental seseorang untuk dapat menempatkan diri dengan kondisi orang lain. Sikap empati dalam kehidupan sosial  dapat menghilangkan sikap individualisme dan egoisme.

Yang mana melaluinya nilai kerendahan hati dan kesetiaan dimaknai secara personal dan menyeluruh. Maka, dengan demikian setiap pribadi dalam kehidupan sosial dapat saling peduli satu terhadap yang lain.

3. Dukungan (Supportiveness)

Terciptanya keharmonisan yang didasarkan pada peranan hati nurani dapat melahirkan sikap saling mendukung satu sama lain dalam ranah hidup sosial.

Hasil dari sikap saling mendukung tidak lain adalah setiap pribadi dapat bisa berkembang ke arah kemenangan ideal  yang dimpikannya di kemudian hari.

Dengan kata lain, adanya sikap saling mendukung dalam kehidupan sosial  membawa setiap orang untuk mampu mengembangkan bakat dan kemampuan tanpa adanya rasa pesimis dan skeptis terhadap diri sendiri.

4. Kesetaraan ( equality)

Terciptanya keharmonisan yang didasarkan pada peran hati nurani akan menumbuhkan kesetaraan dalam kehidupan sosial.

Adanya kesetaraan dalam hidup relasi soal mensyaratkan setiap pribadi saling menerima satu dengan yang lain tanpa memandang suku, ras, status, atau pun kaum.

Kesetaraan dalam arti ini mengajarkan setiap orang untuk saling memahami satu sama lain, sehingga meminimalisir konflik yang terjadi akibat perbedaan.

Kesetaraan yang lahir dari situasi harmonis dalam hidup relasi sosial dapat menghantar seseorang untuk menyadari diri dan menempatkan diri pada posisi yang seharusnya dan selayaknya, sehingga tidak menimbulkan konflik maupun pertikaian.

Dengan demikian, dapat disimpulkan hati nurani adalah akar  dalam keharmonisan dalam hidup sosial. 

Dengan mentaati hati nurani dalam kehidupa sosial, maka keharmonisan dapat tumbuh, yang mana melalui situasi yang harmonis setiap pribadi dapat belajar dan berjuang dalam mengapai cita-cita yang diimpikan.

Daftar Pustaka

  Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja “Lumen Gentium” dalam R. Hardawiryana (penerjemah.), Jakarta: Obor 1998. 

Legoh, Adri. 2001. Satu Teologi Tentang Hati Nurani dalam: Jurnal Unklab Volume 4 (halaman 30-31). AllAS, Silang Cavite Philippines. 

 Widjaya, W, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta: Bumi Aksara, 2010