3 minggu lalu · 1064 view · 3 menit baca · Politik 49421_54143.jpg
news.okezone.com

Hati-Hati Ilusi Kontrol, Jokowi!

Jokowi hampir dipastikan menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-8. Melalui hasil rekapitulasi suara yang diumumkan oleh KPU pada Selasa, 21 Mei 2019, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin menang dengan torehan 55,50%. Prabowo-Sandi tertinggal di angka 44,50%. Ada margin 17 juta suara di antara mereka.

Hasil ini belum mendudukkan Jokowi di tampuk kekuasan. Namun, sulit membayangkan manuver Prabowo yang sanggup menjegal hal itu. Kecuali barangkali ada “gempa bumi” politik. Namun, prakondisi ke situ belum tampak. Jokowi terlalu kuat!

Sebenarnya saya kurang yakin dengan keseriusan Prabowo. Sejak awal dugaan ini sudah saya sentil melalui beberapa tulisan. Jadi baiknya Prabowo jangan berupaya menempatkan rakyat di garda depan pertarungan yang ia sendiri sungkan untuk menangkan.

Kembali ke Jokowi. Kemenangan ini kurang gemilang. Tidak pecah 60%. Berkaca pada hasil pilpres 2014 di mana Jokowi-JK unggul dengan nilai sebesar 53,15% dibanding Prabowo-Hatta, yaitu 46,85%, ada selisih kurang lebih 2% dari hasil tahun ini. Jokowi dari 53% naik menjadi 55%. Prabowo defisit sekitar 2% sehingga menjadi 44%.

Bayangkan jika Jokowi tidak merangkul Ma’ruf Amin atau Golkar tidak menyeberang. Hasilnya akan berbeda, mungkin. Di pihak Prabowo, biar pun perlawanan mereka serampangan, tetapi masih bisa menempatkan mereka di kisaran 40-an%. Apakah hasil yang kurang memuaskan ini yang mendorong pasal makar gencar menyasar oposisi? Kita tidak tahu.

Apa pun interpretasi simboliknya, tetap saja suara terbanyak yang akan dilantik menjadi presiden. Sampai saat ini, Jokowi orangnya. Oleh sebab itu, saya hendak memberi selamat kepada Pak Jokowi sebagai sang juara berdasarkan hasil rekapitulasi KPU. Sekaligus, saya memberi masukan bahwa hati-hati dengan kontrol.

Baca Juga: Lagu Lama Jokowi

Jika negara dipahami sebagai repertoar monopoli kekerasan yang sah, maka kontrol menjadi salah satu instrumen penting negara. Makin terkontrol warga-negara, maka makin stabil sebuah negara. Kekerasan diperlukan apabila kontrol terdevaluasi.

Seorang penguasa sering lupa diri. Beranggapan bahwa ia mampu mengontrol setiap variabel yang berpengaruh terhadap kedaulatannya. Keberhasilan menggengam kekuasaan dilihat sebagai sebuah penaklukan atas hal-hal yang sebelumnya tidak mampu dikendalikan.

Dengan segala sumber daya yang dimiliki, seorang penguasa memosisikan sebab dan akibat sebagai hal-hal yang mampu ditentukan olehnya. Secara sederhana, ia berkuasa untuk meramu kausalitas di mana kemudian diarahkan untuk konservasi kekuasaannya.

Terdapat sebuah paradoks. Makin seorang yang berkuasa menguatkan persepsi bahwa ia adalah tuan atas kausalitas, maka makin lemahlah ia. Penguasa yang mengira dirinya tidak terkalahkan, justru sering tanpa sadar memperlihatkan sisinya yang paling rapuh.

Ada sebuah kata bijak, those who have more power tend to be less accurate about the situation (mereka yang berkuasa cenderung kurang akurat dalam memahami situasi)Begitulah ilusi kontrol bekerja.

Lazim bagi mereka yang berkuasa untuk mengira bahwa di tangan merekalah bergantung segala hal. Banyak yang kemudian terlambat menyadari bahwa itu adalah sebuah kekeliruan fatal.  

Kenyataan tersebut berkebalikan dengan kaum yang sadar bahwa mereka tak berkuasa. Akurasi adalah milik mereka. Mereka mencermati situasi sebaik mungkin dan selalu siaga untuk meraih apa pun yang sanggup menjatuhkan orang-orang yang berada di atas mereka.

Mungkin ini merupakan salah satu faktor mengapa civil society di Indonesia selalu kalah dari intrik oligarki. Rakyat senang mengira bahwa merekalah rajanya dan oligarki ada untuk melayani mereka. Akibatnya, mereka selalu tersungkur. Mereka tidak cermat membaca dan tidak cakap bersikap terhadap konteks yang ada di depan mata.

Untuk Jokowi, waspadai ilusi jenis ini. Terpilih kembali sebagai orang yang paling berkuasa di negeri ini sepatutnya menghindari jebakan yang serupa.

Soekarno pernah jatuh dalam perangkap yang demikian. Dikira olehnya bahwa popularitas berbanding lurus dengan totalitas kontrol. Akhirnya, ia berakhir tragis. Soeharto juga demikian: berhasil mengekang institusi domestik, ia kemudian tumbang akibat irama internasional yang tidak berhasil dipandunya.

Yang paling menyakitkan sebagai akibat dari ilusi kontrol yang menimpa Soekarno dan Soeharto adalah relief luka dan kebencian yang terpatri pada sejarah bangsa ini. Luka dan kebencian yang lestari hingga kini. Ruang lingkup kesalahan dalam memperlakukan kontrol itu luas.


Menarik untuk melihat bagaimana kepemimpinan Jokowi di periode kedua. Semoga ia luput dari cengkraman ilusi kontrol. Sebab, taruhannya bukan hanya pribadi Jokowi, tetapi kehidupan seluruh komponen bangsa. Ia seharusnya sudah cukup belajar dari Soekarno dan Soeharto.

Memang sulit melihat Jokowi lugu di saat ini. Ragu rasanya untuk mendaulatnya sebagai representasi dari kekuatan anti-oligarki, anti-partai, dan pro-rakyat marginal seperti fenomena di politik global masa kini. Siasatnya memilih Ma’ruf yang konservatif serta penegakan hukum yang terkesan otoriter cukup mengkhawatirkan.

Catatan penting lainnya, saya mendukung Jokowi agar lebih menggunakan soft approach dalam merangkul oposisi. Rekam jejak memperlihatkan bahwa ia cukup kompeten di jalur collaborative negotiation. Negosiasi untuk menyelesaikan konflik melalui cara-cara yang diplomatis. 

Saya kira dengan begitu tensi antar-kelompok di akar rumput dapat diturunkan.

Artikel Terkait