Saya pernah mendengar ceramah di salah satu khotbah Jumat. Kala itu penceramah menjelaskan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Hal ini tentu sudah kita ketahui bersama. Penceramah tersebut bercerita tentang seorang ahli ibadah yang pahalanya luar biasa banyak, namun harus habis karena ternyata banyak urusan si ahli ibadah ini yang membuat orang lain sakit hati dan belum selesai ketika ia meninggal dunia.

Hal tersebut membuat dia harus menyelesaikannya di akhirat. Bayangkan, bahwa seorang ahli ibadah yang pahalanya yang luar bisa banyak saja bisa habis, lalu apa kabarnya dengan saya yang bukan apa-apa, begitu saya berpikir saat itu.

Digambarkan dalam cerita tersebut bahwa nanti di padang Mahsyar seluruh manusia akan dibangkitkan dan menjalani peradilan Tuhan untuk nantinya diputuskan tujuannya adalah surga atau neraka. Tibalah giliran si ahli ibadah ini untuk menjalani peradilan Tuhan.

Sesampainya di hadapan Tuhan, malaikat mengatakan kepada Tuhan bahwa si ahli ibadah ini memiliki banyak urusan yang belum diselesaikannya dengan sesama manusia di dunia, sehingga dia harus menyelesaikannya terlebih dahulu.

Semasa hidupnya, si ahli ibadah ini pernah mengusir pengemis yang datang ke rumahnya. Hal itu membuat pengemis tersebut terluka hatinya. Tuhan meminta si ahli ibadah untuk mencari si pengemis tersebut dan meminta maaf kepadanya. Jika sudah mendapatkan maaf si pengemis, baru dia diperbolehkan datang lagi ke hadapan Tuhan untuk melanjutkan peradilannya.

Dengan segala kesulitan di padang Mahsyar tersebut akhirnya si ahli ibadah berhasil menemukan si pengemis yang dulu pernah diusirnya. Si ahli ibadah meminta maaf kepada si pengemis, dan sebagai imbalan atas pemberian maafnya, maka si pengemis meminta sejumlah amal saleh milik si ahli ibadah. Setelah mendapatkan maaf si pengemis, maka si ahli ibadah kembali menghadap Tuhan.

Ternyata tidak hanya kepada pengemis, si ahli ibadah itu harus meminta maaf kepada semua orang yang pernah dia sakiti hatinya, hingga akhirnya, setelah semua urusannya selesai, ternyata amal saleh yang sangat banyak tersebut habis, bahkan minus. Si ahli ibadah tersebut pun harus masuk neraka terlebih dulu untuk menyelesaikan minusnya tadi; dan baru setelah itu dia diangkat ke surga.

Demikianlah cerita si ahli ibadah yang harus kehilangan semua amal salehnya hanya karena tidak menjaga sikapnya, sehingga sikapnya banyak menyakiti atau melukai hati manusia lain.

Sejak saat itu saya selalu berusaha untuk tidak membuat hati orang lain terluka, karena kalau sampai hal tersebut terjadi, maka saya harus menyelesaikannya secepat mungkin. Urusan bisa runyam kalau sampai harus dibawa ke akhirat; itu mengambil amal saleh saya.

Saya mulai memikirkan mengenai sekecil apa pun tindakan yang saya lakukan, apakah akan membuat hati seseorang terluka atau tidak. Intinya saya akan menghindari segala macam kemungkinan yang bisa membuat hati orang lain terluka.

Seperti contoh, misalnya penyelenggaraan tablig akbar yang banyak diselenggarakan di jalan-jalan atau lapangan terbuka. Faktanya kegiatan semacam itu sering kali membuat kemacetan yang luar biasa.

