1 bulan lalu · 109 view · 3 menit baca · Gaya Hidup 47735_74443.jpg
Tribun Style

Hati-Hati Jemput Rezeki

Sebuah akun media sosial sedang memasarkan produknya dengan kalimat “menjemput rezeki” pagi-pagi. Lalu, di laman komentarnya banyak yang singgah. Saya membacanya, namun tak menemukan komentar yang mengarah pada pembelian, transaksi, bertanya harga, ataupun detail produk. Banjir komentarnya melulu tentang delapan puluh juta rupiah. 

Selain itu, banyak juga meme yang disematkan dalam kolom komentar yang malah menawarkan merek lain yaitu roti bermerek “Vanesha” yang katanya hanya dengan enam ribu rupiah saja dapat menikmati yang legit, gesit, dan manis.

Lalu, banyak yang memberi tanda petik pada kalimat “menjemput rezeki” yang ditulis netizen pada statusnya. Padahal, menjemput rezeki tidak memiliki arti lain, tidak diserap dari bahasa asing, ataupun ada istilah bahasa daerah di dalamnya. Lalu, mengapa dua hari ini, pemberian tanda petik pada kalimat menjemput rezeki menimbulkan makna baru, makna lain, makna yang berhasrat, sepertinya.

Bagi yang tak paham konteks, mungkin kalimat “menjemput rezeki” seonggok kalimat yang tak berjiwa. Sedangkan bagi yang paham konteks, apalagi masih penasaran dengan konteksnya, kalimat “menjemput rezeki” bisa membangkitkan berahi.

Bisa jadi “menjemput rezeki” menjadi strategi marketing yang jitu untuk membuat seseorang singgah. Entah digunakan dalam menawarkan produk, jasa, pokoknya semua hal yang bisa dijual. Mendengar kalimat itu, yang otaknya rada mesum atau tingkat kekepoan seseorang yang tinggi, akan coba-coba singgah, siapa tahu berhadiah.

Selain Syahrini yang pandai memviralkan istilah, netizen juga tak kalah mahir dalam menebak-nebak, menghubung-hubungkan, dan menarik simpulan yang bersifat mana suka. 

“Menjemput rezeki” ini karib dengan kasus prostitusi online artis yang sampai detik ini belum juga reda pemberitaannya. Netizen-lah yang pertama mengambil alibi sebelum pihak kepolisian memberi keterangan. Jadilah kalimat “menjemput rezeki” sebagai bukti lisan bahwa VA yang tertuduh memang sedang mencari rezeki dengan jual diri.

Anggota Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menangkap dua artis berinisial VA dan AV di kamar hotel yang berbeda. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera, membenarkan artis dengan inisial VA yang ditangkap tersebut ialah Vanessa Angel. 

Sebelumnya, Wadir Reskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara Syariffudin mengatakan, Vanessa Angel dan artis AV terbukti terlibat kejahatan asusila yaitu prostitusi online.

Tarif kencan artis VA ini rupanya mencapai Rp80 juta untuk sekali kencan. Sedangkan tarif AV, artis FTV yang juga terciduk bersama dengan Vanessa Angel, memiliki tarif sebesar Rp25 juta untuk sekali kencan. 

Sebelum akhirnya ditangkap karena dugaan terlibat prostitusi online di sebuah hotel di Surabaya, artis sinetron Vanessa Angel diketahui tengah berada di Surabaya, Jawa Timur. Hal ini diketahui melalui unggahannya di Instagram Story akun miliknya. 

Awalnya, Vanessa Angel tampak sedang duduk di kursi pesawat mengenakan baju berwarna ungu dan juga kacamata. Selanjutnya Vanessa Angel mengunggah video singkat pintu gerbang selamat datang dengan menambahkan tulisan: "Menjemput rezeki di awal tahun 2019. Hello Surabaya, Indonesia. See you @townsquaresurabaya."

Tak tanggung-tanggung, trending tagar #MenjemputRezeki2019 berada di urutan teratas peringkat trending Twitter. Artinya, yang paling banyak berkicau di Twitter pada Senin pagi 7 Januari 2019 adalah topik tentang prostitusi online yang menjerat Vanessa Angel di Surabaya.

Siapa sangka di tengah “menjemput rezeki” seorang perempuan harus berserah pada polisi. Ia juga menyampaikan permintaan maaf telah membuat laki-laki dunia maya dan nyata memperbincangkan tarif daging Rp80 juta. Tak henti-hentinya, mereka makin gaduh dengan berbagai dagelan seolah “wanita” tak pantas dibeli dengan harga yang menurut mereka fantastis itu.

Lalu, ramai-ramai menuliskan hashtag menjemput rezeki, meminta link video, berbagi komentar mesum, dengan terbuka dan nyata. 

Entahlah, jika soal begini, laki-laki selalu bersatu, selalu berhasrat untuk menemukan kabar paling update. Semenarik itukah perempuan dan tubuhnya? Hingga mereka sempat saja mencari-cari, menemukan sesuatu yang sejatinya tak pernah ada? 

Mengapa tidak lantas tertarik untuk membuka siapa sang mucikari atau sang pemesan yang notabenenya berani bayar mahal itu? Bukankah itu menjadi bagian menarik juga untuk dibongkar?

Memang perihal wanita dan tubuhnya selalu membuat orang bisa berimajinasi, bisa lebih hidup, bisa tiba-tiba akur. Panas-dingin politik yang bertebaran tanpa ampun di media sosial seolah mendapat penyegaran dengan kalimat “menjemput rezeki” “daging R80 juta”. Angin segar yang sedang diperbincangkan meredam hoaks yang menggila. 

Lalu, apakah prostitusi online adalah berita yang lebih baik dikonsumsi daripada hoaks? Apakah ini cukup mengembalikan kewarasan media sosial?

Kini, hati-hati dengan capaian “menjemput rezeki”. Salah-salah, jika kamu seorang perempuan pesolek, sedikit bahenol, paras cantik, bisa-bisa dianggap sedang memamerkan diri. Sebab “menjemput rezeki” menjadi kalimat fantasi lain bagi mereka yang dipenuhi rasa ingin tahu berlebih. 

Entahlah, sampai kapan “menjemput rezeki” memiliki makna konotasi selain makna denotasi yang memang tujuannya untuk mencari rezeki secara nyata, halal, dan penuh berkah.

Hati-hati “menjemput rezeki”.