Patah hati adalah salah satu 'sakit' yang ingin dihindari oleh semua orang. Kata ingin seolah menunjukkan bahwa tiada kuasa dari kita untuk mencegah itu terjadi.

Siapa yang ingin patah hati? Tidak ada yang ingin mengalami "sakit tak berdarah" itu. Sakit tak berdarah memang kerap kali disebut-sebut untuk mengilustrasikan hati yang terluka.

Patah hati bukan berarti hatinya patah menjadi bagian-bagian tertentu. Kiasan "patah hati" menggambarkan jika sesuatu yang patah (hati) tidak berfungsi dengan baik lagi.

Misalnya, jika sakit gigi, tidak bisa mengunyah makanan dengan baik. Tetapi, hati yang kehilangan sebagian fungsinya akibat patah hati tidak mudah terdeteksi oleh orang lain, seperti sakit di bagian luar tubuh.

Orang lain tidak bisa tahu bahwa kita sedang patah hati. Mungkin saja bisa, melalui sinyal-sinyal yang tidak sengaja kita diberikan. Yang biasanya ceria, bisa tiba-tiba murung; mengunggah cerita-cerita galau di media sosial; atau curahan hati (curhat) langsung kepada teman-temannya.

Memang, patah hati ini membuat kita uring-uringan. Terasa ada yang salah, tetapi tidak tahu salahnya di bagian apa dan di mana. Jadi greget sendiri. Mau marah, tidak tahu harus marah sama siapa. Ujung-ujungnya nangis, deh.

Hati yang terluka secara otomatis memengaruhi emosional seseorang. Berpengaruh terhadap produktivitas sehari-hari, karena biasanya akan berdampak malas ngapa-ngapain. Inginnya rebahan aja, gitu.

Pasti timbul pertanyaan, "Kok paham betul, Mbak?" Jangan terlalu heran dahulu, aku bukan dokter cinta. "Aku hanya menceritakan yang pernah kualami: sakitnya patah hati."

Dan, jangka waktu patah hati ini tidak bisa diprediksi. Bisa semalam langsung sembuh atau setahun, atau ada yang sampai sekarang tak kunjung sembuh. Tergantung individu masing-masing.

Penyebabnya juga bermacam-macam. Ada yang mencintai dalam diam, eh tahu-tahu si doi jadian sama orang lain; ada yang mengungkapkan cinta dan ditolak; ada yang diselingkuhin; ada yang beda prinsip; dan lain-lain bentuknya.

Kisah Kelam Percintaanku

Jika berharap kisah cinta akan berjalan mulus, maka bersiaplah kecewa. Karena pada kenyataannya, jalan percintaan penuh gelombang, bahkan bisa kapan saja karam.

Tiba-tiba, teringat salah satu lagu favoritku dari grup band Naff yang berjudul Kenanglah Aku:

Karamnya cinta ini
tenggelamkanku di duka terdalam.

Lagu tahun 2009-an yang masih digandrungi ini seakan mampu mewakili perasaanku. Betapa kisah cinta yang kuharap lebih, ternyata berakhir kandas. Ya, tentu duka terdalam. Karena kisah ini sudah terjalin bertahun-tahun.

Ini bukan kisah cinta-cintaan ala anak ABG, yang ketika putus ya sudahlah. Bukan! Aku berharap lebih banyak dari itu. Tetapi, segala sesuatu terjadi begitu saja. Kita berbeda prinsip dalam hidup ini.

Kita tidak pernah menyatu, seperti air dan minyak. Aku ingin ke timur, dia ingin ke barat. Lalu, untuk apa dilanjutkan? Dan, aku memilih pergi.

Jangan dikira tidak sakit. Sakit banget! Hanya saja, aku berusaha serapi mungkin tidak memperlihatkannya. Sungguh usaha yang luar biasa bikin greget-an.

Mitos Pacaran Lama Putus

Hidup sebagai makhluk sosial memang tidak bisa dilepaskan dari interaksi dengan masyarakat sekaligus segala cengkunek-nya. Pertumbuhan mitos-mitos makin mengakar kuat.

Hingga timbullah mitos, "Jangan pacaran lama-lama, nanti putus, lho!"

Aku bukan orang yang menelan mentah-mentah segala mitos. Apa dasarnya pacaran lama terus putus? Apakah perasaan bosan?

Tidak. Tidak ada kata "bosan" untuk kedua orang yang saling mencintai. Kalau yang satu cinta dan satunya lagi tidak, itu mungkin saja bosan. Tetapi, aku tidak pernah bosan dengan dia.

Hampir sering kutemui orang-orang yang memperingatkanku bahwa pacaran lama bisa putus. Lalu, tujuan mereka apa? Supaya benar-benar putus, gitu?

Dan, pada akhirnya sesuatu mengejutkan terjadi. Ada banyak hal yang tidak bisa dipaksakan. Aku memilih pergi. Bukan karena aku percaya mitos itu, tetapi karena ini keinginanku.

Aku tidak bisa hidup dalam kepura-puraan. Ya, pura-pura bahagia dan tidak terjadi apa-apa setiap kali bertengkar. Sudah cukup itu saling melukai perasaan masing-masing.

Satu hal yang penting, mitos pacaran lama putus itu bohong. Jika memang putus, karena tidak bisa diteruskan lagi. Sudah, begitu saja. Jangan terjebak dengan mitos-mitos yang ada.

Kiat Ampuh Menyembuhkan Patah Hati

Aku punya cara tersendiri untuk menyembuhkan luka hatiku. Lumayan berhasil, meskipun tidak serta-merta. Segala sesuatu butuh proses.

Sederhana saja. Aku meyakinkan diriku jika rencana terbaik diatur oleh Tuhan. Aku tidak marah dengan dia, malah masih berkomunikasi dan saling berbagi motivasi.

Aku tidak membuang barang-barang pemberian dari dia, bahkan masih memakainya. Ya santai saja. Bukan salah barang-barang jika sebuah hubungan harus berakhir. Jangan cari kambing hitam, deh.

Jika memang butuh mencurahkan isi hati, aku biasanya menulis diary. Kenapa? Karena hubungan adalah privasi, bukan konsumsi publik. Jadi, butuh tempat yang benar-benar aman untuk bercerita.

Atau, aku ngomong-ngomong sendiri sebelum tidur menceritakan segala yang kurasakan. Ini bisa dikatakan curhat langsung kepada Pemilik hidup.

Melakukan sesuatu yang menyenangkan sesuai hobi juga bisa. Baca buku, masak makanan favorit, travelling, atau sekadar melihat bintang-bintang. Aku suka sekali dengan alam, merasa dekat dengan-Nya.

Tiap orang pasti punya cara tersendiri. Dan, ini caraku sebagai salah satu orang introvert dalam menyembuhkan luka patah hati. Namun, ada satu cara wajib dan terpenting untuk dilakukan semua orang yang patah hati.

Jangan menjadikan orang lain sebagai 'penyembuh luka'. Jangan! Sembuhkan saja dahulu diri sendiri baru mencari orang lain. Tidak etis atau terkesan tidak punya hati. Orang lain tidak ada salah apa-apa untuk dijadikan sasaran.

Seharusnya, diri sendiri yang terluka, diri sendiri yang mengobati. Tiada yang memahami apa maunya diri selain kita sendiri.

Patah hati bukan kesalahan dan tidak harus sampai depresi. Wajar saja, itu sepaket dengan jatuh hati. Siap mencintai, siap patah hati, dong. Itu baru baru keren.

Jadi, masih khawatir patah hati?