Saya berpikir, bagaimana seandainya ada seorang laki-laki yang sedang membawa istrinya yang hamil sembilan bulan dan sedang menuju RS untuk persalinan, lalu bertemu kemacetan yang diakibatkan oleh kegiatan semacam itu. Saya rasa laki-laki tadi akan marah, dan itu artinya seluruh orang yang ada dalam acara tersebut harus mempertanggungjawabkan dan meminta maaf di yaumil akhir nanti karena sudah membuat hati laki-laki tersebut terluka.

Terkadang sebagian umat muslim yang menjadi mayoritas di negara ini bertindak terlalu berlebihan. Saya menilai banyak sekali kegiatan yang justru lebih menonjolkan show of force daripada mendapatkan esensi dari kegiatan yang diselenggarakan.

Seperti yang saya jelaskan mengenai kegiatan tablig akbar tadi, esensi yang ingin dicapai tentunya adalah isi dari ceramah yang disampaikan penceramah akan sampai kepada pendengarnya dan membuat peningkatan keimanan seseorang. Tapi yang terjadi, justru kegiatan tersebut lebih menonjolkan arogansi dari pengumpulan massa yang luar biasa banyak, lalu para panitia dengan arogannya sok mengatur lalu lintas sekitar, seolah dia yang punya jalan tersebut dan sebagainya.

Sebagai contoh lain, di tempat tinggal saya ada sebuah musala yang biasa dipakai warga untuk beribadah salat lima waktu. Ada seorang warga yang sering datang ke musala tersebut untuk mengaji. Tujuannya memang baik, untuk membaca Alquran.

Yang jadi masalah adalah dia mengaji dengan menggunakan pengeras suara yang terkadang membuat kuping ini sakit. Kalau suaranya merdu sih mungkin tidak jadi masalah, tapi terus terang, suaranya tidak enak didengar dan menurut saya malahan membuat polusi suara.

Saya berpikir kenapa harus menggunakan pengeras suara? Kalau memang mau mengaji, ya seharusnya mengaji saja untuk diri sendiri tanpa harus membuat orang lain terganggu.

Urusan penyelenggaraan pernikahan juga terkadang malah kehilangan esensinya. Dalam islam pernikahan memang disyariatkan untuk diumumkan dengan mengundang kerabat atau tetangga. Tapi esensi tersebut saat ini sudah jauh bergeser dari tujuan awalnya.

Saat ini pernikahan malah menjadi ajang pamer atau unjuk gengsi. Di beberapa daerah justru jika bisa menyelenggarakan pesta pernikahan 3 hari 3 malam, maka itu merupakan kebanggaan tersendiri. Atau misalnya bisa mengundang entertainer ternama, juga bisa meningkatkan gengsi dari penyelenggara pesta pernikahan tersebut. Tidak perduli untuk bisa menyelenggarakan pesta semacam itu dananya harus berutang sana-sini.

Contoh-contoh tersebut, menurut saya, justru menunjukan ketidakdewasaan dalam bertindak. Esensi luhur yang seharusnya dikedepankan dari kegiatan keagamaan tersebut hilang tertutup dengan arogansi kesombongan yang ditunjukkan.

Tidak mudah mengembalikan esensi dari kegiatan keagamaan tersebut, karena pergeseran nilai tersebut sudah dilakukan dalam jangka waktu yang sangat lama. Mungkin para penyelenggara kegiatan tersebut saat ini sudah tidak menyadari lagi apa sebenarnya tujuan sebenarnya. Hati-hati dengan contoh-contoh di atas, karena itu bisa membuat hati orang lain terluka.

Sebaiknya kita mulai menjaga sikap kita terhadap orang lain, jangan sampai membuat hati orang terluka, walaupun yang dilakukan sepertinya adalah kegiatan keagamaan dengan tujuan yang baik. Jangan sampai dengan dalih melakukan kegiatan keagamaan, justru itu membuat hati orang terluka.

Yang perlu diingat adalah, untuk mencapai tujuan yang baik, maka caranya harus baik pula, karena tujuan yang baik, jika dilakukan dengan cara yang tidak baik, maka hasilnya tidak baik.