78062_96890.jpg
http://cozer.id/jelajah/692/calon-penerus-habibie-dwi-hartanto-ukir-prestasi-gemilang-di-belanda
Pendidikan · 3 menit baca

Hati-Hati, Nanti Jadi Dwi Hartanto!

Baru saja tahun 2016 lalu, ibu kompleks sebelah bilang pada anaknya “Tuh rajin belajar biar bisa seperti Dwi Hartanto”. Tiba-tiba kemarin, kalimat ini berubah haluan 180 derajat “Awas yah nggak boleh bohong, nanti jadi Dwi Hartanto.”

Peristiwa kebohongan yang mencuat dari mahasiwa yang tengah menempuh program studi doktoral di Belanda ini sungguh menggelitik sekaligus membuat kita belajar lebih dalam bahwa kondisi manusia didunia itu cepat sekali berputar, kadang kita diatas, kadang dibawah.

Jika tak ingin menanggung perihnya sakit hati saat jatuh dari ketinggian, beberapa orang memilih stagnan di level tengah-tengah. Tidak juga hebat, tidak juga idiot. Tidak membanggakan namun tidak juga membuat keonaran. Flat. Datar seperti aspal.

Gemah ripahnya kabar berita Dwi Hartanto sesekali membuat kita kasihan berlipat-lipat, krisis nian hidup seperti itu. Mendapatkan pujian kebanggaan yang membumbung hingga ke skala Kedutaan Besar RI Den Haag, namun dirinya jelas mengetahui bahwa klaim prestasinya itu sama sekali tidaklah valid.

Psikolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Aulia Iskandarsyah sampai menganalisis klaim dan fakta dari surat terbuka Dwi Hartanto yang diterbitkan pada tanggal 7 Oktober 2017 kemarin dan beliaupun angkat bicara bahwa lelaki berperawakan kurus ini telah mengidap kebohongan yang patologis atau kecenderungan untuk selalu berbohong tanpa menyisakan perasaan bersalah.

Manusia yang dulu bukanlah manusia yang sekarang. Manusia yang dulunya hanya membutuhkan pangan, sandang, papan dan juga radio, sekarang telah berhibernasi menjadi manusia yang sangat diversitas akan keinginan yang pada dasarnya dikonversikan secara paksa menjadi kebutuhan.

Konversi ini berlansung melesat sangat cepat seperti cepatnya konversi lahan untuk memasifkan percepatan pembangunan di negara ini. Dialah penyakit exhibitionist. Tepat, keeksisan diri menjadi sebuah kebutuhan yang seolah sama pentingnya dengan oksigen.

Kehadiran selebgram-selebgram yang hampir sebagian dari mereka sangat tidak edukatif menuju terkenal juga anak-anak muda yang cerewet luar biasa dalam melaporkan seluruh keremeh-temehan hidupnya menjadi bukti bahwa keambisiusan manusia untuk go public adalah penyakit menular. Lebih menular dari penyakit apapun yang bisa ditangani medis.

Lalu bagaimana dengan nasib orang-orang yang besar ambisiusnya untuk memperlihatkan kecakapan-kecakapan dirinya pada khalayak namun pada aktualisasinya, mereka tidaklah mendapati diri sehebat yang diinginkan. Maka jalan satu-satunya adalah dengan melebih-lebaykan jalan hidupnya alias menjadi Dwi Hartanto. Jadi, hati-hati mendapati diri terlalu meng-euphoria-kan keeksisan hidup, nanti jadi Dwi Hartanto!

Pihak yang lebih malang dari lelaki yang dulunya disebut sebagai the next generation of habibie ini adalah pengagum-pengagumnya, termasuk diri saya. Entah mengapa, berita tentang nutrisi otak seseorang lebih mampu menciptakan kekaguman-kekaguman bagi diri saya ketimbang nutrisi wajah yang berorientasi cakep.

Barangkali karena wajah adalah ikon gratis pemberian Tuhan yang tidak bisa kita pilih saat lahir sedangkan cemerlangnya otak notabenenya bersumber dari usaha kecekatan si empunya otak dan repetisi yang lambat laun melahirkan bakat.

Bagaimana mungkin orang sepertiku tidak kagum menyaksikan di layar kaca, ada salah seorang pemuda Indonesia yang menjalani studi di Belanda dan merupakan satu-satunya orang non Eropa yang mengerjakan proyek besar negara kincir angin ini hingga ditawari pihak Belanda untuk mengganti kewarganegaraan berkali-kali.

Sayangnya dulu tidak satupun yang berpikir apa Belanda sudah kehilangan orang-orang jenius disana hingga memohon bertekuk lutut pada satu orang pemuda Asia untuk menetap di negaranya.

Padahal bagiku, kemampuan melanjutkan studi di negara sekelas Belanda sudah menyematkan prestasi yang luar biasa. Tapi sepertinya Beliau mengharapkan pujian yang lebih dari itu. Jadi, hati-hati mengagumi seorang tokoh terlalu tergesa-gesa, nanti jadi korban Dwi Hartanto!

Buah-buah pemikiran semu yang dielu-elukan oleh satu otak manusia yang sukses menipu jutaan orang Indonesia membuat kita berasumsi lagi bahwa ternyata masyarakat kita memang mudah disuapi jajanan Hoax.

Padahal kebohongan super hoax ini hanyalah berawal dari mimpi-mimpi yang tidak memperlihatkan tanda akan terwujudnya. Kasus ini berisyarat bahwa mimpi juga harus pilih-pilih kelas. Jika seenaknya memeluk erat mimpi-mimpi, hati-hati nanti jadi Dwi Hartanto!

Semalang-malangnya pengagum Dwi Hartanto, lebih malang lagi Najwa Shihab dan kru program Mata Najwa. Bagaimana tidak, mereka menyaksikan secara live pernyataan-pernyataan ilusi dari pemberi informasi buah dari khayalan melalui Mata Najwa Goes to Netherland “Edisi Jejak Bapak Bangsa” November 2016 lalu.

Kemudian mereka menayangkannya dengan tampak sangat edukatif dan totally spirit. Hal ini sungguh jelas mencoreng validasi kejurnalistikan dan pertelevisian Indonesia dalam menyajikan program aktual kepada masyarakat. Jadi, hati-hati terlalu mudah mempercayai informasi sekalipun ditayangkan oleh saluran-saluran tv terpercaya, nanti jadi korban Dwi Hartanto!

Hidup sekarang mestilah dengan langkah hati-hati. Jangan sampai hidup kita berakhir menjadi ibu-ibu yang menyuruh anaknya menjadi seperti Dwi Hartanto lalu besoknya mengatakan “Jangan sampai seperti dia”. Nanti anaknya menjadi bingung dan memilih untuk menjadi waria saja.